
Delvin -
Tak.
Aku meletakkan gelas di atas kaca meja pantry. Duduk di salah satu kursi putarnya yang mana di hadapanku udah tersedia sepiring sarapan bermenu lengkap; nasi goreng, sosis goreng dan telur ceplok, yang belum kusentuh sama sekali.
Tatapanku terarah lurus ke depan. Tepat pada guci besar bawaan Mama dari Hongkong saat dinas lima tahun lalu. Bukan, bukan itu arah fokusku. Benar, jika mataku terarah ke sana tapi pikiranku pergi ke sana-kemari. Menggeleng, aku mencoba fokus untuk menyuap sesendok nasi ke mulut. Saat bari tiga suapan, aku pun berhenti tiba-tiba.
Mataku sayu, malah jadi cenderung berat. Membuatku jadi agak nggak berselera menikmati sarapan di pagi ini. Dan, ini terjadi karena semalam!
Setelah melakukan perundingan sengit dan membuat kesepakatan ulang atas persetujuan bersama itu, tadi malam. Akhirnya, membuat waktu tidurku jadi banyak berkurang!
Semalam, kami selesai berunding aja udah sampai tengah malam, atau tepatnya pukul 00.15 WIB. Belum lagi ditambah waktu yang aku pakai untuk mengetik ulang surat perjanjian itu. Demi nggak ada dirugikan, aku memilih untuk memakai otakku merangkai kalimat agar surat perjanjian itu bisa lebih spesifik lagi dari apa yang kami sepakati sebelumnya. Dan, akhirnya pada pukul 01.23 WIB, baru lah aku bisa istirahat. Tidur!
Kemudian, sepagi ini, baru aja kami bertemu lagi untuk menandatangani kesepakatan itu bersama-sama. Pertemuan singkat yang hanya berlangsung kurang dari 30 menit yang begitu minim percakapan selayaknya kami semalam akibat waktu Kira-kira yang tersita untuk janji temu dengan vendor kain, katanya. Nggak heran, makanya dia jadi terlihat terburu-buru.
Aku menggeleng-geleng dengan mata yang menerawang. Pikiranku pun kembali pada beberapa saat lalu. Saat di mana...
[15 menit sebelumnya]
Cklek. Akhirnya si Kira-kira keluar juga dari kandangnya. Sial, beberapa hari ini kenapa jadi aku terus yang menunggunya lebih dulu, sih?!
Aku mengerut kening saat kuperhatikan dia nggak kunjung keluar menemuiku di sini, alih-alih hanya membuka pintu tanpa menampakkan batang hidungnya di hadapanku.
Dia nggak bermaksud sengaja membuatku menunggu lebih lama lagi, kan??!
"Duh, Vin, sori banget yaa... Sori! Gue telat bangun tadi, makanya jadi kacau balau nih pagi gue!" Dia meracau yang mana hanya suara teriakkan khasnya yang berasal dari dalam kamarnya.
Hidungku mengerut. Bahkan, aku yang kurang tidur nggak sekacau dirinya. Bukannya dia harusnya tidur lebih cepat dariku ya?
Dari celah pintu balkonnya yang terbuka lebar itu bisa kulihat kalau dia sedang bolak-balik dengan roll rambut di atas kepalanya, atau tepatnya hanya bertengger di bagian ubun-ubunnya. Letak di man poni barunya berada.
"Duh, elah! Gue belum sarapan lagi!!" Serunya seakan sedang merutuk pada dirinya sendiri. "Ya Allah... pusing banget deh, gue... ke mana lagi tuh stampelnya!" Teriakkannya itu lagi-lagi membuatku cuman bisa mengernyit seraya geleng-geleng kepala. Jengah.
Setelah aku bertahan sabar dengan mendiamkannya beberapa saat, baru lah dia menampakkan sedikit kepalanya dari celah pintu sambil tersenyum dengan cengiran aneh khas Kira-kira. "Nungguin gue ya? Tunggu bentar lagi ya, gue sarapan di situ deh..." lalu, dia pun menghilang lagi dari pandanganku.
Aku menghela napas panjang. Lagi, menggelengkan kepala. Jengah. Meski sebenarnya udah nggak heran juga melihat dia yang ribet sendiri begitu. Hah...
"Udah sarapan lo, Vin?" Akhirnya dia resmi keluar dari kamarnya itu sekarang.
Dia yang udah rapih dengan kemeja biru muda berlengan pendek dan rok bahan 3/4 berwarna abu terang yang panjangnya nggak lebih dari sebetis itu, berjalan menyusulku yang udah stand by di sini sejak tadi, sembari dia mendorong kursi putar berroda miliknya lengkap dengan sepiring menu sarapan sehatnya di sebelah tangannya.
"Eh, lo kok belum rapih sih, Vin? Nggak kerja lo?!" Pertanyaan susulan darinya menodongku lagi. Padahal pertanyaan sebelumnya pun belum juga aku jawab.
__ADS_1
"Gue udah mandi kok, tinggal ganti baju aja nanti. Lagian, ini juga masih jam berapa." Responku yang membuat dia memberengit.
Dia yang sudah duduk di atas kursinya selagi menyantap roti lapis isi sayur dan telur rebus itu pun menatapku keheranan. Ganti dia yang geleng-geleng. "Bisa-bisanya lo ngomong gitu, macem lo kerja di perusahaan Nenek Moyang yaa, Vin?!"
"Ya kan, yang penting gue masuk kantor nggak pernah telat." Alibiku. Dia balas mencebik, nggak percaya. "Eh, gue serius itu... gue nggak pernah telat kalau masuk kantor!" Tegasku berusaha membuatnya yakin.
Lalu, dengan menyebalkannya dia mengangguk-anggukkan kepala dengan masih ada kunyahan roti di mulutnya. Lebih menyebalkan lagi, tampangnya itu. Lihat, aku aja paham banget kalau dia meremehkan pengakuanku sekarang!
Huh, sialan, sialan!!
"Terserah lo deh, kalo nggak percaya." Dengusku kesal.
"Iya, iya, gue percaya... elah, gitu aja ngambek sih, Vin?"
Aku melotot. Nggak terima."Idih, siapa juga yang ngambek?!"
Lagi, dia mencebikkan bibirnya. Membuat isyarat kalau dia nggak percaya kalimatku lagi. Namun, kemudian langsung disusul tawa lebarnya tetiba. Aih, sialan, dia emang niat menggodaku!
"Eh, udah sarapan belom lo?" Tanyanya kemudian.
"Belum." Jawabku jujur. "Kenapa? Lo mau kasih roti lapis lo itu buat gue??"
Dan, sekonyong-konyongnya dia malah menggeleng. Bikin aku langsung keki jadinya. "Nggak tuh, ge-er amat. Gue kan, cuman basa-basi aja yeee..."
"Dasar anak kampret ya lo..." desisku padanya, sengit. Namun aku malah diabaikan olehnya yang lebih sibuk mengunyah dan memperhatikan roti lapisnya tanpa melirikku sedikit pun. Sial, sial!
Kyra mengerut kening tepat beberapa saat membacanya. "Kalimatnya kok jadi panjang-panjang banget gini, sih?!" Protesnya padaku.
"Iya, biar detail jadi lebih jelas jangkauan hukumnya ke mana aja."
"Mana jadi banyak banget lagi." Imbuhnya lagi.
"Sengaja! Biar masing-masing jelas dan nggak dirugikan!" Tegasku.
"Pasal 4 yang gue bikin di awal lo tuker jadi pasal 6? Pasal 4 ini lo buat baru?" Dia mengangkat alisnya tinggi ke atas, menatapku.
"Gue masukin semua poin yang kita bahas semalam. Yaudah, itu semua hasilnya. Tolong, jangan banyak protes lagi! Cepet tanda tangan, katanya mau ketemu klien?!"
Kyra mendengus keras seraya menatapku dengan pandangan kesal. Namun sepertinya kalimatku itu cukup berhasil mempengaruhinya sehingga dia nggak lagi banyak komentar dan langsung menandatangani kertas itu pada kolom yang tertera. Menyusul tanda tanganku yang sudah bertengger di sana lebih dulu.
"Nih, udah!" Dia langsung menyerahkan kertas berikut pena hitam itu padaku. Aku tersenyum.
Namun, baru saat ujung jariku menyentuh permukaan kertasnya sedikit, dia malah menarik tangannya ke atas. Membuat kertas itu kembali jauh dari jangkauanku.
Apa-apaan maksudnya itu?!
"Gue aja yang simpan surat ini ya?" Tawarnya padaku.
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir aku langsung mengangguk, mengiyakannya. Toh, mau di tangan siapa pun surat perjanjian itu berada akan sama aja, kan?
"Ya udah, kalau lo mau." Putusku akhirnya. Dia mengangguk, seakan memberi penghargaan atas keputusanku ini sudah benar. Haha, dasar Kira-kira!
"Kalau gitu..." lalu dia menyodorkan tangan kanannya yang kosong itu padaku. "Kita... deal?" Tanyanya menatapku lekat.
Untuk beberapa saat aku menatapnya. Namun kemudian sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum menyambut uluran tangannya. Menjabatnya erat.
"Deal!"
[...]
Pada akhirnya, kesepakatan kami pun terjadi. Tapi entah kenapa aku masih belum bisa bernapas lega.
Jujur, apa yang dia katakan semalam sempat bikin aku kepikiran, bahkan nyaris membuatku nggak bisa tidur sampai pagi andai aku nggak berusaha mengenyahkannya!
Berusaha membuatnya jatuh cinta. Aku pikir itu adalah satu hal mustahil mengingat dia memiliki cinta pertama yang amat konsisten hingga mampu bertahan lebih dari sepuluh tahun lamanya meski hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Tentu aja, waktu yang berjalan pasti akan terus membuat benteng pertahanannya menebal sedemikian rupa. Tapi kupikir, benteng pertahanan itu lebih tebal dari yang pernah kuperkirakan. Bahkan setelah melihat reaksinya yang masih bisa bersikap seperti biasa saat bersamaku, membuatku berpikir kalau dirinya sudah terlalu nyaman denganku yang sebagai sahabatnya alih-alih seseorang yang dia sukai.
Untuk mengubah arti persahabatan itu menjadi cinta sepertinya nggak semudah yang dipikirkan orang-orang kebanyakan yang memahami kalau sahabat dan cinta hanya berjarak setipis kertas.
Lalu, bagaimana aku harus berjuang sekarang?
Dan cra apa yang akan aku gunakan untuk menarik perhatiannya sementara dia menutup dua akses yang padahal bisa membuat jalanku menjadi lebih mudah?!
Kyra... aku tahu dia bukan perempuan yang mudah didapatkan. Tapi bukankah jika Delvin Adinata sudah bertekad keras seberapa pun terjal rintangan itu semua yang diupayakan pasti bisa terwujud sesuai harapan?!
Dan itu pula, termasuk membalikkan perasaan si Kira-kira agar bisa mencintaiku!
Aku tersenyum. Bahkan sudut-sudut bibirku tertarik amat elastis, yang jikalau aku terus membiarkannya mungkin kulit pipiku akan robek saking lebarnya tarikkan itu. Namun aku nggak peduli.
Dengan gundah hati yang meringan bebannya, aku lantas menyantap sisa nasi goreng di piringku dengan riang.
"Ayo, pergi ngantor sebelum terlambat!"
_____________________
P.S :
Halo semuaa... mohon maaf yaa beberapa hari kemarin aku nggak sempat apdet. Karena banyak agenda di luar yg bikin pulang capek, akhirnya aku baru bisa lanjutin naskah cerita ini hari ini.
Makasih karna kalian udah mau setia di sisi Kyra-Delvin yang kapalnya baru banget mulai berlayar. So, kupikir ceritanya bakalan panjang. Iya, emang sengaja kalo cerita di mangatoon pasti aku bikin alurnya lebih lambat. Gak apa ya? Karna kalo di lapak ini aku gak bisa buru-buru ehehehe
OYA, JANGAN LUPA KOMEN, LIKE DAN VOTE YAAA...♡♡♡
XOXO,
__ADS_1
ICHA.