Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.9 | A : Romance After Marriage's Rules


__ADS_3

- Kyra -


"Jadi... gimana?"


"Apa keputusan lo?"


Suara kami yang saling bersinggungan membuat kami jadi berpandangan. Menatap dengan mata membulat selebar kelereng. Aku mengerjap, menolak angin yang berembus lembut mengeringkan mata, dan membuat perih sekaligus gatal. Begitu pula dirinya yang bertingkah tak jauh berbeda denganku.


Lalu, lambat laun sudut bibirnya terangkat dan kemudian melebar membentuk tawa hingga gigi kelincinya terlihat jelas. "Fix. Ini adalah tanda pertama kalau kita itu jodoh!" Lagi, dia terkekeh.


"Dih." Aku mencibirnya. Tertawa mendengus, aku berujar, "Ngarep banget apa lo?!"


Niat awalku yang ingin mengejeknya malah seakan menjadi boomerang untukku sendiri. Seketika itu aku terdiam, menyusutkan tawaku tanpa sisa ketika dia malah menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaanku. Aku menatapnya lurus-lurus. Aku sendiri bingung harus menanggapi seperti apa saat dia bertingkah di luar dugaan seperti ini.


"Eung," lagi-lagi dia menganguk. "Gue emang ngarep. Makanya, gue harap lo... kasih jawaban yang nggak mengecewakan, oke?!"


Mataku tanpa sadar tertuju pada tengah manik mata hazelnya. Dia yang kini sedang tersenyum miring, membuat jantungku kebat-kebit jadinya. Kalau saja aku tak ingat manusia ini adalah Delvin yang kukenal sejak kecil hingga kuketahui sampai ke busuk-busuknya dia, aku pasti sudah berteriak histeris dan menjadikannya idola yang mampu menggantikan Doyoung sebagai penyanyi favoritku dari Negeri Gingseng sana. Astaga... aku nggak nyangka senyum Delvin bisa terlihat amat keren di mataku!


"Heh! Woi?!" Saat itu, Delvin tengah menjentikkan jarinya di depan mataku. Membuatku tersadar bahwa diriku sedari tadi malah bengong untuk memandanginya, terlebih senyum miringnya yang ajaib hingga membuatnya yang semula kuanggap tak ada apa-apanya itu jadi berubah keren dalam sekali kedip!


Ya ampun, Delvin... kenapa dia nggak ngikutin jejak Bang Ezra aja sih? Sia-sia banget tampangnya! Pikiranku mulai meracau. Karena sempat tersihir oleh pesonanya, aku jadi berpikir ke mana-mana. Ck!


"Hei, kalau lo pandangi gue kayak gitu lebih lama lagi... jangan salahin gue kalau gue anggap lo baru aja jatuh cinta sama gue loh," selorohnya datar tanpa ekspresi. Seolah sungguh tak berminat bila aku benar jatuh cinta padanya. Tak peduli.


Kontan, mendengarnya berujar demikian aku langsung berdecih. Bergidik ngeri atas kepercayaan dirinya yang amat sangat hingga mampu menyimpulkan hal yang seperti itu. Astaga!!


Ya, meski aku sempat terpesona sedikit oleh senyumnya tadi, tapi itu terjadi karena aku khilaf! Toh, aku tak pernah merasakan getaran apapun selayaknya aku saat bersama Bang Ezraa. Dasar kepedean, huh!!


"Ada cabe tuh di gigi lo yang amat eye-catching." Ujarku asal demi mengalihkan perhatiannya. Dan, tanpa kusangka-sangka, hal itu malah berhasil membuatnya langsung kelabakkan.


"Eh, serius lo? Asli?! Di gigi gue ada cabe??" Delvin bertanya-tanya terus padaku. Wajahnya berubah khawatir juga bersamaan dengan sirat malu di sana.


Aku menatapnya bingung. Sesungguhnya aku tak pernah sangka dia akan percaya pada ucapan asalku ini begitu saja. Padahal kupikir dia akan menimpuk wajahku dengan tisu bekasnya seperti biasa. Tapi ini....?! Ya Allah, aku jadi nggak tega karena sudah membohonginya...

__ADS_1


Karena saat ditanya olehnya aku hanya diam saja dan memandanginya, Delvin yang tak sabar akhirnya mengambil ponselnya yang ternyata dia simpan di saku celana pendeknya. Setelah itu, dia pun berkaca dari kamera depan ponselnya. Lalu, beberapa saat kemudian alisnya pun bertaut rapat. O-ow! Akhirnya dia menemukanku yang telah membohonginya.


Ponsel yang menutupi wajahnya itu pun turun perlahan, berakhir di atas pangkuan pahanya. Dan, sampai akhirnya mampu kulihat wajah kesalnya itu menatapku.


Matanya menyipit tajam, bahkan mata elang pun kalah tajam darinya. "Lo nipu gue ya?"


Maka, saat itu pula aku nyengir lebar lalu mengangkat kedua jariku ke atas. Membentuk tanda damai. "Bercanda... hehehe,"


Dan, tanpa kalimat bernada amarah atau pun tisu bekas yang melayang menimpuk wajahku, Delvin hanya mendengus tanpa berkomentar banyak. Dia mengalihkan pandangan pada ponselnya, menyalakan layarnya sebentar, lalu meletakkannya di atas lantai tepat di sisi kirinya.


"Udah jam 9 nih." Katanya seperti memberi peringatan untukku. "Jadi... apa keputusan lo, Kyra? Yes or no?!"


Aku terdiam sesaat, yang sebenarnya kebingungan bagaimana merangkai kalimat agar kelak dia bisa langsung paham tanpa aku mengulang penjelasan lagi.


Menunggu jawabanku, Delvin mengangkat sebelah alis matanya ke atas. "Jawabannya adalah..." lagi, dia memintaku menjawab.


Oke, baiklah Kyra. Ayo mulai sekarang!


Meyakinkan diri, aku menghela napas panjang-panjang sebelum akhirnya mengeluarkan jawabanku dalam sekali napas. "Oke! Tapi gue punya syarat!"


Aku mengangguk cepat, mengiyakan.


"Yes, maksudnya?"


Aku mengangguk sekali lagi. "Hm, tapi bersyarat loh ya!"


Kulihat, Delvin tampak mengerutkan keningnya sebentar dan sesaat kemudian barulah dia kembali bertanya. "Apa syaratnya??"


Dan, saat itu juga langsung kutunjukkan selembar kertas bermatrai 6000 yang telah kusiapkan dari semalam tepat di depan mata kepalanya.


"Ini!"


Seketika itu, Delvin pun menyipitkan matanya. Mencoba membaca huruf demi huruf yang tertata dengan apik nan rapih di sana. Karena tulisannya yang cukup kecil, maka agar makin jelas dia pun lekas merebut kertas A4 itu dari tanganku.

__ADS_1


Kini, kertas yang memuat surat perjanjian itu pun sudah diambil alih olehnya.


"Heh, dari kapan lo siapin hal kayak gini?!" Tatapan Delvin sudah teralihkan sepenuhnya dari kertas itu kepadaku. Dia pun menatapku dengan raut tak habis pikir. Kemudian, dia menggoyangkan kertas yang ada di tangan kanannya seolah menegaskan padaku hal yang dia maksud. "Kebanyakan nonton drama ya lo, sampai ada pikiran bikin hal kayak gini??"


"Terus kenapa??" Aku membalas tatapannya itu dengan delikkan tanpa gentar. "Sebagai pihak yang tidak mau dirugikan, gue harus ambil tindakan preventif dong! Nggak salah, kan?!" Balasku yang teguh pada pendirianku dan juga surat perjanjian itu.


Delvin pun menatapku lama. Mencari sirat kesungguhan dari manik mataku. "Emangnya apa yang lo takuti?"


Ah, ternyata hanya dengan menatap mataku dia mampu membaca kekhawatiran yang menyergapku bila aku menerima pinangannya. Aku tahu, Delvin memang lah sepeka itu.


"Semuanya." Jawabku tegas. "Tapi yang paling gue takuti adalah pernikahan tanpa rasa yang bisa berakhir saling menyakiti. Dan, gue nggak mau itu," jelasku.


"Terserah sih, kalau lo nggak setuju dengan syarat gue ini ya udah, its okay. Gue nggak masalah. Tapi itu sama aja artinya lo yang batalin lamaran lo sendiri dan bukan karena gue yang nolak lo." Imbuhku. Membuatnya langsung berpikir keras hingga keningnya berkerut-kerut dalam.


Delvin diam untuk beberapa saat. Membuat suasana di antara kami berubah hening dalam sekejap. Untungnya, masih ada motor yang melewati jalan blok kami sehingga suasana dingin ini bisa sedikit terpecahkan.


"Oke. Gue terima syaratnya. Tapi, gue nggak mau terima semua ini mentah-mentah." Putusnya.


Akhirnya Delvin pun mengiyakan penawaranku dengan syarat darinya pula. Yah, tak heran. Delvin memang berotak cerdas, maka wajar bila dia akan bersikap begitu.


"Terus?" Aku mengangkat sebelah alis mataku.


"Susun ulang! Cari kesepakatan bersama demi nggak ada pihak yang dirugikan!" Tegasnya memberi keputusan final.


Kalau sudah begini, sepertinya tak ada jalanku untuk mundur lagi, bukan?



___________________


**P.S:


Ditunggu komentarnya untuk episode ini. Tolong kasih aku komentar & VOTE yang banyaaak yhaaa...

__ADS_1


Aku sayang kalian, pembacaku. Luvvv♡**


__ADS_2