Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.8 | A : Delvin's Heartless Request


__ADS_3


Ines -



Masih teringat jelas di otakku tentang hari itu. Hari di mana Delvin mengajakku bertemu di tempat paling spesial selama perjalanan 8 tahun hubungan kami berdua.


Bahkan aku sengaja datang 30 menit lebih awal supaya bisa memastikan kalau di pertemuan spesial ini tepatnya setelah perpisahan sementara kami kemarin lalu, kami bisa mendapatkan tempat yang spesial juga. Tempat favorit kami berdua; meja nomor 08 di Kafe Serinai. Yang mana selalu dan akan selalu menjadi tempat bersejarah untuk kami berdua, kupikir.


Aku tertawa mendengus dengan air mata tertahan di pelupuk mata, menanggung kepedihan yang teramat dalam di dada. Tanpa bisa tertahankan. Bulir air dari mataku lantas turun perlahan membasahi kedua pipi. Saat itu lah sangat terasa bahwa hatiku telah remuk bak ditempa palu gadam!


Sesak, menyesakkan! Bahkan meski lima hari sudah berlalu, rasanya perihnya masih sangat terasa, seperti baru kemarin. Luka ini masih menganga lebar nyatanya. Luka terbuka itu bahkan sudah ditambahkan perasan zat asam hingga sakitnya amat tak tertahankan! Perih!!


Aku termangu, dengan mata berkaca-kaca penuh dengan air mata yang siap dijatuhkan, mengingat kembali adegan demi adegan di hari itu. Bahkan cara bicaranya selama delapan tahun selalu kudengar pu mendadak berubah. Panggilannya kepadaku yang selalu menenagkan hatiku ikut berubah. Bukan lagi dengan sebutan 'aku dan kamu' yang biasa kudengar, tetapi sudah berganti dengan sebutan 'gue dan elo', sapaan yang sangat asing didengar oleh telingaku darinya. Aku langsung paham. Itu adalah tanda bahwa kini dia sudah berjalan jauh menjauhiku yang masih berdiri di tempat yang sama. Tanda bahwa dirinya sudah tak berkenan lagi untuk berdiri sejajar denganku.

__ADS_1


Aku sadar betul, hari itu adalah hari perpisahan kami. Dia memang sudah mempersiapkan segalanya hingga meminta agar kami bertemu hari itu. Hanya untuk mengungkap kata "pisah" dan menorehkan luka hanya untukku pada akhirnya.


"Setega itu kamu mengakhiri delapan tahun hubungan kita dengan cara seperti ini, Vin..." Lirihku entah sudah yang keberapa kali aku mengucap kalimat yang sama selama lima hari ini. Air mataku jatuh lagi, merasakan perih yang lagi-lagi membuat hatiku tak tertahankan.


Aku menangis tersedu-sedu. *Jadi beginikah akhir dari kisah indah kami?*


Lalu, ingatan kuatku kembali mengingat apa yang dikatakannya hari itu. Kata-kata yang sangat tak berperasaan yang tak pernah aku kira akan keluar darinya...


[...]


Tanpa terasa sudah empat puluh lima menit kami duduk di tempat ini seraya mengobrol seru dengan segala hal random yang pernah terjadi pada kehidupan kami berdua. Bercerita kembali tentang kisah masa lalu yang luci dan layak untuk ditertawakan. Kisah-kisah konyol yang penuh perdramaan anak remaja tanggung! Tentunya dengan aku dan dia yang menjadi tokoh utamanya. Aku tersenyum.


"Aku inget banget waktu kamu ogah-ogahan datang ke Promnight. Sampai akhirnya aku nyeret kamu dari rumah kamu waktu itu padahal kamu cuman pakai boxer dan kaos belel!" Aku terbahak keras, begitu pula pipinya yang kini memerah. Aku tahu cerita itu agak memalukan baginya, tapi menurutku itu lucu dan sangat layak dikenang, seperti ini. "Masih inget banget gimana muka kamu yang dilipet habis saking keselnya dipaksa!"


"Habis siapa juga yang bahagia kalo dipaksa sampai diseret begitu, heh?! Mana bajunya juga gak banget lagi!" Dan dia lagi-lagi ikut tertawa bersamaku.

__ADS_1


Entah bagaimana sinar matahari yang menyorot kami siang itu terasa hangat dan begitu menyenangkan. Ah, benar, bukannya karena matahari namun karena tawa cerahnya itulah yang ikut menghangatkan hatiku.


Aku tersenyum. Melihat tawanya yang begitu lepas seperti ini, di saat yang sama, jauh di dalam lubuk hati aku berharap hari ini akan menjadi titik balik dari hubungan kami yang sempat berjarak ini agar kembali bisa bersama-sama seperti dulu.


"Untungnya waktu itu kita menang kan, jadi King dan Queen Promnight. Seenggaknya, kebayar lah ya, walau harus nguras tabungan aku demi dandani kamu dan harus lihat wajah asam kamu itu yang terus-terusan dipasang dari awal sampai akhir acara, huft!" Lalu, tawa renyahku berderai lagi.


Namun tiba-tiba saja, kali ini dibalasnya hanya dengan sebuah senyuman saja. Senyum yang tanpa memperlihatkan deretan giginya, dan terlihat canggung.


"Kenapa? Kok tiba-tiba jadi canggung gini sih?" Tanyaku yang masih mencoba mencerna keadaan yang tiba-tiba saja berubah drastis hanya karena ekspresinya terhadapku.


Dia masih diam, hanya menatap ke arah es kopinya yang baru kusadari kalau ternyata baru berkurang sedikit. Jadi sejak tadi dia mengobrol denganku yang menurutku sangat seru itu... Dia sama sekali tidak menyentuh kopinya?


Aku tertegun sesaat melihat gerak-geriknya yang mendadak terasa aneh. Entah bagaimana seulas senyum itu dan kebenaran tentang isi es kopi di gelasnya dapat mempengaruhi perasaanku dalam waktu singkat. Memporak-porandakan kepercayaan diriku akan kejelasan hubungan kami yang seketika membuat lubang kebimbangan yang amat besar di hatiku.


Untukku yang bahkan merasa amat bahagia dan berbunga-bunga sejak semalam atas pesan singkatnya. Membuatku amat optimis kalau hubungan kami akan berlanjut dan akan lebih serius dari sebelumnya, tiba-tiba menguap begitu saja. Perasaan demi perasaanku yang kuuntai sejak semalam terasa tak berarti lagi kala aku semakin menilai raut wajahnya.

__ADS_1


Ya, benar. Meskipun dia masih diam seribu bahasa dan hanya memperlihatkan seulas senyum tipisnya kepadaku. Namun aku sangat yakin, kalau hal yang selanjutnya dia katakan adalah kata perpisahannya untukku. Dan aku pikir firasatku ini tak akan salah, meski yang aku inginkan adalah sebaliknya.


__ADS_2