Romance After Marriage

Romance After Marriage
2.3 | B : Si Pengecut & Si Pemberani


__ADS_3


Kyra -



Dibandingkan Delvin yang berteriak berisik memaki-makiku, aku lebih takut lagi kalau dia hanya diam dan tak bicara apa pun selayaknya dirinya yang semalam.


Kantung mataku bahkan sudah berubah gelap sekarang karena aku yang sulit tidur akibat kepikiran tentangnya semalaman!


Delvin... cowok itu setelah memutuskan sambungan teleponku secara sepihak, setelah itu dia langsung mematikan ponselnya seenak jidatnya! Hingga akhirnya malah membuatku jadi berpikiran aneh-aneh tentangnya. Otakku menduga-duga. Entah yang dia ingin istirahat dan tak ingin diganggu lagi olehku atau malah dia yang ternyata sedang kesal padaku yang teramat sangat hingga berujung dengan dia yang menonaktifkan ponselnya!


Dan, kurang ajarnya hatiku lebih meyakini bahwa kemungkinan yang kedua itu lah yang paling tepat!


"Dek, dimakan, hei! Jangan bengong terus," suara Mas Kamil mengingatkan. Membuatku langsung menatapnya yang memang duduk bersebrangan denganku.


"Ky... kenapa? Nasi gorengnya nggak enak ya? Mau Mbak buatin roti bakar aja, hmm??" Kini, Mbak Intan ikut-ikutan menatapku. Tatapan matanya penuh kekhawatiran yang membuatku langsung merasa bersalah untuknya. Padahal aku tak pernah bermaksud begitu!


"Apa sih, Yang. Nasi goreng kamu enak banget gini kok! Kyra bukannya nggak doyan itu... dia lagi banyak pikiran aja karena tarif ongkir naik!" Seloroh Mas Kamil dengan spekulasi yang amat asalnya itu.


Aku mendengus. "Mas Kamil sok tahu!"


"Ya makanya dimakan yang lahap dong! Nggak lihat nih, kekasih hati Mas jadi sedih karena mengira masakannya nggak enak gara-gara ekspresi wajah kamu yang asem itu?!"


Kontan, aku memegangi wajahku dengan kedua tangan. Meraba-raba kedua pipiku tanpa sadar. Aku sungguh tak tahu kalau ekspresi wajahku bisa membuat orang-orang menjadi salah paham. Aku meringis, lalu nyengir. "Maaf Mbak Intan, aku nggak maksud kayak gitu. Bener kok kata Mas Kamil, aku emang lagi kepikiran ongkir bahan baku yang naik. He he..." pada akhirnya aku malah mendukung komentar Mas Kamil yang asal-asalan tadi. Ck! Otakku terlalu lelah sepertinya yang bahkan hanya untuk memikirkan alibi yang sederhana saja tak bisa. Huh...

__ADS_1


"Ibu sama Ayah belum pulang dari pasar ya?" Tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Mendadak teringat oleh kedua orang tuaku yang sejak sepagi ini tak terlihat kehadirannya.


"Iya, belum. Macet kali jalanannya," jawab Mas Kamil angkat bahu sembari menyuap sesendok nasi goreng favoritnya itu dengan lahap.


Aku lantas melirik ke samping. Pada letak jam dinding itu berada. Padahal sekarang sudah nyaris jam sembilan, tapi kenapa Ayah dan Ibu belum sampai rumah juga ya? Mendadak aku jadi kepikiran.


Sekarang pikiranku yang sudah kusut pun terbelah menjadi dua. Tentang Ayah dan Ibu, lalu urusanku dengan Delvin yang belum usai. Sebetulnya pada kedua kakakku ini bibirku pun telah gatal ingin bicara yang sebenarnya tentang Delvin dan juga rencananya. Tapi... lagi-lagi keraguan itu menyeruak lagi setelah kutatap wajah Mas Kamil dan Mbak Intan lamat-lamat.


"Dek, inget loh ya, nanti masaknya harus enak loh! Buat bekal nih soalnya. Apalagi udah dibela-belain Ayah-Ibu sampai rela pergi ke pasar sejak pagi-pagi buta gitu!" Mas Kamil mulai bicara lagi. Ternyata dia telah menandaskan sepiring nasi gorengnya tanpa sisa. Lalu di tangan kanannya sedang dipegangnya segelas air yang hanya tersisa setengahnya lagi. Yang mana kala dia bicara isi air di dalamnya bergerak terguncang membuatku ngeri tumpah jadinya.


Aku mendengus. Kemudian menganggukinya, mengiyakan.


"Jangan angguk-angguk doang loh, ya! Pokoknya Mas udah wanti-wanti dari awal, harus kamu yang masak sampai akhir jangan ajak-ajak istri Mas loh nanti!" Cerocos Mas Kamil lagi, mulai bawel.


Aku lantas menatapnya lurus. Lalu berkata, "Iya, Mas Baweeel....!!" Yang seketika itu langsung membuatnya mendelik murka.


"Tapi yang daritadi ngomong terus nggak berhenti-henti di sini itu cuman Mas Kamil, tau!" Balasku yang tak mau kalah.


"Kamu tuuh, bawel teriak bawel!" Dia mendelik. Mata belonya nyaris saja keluar dari kelopaknya. Ckck!


Tak habis akal, aku langsung mengarah pada Mbak Intan yang masih kalem di tempat ia duduk. Bagaimana pun aku tak ingin kalah dari kakakku yang meski sudah berumur tapi tetap kekanakkan ini. "Mbak Intan, coba tolong kasih tau suaminya, Mbak, kenapa sih dia nggak sadar-sadar diri juga?" Aduku.


Sementara Mbak Intan sudah menahan senyum saja ketika sang suami tercintanya itu ganti menatapnya dengan amat tajamnya.


"Sayang bela aku dong! Kamu istri aku, kan??" Kata Mas Kamil bernada sok imut. Membuatku nyaris saja muntah kala mendengarnya.

__ADS_1


Mbak Intan tersenyum, menenangkan. Lalu tangannya menjalari lengan besar Mas Kamil. Menggamitnya telapak tangannya. Membawanya ke dalam genggaman tangannya yang tampak hangat.


Huh, andai saja aku adalah pemula dalam melihat hal seperti ini, tentu pastinya aku sudah benar-benar muntah sekarang!


"Iya, aku istri kamu. Tapi... kamu emang dari tadi yang berisik duluan, Sayang." Ujar Mbak Intan yang bernada lembut namun cukup membuat Mas Kamil tertohok.


Dan dalam detik itu juga aku, "Hahahaha..." terbahak-bahak. Tak peduli meski Mas Kamil menatapku dengan tatapannya yang setajam belati. Aku hanya ingin tertawa dengan keras. Yang tanpa sengaja malah melepaskan kepenatan yang sudah membebaniku sejak kemarin.


Meski tak semuanya, namun aku cukup puas dengan keringanan beban di kepala kecilku ini.


"Puas yaa kamu ketawain, Mas?!" Desis Mas Kamil tak terima.


Aku tetap tertawa di depannya. Entah kenapa jadi tak bisa berhenti. Akhirnya kuacungkan kedua jariku untuknya sebagai tanda damai. Namun dia malah berdecih dan melengos. Hih, dasar!


Suasana meja makan ini tetap hangat dengan candaan atau tawa dari kami bertiga. Bahkan meski makanan kami sudah tandas tanpa sisa, kami tetap duduk di tempat ini tanpa mau beranjak. Meneruskan canda tawa kami yang seakan tak ingin dihentikan. Sampai akhirnya sebuah suara mengintrupsi kami. Memanggil namaku dengan gemanya.


"Dek! Kyra..."


Aku menoleh. Itu suara Ayah!


Namun saat melihat di mana kedua orang tuaku berada. Aku melihatnya. Dia, seseorang yang telah kukhawatirkan sejak semalam. Yang membuatku dilema dengan keputusan masifnya.


Dia yang kini memakai kemeja biru lautnya dengan amat rapih itu, kini, sedang menampakkan senyum tipisnya pada kami semua.


Dan, aku pun bergidik.

__ADS_1


Ah, dia memang si pemberani. Bukan seperti aku, si pengecut yang kerdil.



__ADS_2