Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.2 | Dilema


__ADS_3

-Kyra-


Semalaman aku benar-benar tak bisa tidur! Bahkan meski aku mengantuk lalu tertidur pun itu hanya mampu sekejap dan kemudian aku terbangun lagi karena hal yang sedang menjadi momok bagiku itu malah ikut muncul di mimpiku dan mengganggu!


Kini kepalaku pun agak berat jadinya. Dan... Lihat! Kantung mataku yang selama ini kurawat baik berubah menghitam seperti mata panda hanya dalam semalam!


Hiksss... Perjuangan selama bulan-bulan akhirnya menjadi sia-sia belaka!


Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah pun berlari secepat kilat menuju depan cermin panjang yang berada di sebelah lemari baju putih itu. Padahal mungkin baru semenit saja aku habis berkaca di depan cermin wastafel kamar mandi, tapi rasanya aku harus berkaca lagi di depan cermin favoritku ini demi memastikan bahwa yang tadi kulihat di kamar mandi itu adalah kenyataan pahit yang harus diterima.


Aku meringis ingin menangis melihat kantung mata hitam itu benar-benar ada dan mengganggu penampilan wajahku. Hiksss!


Padahal hari ini ada momen penting. Tapi kenapa penampilanku harus kucel begini??


"Gimana mau ketemu Bang Ezra coba kalau begini?" Aku mewek. "Padahal kan, mau kasih undangan?!" Rutukku, berbicara sendiri atau tepatnya pada cermin yang ada di depanku.


Drrrttt... Drrrttt...


Suara ponsel yang bergetar cukup keras itu membuatku menoleh ke atas nakas yang berada tepat di sisi kanan tempat tidur yang masih berantakkan itu. Dan, tentu saja layarnya menyala-nyala. Maka itu artinya ada sebuah panggilan masuk!


Aku mengernyit. Tak terpikirkan di otakku siapa gerangan yang meneleponku di saat subuh-subuh begini. Bahkan, matahari saja masih enggan bangun dari tidurnya!


Aku garuk-garuk kepala. Daripada penasaran, akhirnya aku menghampirinya juga. Lagi-lagi nama itu yang muncul, membuatku mendengus.


"Assalamu'alaikum, adzan subuh masih sepuluh menit lagi. Daripada diam menunggu, silahkan sholat malam dulu mumpung masih ada waktu!" Ucapku tanpa berniat memberinya kesempatan bicara.


"Wa'alaikumsalam..." Setelah menjawab salam itu, dia berdecak. "Apa sih?! Gue udah tahajjud kali dari tadi." Ujarnya yang malah membuatku mencebik.


"Ohh..." Balasku singkat.


"Oh, doang??"


"Terus gue harus bilang apa lagi?" Tanyaku balik, tak habis pikir.


"Ya, apa kek, asal bukan 'oh' doang!" Balasnya nada sewot.


Aku mendengus. Orang ini... Padahal masih belum pagi ya, sudah ngajakin narik otot leher saja! Ck.


"Yaudah, iya..." Kataku mengalah.


"Telat!" Balasnya menyebalkan.


Astagfirullahaladzim yaa, manusia satu ini! Keluhku dalam hati. Menghadapinya terkadang memang harus banyak-banyak sabar.


"Sebetulnya mau lo apa sih? Heran deh gue, pagi-pagi udah ngajak bakar emosi besar-besaran aja!" Dengusku sebal setengah mati.


"Hahaha..."


Kontan, aku melotot kala mendengar dia malah tertawa tanpa dosa begitu.


"Lo... Kesambet ya?" Ini asumsiku karena aku merasa dia amat tidak jelas pagi ini.


"Enak aja!" Balasnya tak terima.


"Kok aneh??" Tanyaku. "Eh, tapi emang lo aneh hampir tiap hari sih ya... Lupa gue!"


"Hush! Nggak boleh bilang gitu sama calon suami, pamali tau!" Dia mulai lagi. Aku memutar bola mata jengah.

__ADS_1


"Jadi pada intinya lo mau ngapain telepon gue sepagi-pagi begini, huh??" Tanyaku mengabaikan ujarannya sebelum ini. Lebih baik mencari topik pembicaraan baru daripada harus terjebak dengan bahasan 'calon suami'!


"Eng... Nggak, gue cuman iseng aja. Penasaran juga kenapa chat gue semalem cuman dibaca tapi nggak dibales."


Aku meringis mendengar alasannya. Kenapa kesannya aku sedang ditagih balasan oleh pacar sendiri ya?!


"Lo nelepon cuman karena mau nagih balasan chat semalam, gitu??" Tanyaku tak percaya.


"Ya, sekalian bangunin biar lo nggak kesiangan subuhannya. Eh, tapi ternyata lo udah bangun ya? Bagus, bagus..."


Aku mendengus. Entah kenapa ucapannya barusan itu terdengar seperti alibi saja di telingaku.


"Udah deh, jangan berbelit-belit. Gue tahu, bukan itu kan hal yang mau lo omongin sama gue?!"


Tiba-tiba saja dia berubah diam. Membuatku mengernyit.


"Delvin??!"


Dia masih juga terdiam.


"Vin, Delvin, woy!"


"Huh?" Akhirnya suaranya muncul juga.


"Jadi...?" Aku menggantungkan kalimatku. Tapi aku yakin, dia yang kepekaannya tajam pasti tahu betul apa maksudku.


"Iya, iya... Gue..." Dia menggantungkan kalimatnya.


Aku mengernyit. Kenapa dia jadi tergagap begitu? "Gue... Gue apa??"


"Iya... Kayaknya," Kataku tak yakin.


"Kok pakai kayaknya sih??"


"Ya, kan, gue juga nggak tahu hari ini dia di rumah atau enggak. Kan, lo yang bilang harus kasih langsung ke Bang Ezra kan?!" Bahkan alis mataku sampai ikut naik karena mengucapkannya.


"Iya, bagus. Kasih langsung. Jangan kasih ke ART-nya ya!"


Aku mendengus. "Iya, iya, Bawel!"


"Yee... Malah ngatain lagi! Dasar!" Rutuknya padaku. Yang malah membuatku mencebik.


"Yaudah. Udah dulu ya... Udah adzan tuh. Siap-siap sholat gih. Bye!" Katanya hendak mengakhiri percakapan ini.


Aku mengernyit heran. Aneh sekali, orang yang mengingatkan ibadah tapi lupa caranya mengucap salam?! Ck.


"Wa'alaikumsalaaaam..." Sindirku.


Terdengar suara cengiran dari sana. Aku memutar bola mata. "Ehiya, lupa!" Dia nyengir lagi. "Kalau gitu... Wassalamu'alaikum, Kira-kira!"


"Hm, wa'alaikumsalam."


Dan, panggilan itu pun terputus.


Aku menatap ponselku dalam diam untuk beberapa saat. Sejenak aku terpikir ada hal yang mengganjal dari percakapan ini. Entah bagaimana feeling-ku mengatakan kalau Delvin itu sedang khawatir pada pertemuanku dengan Bang Ezra nanti.


Tapi... Kenapa dia harus khawatir? Bukannya pertemuan itu juga ada karena dia yang suruh?? Apa iya, dia takut setelah bertemu nanti aku malah kembali pada Bang Ezra alih-alih tetap bersama dia?

__ADS_1


Ah! Mungkin ini hanya asumsiku yang salah.


Lagi pula buat apa Delvin khawatir soal itu. Dia pasti hanya ingin memastikan saja, seperti katanya tadi. Toh, kita kan belum ada perasaan satu sama lain!


Hahaha... Sepertinya malah otakku yang agak bermasalah.


"Duhh, ini pasti gara-gara susah tidur semalaman!" Rutukku pada diriku sendiri.


***


Aku menatapnya lekat. Dari pancaran mataku ini pun sudah memancarkan kesungguhan yang berarti. Lantas kusodorkan kertas undangan itu padanya.


"Bang Ezra... Ini," Suaraku menjadi lembut dari biasanya.


Aku mengernyit. Lalu mendengus. "Kok, malah kedengaran sedih gitu?"


Aku mulai garuk-garuk kepala. Lebih tepatnya, bingung harus bersikap bagaimana.


"Ulang! Ulangi!" Seruku sendiri.


Kemudian aku pun bersiap kembali menatap serius cermin besar yang bahkan tingginya melebihiku ini.


"Bang Ezra, ini...! Nanti jangan lupa datang ya?" Dan, aku tersenyum lebar.


Aku mendengus. Lalu, geleng-geleng kepala. "Aneh!"


Menghela napas, aku pun mengulangi adegan itu beberapa kali dengan berganti-ganti ekspresi.


Benar, sekarang ini aku sedang latihan sebelum aku terjun sungguhan di medan perang. Maksudku, ini adalah persiapan sebelum nanti bertemu Bang Ezra langsung.


"Bang Ezra..."


"Bang Ezra ini..."


"Jangan lupa datang ya, Bang Ezra!"


Aku tak mau menggagalkan rencana yang ada di depan mata hanya karena nanti aku tak tahan untuk menangis lalu mengaku kalau selama lebih dari sepuluh tahun ini aku menyukainya. Ini adalah upayaku agar pertahananku tak runtuh saat bertemu dengannya secara langsung nanti.


Hatiku pun kini mulai bertanya-tanya. Bagaimana reaksinya nanti setelah tahu kalau aku akan menikahi Delvin?


Apa dia ikut bahagia? Tertawa? Biasa saja? Atau... Bersedih??


Lalu, bagaimana kalau ternyata reaksinya benar-benar bersedih? Bagaimana kalau nantinya dia malah mengeluarkan air mata kesedihan saat melepasku?


Apa saat itu pertahananku akan goyah? Apa aku akan lebih memilih Bang Ezra alih-alih Delvin yang bahkan sudah berjuang susah payah untukku sampai titik ini??


Aku mengacak rambutku frustasi. Terduduk di atas kursi terdekat dan menghela napas panjang. Sesaat aku terdiam menatap kertas undangan yang sejak tadi kupegang.


Tatapan ini terasa sendu dengan perasaan tak menentu yang menyelimuti.


Harusnya aku tak gamang. Tapi kenapa sekarang malah jadi dilema??



...JANGAN LUPA VOTE, KOMEN & SHARE YAAA!...


...TERIMAKASIIII❤...

__ADS_1


__ADS_2