Romance After Marriage

Romance After Marriage
0.9 | B : Rainy Heart


__ADS_3

- Kyra -


Hujan.


Deras.


Bahkan guntur tiba-tiba datang menyergap melemahkan jantung bersama dengan kilatan akar yang menakuti mata.


Langit terlalu kejam padaku rasanya. Atau malah terlalu mengerti aku hingga dia berreaksi sama dengan hatiku yang kalut ini(?)


Entah lah, yang jelas. Derasnya air yang turun bergerombol dari langit itu membuat kalutku bertambah.


Aku nggak tahu lagi bagaimana harus berekspresi dengan pemberitaan macam ini. Padahal sebelumnya aku sudah menduga, tapi melihatnya secara langsung membuat hatiku lantak juga.


Dengan suasana langit yang mendung dengan hujan yang amat deras, aku duduk di atas kursi santai di teras villa seolah tak takut kebasahan karena menentang pantulan air yang sudah kupastikan akan menciprati airnya padaku.


Sekali lagi kutatap layar datar ponselku. Di sana terpampang foto Bang Ezra dan Mia berdiri berdampingan yang tampak sangat serasi bersama.


Dibandingkan dengan aku, Mia Nadira jauh terlihat lebih segalanya. Dia punga paras yang cantik, sangat! Fisiknya sempurna, langsing dengan tinggi yang semampai. Keluarganya pasti kaya raya. Punya prestasi di banyak bidang termasuk menjadi alumnus dari perguruan tinggi favorit. Multi-talenta dengan segudang bakat. Senyumnya manis, ramah dan perangainya terlihat lembut gemulai. Sungguh, Mia Nadira tak ada celah untuk dikulik sisi minusnya. Dia terlalu lebih baik dibandingkan diriku yang bukan siapa-siapa ini.


Apalah aku, yang hanya seorang gadis berotak pas-pasan. Tak punya ambisi prestasi, cuman berlaku sesenang hati. Wajah pun biasa saja, tidak lebih atau kurang. Cerewet, bawel, suaranya cempreng... amat jauh dari kata lemah lembut!


Aku memutuskan untuk segera menutup jendela kanal berita di sebuah situs. Lalu, kumatikan ponselku atau tepatnya paket dataku. Berguna agar aku tak akan tergoda membuka sosial media atau akses internet lagi! Sudah cukup. Karena hatiku ini sudah terlalu banyak yang retak bila kutetap bertahan membaca pemberitaan-pemberitaan itu.

__ADS_1


"Ya Allah, Kyra, lo ngapain di luar gini? Lihat kan, sekarang lo kebasahan! Nggak dingin apa?!" Kanaya datang menghampiriku, membuatku berdiri dari dudukku. Kemudian membawaku masuk kembali ke dalam Villa.


Aku dihelanya duduk di atas sofa panjang. Sementara aku masih terdiam dalam kebisuan, dia mondar-mandir mencarikan selimut untukku. Dia kelihatan sibuk banget sekarang, dan itu sedikit berhasil membuatku tersenyum. Mengalihkan pikiranku pada pemberitaan itu sejenak.


Setelah melilitkan selimut itu padaku, dia lantas kembali beranjak menuju dapur. "Susu coklat atau teh?"


Kepalaku menoleh ke belakang, ke tempatnya berdiri sekarang, tepat di belakang pantry. Senyumku melebar, "Susu chotat!"


"Ish, nggak usah sok imut gitu. Lo udah terlalu tua tahu buat dianggap imut!" Rutuknya yang kontan membuatku terbahak.


Sudah biasa bagiku dan Kanaya bercanda yang agak menggelikan begitu. Dia pun mengerti karena memang di rumah aku adalah anak bungsu yang pastinya biasa diayomi selayaknya bocah lima tahun. Sama halnya seperti Mas Kamil, Kanaya sering memperlakukanku sebagai adiknya alih-alih teman sebaya. Huh, dasar Kanaya sok tua! Hehe.


"Nih, diminum, biar hangat tuh badan!" Serunya selagi memberikanku segelas susu coklat yang dia buat tadi di pantry.


"Hemmmm," dia memutar bola matanya, lalu duduk di sebelahku. Yah, dia memang selalu begitu kalau sedang dipuji. Haha.


Menghirup aroma yang menguar dari uap yang masih agak mengepul dari dalam gelas, aku lantas menyesap susu itu pelan-pelan. Aku tersenyum. Rasanya masih sama seperti yang pernah kurasakan kali pertama saat merasakan minuman buatannya. Minuman buatan Kanaya yang manisnya hanya semanis jambu, tapi entah kenapa aku suka sekali!


"Eh, temen lo jadi ke sini nggak?" Tanyanya tiba-tiba, yang langsung membuatku menoleh padanya. Menahan tangan yang sedang memegangi gelas padahal sudah di depan dagu.


Oh ya, aku nyaris lupa!


"Katanya sih jadi. Tapi nggak tahu juga gue, dia suka nggak jelas orangnya." Jawabku, mengangkat bahu. Lalu, lanjut menikmati susu coklat itu lagi yang sebelumnya sempat tertunda karena pertanyaan Kanaya.

__ADS_1


"Dia bakal nginep nggak ya?" Ujar Kanaya yang terdengar seperti gumaman.


"Jangan lah! Dia kan cowok, Naya! Masa iya boleh nginep di sini?! Nggak boleh, bisa bahaya tahu!!" Cetusku memberi ketegasan.


Meski aku yakin Delvin punya norma dan akal yang baik, namun bukankah tetap harus waspada? Bukan apa-apa, di Villa ini cuman ada aku dan Kanaya saja yang tinggal. Nggak ada orang lain lagi selain kami. Sangat nggak etis bukan, kalau ada seorang pria dewasa menginap di tempat dua orang perempuan seperti kami ini? Aku yakin, orang di sekitar Villa ini bisa saja berspekulasi buruk tentang kami karena membiarkan seorang lelaki masuk dan menginap di tempat ini. Heuu, membayangkannya saja aku sudah cukup ngeri!


Kanaya menatapku bingung. "Lah, terus, teman lo itu gimana? Dia aja sampai sore, masa iya baru sampai disuruh langsung pulang? Mana cuaca lagi hujan gini, kan kasihan. Tega banget deh lo, Kyra!" Cerocosnya mengomeli diriku.


Aku mendengus kesal. Kanaya yaa, benar-benar deh! Aku tahu dia memang orang yang baik hati bahkan sejak kami baru saling mengenal di tempat bimbel kala itu waktu kami masih berusia 9 tahun. Aku tahu, dia anak yang bernurani besar. Tapi tak bisakah dia sedikit berpikir lebih luas tentang masalah ini? Maksudku memikirkan omongan orang lain, karena bisa saja mereka akan berbicara buruk tentang kami jika membiarkan lelaki menginap, kan??


"Ra, emangnya temen lo itu bandel? Suka main cewek? Nggak, kan?!" Dia bertanya.


Aku mendesah pendek. Menatapnya baik-baik. "Ya, enggak. Kalau soal itu gue juga yakin dia bisa dipercaya. Dia juga tipe cowok yang menghargai wanita, jadi gue yakin nggak akan ada masalah soal itu. Tapi--"


"Nah, yaudah kalau gitu!" Tukas Kanaya memotong ucapanku. Aku sampai menghela napas sebal karenanya.


"Ih, Naya! Dengerin gue dulu kenapa?!" Teriakku yang lantas membuatnya terdiam. "Oke, Delvin emang bisa dipercaya. Tapi gimana sama omongan tetangga? Mereka pasti bisa berspekulasi yang 'tidak-tidak' kalau kita ngebiarin Delvin nginep di sini! Apalagi di Villa ini cuman ada kita berdua aja. Cewek! Nggak ada orang lain selain kita,"


Dari penjelasanku yang panjang lebar itu, Kanaya langsung terdiam. Tak berapa lama keningnya berkerut. Tanda kalau dia sedang berpikir. Memikirkan baik-baik kata-kataku barusan.


Aku menghela napas. Akhirnya dia bisa memikirkan apa yang aku khawatirkan juga. Anak itu, kenapa sih dia terkadang kepolosannya tidak berubah??


__ADS_1


__ADS_2