Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.7 | B : Make a Decision


__ADS_3


Kyra -



Akhirnya aku tak jadi tidur. Berbaring pun tidak. Karena pengganggu yang entah siapa itu, aku jadi tak bisa mengistirahatkan diriku terlebih otakku!


Aku mendengus kesal. Berdiam diri dalam sunyi menunggu serangan tambahan siapa tahu saja pelakunya belum jera bila aku belum berteriak marah atau melaporkan ke petugas keamanan yang berjaga di depan komplek sana. Tenang saja aku punya nomor teleponnya sehingga bila ada serangan lagi yang lebih parah tentu aku bisa langsung telepon saja!


Namun, setelah ditunggu lebih lama, mungkin kira-kira berlalu lima menitan, tetapi si pelaku seakan menghentikan serangannya. Sunyi. Senyap. Situasi saat ini berubah menjadi kondusif. Aku mengerut kening. Muncul praduga di isi kepalaku.


"Timpukkan nyasar apa ya?" Gumamku menduga-duga, lalu angkat bahu. Benar, mungkin saja benar.


Aku pun kembali bersiap menarik selimut, lalu mematikan lampu tidur di atas nakas. Meski sekarang belum terlalu malam untuk tidur, tapi karena rasanya diri ini terlalu lelah maka aku ingin rehat saat ini juga. Berharap semoga esok aku segera menemukan jawaban yang tepat...


"TAK!"


Mataku yang tadinya sudah terpejam pun terbelalak kembali seketika. Jantungku nyaris copot rasanya, saking kagetnya!


"TAK!!"


Aku sukses bangun dari tidurku. Bisa kulihat dari balik tirai kelambu putih yang menutupi kaca pintu balkon kamarku itu, benda apa yang telah menghantam bolak-balik kaca itu dan membuatku terusik.


Hijau stabilo.


Bola kasti.


"TAK! TAKK!! TAKKK!!"


Kurang ajar!! Batinku memaki kesal, seiring aku berlari dari atas ranjangku menuju pintu balkon kamarku seketika.


Ya, aku tahu siapa pelakunya. Aku tahu benar siapa dia!


Dan, aku tak peduli padahal aku sudah seminggu ini menghindarinya. Meski usaha susah payahku sia-sia, aku tak masalah asal bisa memakinya di depan mata kepalanya sekarang juga!!


"Ceklek!" Hanya dengan satu gerakan cepat, akhirnya pintu itu terbuka sempurna.


"APA? APA? APAA!!!" Mataku mendelik marah, bahkan alisku sampai ikut tertarik ke atas. Dadaku berkobar api emosi yang menggelegak. Debumannya sangat keras dalam waktu singkat yang bila sedikit dipancing saja pasti bisa meledak dahsyat.

__ADS_1


Itu dia. Pelakunya sudah tertangkap basah!


Di depan mataku kini, Delvin sedang berdiri santai dengan kedua tangan yang sibuk; tangan kanannya sibuk mendekap sebuah toples besar yang memuat banyak bola kasti entah ada berapa banyak, sedangkan di tangan kirinya sudah terangkat tinggi ke atas dengan sebuah bola kasti dalam genggaman--bukti terkuat atas kelakuan kurang ajarnya malam ini!


Namun, bukannya merasa bersalah atau menyesal, Delvin malah menarik simpul di sudut bibirnya.


"Berhasil juga kan," gumamnya pelan.


Aku mengernyit, tapi setelah beberapa saat akhirnya aku mulai mengerti maksudnya. Jadi... ini jebakan? Kurang asem! Aku kena!!


"Heh!" Dia mulai nyolot. "Kenapa lo hindarin gue?!"


Bagai tikus yang tertangkap basah, aku kalang kabut. Mendadak otakku kosong. Aku tak bisa memikirkan alasan logis yang mampu diterima nalar selain berucap...


"Siapa juga yang ngehindar?!" Aku mengelak, akhirnya. Huh, Kyra bodoh!


Delvin menarik rapat alis mata tebalnya itu hingga nyaris hilang jarak. "Bohong!" Vonisnya telak. Aku meneguk ludah. "Terus kenapa gue nggak pernah lihat lo sampai sepuluh hari? Terus kenapa pintu itu ditutup rapat terus? Lo juga nggak pernah duduk di balkon kayak biasanya? Chat gue pun nggak pernah lo bales!" Aku memang sudah benar-benar tertangkap basah. Jika mengelak pasti hanya akan jadi kesia-siaan belaka. "Jawabannya cuman satu! Jelas, lo... emang sengaja hindarin gue. Fix!" Putusnya mentah-mentah.


Aku sampai tak bisa berkata-kata lagi sekarang. Bahkan mengelak pun tak bisa. Entah kenapa mendadak lidahku jadi kelu. Tenggorokanku tercekat atas ucapan menusuknya yang bertubi-tubi itu. Meski enggan mengakui di hadapannya, tapi memang harus kuakui bahwa aku memang sengaja menghindarinya. Huh, Delvin menyebalkan!!


"Kenapa diam aja? Kenapa nggak ngomong? Nggak nyanggah? Nggak ngelak??" Delvin menarik alisnya ke atas, sekali lagi. Membuat matanya membulat lebar. "Pasti bener ya, jawabannya?!" Lalu, dia tersenyum sinis.


Delvin memang sungguh ahli bersikap yang membuat lawannya terpojok ke sudut terkecil seperti halnya diriku saat ini!


"Ya, jelas masalah lah!" Balasnya secepat kilat bernada sewot. "Enak aja, lo memperlakukan gue seenaknya kayak gini!"


"Memperlakukan seenaknya itu gimana sih? Gue nggak memperlakukan lo seenaknya kok, yeee..." balasku masih berusaha terus menyangkalnya.


"Masih perlu ya, gue jelasin panjang lebar lagi??" Delvin menghela napasnya dalam nan berat seolah menghadapiku adalah salah satu masalah pelik di dunia. "Hei, Kira-kira... jangan pura-pura bodoh gitu. Otak lo kasihan tuh, tambah berkarat nanti,"


Mulut Delvin memang sekurang ajar itu. Jangan heran! Untungnya aku sudah biasa.


"Kenapa cemberut gitu??" Dia mengernyit.


Tanpa sadar bibirku jadi mencebik-cebik. Kebiasaanku yang kadang sulit dihilangkan. Padahal aku sudah cukup muak dengan tingkah sok imut macam ini. Huft.


"Vin... Delvin... kenapa sih, lo harus bilang hal kayak gitu sama gueeee?? Gue kan, belum siap!" Aku merengek di depannya. Melepas kefrustasianku yang belakangan ini selalu menghantui. Hanya karena Delvin dan omongannya!


"Sama. Gue juga." Katanya tegas, yang membuat wajahku normal kembali seketika. "Tapi nggak ada salahnya kalau dicoba, kan?"

__ADS_1


Aku menatapnya baik-baik. Menatap manik mata hazelnya yang auranya tak main-main. "Lo... serius?"


"Berapa kali lagi sih, harus gue bilang sama lo kalau gue ini serius??!" Dia malah membalikkan pertanyaan.


Aku garuk-garuk kepala yang sebenarnya tak gatal sama sekali. Menyadari bahwa barusan aku telah salah bicara. "Bukan, maksud gue... lo serius nggak bakal nyesal? Perlu gue ingetin sama lo ya, Delvin... pernikahan itu bukan perkara sehari dua hari, tapi seumur hidup! Nggak bisa dicoba-coba! Sekali gagal, jadi catatan gagal selamanya. Apalagi, gue nggak pernah ada cita-cita buat jadi janda seumur hidup gue-"


"Emang lo kira gue mau jadi duda? Ya, enggak lah!" Tukasnya cepat, dia mendengus. Mengejek. "Nggak waras kali gue, kalau punya niat kayak gitu. Idih, amit-amit!!" Lalu, dia bergidik ngeri sendiri. Membuatku ikut meringis melihat tingkahnya.


"Gue juga udah berpikir baik-baik kok sebelum bilang langsung ke elo. Lo tau kan, gue nggak pernah bercanda kalau menyangkut masa depan?" Katanya yang membuatku langsung berpikir.


Itu benar. Bertahun-tahun berteman dan dekat dengannya, jelas aku amat memahami sifat dan tabiat Delvin. Dia, lelaki berprinsip paling kuat yang kukenal. Selain ahli menutupi perasaan, dia pun ahli untuk memutuskan sesuatu yang kadang orang lain merasa amat sulit untuk melakukannya. Aku pun amat tahu, Delvin adalah orang yang bila telah memutuskan sesuatu akan menjadi kesungguhan yang pasti.


Artinya, sekali memutuskan dia tak akan pernah main-main dengan ucapannya. Termasuk hal itu.


Aku menghela napas panjang. Mungkin ada baiknya kalau aku menyerah sekarang.


"Gue butuh kepastian." Kataku. Dia mengernyit, bingung. "Lo juga harus pastikan sekali lagi. Karena ini menyangkut masa depan yang nggak main-main," imbuhku.


"Caranya?" Dia menatapku serius.


"Istikharah." Jawabku cepat.


"Ayo, ketemu tiga hari lagi. Kita jawab teka-teki itu setelah semuanya pasti," putusku dengan senyum.


Karena semua butuh kepastian. Dan, aku menginginkan kepastian yang lebih nyata dari Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.



____________________


p.s :


Berhubung kemarin banyak komen "NEXT THOR," atau "LANJUT..." so, kupending dulu yhaa crazy up nya.


Sungguhan deh, yg kubutuh itu RAYUAN bukan SERUAN 😬


NOTE:


YANG MAU CRAZY UP LEBIH DARI 3 POST DALAM SEHARI, SILAHKAN CRAZY KOMEN APA SAJA (KECUALI "NEXT" ATAU "LANJUT")

__ADS_1


OKEE?!


HEHEHEEHEHE😜


__ADS_2