Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.6 | C : Ezra & Keputusannya


__ADS_3


Ezra -



Sedetik kemudian, aku mengenyahkan pikiranku yang sudah kacau balau ini. Berusaha tetap fokus pada arah pembicaraan kami tadi.


"Kesekian kalinya kata lo?!" Aku mendengus sinis, "Sejak kapan lo berhak kasih kesempatan kayak gitu ke gue, hah??!"


"Lo pikir selama ini gue diem aja tentang hubungan kalian berdua itu bukan kesempatan namanya?! Gue selalu kasih lo kesempatan buat mengakui perasaan lo ke dia, tapi ternyata lo terlalu denial sampai dia habis sabar dan menyerah buat lo!" Tutur Delvin yang langsung membuat rasa hatiku seperti terpukul palu gadam. Sesak, juga sakit sekali!


"Lo itu... Nggak tahu apa-apa soal perasaan gue, lo hanya sok tahu, Delvin!" Desisku tak terima.


"Nggak! Gue emang tahu betul perasaan lo yang sebeneranya kayak gimana ke Kyra. Emang selama ini lo pikir gue kurang peka dan buta, sampai bisa gak tahu lo juga suka sama dia, hah??! Tapi lo bego, malah ngebiarin ego lo yang tinggi itu tumbuh! Sampai akhir lo gak mau ngungkapin perasaan lo, ngebiarin dia berpikir kalau perasaannya selama ini cuma bertepuk sebelah tangan!? Padahal lo tahu persis gimana nggak pekanya cewek itu! Harusnya lo dong, sebagai gentle man yang bisa ambil inisiatif duluan!!" Seketika Delvin menyergap kerah kaos poloku erat hingga sedikit membuatku sesak. "Lo pikir perasaannya nggak akan capek ketika harus nunggu, nunggu dan nunggu lo terus?? HA?!!!"


Aku tarik kembali tangannya dari kerahku, kubuang agar menjauh. Lantas kuhirup oksigen dalam-dalam. Aku bahkan sampai sedikit terbatuk karena hampir kehabisan napas.

__ADS_1


"Hanya itu yang lo tahu, kan? Apa lo juga tahu, apa yang udah gue lakuin selama ini dibalik layar? Tanpa sepengetahuan Kyra lebih lagi lo!" Aku menggeleng-geleng. "Lo hanya tau apa yang bisa dilihat di permukaan aja, Vin, lo gak tahu sebenarnya apa perjuangan gue, rencana gue dan apa yang selama ini gue pikirin di masa depan untuk bisa bersama Kyra!"


Aku mendesis sengit, "Lo itu sama sekali gak tahu apa-apa, Vin!"


Lalu terputar segala memori yang sudah terjadi selama ini begitu saja di otakku. "Asal lo tahu, selama ini yang jadi penghalang TERBESAR dari hubungan gue dengan Kyra itu adalah lo, ELO, VIN!" Aku menatap matanya tajam. Bahkan aku sampai tak bisa menguasai emosiku yang sudah terlanjur menyergap ke relung dada hingga akhirnya tanpa sadar membuatku berteriak keras.


"Dan, apa yang tadi lo bilang? Selama ini lo udah kasih kesempatan kesekian kalinya buat gue??" Aku tertawa mendengus, "Bullsh*t!"


"Lo nggak pernah kasih itu sama sekali buat gue, SA-MA-SE-KA-LI!" Aku tekan suaraku sekeras mungkin, berusaha membuatnya tertampar melalui kata-kata penekananku barusan. "Bahkan kali terakhir di saat gue mau pendekatan ke Kyra lo pun ngehancurin kesempatan itu, Vin!" Ingatan beberapa bulan lalu pun langsung meliar terreka di otakku.


Aku menatap matanya sungguh-sungguh begitu pun Delvin yang tak kalah menatapku lekat. "Kalau ternyata... Lo suka kan, sama Kyra?"


Delvin terdiam. Postur tubuhnya membeku, kaku. Tanpa dia menyangkal atau membenarkan aku bahkan sudah tahu jawabannya.


"Sejak kapan?" Tanyaku, sementara Delvin membuang pandangannya tak acuh. "Jadi sejak kapan lo mulai suka Kyra, heh?!"


"Baru baru ini setelah lo putus dari pacar lo?" Tanyaku lagi. Dia masih membuang mukanya dariku. Masih tak peduli. "Atau..."

__ADS_1


"Sejak SMP?" Seketika itu juga Delvin dengan mata membulat menoleh ke arahku. Dia terperanjat, kaget!


Aku tertawa mendengus. Oh, ternyata benar kan...


"Bener ya?" Aku masih menanyakannya meski aku pun sudah tahu kebenarannya. Sudah sejak lama.


"Dari mana... lo tahu?" Dengan polosnya dia malah bertanya.


Lagi-lagi aku tertawa mendengus. "Dari dulu gue udah ngira, kalau cowok dengan sifat acuh gak acuh kayak lo itu sangat aneh memperlakukan satu orang cewek dengan sangat berbeda. Meski perbedaannya hanya sebatas iseng dan candaan, tapi setelah melihat perbedaan sikap lo yang konsisten saat berada di sekitar anak cewek lain selain Kyra, gue berpikir kalau ada sesuatu di antara kalian berdua. Tapi saat gue melihat gak ada perkembangan dari hubungan kalian, lalu Kyra yang mulai kelihatan respek sama gue, ditambah lo yang udah punya pacar... Akhirnya gue membunuh spekulasi gue itu. Dan berpikir, ya... Mungkin mereka memang cuman teman, gak lebih." Aku tersenyum sinis, "Naif banget yaa gue, ternyata..."


"Tapi, ada hal yang bikin gue gak ngerti sama perasaan lo, kalau elo emang udah suka Kyra sejak SMP, dan masih suka sampai sekarang... Terus kenapa lo malah pacaran lama sama orang lain?" Aku mengangkat dagu, menentangnya.


"Heh, lo gak pantes nanyain hal itu, Sial!" Sirat Mata Delvin berubah emosi. Ditambah kini dia memakiku! "Lo bahkan udah berapa kali pacaran sana sini yang padahal lo tahu dia selalu nungguin lo di tempat yang sama!!"


"Gue beda sama lo, Sialan! Gue pacaran karena saat itu gue belum menyadari perasaan gue, paham gak lo, BEGO!" Emosiku jadi memuncak karena makiannya tadi yang lebih dulu menyulutku. Dan, tiba-tiba saja...


"BUGHH!!"

__ADS_1


__ADS_2