
- Delvin -
"Tck!"
Aku berdecak. Nggak tau udah berapa kali. Yang jelas pasti udah berulang-ulang kulakukan.
Semua itu gara-gara si Kira-kira alias Kyra! Kalau bukan karena menahan malu akibat tingkah norak bucinnya itu pasti aku damai-damai aja sedari tadi!
Lihat aja tuh!
Dari tadi dia senyam-senyum terus sembari memegangi pipinya itu lengkap dengan tatapan memuja kala Ezra mulai memperlihatkan kebolehan aktingnya. Aku geleng-geleng kepala. Sekarang dia malah makin melangkah maju ke depan menipiskan jarak pada set lokasi syuting itu berada. Mungkin baginya melihat Ezra dari jarak jauh kurang puas kali ya, begitu deh tuh jadinya! Ckck.
Kubiarkan saja Kyra dengan keasyikannya sendiri, sementara aku cukup berdiri saja di sini sembari menyender pada kap mobil Van yang terparkir di sana, entah miliknya siapa.
Dari posisi ini aku masih dapat memperhatikan gerak-gerik Kyra yang tentunya masih kelihatan norak di mataku. Huh, bucin... bucin!
Kyra, Kyra... kalau dipikir-pikir dia itu tangguh dan setia juga loh. Pasalnya, sejak SMP, mungkin kelas 8 waktu itu, cerita cinta monyet sekaligus cinta pertamanya itu dimulai yang sialannya bisa bertahan amat lama bahkan sampai hari ini. Gila, jika ada piagam untuk cinta sepihak terlama mungkin Kyra bisa kali masuk nominasinya!
Iya, itu adalah cinta sepihak. Cinta bertepuk sebelah tangan yang entah kapan bisa terbalaskan. Dari semenjak Ezra punya pacar dulu sampai putus, lalu punya pacar lagi dan putus lagi, Kyra masih nggak berpikir buat menyerah. Nggak heran kan, kalau aku bilang dia itu tangguh juga?!
Aku menghela napas panjang. Jika dipikirkan lagi, sungguh amat disayangkan cinta sepihaknya itu yang bahkan sampai hari ini pun belum kelihatan ujungnya. Ezra masih stay cool dengan posisinya itu, menjadi dominan dari perasaan cewek itu. Tapi sepertinya Kyra nggak masalah dengan hal itu, dia bahkan kelihatan senang-senang aja asal Ezra bisa dilihat oleh matanya meski pun dirinya nggak kunjung dapat kepastian. Aneh memang, kadang aku juga suka berpikir tentang pikirannya Kyra itu. Yang membuat satu pertanyaan selalu muncul dalam benakku; sebenarnya dia itu pengin dapetin Ezra atau cuman niat jadi fans-nya aja sih??
"Awas! Tolong yaa, jangan dekat-dekat!!" Suara salah seorang kru mengintrupsi perhatianku. Membuatku seketika tertarik untuk serta merta memperhatikannya.
"HEI!! GAK BOLEH AMBIL FOTO!!" Teriak kru itu tiba-tiba. Membuatku sedikit terlonjak kaget karena intonasinya, lebih lagi karena lawan bicaranya sekarang.
Gila! Masalah apaan lagi, nih?!
Kontan, mataku mendelik seketika. Bukan soal dia, kru itu maksudku, tapi ini soal lawan bicara kru itu sekarang. Kyra! Dan tindakan kru itu padanya!
Gerakan kasar tangan kru itu yang menyeru Kyra mundur dari tempatnya dan mengambil paksa ponselnya itu membuatku langsung bersiap mengambil sikap.
Duh, melihat tampang Kyra yang kini sudah berubah pucat pasi makin membuatku nggak bisa menahan-nahan diri lagi!
__ADS_1
Untuk itu, kulangkahkan kakiku lebar-lebar menuju tempat mereka berseteru di sana. Kulirik sekeliling, orang-orang telah menjadikan mereka pusat perhatian sekarang.
"Permisi," kataku mengintrupsi, begitu berhasil berdiri di antara mereka berdua. Kru perempuan yang wajahnya ketus itu kontan melirik ke arahku dengan kerutan jelas di dahi. "Ini ada masalah apa ya? Kenapa ponsel miliknya diambil paksa seperti itu?"
"Ini salahnya! Kenapa juga dia mengganggu jalannya syuting! Dekat-dekat set, ambil-ambil foto tanpa izin juga lagi," wajah ketus itu masih belum juga sirna.
Aku mendengus melihat wajah menyebalkan kru perempuan satu ini. Namun, demi martabat, aku terpaksa tetap memasang senyum di depannya meski sebenarnya nggak tahan buat ikut memaki.
"Oh, begitu..." aku mengangguk-angguk seolah mengerti perkataannya. Namun setelah itu, aku kembali menatapnya dengan melenyapkan senyum yang tadi kusunggingkan. "Tapi, meskipun seperti itu, bukankah tetap keterlaluan kalau Kakaknya sampai merebut paksa ponsel dia?" Aku mengangkat sebelah alis mata seolah bertanya pendapatnya.
Kru perempuan itu tampak melotot. Mungkin dia kaget karena barusan aku malah bersikap seolah menyerangnya daripada memihaknya.
Aku langsung menjulurkan tanganku, menengadah memintanya. "Bisa tolong kembalikan ponsel itu, Kak?" Meski sebenarnya ogah, tapi aku tetap memasang senyuman mempesonaku ini padanya.
Dia bergeming. Wajahnya kelihatan kaku, sekaligus nggak suka kala melihatku. Aku mengangkat sebelah alis, menggerakkan tanganku yang berada di depannya. Tujuannya, agar dia segera sadar kalau aku masih menunggu dia mengembalikan ponsel itu!
"Maaf, nggak bisa! Ponsel ini harus saya periksa lebih dulu, karena Mbak ini tadi ambil-ambil foto sembarangan, tanpa izin!" Selanya bernada ngotot.
"Meski begitu, Kakaknya nggak berhak mengambil ponsel milik orang lain. Jika dia salah, bisa kan bicara baik-baik dulu, menegur sebelum merampas barang milik orang lain??" Suaraku mungkin terdengar ramah, tapi sesungguhnya kalimat itu menusuk karena ada penekanan di tiap katanya.
Dia melotot, lagi. Kali ini lebih menyeramkan dibanding sebelumnya. Sorot nggak terima langsung mendominasi. "Siapa yang merampas? Mas ini jangan asal bicara sembarangan ya!" Tegasnya. "Lagi pula Mas ini siapa sih? Ikut-ikut campur urusan orang lain aja!"
Kalimat rutukannya yang terakhir itu sedikit bikin aku gerah. Gerah untuk balik marah-marah! Memaki dirinya sekalian, tapi harus kutahan demi Kyra yang sudah terlanjur pucat menahan malu, juga Ezra yang sedang bekerja di tempat ini!
"Oh, jangan-jangan dia itu pacar Masnya ya? Makanya jadi sok-sok belain di depan orang-orang. Jadi sok jagoan di depan gebetan? Iya?!" Cerocosnya dengan tawa sinis.
Sumpah! Kalau nggak inget martabat Ezra di tempat ini, udah jadi lontong kali ini cewek! Habis mulutnya itu loh nyinyir banget!!
Saat itu juga, kutatap matanya tajam. Kilat amarah yang serius mungkin terlihat jelas dari mataku, adalah salah satu tatapan mematikan milikku yang sering kupakai kala ingin mematikan lawan dalam sekejap.
Lihat, dia bahkan sampai mendelik kaget karena melihat perubahan drastis dari ekspresiku ini.
"Dia memang bukan pacar saya." Jedaku, membuatnya mengerutkan dahi. "Tapi dia istri saya. Jadi sini, balikin hape-nya, biar saya aja yang periksa! Karena saya lebih berhak!" Seruku yang makin membuatnya syok berat. Begitu pula dengan Kyra yang sampai mengeluarkan suara 'hah' karena terkejut sekaligus bingung akan apa yang baru aja didengarnya.
__ADS_1
Meski begitu, nggak aku hiraukan semuanya. Termasuk bayangan Ezra yang kurasa sedang memperhatikan kami dari posisinya yang agak jauh. Kuulurkan kembali tanganku padanya, lengkap dengan wajah kerasku yang ketus. Walau dengan gerakan ragu-ragu, pada akhirnya dia mengembalikan ponsel itu juga. Dan, begitu mendapatkannya, aku melihat galeri dan foto yang dimaksud. Dalam hati aku merutuki Kyra yang ternyata tadi benar-benar mengambil foto Ezra. Sial, Kyra!
"Saya hapus semua!" Kataku yang seketika membuat suara gaduh dari balik punggungku. Itu, Kyra, siapa lagi. "Lagian, suami mana yang suka istrinya simpan foto cowok lain?! Saya pun nggak suka, Kak!"
Kru perempuan itu manggut-manggut saja. Mungkin merasa aneh karena tiba-tiba mendengar curhatan seperti itu.
"Sudah, kan?" Tanyaku padanya sembari menunjukkan layar ponsel itu padanya. Lagi-lagi dia mengangguk-angguk. "Masalah sepele gini harusnya nggak perlu dibesar-besarkan lah. Kalau memang salah, ya tegur dulu lah baik-baik. Padahal yang harusnya marah di sini kan, saya, bukan Kakaknya."
Dia diam, terbungkam oleh kalimatku yang mungkin sedikit menohoknya.
"Mungkin Kakaknya nggak ngerti. Tapi tiap pria pasti nggak akan terima kalau wanitanya diperlakukan kasar seperti yang Kakak lakukan tadi." Aku tersenyum simpul saat melihat dia tergegap di posisinya itu. Kena, deh, lo!
Mengabaikannya, kualihkan tatapanku pada cewek di belakangku ini. Seketika aku mengerut kening dalam, saat kutemukan ekspresi Kyra yang nggak jauh berbeda dengan kru perempuan itu tadi. Atau bahkan lebih horor!
Lekas, aku mendelik padanya. Membuat gerakan mata sebagai kode agar dia bisa mengikutiku aktingku segera alih-alih memasang wajah syok yang nggak terhingga begitu!
Tapi karena dia lamban, akhirnya aku seret aja dia pergi. Meninggalkan tempat itu juga puluhan pasang mata yang sejak tadi memperhatikan kami. Nggak terkecuali Ezra yang masih berdiri dalam posisinya di sudut sana.
_____________
**Halo, temen2 semua!
Maaf yaa aku baru muncul, gak tau akhir-akhir ini saya beneran gak bisa nulis. Jadi hiatus untuk beberapa saat. Tapi karna gak sengaja baca dukungan temen2 di sini, alhamdulillah saya punya semangat lagi nih buat lanjutin tulisan saya. Hehe, makasiih yaa^^
Oya, sekalian saya beri tahu nih, kalau sepertinya saya apdet cerita ini TIDAK SESUAI JADWAL yang padahal sebelumnya sudah saya komit sendiri. Saya pun gak tau kenapa, dari minggu kemarin saya udah publish cerita tp statusnya hanya "review" dan gak berubah bahkan setelah lewat dari tenggat tgl harusnya cerita ini di publish. Gak ngerti saya tuh, Mangatoon lagi eror atau bagaimana. Makanya sekarang saya update cerita ini yaa apdet aja deh, gak sesuai jadwal lagi. :)
Sekali lagi, makasih buat temen2 semua. Dukungan kalian menyemangatiku♡
salam hangat,
icha azzahrađź’•**
__ADS_1