
Kyra -
Kami sedang bersiap-siap.
Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain. Mencari keberadaan Kanaya yang sebelumnya duduk di belakangku persis, membereskan semua peralatan make-up berserta pakaiannya yang tak cukup cuman satu tas saja!
Ckckck, aku berdecak-decak sendiri. Terkadang bila menyadari keribetan Kanaya itu membuatku jadi jengah sendiri. Pasalnya, aku saja yang menginap seminggu di luar hanya perlu maksimal tiga baju ganti saja. Tapi Kanaya perlu setidaknya 10 baju ganti dan itu paling minim. Ya, benar, dia memang seribet itu!
"Facial wash yang di atas wastafel punya lo kan, Ra?"
Aku menoleh ke sumber suara berasal. Kanaya baru saja melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi itu berada. Oh, rupanya, dia menghilang untuk ke kamar mandi toh.
Aku nyengir, menepuk dahi. Hampir saja aku lupa soal benda keramatku satu itu!
Kanaya geleng-geleng. Membiarkanku melewatinya, masuk ke dalam kamar mandi menuju wastafel. Fokusku kini hanya tertuju pada benda berlabel ukuran 100 mili itu!
"Belum tua, belum punya anak. Boro-boro! Nikah aja belum! Tapi udah pikunan, coba!" Kanaya berujar mengejekku dari luar.
Aku yang mendengarnya pun hanya mendengus saja. Agak malas membuat perdebatan saat lagi repot begini. Jadi, untuk sekali ini saja, kubiarkan dia menang. Huh!
Hari Minggu pagi menuju siang ini kami semua memang sudah berencana pulang ke rumah masing-masing. Tepat, sesuai rencana awal yang Kanaya katakan lusa lalu. Tidak ada penambahan durasi liburan, karena kami harus berkerja. Ya, tentu saja! Kalau tidak kami mana bisa punya uang! Ehehe.
"Zrrrrttt..." akhirnya kututup rapat tas ransel hitamku ini. Aku tersenyum lega. Berbangga diri karena merasa lebih cepat dari Kanaya yang masih melipat-lipat bajunya.
Aku yang sudah tak ada kerjaan ini pun akhirnya duduk menghadapnya, memerhatikannya yang sedang sibuk sendiri. Menahan tawa yang sebenarnya sudah siap menyembur sekarang juga guna meledekinya. Haha.
"Peka sedikit kek! Ini temen sendiri lagi repot gini, bukannya dibantuin malah dipelototin! Asal lo tau, pelototan lo itu nggak bisa bikin baju gue kelipet sendiri, tauk!" Cerocosnya panjang lebar.
Aku menghela napas panjang. Telingaku mendadak terasa panas berkat kebawelannya yang tiada tara! Dan, akhirnya, setelah menatapnya penuh empati yang memang benar sedang kesusahan sendiri itu, aku pun berdiri dari dudukku. Berjalan mendekatinya, dan mengambil tempat di sampingnya. Sebagai teman yang amaaat baik, jelas aku akan membantunya seperti pintanya tadi.
Melihatku yang ikut melipat baju di sampingnya, Kanaya lantas nyengir senang. Membuatku mendengus melihatnya.
"Makanya, kalau bawa barang buat dinas jangan kayak mau pergi ke bulan apa?! Banyak banget!" Rutukku selagi melipat hoodie pinknya. Benar, hoodie yang sama dengan yang dipakai Delvin kemarin. Hehe.
__ADS_1
"Hei, Anda, jangan lupa kemarin Anda kehabisan baju siapa yang meminjamkan bajunya kepada Anda ya?! Itu, GUE!!" Dia melotot garang. "Bersyukur lo harusnya punya teman yang banyak persiapan macem gue gini. Menyempurnakan lo yang minim persiapan!"
Aku memutar bola mata, jengah karena kalimatnya yang kini malah berbalik menyerangku. Dasar, memang sepertinya aku nggak bisa menang melawan Kanaya Putri Suprapto, huh!
Sampai Kanaya menutup kopernya itu, aku tetap berada di sisinya untuk menunggunya memoles lipstik di permukaan bibirnya yang padahal sebelumnya sudah diberikan tint berwarna deep red.
"Banyak banget ya, lapisan bibir lo, Nay... Nay!" Aku geleng-geleng. Dia memang harus out of all bila menyangkut soal penampilan.
Kanaya tersenyum, lalu malah menawarkan lipstiknya itu padaku. Membuatku langsung menarik sebelah alis mataku ke atas.
"Mau pakai juga nggak?" Tawarnya padaku.
Aku langsung geleng-geleng, menolaknya. "Makasih, gue udah pakai tint kok tadi. Masih on juga nih, lagian." Balasku yang membuatnya mengangkat bahu.
Akhirnya, setelah berkutat lama menunggu Kanaya, kami pun keluar juga dari kamar ini. Ternyata semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Termasuk Delvin yang mengenakan jaket kulit hitamnya itu lagi.
"Ya ampun... anak-anak gadis yaa, kalau dandan lama benerrr!" Seloroh Kak Nena tepat saat kami datang.
Aku mendengus. Melirik ke sampingku, "Iya nih, gara-gara Miss Repot yang dandan mulu nggak udah-udah!"
Lalu, terdengar tawa renyah yang kuhapal adalah perpaduan dari suara Om Aric dan Kak Nena. Saat kulirik ke arah mereka. Benar saja, mereka berdua memang sedang terbahak sekarang. Namun saat kualihkan fokusku pada sosok jangkung yang berdiri di sisi Om Aric, tampak wajahnya lempeng-lempeng saja. Datar luar biasa!
"Eh, iya, kalian tetanggaan, kan?" Celetuk Kanaya tiba-tiba.
"Ha?" Aku mengernyit.
"Itu... elo sama Delvin. Kalian tetanggaan, kan?" Jelasnya.
Aku lantas menatapnya penuh waspada. Seketika pikiranku merasa terancam. Hatiku pun mendadak jadi berubah tak enak. Aku yakin, si Kanaya pasti akan bicara sembarangan setelah ini. Yakin, aku yakin...
"Kalau gitu, kalian pulang bareng aja! Gimana?" Mata Kanaya berbinar menatapku dan Delvin bergantian seolah idenya adalah ide yang paling brilliant di muka bumi.
Aku tertawa mendengus seketika, merutuk Kanaya dalam hatiku dengan berbagai sumpah serapah. Kenapa sih, anak ini harus bicara begitu!!
"Eh, iya, betulan? Jadi kalian selain sahabatan, juga tetangga rumah?!" Ujar Kak Nena lengkap dengan ekspresi terkejutnya. Namun tiba-tiba ekspresi itu cepat berganti dengan senyum manisnya. "Wah, lucu banget! Pasti saling hapal banget busuk-busuknya deh," lalu Kak Nena terkekeh.
"Heh, kamu, malah salah fokus!" Om Aric menyenggol lengan Kak Nena, mulai memperingati istrinya. "Sekarang bukan waktunya meledek mereka. Jangan gitu, nanti mereka malah tambah nggak mau bareng!" Ujarnya lagi berusaha berbisik-bisik, meski nyatanya dapat didengar juga oleh kami. Yang tentu saja hal itu langsung membuatku terperangah akan kata-katanya.
__ADS_1
Maksud Om Aric apa coba???
"Ya sudah, kalian berdua bareng aja ya!" Ucap Om Aric lagi yang lebih terdengar mirip seperti penyataan alih-alih pertanyaan.
Tanpa bisa kucegah, dengan tak sadar aku malah langsung menggeleng otomatis. Menolak ucapan itu mentah-mentah. Huh, sepertinya efek candaan Delvin semalam belum hilang sepenuhnya nih, hingga aku jadi tak nyaman begini!
"Nggak bisa!" Suaraku bahkan bisa lolos begitu saja tanpa kusaring.
Om Aric mengernyit. Begitu pula yang lainnya, kecuali Delvin yang hanya mengangkat alis tebalnya itu ke atas, menatapku.
"Kenapa nggak bisa, Ra?" Tanya Kak Nena bingung.
"Delvin motornya gede kok. Dia juga nggak bawa banyak barang, tas aja nggak bawa. Masa nggak bisa?!" Lanjut Kanaya.
Kini, semua orang memandangku dengan tanda tanya. Melihat reaksi mereka, hatiku berdetak gelisah. Aku harus bilang apa untuk menutupi kecanggunganku yang membuncah melebihi logika ini?! Ya Allah...
Tanpa sadar tanganku mengepal dan mengetat sendiri, merasa geregetan dengan sikapku yang entah kenapa malah jadi terkesan salting begini. Sementara di hadapanku Delvin berdiri memandangku dengan nyamannya. Sungguh, kondisi yang tak adil!!!
"Itu..." otakku terus berpikir, berusaha menutupi kegagapan yang sebetulnya nyaris saja terdengar jelas bila kugagal bicara sedetik saja. "Delvin kan, nggak bawa helm cadangan!" Mataku melotot, menatap Delvin. Meminta kepastian. "Iya, kan, Vin?!"
Delvin mengangkat kedua alisnya ke atas, lagi. Mungkin itu adalah ekspresi terkejutnya karena keanehanku atau malah karena mataku yang melotot lebar ini. Entah lah.
Namun tiba-tiba dia malah tersenyum. Kontan, fokusku langsung berantakkan melihat senyuman ambigunya itu. Aku malah menatapnya bingung.
"Kalau masalah itu sih, gampang! Tinggal beli aja, elah... di pinggir jalan juga ada banyak kok yang jual helm!" Balasnya dengan nada suara yang amaaat enteng.
Aku menatapnya dengan sirat permusuhan. Memakinya habis-habisan dalam hatiku, melontarkan sumpah serapah padanya. Setelah membuatku canggung setengah mati sampai mimpi buruk, sekarang dia malah bersikap biasa saja seolah tak pernah ada yang terjadi?! Delvin emang kurang ajar!!
"Selow aja. Si Kira-kira biar bareng gue aja, jadi kalian langsung pulang dengan tenang. Oke?!" Ujarnya sembari tersenyum manis.
Andai... andai saja nggak ada orang lain lagi di sini, pasti sudah aku jambak rambutnya itu biar kusut! Batinku geregetan sendiri. Saking kesalnya.
"Eh, nggak perlu beli helm! Di sini ada kok helm Abang gue yang sengaja ditinggal. Kalian pakai aja, nggak kepakai juga lagian." Cetus Kanaya, yang jelas membuatku makin jengah. "Bentar, gue ambilin dulu ya," lalu dia pun berlalu ke arah halaman belakang.
Memandangi punggung Kanaya yang bergerak menjauh, aku menghela napas panjang-panjang.
Sepertinya, diriku hari ini tak bisa lepas dari kecanggungan berkat candaan Delvin yang kurang ajar itu yaa...
__ADS_1
Huh.