
- Kyra -
Perbincangan kami berlanjut. Bahkan sampai selesai makan malam dan berkumpul di ruang tengah sembari minum teh atau kopi panas yang ditemani dengan sepiring martabak telur yang tadi dipesan-antar, topik itu masih tetap hangat dibicarakan.
Telingaku sebenarnya sudah sakit saat lagi-lagi pertanyaan itu-itu lagi yang mereka tanyakan padaku atau Delvin. Pertanyaan yang seperti...
"Kenapa sih, kalian berdua nggak nikah aja?"
Begitu lah pertanyaan yang lagi-lagi kudengar sejak sore tadi sampai menjelang malam begini. Huh, nggak bosan-bosan ya?!
"Kyra jomblo, Delvin..." Kanaya menggantungkan kalimatnya, melirik Delvin yang lantas membuat cowok itu mengangkat alis tebalnya ke atas. "Jomblo, kan, Vin??"
"Jomblo dia, baru putus padahal udah 8 tahun pacaran!" Tukasku secepat kilat.
Delvin yang duduk di sisi Om Aric langsung melotot garang padaku. Tapi aku tak mengacuhkannya, berpura-pura nggak melihat. Hehe. Bentuk balas dendam dariku buat dia yang nggak mengeluarkan suaranya sejak tadi, padahal aku sudah mati-matian menyangkalnya sendiri. Dasar, dia emang nggak mau repot!
Sementara Kanaya tampak kaget mendengar penjelasanku barusan, begitu pula Kak Nena yang kini bahkan pupil matanya membesar dengan gerakan gelas tehnya yang memang ingin dia minum terhenti di udara.
"Serius?"
"Delapan tahun?!" Tanya mereka nyaris serempak. Mungkin hanya beda beberapa koma detik.
Aku lantas mengangguk, meyakinkan. "Mereka pacaran dari SMA, loh! Awet banget, kan??"
"Gila, delapan tahun kredit mobil udah lunas kali ya?!" Seloroh Kanaya.
"Kredit rumah juga, kalau ambil KPR yang 10 tahun malah sisa 2 tahun lagi tuh!" Balas Kak Nena menambahi.
Aku nyengir saja mendengar seruan-seruan mereka. Meski sebenarnya agak merasa bersalah pada Delvin karena malah membahas putus cintanya seperti ini.
"Terus, kenapa tuh bisa putus??" Tanya Kanaya pada Delvin dengan sorot mata super ingin tahu alanya.
Aku melipat bibirku sendiri. Berjaga-jaga, takutnya aku malah keceplosan dan menjawab yang sesungguhnya. Diam-diam kulirik Delvin yang ternyata berekspresi biasa saja dengan menyesap kopi panasnya santai, padahal kukira dia akan kelabakan. Syukur lah... rasa bersalahku jadi berkurang. Hehe.
Delvin membiarkan pertanyaan itu menggantung beberapa detik selagi dia menikmati kopinya, dan kemudian baru lah dia menjawab. Dengan amat santai dia berkata, "Nggak jodoh."
Aku bahkan sampai menganga tak percaya akan apa yang baru saja kudengar darinya. Begitu entengnya dia bicara begitu, seakan-akan hal itu bukan lah apa-apa. Padahal aku amat tahu tentang nggak warasnya dia kala patah hati!
Ya, ya, aku tahu... Delvin memang selalu jago untuk menyembunyikan isi hatinya. Sama persis dengan saat dia kecil!
Aku menghela napas panjang. Manusia memang tak mudah berubah. Begitu juga Delvin.
"Nahh, betul banget itu!" Kini Om Aric mulai kembali mengeluarkan suaranya setelah sekian lama. "Mau berapa lama pun pacaran, kalau nggak jodoh, yaa, pasti bakal pisah-pisah juga!"
Aku terdiam. Entah kenapa aku malah teringat wajah Bang Ezra tiba-tiba. Padahal baru sore tadi aku mulai tak ingat tentangnya, dan sekarang aku bahkan mengingat wajah dengan senyum manisnya itu lagi?!
Benar kata Delvin. Aku memang 'bucin'! AAARGGHH!!!
"Eh, Kyra?! Kamu kenapa??"
Seketika aku terkesiap. Orang-orang di sekelilingku langsung menatapku penuh keheranan. Aku lantas menatap mereka satu per satu, berkedip yang sudah kupastikan akan membuat wajah tak bersalah.
"Eh, aku kenapa, Kak?" Aku nyengir.
"Tadi, tiba-tiba menggeram gitu... kamu nggak pa-pa, kan, Ra?" Tanya Kak Nena dengan raut khawatir.
__ADS_1
Begitu sadar tentang hal itu, aku langsung mendengus kesal. Dalam hati mengutuk diriku yang bisa-bisanya mengeluarkan suara yang harusnya cukup di dalam hati saja! Aih.
"He he he..." tawa hambarku terdengar di udara. Kulirik Delvin seketika. Benar, dia sedang menatapku jengah. Tentu, dia pasti sudah tahu tentang fake laugh ala Kyra ini. "Itu, karena aku mau berdeham, Kak, soalnya tadi kayaknya nggak enak gitu tenggorokkanku,"
"Oh, gitu..." Kak Nena kini mengangguk. Yang langsung membuatku meringis.
"Iya, gitu, Kak. He he he..." aku nyengir lagi.
"Ya udah, minum air putih gih, biar enakan. Atau mau Kakak buatin air madu-jeruk nipis?"
Tawaran baik Kak Nena lantas membuatku gelagapan. "Eh, eh, nggak usah, Kak!"
Penolakanku itu lantas membuat Kak Nena mengernyit. "Aku buatin aja, ya? Nggak akan ngerepotin, kok." Dia tersenyum.
Kebohonganku malah seperti senjata makan tuan. Kini aku makin bersalah karena sudah memperlakukanku dengan setulus itu. Lalu, aku harus bagaimana?!
"Nggak usah dihirauin Kak, kalau dia gitu cuman butuh minum aja kok." Sela Delvin, aku langsung mengangguk-angguk mengiyakan. Membuat Kak Nena yang tadinya sudah mau berdiri pun kembali duduk di atas karpet lagi.
"Nih, minum!"
Aku menatap uluran tangan Delvin yang memberiku segelas air putih yang isinya tinggal setengah gelas itu, entah dapat dari mana. Ragu-ragu aku menerimanya, tetapi saat mataku melirik ke arah Kak Nena, senyumannya itu lantas membuatku mengambil gelas itu dari tangan Delvin.
"Makasih, loh, Vin." Kataku, lalu meminum air di gelas itu sedikit. Sebagai syarat agar Kak Nena dan yang lain kecuali Delvin nggak curiga. Hehe.
Lalu, setelah itu obrolan kami berlanjut.
Om Aric bercerita, katanya, dia dan Kak Nena bukan lah sepasang kekasih pada mulanya. Tentu, pengakuan itu langsung membuat kami terkejut mendengarnya. Tidak menyangka. Pasangan yang amat lengket itu dulunya bukanlah pasangan kekasih.
"Dijodohin??" Sela Delvin memekik, di tengah-tengah cerita Om Aric.
Aku berdecak. Lalu, kupukul lengannya dengan gulungan majalah yang tanpa sadar sudah kupegangi sejak tadi. Membuatnya meringis, pura-pura sakit padahal pukulanku sudah tanpa tenaga. Ck, dasar lebay!
Delvin mendengus. Namun dia nggak membalas perkataanku. Bagus, berarti dia sudah sadar!
"Silahkan lanjutkan, Om," kataku mempersilahkan.
Om Aric tersenyum. Dia pun kembali melanjutkan ceritanya.
Begini, menurut penuturan Om Aric, hubungan Om Aric dengan Kak Nena mulanya hanyalah sebatas teman sepermainan. Kebetulan Kak Nena adalah adik dari sahabat Om Aric. Dan kala mereka sedang bermain atau berkumpul bersama, Kak Nena hampir tiap kesempatan selalu ikut dengan sang Kakak. Yang membuat mereka akhirnya bisa saling mengenal. Mulanya, bahkan Om Aric hanya menganggap Kak Nena adik, tidak lebih, mengingat usia mereka terpaut cukup jauh. Apalagi Om Aric sudah melihat Kak Nena sejak dia masih kanak-kanak, hal itulah yang membuat Om Aric memandang Kak Nena bukanlah sebagai wanita melainkan adik kecil.
Aku mengernyit. "Terus, kenapa tahu-tahu bisa nikah?!"
Om Aric tersenyum. "Rahasia takdir."
Jawabannya itu langsung membuat kami yang mendengar ceritanya ini mendengus kesal. Apa-apaan itu!
"Yang benar dong, Om," ujar Kanaya. "Jelasin lah, kenapa kalian bisa nikah? Siapa yang duluan sadar sama perasaannya sendiri?"
"Kita berdua sama-sama saling sadar kalau kita bisa saling melengkapi satu sama lain." Imbuh Kak Nena menjawabkan pertanyaan Kanaya.
Kini, giliran Kak Naya yang bercerita. Katanya, putus cinta membuatnya terpuruk cukup lama, sampai kemudian Om Aric mencoba menghiburnya dan menjadi partner in crime yang mana bila dilakukan dengannya segala sesuatu berubah seru. Karena sering bersama, seiring waktu Kak Nena pun sadar dengan perasaannya pada Om Aric. Dan tanpa kuduga, ungkapan jujurnya langsung membuatku syok seketika. Yaitu, kala dia mengatakan;
"Karena sadar sama perasaan itu, yaudah, akhirnya aku ungkapin aja langsung ke orangnya. Dan, dia bukannya senang, tapi malah kayak orang linglung!" Lalu Kak Nena tertawa kecil, begitu pula dengan Om Aric yang ikut tersenyum lebar.
"Kak Nena nembak Om Aric?" Tanyaku tak percaya.
__ADS_1
"Bukan nembak lagi. Dia itu nodong nikah!" Sahut Om Aric yang sukses membuat rahangku terbuka. Plot twist macam apa ini?! Ya ampun!
"Yoi! Kak Nena keren banget!" Delvin tertawa sembari mengacungkan jempolnya.
Sementara di sebelah kananku, Kanaya hanya geleng-geleng kepala. Merasa tak percaya sekaligus syok, sama seperti aku!
"Terus, Om Aric langsung jawab, ya, gitu?!" Tanyaku penasaran dengan cerita labjutannya.
Kak Nena menggeleng. "Boro-boro! Dia tuh, gantungin aku seminggu, tahu!"
"Ya ampun, Om, teganyaa..." Kanaya geleng-geleng.
"Eh, dengar dulu, Nay!" Om Aric langsung ambil sikap. Membela diri. "Tapi setelah seminggu itu, Om langsung ke rumahnya buat melamar. Jadi, Om bukannya gantungin dengan sengaja, tapi langsung kasih kepastian di saat yang tepat!"
"Bravo! Bravo!!" Delvin bertepuk tangan. Dia tersenyum lebar. "Keren banget sih, Om, parah!" Lagi-lagi, dia mengacungkan jempolnya.
Menyambut pujian Delvin tersebut, Om Aric tertawa kecil.
"Eh! Vin, Ra, sadar nggak kalian, kalau cerita kita berdua ini kasusnya agak sama kayak kalian?" Tanya Om Aric melihatku dan Delvin bergantian.
Aku mengernyit. "Ha? Sama gimana, Om?"
"Ya, itu, kalian itu sebenarnya sadar bisa saling melengkapi, cuman kalian belum sadar aja sama perasaan hati masing-masing!" Jelas Om Aric yang membuatku tertawa mendengus seketika.
"Ih, Om Aric sok tahu!" Balasku.
"Eh, benar loh! Iya, nggak? Iya, nggak?!" Om Aric lekas mencari suara dengan menengok kanan dan kiri, pada Kak Nena dan Kanaya bergantian. Yang langsung diangguki kompak oleh mereka.
Aku menggeleng. Tak setuju dengan pendapat mereka. "Kita punya kriteria yang saling nggak cocok. Delvin tuh sukanya cewek 'princess' cantik yang populer, nggak suka dia sama yang abal-abal kayak Kyra gini. Dia aja panggil aku, Kira-kira, serasa kura-kura yang diplesetin hurufnya!"
"Mungkin aja itu panggilan sayang Delvin ke elo, Ra..." Kanaya tersenyum-senyum menggodaku. "Ciyeee," lalu, dia menyenggol bahuku dengan sengaja. Membuatku langsung melototinya, garang. Dan dia hanya nyengir.
Aku mendengus.
"Mungkin, kamu aja yang nggak tahu, Ra, kalau ternyata tipenya Delvin itu yang abal-abal kayak kamu gitu bukannya princess populer." Tambah Om Aric, yang sepertinya makin-makin saja menggodaku. Lalu, dia melirik Delvin. "Iya, nggak, Vin?!"
Perhatian pun terpusat pada Delvin seketika. Yang ditatap hanya menampilkan wajah datarnya sambil berujar, "No comment!"
Om Aric tertawa tiba-tiba. Begitu pula dua perempuan di samping kanan dan kirinya.
"Tuh, Ra, Delvin nggak mau jawab. Artinya benar berarti tuh!" Lagi-lagi Om Aric menggodaku.
Aku mendengus jengah. Emang asik yaa menggodaku?! Huh.
Kesal pada Delvin yang nggak tahu kondisi sama sekali. Aku menatapnya sengit. Menyebalkan! Bkannya membelaku, dia malah memancing di air keruh dengan jawabannya itu. Dasar nggak peka!
"Nonton film yuk, nonton film! Yang bagus, film apa ya? Hm..." gumamku sembari beranjak dari posisiku sebelumnya dan beralih ke depan televisi mencari remot tuk menyalakannya.
Dari pada aku terus yang jadi bulan-bulanan mereka, lebih baik aku pergi saja dari sana!
Kudengar mereka terkikik. Suara yang paling dominan tentu milik Om Aric yang memang suaranya paling keras dan bass.
"Kabur tuh dia, nggak mau diintrogasi.."
Bahkan kalau mereka menyindirku pun aku nggak peduli!
__ADS_1
Huh.