Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.0 | A : Let The Past Go


__ADS_3

-Kyra-


25 hari pun berlalu, membiarkan hari kemarin terlewati pergi begitu saja untuk dapat terus melihat masa di depan mata.


Begitu pula dengan mataku yang menatap lurus pada kertas tebal yang dipegangi Delvin sejak tadi. Kertas biru muda beraroma menarik dengan tinta silver menuliskan kedua nama kami sebagai sampulnya.


Benar, itu adalah undangan pernikahan kami yang baru saja selesai cetak.


Aku melirik ke samping kiri. Ternyata memang sudah ada banyak hal yang serupa. Berwarna biru muda dan beraroma khas yang menarik, bertumpuk-tumpuk hingga membentuk baris di sana, saking banyaknya!


"Jadi... Kita jadi nikah benaran ya?" Desahku merasa percaya dan tak percaya.


Kontan, pria di depanku ini mengernyit. Menatapku dengan tatapan tajamnya. "Persiapan udah selesai nyaris 100% ya masa nggak jadi?!" Ujarnya sewot duluan.


"Bukan gitu!" Aku mengelak agar dia tak salah paham duluan dengan ucapanku sebelumnya. "Tapi lo kayak masih nggak nyangka gitu nggak sih? Nikah sama yang sering cekcok sama lo, yang sering bikin istighfar, yang udah lo kenal dari piyik?!"


Aku menghela napas keras. "Sekarang gue jadi berpikir..." aku mengerut kening seakan terlihat seperti sedang berpikir keras. "Kita ini kayak friendzone gitu nggak sih??"


Kini, ganti Delvin yang mendengus. "Friendzone apa? Lo aja nggak pernah kan naksir gue sekali pun?!" Katanya memperingati, yang lantas membuatku meringis mengingat fakta itu.

__ADS_1


Benar juga sih. Meski kita berdua akan berakhir menikah, tetapi kami berdua nggak pernah saling memiliki perasaan satu sama lainnya. Itulah yang membedakan hubungan aneh kami ini dengan hubungan yang sering orang lain sebut 'friendzone'!


"Lo udah list semua orang yang lo undang?" Tanya Delvin tiba-tiba.


Aku mengangguk, menjawab tanyanya.


"Bagus kalo gitu!" Balasnya. "Kalau gitu masalah undangan kita harus selesaikan segera. Kalau masalah teknis acara kan semua udah kelar, tinggal eksekusi aja. Gaun..." Delvin langsung melirikku lagi. Membuatku menarik alis mataku seketika. "Lo udah cobain gaunnya kan?"


"Iya, udah kok." jawabku lagi.


"Terus, makeup, gimana? Cocok kan? Atau perlu ganti MUA?"


Ya, memang sudah sepatutnya dia diberi pujian atas seluruh kerja kerasnya mempersiapkan semua persiapan pernikahan ini yang bahkan nyaris semuanya dia kerjakan sendiri. Eh, meski katanya dibantu oleh teman kantornya juga. Namun tetap saja, dia yang mengusahakannya sendirian!


Sedangkan aku? Aku hanya berekspresi kaget setelah tahu dia telah selesai mengurusi segalanya. Bahkan sesekalinya dia minta pendapatku hanya saat memilih desain undangan pernikahan saja. Memilih butik dan makeup artist dia yang memilihkan, begitu pula dengan tempat pernikahan kami nanti. Bahkan sampai saat ini aku masih tak tahu akan diadakan di mana pernikahan kami nantinya.


Aku menghela napas. Setelah dipikirkan seperti ini, baru aku merasa seperti bocah yang tak tahu apa pun. Padahal terkait dengan peristiwa penting. Acara istimewa yang hanya dilakukan sekali seumur hidupku! Padahal biasanya para wanita yang selalu punya acara pernikahan impian. Tetapi aku? Aku malah memasrahkan segalanya. Membiarkan Delvin yang mewujudkan pernikahan impiannya sendiri seperti yang dia bilang waktu itu. Dan tahu-tahu saja semua sudah selesai tanpa mengerti prosesnya bagaimana!


Meski Delvin satu-satunya yang memiliki gambaran pernikahan impiannya sendiri, namun seharusnya aku tak keterlaluan begini sih. Jika orang tuaku tahu prosesnya, mereka pasti akan mengutukku dan merasa bahwa aku tak peduli soal pernikahan ini! Namun, berkat kepandaian Delvin yang sering mengajakku bertemu di rumah seperti sekarang ini lah, mereka semua jadi tak curiga

__ADS_1


Tapi tetap saja ini bukan sepenuhnya salahku. Karena sebelumnya Delvin pun pernah memintaku untuk duduk manis saja dan memasrahkan segalanya kepadanya. Bahkan soal anggaran sekali pun, dia tak pernah membicarakan hal itu padaku. Dan kupikir, sepertinya memang dia yang menanggung semuanya karena Ayah sempat mengatakan hal seperti, "Apa Delvin benaran nggak keberatan kalau semua dia yang tanggung?"


Dan, saat mendengar itu aku hanya mampu terdiam, karena merasa tak tahu menahu. Padahal mulanya aku pikir, dia yang tak pernah membicarakan uang dengan itu karena Ayah yang memintanya untuk diam saja, tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Delvin yang meminta Ayah untuk berpangku tangan dan memasrahkan segalanya padanya.


Delvin seolah tak menyediakan celah untuk orang lain terlebih diriku menyibukkan diri dalam persiapan pernikahan ini.


Aku mengernyit. Tiba-tiba saja aku teringat dengan kata-katanya waktu itu. Ah, benar! Delvin kan pernah curhat tentang impiannya menikah dengan uangnya sendiri. Dia juga pernah bilang, nggak mau merepotkan orang tua, calon mertua dan juga calon istrinya kelak mengenai hal itu. Dia bilang, hanya dia yang boleh repot dan pula hanya teman dekatnya yang mungkin akan dia repotkan yaitu aku!


Iya, benar, pada waktu itu dia mengatakan bahwa aku lah yang harus membantunya mempersiapkan semua acara pernikahannya itu karena aku adalah temannya sejak lama. Pun dia mengatakan akan berlaku sebaliknya bila menikah nanti.


Aku masih ingat jelas tentang dia yang mengatakan rencana masa depannya yang indah bersama Ines kala itu tepat setelah aku bercerita tentang rencana masa depan haluku dengan Bang Ezra.


Tapi yang kini terjadi, takdir tak berjalan sesuai harapan dan kami yang tak pernah disangka malah akan dipertemukan di pelaminan.


Dunia ini aneh bukan?



...JANGAN LUPA VOTE, KOMEN & SHARE YAAA...

__ADS_1


...TERIMAKASIHH SEMUA~...


__ADS_2