
- Kyra -
Aku tak bisa tidur.
Lagi-lagi aku menghela napas lalu mengganti posisi tidur. Melirik ke samping, Kanaya pun telah membuat dengkuran halus saking lelapnya dia. Tidak salah, gadis ini kan, seharian mondar-mandir ke sana ke mari. Sudah sewajarnya dia jadi amat lelah.
Sekali lagi aku menghela napas. Kembali, mengubah posisi tidurku dari miring menghadap Kanaya lalu merebah menghadap langit-langit yang minim cahaya. Ya, karena kamar ini sudah padam lampunya sejak satu jam lalu. Sejak kami memutuskan rehat. Di dalam kamar ini hanya ada cahaya temaram dari sebuah lampu stand yang ada di sisi tempat tidur kami atau tepatnya di sisiku.
Beberapa kali memejamkan mata, mencoba mencari cara agar mataku cepat lelah dan terlelap. Namun pada akhirnya mataku malah kembali terbuka lebar, sama seperti sebelumnya.
Aku sungguh-sungguh tak bisa tidur sekarang!
Menghela napas jengah, akhirnya aku putuskan untuk mencari angin saja di luar. Sepertinya bila duduk sebentar di atas balkon depan ruang tengah itu sembari menikmati embusan angin malam beraroma hujan aku akan bisa mengobati insomniaku hari ini. Ya, ya, ide bagus!
"Klak!" Dengan perlahan dan penuh hati-hati aku membuka kunci pintu kamar ini sembari beberapa kali mengawasi keadaan Kanaya. Takut kalau gadis itu jadi terbangun tiba-tiba karena suara berisik yang kubuat.
Menghela napas lega, aku tersenyum simpul begitu berhasil keluar dan kembali menutup pintu perlahan. Seperti rencana awalku, aku pun bergegas menuju balkon. Membuka pintu yang didominasi kaca tembus pandang yang kini sudah berembun tebal. Angin dingin menyergap seketika membuat bulu kudukku meremang. Membuatku lantas memeluk tubuhku sendiri, mengusap-usap lengan yang sudah berlapiskan sweater kuningku.
Mengabaikan fakta bahwa udara di sini amatlah dingin hingga rasanya seperti menusuk-nusuk kulit. Namun aku tetap gigih pada kemauanku untuk duduk di atas lantai kayu yang dingin ini sembari memandangi langit hitam yang sepi bintang.
Aku tersenyum kala merasakan lembutnya belaian dinginnya embusan angin yang menyentuh permukaan kulitku. Bunyi jangkrik dan serangga lain terdengar ramah untuk menemaniku yang duduk sendirian di tempat ini.
__ADS_1
Terdiam sejenak, masih dengan posisi yang sama--memandangi kabut kelam langit yang tampak pekat. Tetiba, aku kembali teringat pikiran kalutku beberapa saat lalu. Hah, padahal aku berusaha buat tak memikirkannya lagi, tapi sekarang malah makin terpikirkan akibat aku yang tak bisa tidur!
Membayangkan harmonisnya hubungan mereka di sebuah foto di instagram membuatku menghela napas panjang. Aku mendekap kaki. Kini tatapanku hanya tertuju pada sepasang kaki telanjang yang kulitnya nampak pucat diterpa suhu dingin.
Aku termenung. Lalu tanpa sadar terucap, "Apa udah saatnya nyerah?"
Namun aku sadar, apa yang kuucapkan barusan adalah perwakilan dari isi hatiku yang sulit tuk kukeluarkan selama ini. Menyerah. Berhenti. Cukup sampai di sini, adalah kalimat yang telah kuhindari selama lebih 10 tahun ini.
Perasaan yang tertanam itu sudah terlanjur berakar dalam. Aku sadar, pasti akan sulit bila aku harus mencabutnya, menghilangkannya dalam sekejap. Tapi jika tidak, bagaimana kehidupanku di masa depan nantinya? Akankah aku harus terus berada dalam pusaran cinta bertepuk sebelah tangan ini?? Tidak, aku bahkan sudah dalam usia cukup untuk menikah sekarang, sudah seharusnya aku membuat keputusan terbaik untuk masa depanku nantinya termasuk meninggalkan cinta pertamaku dan menyambut seseorang yang akan lebih mencintaiku!
Aku menghela napas berat. Kenapa semua terasa sulit bila dipikirkan?
Membuatku lantas menoleh. Dengan pandangan mendongak aku memandang ke arahnya yang berada lebih tinggi dariku. Mataku melebar. Serius, aku kaget melihat dia berada di belakangku. Yang bahkan aku pun tak tahu sejak kapan dia sudah berdiri di situ dengan kedua tangan yang memegangi dua mug berwarna merah.
Dia mengangkat mug-mug itu di kedua tangannya lebih tinggi seolah sedang menegaskan apa yang sedang dipeganginya itu kepadaku. Lalu, dia pun tersenyum, "Nyoklat panas?"
Aku memiringkan kepalaku sedikit dengan mata menyipit. "Kok elo belum tidur sih, Delvin?"
Delvin lantas tertawa mendengus mendengar komentarku alih-alih menberikab jawaban dari penawarannya. Lalu, tanpa permisi dia langsung duduk di sebelahku setelah sebelumnya menyerahkan salah satu gelas mug itu kepadaku. Tak langsung menjawab, dia malah menatap langit selagi menyesap isi dari gelas mugnya. Air coklat yang asap panasnya mengepul di udara.
Senyumnya terulas samar. Tanpa menoleh kepadaku dia berkata, "Alasannya pasti sama kayak punya lo." Lagi, dia tertawa mendengus. Lalu kini dia pun mulai menatap ke arahku. "Karena gue juga nggak bisa tidur!"
__ADS_1
Aku tertawa kecil mendengarnya. Entah kita ini punya ikatan batin atau apa, tapi lagi-lagi aku menemukan diriku selalu bersamanya kala ada hal yang mengganggu pikiran. Kadang, aku pun tak mengerti mengapa persahabatan kami bisa sekental itu. Padahal tak jarang kami saling mengejek, tapi kami seakan bisa saling memahami perasaan masing-masing. Bahkan dahulu, saat di SMA sampai pernah muncul gosip kalau kami ini pasangan kekasih karena saking seringnya kami berinteraksi dekat satu sama lain.
Ah! Tiba-tiba aku merasa lucu bila kembali mengenang masa itu, haha. Untungnya gosip itu tak sampai bertahan lama karena langsung terpatahkan dengan fakta yang ada, yaitu; Delvin dan Ines yang ternyata sudah berpacaran.
Sekali lagi, aku jadi tersenyum kala membayangkan kembali tentang kekacauan seantero sekolah kala itu, karena "adik kelas idaman" atau "kakak kelas terkeren" atau pun "cowok most-wanted" itu sudah berubah status dari jomblo menjadi soldout!
Ya, ya... saat sekolah Delvin memang setenar dan sepopuler itu! Karena selain punya wajah-ekhem-tampan, dia pun dikenal sebagai siswa multitalenta dengan beragam prestasi. Jadi jangan terlalu heran!
"Apa sih yang lucu? Kenapa lo senyam-senyum nggak jelas gitu tiba-tiba?!" Alis tebal Delvin bertaut rapat. Wajahnya berubah heran kala menatapku.
Aku menggeleng, masih dengan senyum yang sama menempel di bibir. "Nggak, cuman merasa lucu aja sama kehendak Tuhan yang selalu berada di luar pikiran manusia."
Kulihat, alis matanya makin bertaut rapat. Aku semakin ingin tertawa, karena wajah bodohnya yang amat jelas kentara itu. Haha! Aku tahu bahwa Delvin jelas nggak akan mengerti apa maksud kalimat yang kuucapkan barusan.
"Coklatnya enak, nyolong di mana lo?!" Tanyaku mengalihkannya.
"Di pantry! Nggak tau juga punya siapa tuh!" Dia mengangkat bahu sembari tertawa. "Paling kalau besok ada yang ngomel, ya, tinggal gue ganti aja. Life is so easy, isn't it?!" Katanya berlagak.
Aku geleng-geleng, terbahak dengan sesekali menyesap coklat panas yang kini sudah berubah hangat suhunya.
__ADS_1