
Kyra -
Dan, pada akhirnya, aku memesan menu paket sesuai yang aku inginkan. Paket menu tiga orang yang menyediakan Nasi Liwet dengan lauk pauk beragam dimulai dari ikan bakar, tumis kangkung, sambal, lalap, dan lain sebagainya yang tentunya akan membuat lidah bergoyang. Saking lezatnya!
Dalam kurun waktu sepuluh sampai lima belas menit, semua pesanan itu pun berakhir di meja kami secara berangsur-angsur. Melihat keseluruhan menu yang ada di atas meja, yang terlihat begitu banyak, membuat Delvin geleng-geleng kepala. Merasa keheranan atas nafsu makanku yang katanya lebih mirip "kuli bangunan" daripada "anak gadis". Yah, yah, dia memang begitu. Untung saja semua ini hasil dari traktirannya, kalau tidak aku pasti langsung memakinya!
Beberapa kali bahkan sempat kulihat tatapan takjub sekaligus heran dari matanya. Dia yang telah berhenti setelah piring pertamanya, memilih menikmati sisa es kelapa mudanya di gelas dan membiarkanku menghabiskan semua sisanya. Yang tentu saja kusambut dengan rona bahagia, karena semua menu ini adalah makanan favoritku!
Aku yang masih terfokus untuk menghabiskan semua makanan di atas piringku, membiarkannya yang tiba-tiba tertarik pada Gurame Bakar yang kemudian memisahkan duri dari dagingnya. Yah, siapa tahu dia memang pengin makan lagi, batinku berucap. Aku angkat bahu.
Namun, apa yang dilakukannya kemudian membuatku terheran-heran seketika. Pasalnya, daging ikan bakar itu malah dia taruh di atas piringku alih-alih piringnya yang kosong.
Dengan mulut penuh makanan yang sedang sibuk mengunyah, aku menatapnya dengan pandangan aneh. "Nggak biasanya lo perhatian gini, deh."
"Udah biasa. Lo-nya aja yang nggak sadar," timpalnya bernada enteng sambil terus meletakkan daging-daging ikan itu di atas piringku.
Aku mengernyit sesaat, namun kemudian mengangkat bahu. Memilih tak acuh dan kembali fokus pada makanan yang ada di piringku saja. Sampai setelah semua makanan ini tandas tak bersisa, aku yang merasa begah karena kekenyangan ini pun segera memundurkan tubuh untuk duduk menyender ke dinding pembatas di belakangku. Menepuk-nepuk perut, aku pun berkata, "Alhamdulillah, hamba kenyang Ya Allah..." aku tersenyum, cerah. Sedangkan Delvin langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, jengah.
Lalu tiba-tiba, aku bersendawa cukup keras. Membuat Delvin membelalakkan matanya padaku, saking dia kagetnya. Aku lantas tertawa melihat ekspresinya yang setengah jijik dan heran sekaligus itu. Aih, ada apa dengan wajahnya itu, padahal kami sudah biasa seperti ini. Buat apa dia heran?!
"Heh, Kira-kira! Jaga image lo dikit, kek! Ini di depan umum kali, bukan di rumah. Malu kali, lo itu anak gadis bukannya kuli beneran!" Rutuknya tak habis pikir padaku.
Namun, bukannya merasa bersalah. Aku malah tertawa saja mendengar omelannya itu. "Vin, lo tau, nggak. Arti sendawa keras itu apa?"
Delvin mengernyit. "Apa?"
"Itu adalah ungkapan menghargai kebaikan orang yang telah mentraktir makan. Nah, karena gue berterima kasih banget nih sama lo, makanya gue jadi sendawa keras banget gini di depan lo!"
__ADS_1
Delvin menatapku manggut-manggut seolah dia sudah paham tentang apa yang baru saja kukatakan, lalu sebelah alisnya naik ke atas. "Teori siapa itu? Siapa tokoh yang bilang kayak gitu, hmm??"
"Teori... Gue!" Dengan bangga aku menunjuk diriku sendiri. Aku tertawa keras, tak jauh dengan Delvin yang tersenyum meski kepalanya tetap menggeleng-geleng heran.
"Dasar, nggak jelas!" Dia menimpukku dengan buntalan tisu bekas tangannya. Yang lantas membuatku merengut sesaat, namun kemudian kami malah kembali tertawa bersama.
Ya, kadang bercanda dengan Delvin memang bisa seaneh dan semenyenangkan ini. Hehe.
Ah, tiba-tiba aku kembali teringat!
Bicara tentang candaannya, aku masih tak terima dengan cara bercandanya yang semalam itu. Gara-gara hal tersebut, aku bahkan sempat ingin menghindar darinya karena canggung. Entah, aku juga bingung. Padahal kami biasa bercanda, tapi saat dia berkata demikian kenapa jantungku berdetak cepat dengan gelisah dan separuh hatiku pun seolah berkata mengharap dari kalimatnya. Ah, tak tahu lah! Sepertinya sekarang aku harus segera meluruskan kesalah pahaman itu, agar kelak tak ada canggung lagi di antara hubungan kami berdua!
Karena... jujur, canggung pada Delvin itu amat menyiksa. Tersebab aku yang membutuhkannya sebagai teman untuk bercanda gurau bersamaku. Tanpanya, jelas hidupku pasti akan hampa!
"Vin,"
"Hmm?" Dia yang baru menandaskan segelas es kelapanya itu pun menatapku.
Dia mengernyit. "Apa? Tiba-tiba..."
"Yang semalam itu... jangan ulangi lagi! Gue nggak suka tau, nggak, kalau lo bercanda yang jenisnya kayak gitu!" Tegasku padanya.
"Oh, yang soal gue bilang, ayo nikah sama gue dan berjuang bareng-bareng, itu ya?"
Mendengar ocehannya itu lantas aku memukul kepalanya dengan gagang sendok bersih yang tak terpakai di atas meja. Mataku melotot padanya, "Dibilang, jangan diulangi lagi!"
Delvin meringis kesakitan, padahal kupikir itu tak akan sakit untuk kepalanya yang sekeras batu itu. "Heh, sakit kali!"
"Suruh siapa lo, malah memperjelas kalimat yang enggan gue dengar!" Rutukku. Dia mendengus, hanya diam dan hanya mengusap-usap kepalanya tepat di titik bekas pukulanku tadi.
"Eh, kepala lo nggak sakit beneran, kan?" Tanyaku hati-hati. Takut sungguhan melukai kepalanya.
__ADS_1
"Kalau khawatir, ngapain lo pukul kepala gue?!" Dengusnya kesal.
Aku nyengir. "Refleks, hehe..."
Lagi-lagi dia mendengus, dan memutar bola matanya. Jengah.
Aku mencebik melihat ekspresinya itu. Tak habis ide, aku lantas tertawa kecil tiba-tiba. Berniat mencairkan suasana. "Eh, tapi, untungnya, gue orangnya nggak gampang baper! Coba aja gue baper, gue pasti kepikiran banget sama candaan dengan wajah serius lo itu, kan!! Haha,"
Anehnya, dia tak merespon tawaku. Kini, Delvin hanya memandangku datar dan membiarkanku tertawa sendirian. Hingga membuatku jadi tak enak hati, aku pun mulai menyurutkan tawaku dengan perlahan tapi pasti.
Sungguh, wajah seriusnya itu amat mengintimidasiku!
Dia kenapa sih? Apa dia sebal padaku karena pukulan tadi itu?! Isi hatiku mulai bertanya-tanya.
"Hei,"
Aku lantas menatapnya fokus di manik mata. Mata hazelnya menatap lurus ke arahku yang berhadapan dengannya.
"Kalau gue nggak bercanda, gimana?" Tanyanya tiba-tiba, membuat sisa tawaku bahkan senyumku benar-benar menghilang dari bibir ini seketika.
"Hah??"
"Gue nggak bercanda, Kyra. Yang semalam itu, gue serius tanya sama lo... lo mau nikah sama gue? Gue siap berjuang bareng-bareng buat saling mencintai seperti harapan lo."
Mataku mengerjap. Entah kenapa, berbeda seperti yang semalam, perasaan canggung itu tak menyeruak lagi dalam benakku. Yang tertinggal hanya debaran jantung yang terasa kian jelas degupannya. Berdebum-debum di dalam dada. Memanaskan aliran darah seketika. Anehnya, saat aku menatapnya, di sana pula aku melihat ketulusan dari sirat matanya.
Dan, itu yang membuat degupan jantungku makin gila!
Seriously, sekarang aku harus apa?!!
__ADS_1