
Kyra -
Tak berapa lama, terlintas dipikiranku tentang ponsel yang berada di dalam saku piyama. Lantas aku tariknya keluar. Kutatap lamat-lamat layar ponsel yang masih berwarna gelap itu sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menggambar sandi dan menyentuh layarnya dengan sigap.
Klik.
Lalu, langsung kudekatkan ponsel itu ke telinga. Hanya jeda sebentar saja dan panggilan itu seketika langsung dijawab.
"Assalamu'alaikum, halo... Delvin?" Sapaku memulai.
"Wa'alaikumsalam, hai calon..." Balasnya sok manis.
Aku diam sebentar memikirkan kata-kata yang terus terputar di kepalaku.
"Vin, boleh nggak kita teleponan sebentar? Apa ganggu? Lo belum sampai rumah ya??"
"Belum sih, ini masih di jalan, masih nyetir. Tapi kalau mau teleponan boleh banget kok, gak akan ganggu. Lagian gue kan pakai loudspeaker,"
"Oh, gitu ya... Oke." Balasku.
Aku mendengar suara berisiknya saat ia memasang cengiran konyol seperti yang sudah-sudah. Delvin menjawabku dengan senyumnya, aku tahu.
Namun untuk beberapa saat aku malah terdiam. Begitu juga dengan Delvin yang ikut diam seolah sedang menungguku bicara.
"Are you okay?" Tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
"Lagi agak kesal aja." Jawabku.
"Kenapa? Karena Ez..."
"Bukan, Mas Kamil!" Buru-buru aku potong kalimatnya sebelum dia mengucap nama itu. Nama yang sudah menggores luka di hatiku cukup besar.
"Oh, kenapa emang? Berantem lagi?"
Aku menghela napas panjang. "Ya, gitu deh, Mas Kamil emang orangnya suka ngeselin kan?!"
"Kalau gue?" Tiba-tiba dia bertanya. Membuatku mengernyit dalam.
"Lo kenapa??" Tanyaku.
"Masih ngeselin, nggak?" Tanyanya lagi.
"Hm, gimana ya?" Selorohku pura-pura berpikir keras. "Kayaknya ngeselin itu udah bagian dari nadi lo deh, Vin..."
Tanpa sadar aku tersenyum juga mendengarnya. Membayangkan Delvin memberengut sambil mencak-mencak dengan memasang tampang ngeselinnya itu rupanya mampu membuatku sedikit terhibur.
Dan seketika, ingatan-ingatan masa lalu mendatangiku seperti roller coaster. Amat cepat dan bertubi-tubi. Aku bahkan sampai tertegun sendiri kala mengingatnya.
Bisa-bisanya...
Bisa-bisanya aku melupakan semua sisi positif dari Delvin selama ini! Kyra....!!
Delvin, meski dia kelihatannya selalu mengajakku bertengkar, namun dialah yang selalu bisa menjadi teman yang tetap berada di sisiku di tiap kesempatan meski aku tak pernah mengundangnya sekali pun. Dia yang sedikit banyak memberiku kekuatan kala aku terpuruk. Ingatkah? Bahkan baru-baru ini saja dia sampai menyusulku ke tempat persembunyianku saat aku mendengar berita pacaran Bang Ezra.
Selama ini... Memanglah selalu Delvin yang selalu ada di sisiku. Baik di saat suka dukaku. Entah bagaimana selalu ada Delvin di tiap ingatan itu. Namun kenapa aku baru menyadarinya??
__ADS_1
"Hey, kok diem aja sih? Tidur??" Tegurnya.
Aku menghela napas panjang. Sebelum akhirnya, "Vin,"
"Ng? Oh, syukur lah, kirain udah tidur gak ada suaranya..." Dia terkekeh sendirian. Membuatku tersenyum tipis.
"Ternyata emang selalu lo yang ada di samping gue selama ini." Tanpa sadar air mataku luruh dan deras. "Maafin gue ya, Vin,"
"Ha?" Delvin terdiam sesaat, sampai kemudian dia melanjutkan ucapannya. "Tunggu deh, lo nangis ya??"
Tak aku hiraukan pertanyaannya dan aku lebih memilih mengutarakan semua yang ada di benakku saat ini. "Maafin gue ya, Vin, gue janji setelah ini gue akan belajar keras untuk jadi partner yang baik buat lo..."
"Hey... Hey..." Suaranya tersiratkan kekhawatiran yang mendalam. Mungkin karena mendengar suara sedu sadan tangisku yang tak tertahankan ini. "Sekarang lo di mana? Gue susul ya?"
"Maafin gue yaa, Vin,"
"Udah dong jangan nangis gitu, gue khawatir dengarnya. Sekarang rasanya gue pengin ngebut kalau jalanan gak semacet ini!"
Lagi, aku tak menghiraukan semua perkataannya. Lagi-lagi yang aku pedulikan hanyalah isi hatiku yang harus aku utarakan padanya. Karena ini sungguh menyesakkan dada!
"Maafin gue... Yang sekarang malah nangisin cowok lain di depan calon suaminya sendiri, maafin gue... Karena ini terlalu sesak rasanya buat ditahan lebih lama lagi... Hiks... Hikss..." Akhirnya tangisan itu pecah juga. Aku kalah. Aku sudah kalah!
"..."
Aku paham kalau Delvin tak menjawab. Dia pasti kesal kan? Aku tentu nggak akan menyalahkannya kalau dia tersinggung atas pengakuanku barusan.
"Iya..." Seketika aku tertegun saat mendengar suara beratnya lagi. Ternyata dia menjawabku.
"Puasin aja nangisnya, keluarin semuanya biar lega, oke?" Ujarnya dengan nada tenang. Sementara aku makin sesak dengan tangisanku sendiri.
__ADS_1
Di malam itu, dalam sambungan telepon yang tak terputus sampai 2 jam lamanya, seorang pria di seberang sana hanya mendengarkan suara tangis lawan bicaranya ini dengan sangat sabar sampai kemudian tangisan itu berhenti dengan dengkuran halus. Itulah aku yang tertidur tanpa sadar setelah lelah menangis.