Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.7 | A : Make a Decision


__ADS_3


Kyra -



"Jadi, menurut Mbak, gimana?"


Aku yang sedang duduk di depan meja pantry menatap lurus ke depan, menunggu Mbak Intan yang sedang sibuk membuat bubur kacang hijau yang entah kenapa akhir-akhir ini menjadi favoritnya.


Mbak Intan, kakak iparku alias istri dari kakak semata wayangku, Mas Kamil--dia yang tadinya sedang sibuk mengaduk-aduk isi panci stainless yang baru saja dituangkan sebungkus santan instan itu lantas menoleh ke belakang, ke arahku. Sambil mencicipi kuah bubur buatannya yang sudah ditetesi sedikit di tangan, Mbak Intan mengangkat alisnya ke atas tinggi hingga membuat mata sipitnya membulat lebar.


"Tunggu deh!" Seruannya yang tiba-tiba membuatku mengernyit. "Ini cerita kamu bukan sih, Ky?"


Mataku mengerjap seketika. Terpaku. Kaget. Kalau saja aku sedang minum saat ini pasti aku sudah batuk tersedak akibat tebakan kakak iparku yang jitu itu. Lalu setelah menenangkan gerakan emosi yang sempat bergejolak ini dengan cepat, aku pun tertawa ringan. Jenis tawa yang seharusnya tak bisa membuat lawan bicaraku curiga. Harusnya ya, harusnya. Tapi... entah lah. Semoga tidak!!


"Eii... Mbak Intan asal aja! Ya, bukan lah, ini cerita temanku, Mbak. Itu loh, teman yang bikin projek sepatu kulit bareng aku di Bandung!" Aku mengutuk diriku sendiri karena telah berbohong. Ya Allah, maafkan hamba... huhu.


"Ooh, gitu..." Mbak Intan mengangguk-anggukkan kepalanya seiring hilangnya sorot penuh kecurigaan di matanya. "Agak mengecewakan nih. Kirain kamu, Ky,"


"Ih! Kok gitu sih?!" Mataku menyipit, seakan menentang ucapannya. Membuat Mbak Intan nyengir kemudian.


Lalu, dia pun kembali memutar kepalanya ke arah depan. Mengaduk isi panci itu lagi, sebentar. Baru lah setelahnya, dimatikannya api kompor itu. Membiarkan uap panasnya keluar, Mbak Intan sengaja tak menutup pancinya rapat alias hanya ditutup setengahnya saja.


Dia pun membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan lurus terarah kepadaku. Mengambil bangku di hadapanku, dia pun duduk di sana. Kami duduk saling berhadapan sekarang. Kedua tangannya dia letakkan di atas meja, berpangku dagu. Ekspresinya serius. Persis seperti wajah dosen saat sedang menganalisis jawaban mahasiswanya.


"Hm, jadi kronologisnya adalah... teman kamu yang satu projek bareng itu tiba-tiba dilamar sama teman baiknya yang selama ini akrab jadi sahabat karib? Terus, teman kamu itu bingung gimana menanggapinya sementara dia yakin temannya itu serius dan bersungguh-sungguh saat melamarnya, gitu, kan?!" Mbak Intan menatapku lurus. Aku yang serius mendengar hasil rangkumannya itu lantas mengangguk, mengiyakan.


Mbak Intan tiba-tiba menghela napas. Keningnya berkerut, tanda berpikir. "Kamu tau nggak, alasan kenapa temannya itu tiba-tiba melamar dia?!"

__ADS_1


Kini ganti aku yang mengernyit. Alasan Delvin melamarku? Otakku turut bertanya. Tak menemukan jawabannya, aku mengangkat bahu. "Nggak tau, Mbak, dia nggak jelasin tuh ke aku,"


"Tapi teman kamu curiga ada hal lain yang jadi alasannya kenapa sahabat temanmu itu bisa tiba-tiba bilang kayak gitu, nggak?" Tanya Mbak Intan lagi.


Sekali lagi aku berpikir, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Kecurigaanku ya...


"Move on?" Kataku ragu.


Mbak Intan mengernyit. "Ha? Gimana??"


"Kalau dari ceritanya sih yaa, Mbak, mereka tuh kan sekarang lagi sama-sama habis patah hati, terus pas si cewek cerita mau lepas segala perasaannya buat si mantan, tau-tau sahabatnya itu langsung ngutarain lamarannya. Kayak gitu..."


"Dan, si sahabatnya itu juga habis putus dari pacarnya??" Tebaknya, aku menggangguk cepat.


"Hmm," lagi-lagi kening Mbak Intan berkerut dalam. Dia terdiam sebentar, berpikir. Sampai kemudian dia menatapku lurus-lurus. "Kalau gitu..."


Aku menatap serius wajah Mbak Intan di hadapanku. Menanti jawabannya dengan penuh harap. Sungguh, aku harap Mbak Intan bisa mengatasi kegalauanku selama lebih dari seminggu ini!


***


Aku menghela napas panjang, entah sudah ke berapa kalinya selama sejam setelah kukembali ke kamar setelah makan malam.


Terngiang-ngiang di pikiranku tentang saran Mbak Intan sore tadi. Istikharah ya... istikharah...


Setahuku, perihal istikharah itu adalah ibadah yang dijalankan seseorang kala merasa ragu atas dua pilihan tuk dimantapkan kepada satu pilihan yang terbaik, yang tentunya jawaban terbaik itu diperoleh dari Tuhan yang Maha Mengetahui atas segala seluk beluk kehidupan di alam semesta ini.


Setelah didefinisikan panjang seperti itu oleh diriku sendiri, kupikir jawaban Mbak Intan adalah jawaban paling bijak yang bisa kulakukan untuk menjawab pertanyaan Delvin.


Aih, anak itu kenapa sih, tiba-tiba...!!

__ADS_1


Tanpa sadar, aku menghentakkan sepasang kakiku di atas kasur, menendang selimut yang ada di bawah kakiku penuh kesal. Hah, bagaimana bisa aku tak kesal. Gara-gara dia bicara begitu, akhirnya mau tak mau aku harus memikirkan ajakannya itu sampai bikin aku pusing sendiri!


Sebenarnya... aku pun merasa malu yang teramat sangat. Saking malunya diriku, aku sampai harus berpura-pura mengabaikan ucapannya saat di restoran tempo lalu. Belum lagi selama lebih seminggu ini aku malah menghindarinya tanpa sadar, saking takutnya aku ditagih jawaban olehnya!


Melirik jam digital di atas nakas yang juga terdapat keterangan tanggal di bawahnya, akhirnya membuatku sadar bahwa waktu sudah sepuluh hari berlalu dan aku masih merasa harus kucing-kucingan dengan Delvin.


Lihat! Pintu balkon kamarku saja yang biasanya terbuka lebar, kini jadi tertutup rapat. Padahal aku pun sudah amat rindu duduk di sana selagi menikmati angin malam seperti biasanya.


Sekali lagi, kuhela napas panjang-panjang. Delvin yaa... dia emang ahli bikin orang lain susah!! Otak warasku kembali menyalahkannya.


"Bisa-bisanya bikin gue jadi kelihatan bego selama seminggu!"


Aku mengerut kening, merasa mendengar suatu kalimat yang agak terdengar jelas tapi juga tidak. Aku ragu dengan apa yang barusan didengar telingaku. Karena suaranya hanya sayup-sayup saja kudengar. Tapi dari gaya bicara dan nada suaranya, entah kenapa otakku langsung terbayang-bayang wajah Delvin yang sedang memaki. Sungguh, amat mengganggu untuk dibayangkan! Hush, pergi sana...


Aku mengangkat bahu kemudian. Memutuskan mengabaikan suara setengah jelas dan setengah tidak itu begitu saja. Lebih memilih merebahkan diri, bersiap untuk tidur saja mengingat besok ada jadwal pertemuanku dengan pemilik bangunan yang hendak kusewa. Tidur itu memang penunda masalah terbaik! Hehe.


"TAK!" Sebuah benda padat menghantam keras kaca pintu balkonku, baru saja.


Mataku pun membelalak otomatis. Jantungku ikut berdetak cepat seiring perasaan terkejut yang bergejolak di dadaku. Membuatku yang baru saja ingin merebahkan kepala jadi terdiam mematung dengan wajah terperangah.


"Siapa sih, yang kurang kerjaan malem-malem begini?!!"


Aku marah. Serius.



____________________


P.s:

__ADS_1


Ayooo komen yang banyak! Tembus 50 komen, aku buatin crazy up dehhh :p


Hahahahaha~


__ADS_2