
Delvin -
"Gimana kalau berita tentang Ezra itu cuman gosip?"
Aku menatapnya lurus-lurus. Dia yang sudah mendekat kepadaku karena urusan terlalu penasaran tadi, lantas membalas tatapanku dengan wajah bingungnya.
Kyra diam aja, dia cuman memandangiku dengan sekali duakali berkedip. Aku juga nggak paham dia kenapa, tapi aku rasa dia memang bingung karena aku mengatakan hal tentang Ezra tiba-tiba.
"Maksud lo yang bisa bikin gue sedikit bahagia itu..."
Tanpa ragu, aku menganggukkan kepala. Membenarkan dugaannya yang tepat. Ternyata kali ini dia peka nggak seperti biasanya. Bagus lah, aku jadi nggak perlu menjelaskan dua kali padanya.
Kyra terdiam tanpa kata. Namun, manik matanya bergerak-gerak seolah dia sedang gelisah karena adanya berita ini. Dia nggak berani menatapku. Dan aku tahu jelas apa penyebabnya.
"Tadi gue ketemu Ezra. Dia lagi waktu bebas karena libur syuting. Awalnya kita basa-basi sekadar tanya kabar. Tapi karena iseng, gue tanya soal privasinya sedikit. Entah kenapa tadi gue penasaran tentang hubungannya dengan artis itu. Tapi... dia menjawab dengan jawaban yang di luar perkiraan. Dia bilang..." aku menahan kalimatku saat Kyra mulai kembali menatapku lagi.
Entah, apa yang aku pikirkan. Tetapi, aku merasa dia harus tahu tentang hal ini meski kutahu hal ini bisa mengancam rencana kami. Perjanjian kami.
Aku hanya nggak mau menjadi egois sendirian. Aku nggak mau memaksakan keadaan. Sekarang aku hanya ingin dia memilih yang terbaik untuknya. Entah itu membangun dari awal bersamaku atau malah kembali lagi pada cinta pertama dan mungkin cintanya sampai hari ini.
"Dia bilang, dia dan aktris itu nggak pernah punya hubungan." Lanjutku, dan dia masih diam. Menutup bibir tipisnya itu rapat-rapat. "Gosip itu ulahnya paparazi, mereka yang bikin statement sembarangan begitu. Tapi nggak dibantah oleh manajemen mereka karena masalah promosi. Karena manajemen mereka menganggap berita itu bisa mendomplang kesuksesan projek mereka." Jelasku panjang lebar.
Meski Kyra tetap membisu, tetapi aku tetap ingin menjelaskannya dengan sedetail mungkin. Agar dia bisa memahami, bahwa perasaannya yang kemarin hanyalah korban dari permainan kotor dunia hiburan semata.
Yang sebetulnya, aku harap, karena kebenaran ini dia jadi berisik lagi seperti sebelumnya. Bukannya selalu diam mengurung diri di kamar. Jujur, perubahan kecilnya yang jadi lebih diam dan enggan membuka pintu balkonnya itu membuatku nggak nyaman. Karena aku lebih suka dengan dia yang berisik, cerewet, dan menyebalkan seperti Kira-kira yang selama ini kukenal!
"Lagipula, aktris itu udah punya pacar katanya. Makanya, gosip itu jadi makin mustahil kan kebenarannya!" Ujarku. Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Jadi, pada intinya, Ezra terlibat skandal yang nggak ben..."
"Buat apa lo bilang semua hal itu ke gue?!" Tukasnya, memotong ucapanku tiba-tiba.
Sekarang, Kyra menatapku lurus dan serius. Wajah ramah atau konyolnya pudar. Yang tersisa hanya wajah keras dengan perasaan murka. Terlihat dari warna air mukanya yang berubah merah.
__ADS_1
Sontak, melihatnya yang seperti semarah itu padaku, aku terdiam mengatupkan bibirku rapat saat itu juga.
Sempat diam sesaat, kuputuskan untuk kembali mengeluarkan suaraku. Kupikir, emosinya itu nggak akan reda kalau aku cuman diam aja ketika dia bertanya. "Gue pikir... lo perlu tahu kebenaran tentang cinta pertama lo."
"Bukannya sekarang, hal itu udah nggak penting lagi?" Dengusnya.
"Ha??"
"Entah itu Bang Ezra punya pacar atau enggak punya pacar sekali pun, semua itu udah nggak ada hubungannya lagi sama gue." Tegasnya yang membuatku seketika terperangah menatapnya.
Sungguh... aku nggak percaya seorang Kyra bisa berkata seperti itu tentang cinta pertamanya.
"Lo sendiri kan, dengar... kalau gue udah capek sama hal yang gak pasti. Sekarang, harapan gue cuman bisa ketemu sama orang yang bisa berjuang bareng sama gue." Dia memandangku sesaat, menghela napas yang mengisyaratkan lelah.
Iya, mungkin dia capek. Capek karena udah mencoba membulatkan tekad susah payah, tapi dengan kurang ajarnya malah aku goyahkan!
Maafin gue, Ra... gue nggak maksud!
"Kenapa? Kenapa lo kasih tahu semua itu ke gue??" Lagi, dia bertanya. "Pasti ada alasan kan, kenapa lo tiba-tiba ngomongin hal ini?!" Cecarnya padaku.
Aku menggeleng. Membuat isyarat, bahwa yang mungkin sedang ada di pikirannya saat ini itu adalah nggak benar!
"Gue cuman mau, lo bisa membuat pilihan dengan adil. Gue nggak mau, lo membuat pilihan tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya." Kataku, buru-buru menjelaskan. Aku takut dia makin salah paham tentang niatku ini, sungguh!
"Gue cuman nggak mau jadi pemenang yang curang." Akuku padanya. Dan, dia masih terdiam.
Aku menghela napas panjang, lalu kembali berkata, "Perlu lo tahu... gue sampai membuat taruhan. Karena saking bimbangnya gue mau kasih tahu hal ini ke elo atau enggak."
"Taruhan?" Ulangnya. Dahinya mengerut tipis. "Taruhan apa??"
"Taruhan. Kalau hari ini lo nggak buka pintu balkon kamar lo, itu artinya gue nggak perlu kasih tau tentang hal itu. Dan berlaku sebaliknya." Tuturku menjelaskan. "Tapi karena hari ini lo tiba-tiba membuka pintu balkon itu... makanya, mau nggak mau gue harus kasih tahu semua hal yang gue tahu ke elo!"
Kini, Kyra memandangku dengan tatapan bingung. Secara nggak langsung semua ini terjadi karenanya! Siapa suruh dia tiba-tiba membuka pintu balkon kamarnya padahal udah cukup lama menutupnya rapat?!
Kyra menatapku cukup lama, sebelum akhirnya berkata, "Jadi... itu alasan lo kenapa tadi wajah lo kesal sendiri?"
__ADS_1
Aku membalas tatapannya. Nggak ingin menggeleng atau pun mengangguki pertanyaannya. Biar aja dia berspekulasi sendiri dengan apa yang dia lihat dan rasakan.
"Ra,"
Dia nggak menjawab, tetapi balik memandangku. Menatap mataku selurus yang dia bisa meski harus sedikit mendongak.
"Apa keputusan lo itu udah bulat? Lo nggak mau berubah pikiran, meski lo tahu semua kebenarannya?" Tanyaku hati-hati.
Kyra menghela napasnya panjang. Dia mendesah, "Dari awal gue buat perjanjian itu sama lo. Dan karena lo udah sesumbar di depan semua anggota keluarga gue, terlebih Ayah gue dan Mas Kamil... maka, lo harus tanggung jawab!"
"Lo serius? Lo nggak akan menyesal??" Tanyaku lagi. Entah kenapa, meski dia sudah menjawab dengan kalimat yang amat meyakinkan begitu tetap membuatku sulit mempercayainya.
"Enggak. Tapi itu sebelum gue berubah pikiran," selorohnya tiba-tiba yang langsung membuatku menyeringai.
"Oke kalau gitu!"
Kyra mengernyit, "Oke, apanya?" Tanyanya nggak paham.
"Lo tadi tanya konfirmasi dari gue, kan?" Balikku bertanya, dia mengangguk perlahan.
"Terus...?"
Aku tersenyum miring. "Jadi, konfirmasinya adalah... gue dan keluarga gue akan datang besok!"
"APA?!!" Kyra melotot. Aku yakin, dia pasti tercengang dengan deklarasiku barusan.
"Sebelum lo berubah pikiran," aku pun tersenyum tipis.
Benar, niat baik itu memang harus segera dilaksanakan atau malah jadi berubah pikiran!
______________________
Apa komentarmu kali ini??
__ADS_1
Jangan lupa komen & like, guys! Boleh follow aku ato gabung ke grup chat juga boleee biar gak ketinggalan info update-an cerita terbaru. huehehehehe