Romance After Marriage

Romance After Marriage
2.2 | B : Taktik Delvin


__ADS_3


Kyra -



Aku tak bisa menghindar.


Sesuai titah Delvin siang tadi, pada waktu setelah makan malam di hari ini juga, aku dan dia menjadwalkan diri untuk berbicara empat mata pada keluarga masing-masing. Benar, ini tentang pernikahan yang katanya sebagai healing itu. Tapi sepertinya aku tak merasa demikian. Karena kini aku malah menjadi tertekan.


From : Delvin Jelek


Gue akan bilang ke Mama.


Lo juga ya! Kabarin kalau udah!


Diterima Pukul 19.35 WIB


Aku meneguk ludah. Entah kenapa menerima pesan Delvin saat ini malah menjadi momok bagiku. Ingin rasanya aku tak membaca tapi rasanya pun percuma. Bahkan setelah hampir setengah jam pesan itu tak kubalas, kini pesan WhatsApp itu pun berubah seketika menjadi teror.


Ting!


Ting! Ting! Ting!


Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!!


Sungguhan! Aku jadi makin risih karenanya. Dengar, suara nada dering berisik dari notifikasi ponsel yang sejak tadi kugeletakkan di atas meja nakas itu kini, dalam sekejap sudah mengambil alih perhatian seluruh anggota keluarga di ruang santai ini.


Mata nyalang Mas Kamil yang duduk tepat di sisi meja nakas pun kini menatap tajam ke arahku seketika. Pastinya, karena dia telah merasa terganggu oleh suara notifikasi ponselku yang cukup keras itu. Dan kini, dia yang sedang mengunyah kacang telur favorit buatan istrinya itu lantas mengerutkan kening.


"Apa sih itu, Dek? Telepon?? Angkat coba! Ganggu banget deh,"


Saking cepatnya jeda bunyi antar notifikasi pesan satu ke satunya sampai membuat orang lain yang mendengarnya salah sangka.


Ini bukan telepon, Mas, tapi chat WhatsApp! Batinku berteriak menjerit.


Lalu, dengan gerak cepat, pada saat itu juga aku sambar ponsel itu. Kugenggam dalam kepalan tangan kanan. Aku menutup mata sambil merutuk orang yang sedang menerorku dengan pesan WhatsApp yang terus bergulir tiada henti. Bahkan sampai ponsel itu dalam genggaman tanganku pun cowok tak sopan itu tak berhenti menerorku!!


Pada akhirnya, sembari menarik napas panjang-panjang aku pun membuka aplikasi WhatsApp itu juga. Kini aku yakin tanda ceklis duanya sudah berubah menjadi biru.


From : Delvin Jelek


Woi, lo udah bilang belom?!


Diterima Pukul 20.01 WIB

__ADS_1


From : Delvin Jelek


Weett.. chat gue ceklis doang?! Baca bisa kalii... woi!


Diterima Pukul 20.08 WIB


From : Delvin Jelek


Heh, Ra!


Diterima Pukul 20.08 WIB


From : Delvin Jelek


RAAAAAAA!!!


Diterima Pukul 20.10 WIB


From : Delvin Jelek


SHAKYRAAAAAA


WOIIIIIIIIII


Diterima Pukul 20.10 WIB


From : Delvin Jelek


FIX GUE UDAH BILANG MAMA YAA


Diterima Pukul 20.11 WIB


[...]


Setelah membaca pesan terakhirnya itu, tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku. Jantungku berpacu tanpa sebab. Dan mendadak udara dingin terasa menyelimuti erat diriku. Kini, telapak tanganku pun sudah dipenuhi keringat. Padahal beberapa menit lalu aku masih marasa udara sedang panas-panasnya. Namun anehnya aku malah merasa dingin!


Aku mencoba tenang dengan mulai mengatur napasku sendiri. Inhale, exhale... lalu setelah perasaanku mulai agak tenang, aku pun mulai mengetikkan pesan balasanku padanya.


To : Delvin Jelek


Terus gimana? Tante oke??


Dikirim Pukul 20.15 WIB


[...]

__ADS_1


Lalu, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ponselku bergetar kembali. Bunyi notifikasi kembali bersuara. Dia menjawab...


From : Delvin Jelek


OKE!


Besok rencananya gue sekeluarga ke rumah lo. Lamaran.


Diterima Pukul 20.15 WIB


[...]


Mataku sampai mendelik lebar saking tercengangnya aku membaca isi balasannya.


To : Delvin Jelek


GILA SIH! CEPET BANGEEETT!!


Diterima Pukul 20.16 WIB


[...]


Jariku bahkan sampai tak bisa menahan untuk tak menggunakan CAPSLOCK untuk membalas pesannya. Aku syok! Sumpah, mana tahu aku akan ditagih pernikahan olehnya dalam tempo waktu secepat ini?!!


From : Delvin Jelek


Kan gue udah bilang. Semakin cepat semakin baik. Makanya, jangan lupa kabarin Ayah, Ibu, Mas Kamil, dan Mbak Intan. Kalo lo gak sanggup bicara sejujurnya. It's okay. Bilang aja besok gue dan keluarga mau ke rumah, gitu...


Diterima Pukul 20.17 WIB


[...]


Aku pun terdiam. Kalimat balasan Delvin barusan entah mengapa terasa seperti kalimat bernada serius yang amat sangat. Aku merasa dia bersungguh-sungguh dengan niatnya. Perasaan tulus pun tersirat dari sana entah bagaimana. Hingga akhirnya membuatku bimbang jadinya.


Namun apa yang dikatakan sebagian besar hatiku membuat secercah keyakinan itu muncul dalam diriku.


Dan, akhirnya aku memutuskan!


Kepala dan mataku yang tadinya hanya terfokus pada ponsel di tangan, pun kini perlahan mendongak. Kutatap wajah anggota keluargaku satu per satu. Dimulai dari Mas Kamil, Mbak Intan, Ibu, dan baru kemudian Ayah.


Aku menarik napas dalam, sebelum akhirnya kuucapkan sebuah kalimat hingga membuat semua anggota keluarga yang memang sedang berkumpul di tempat ini pun menoleh dan terfokus untukku.


"Semua... boleh aku minta waktunya sebentar?"


__ADS_1


__ADS_2