
- Kyra -
Tak berapa lama...
Lalu, tiba-tiba sebuah ponsel di atas meja kayu itu berdering nyaring. Dari nada deringnya aku sangat yakin kalau ponsel itu bukanlah milikku.
Kanaya pun segera melihat layar datar ponsel miliknya yang masih berbunyi. Menggeser sedikit jarinya di atas sana, baru lah dia mulai mendekatkan ke arah telinganya dan mulai menyapa seseorang yang melakukan panggilan di seberang sana. Dia menjawab salam ramah alanya seperti biasa. Kata "Om" membuatku sadar kalau panggilan itu adalah dari kerabatnya, tepatnya, pamannya.
"Ah, gitu? Iya-iya, Om, Naya emang masih di Villa sama teman Naya. Kamar? Masih ada satu yang kosong, kenapa Om?" Alisnya bertaut sebentar, lalu wajahnya berubah cerah. "Bisa! Iya, Om, bisa banget!" Kanaya yang berseru heboh dengan senyumnya lantas melirikku penuh arti, membuatku langsung mengernyitkan dahi bingung apa maksudnya.
Dia bicara lagi. "Iya, nanti Naya jemput ya? Om sama Kak Dewi sekarang? Mau kujemput?? Iya, nggak pa-pa. Naya kan, pakai mobil! Hehehe... yaudah, sip! Kalau udah dekat, jangan lupa kabari Naya yaa Om??" Tak berapa lama sambungan itu pun diakhirinya setelah sebelumnya Kanaya mengucapkan salamnya lebih dulu.
Aku menatap Kanaya lurus. Dari apa yang kudengar dari kalimat jawabannya tadi, sudah bisa disimpulkan bahwa Om Kanaya sedang menuju kemari bersama dengan seorang yang bernama "Kak Dewi" tadi.
"Om lo mau ke sini? Nginep??" Tanyaku menyimpulkan.
Kanaya mengangguk cepat, lalu dia tersenyum. "Pas banget kan, kita lagi butuh solusi, eh, solusinya nyamper sendiri!" Katanya berseru senang.
Aku menatapnya nggak habis pikir. Omnya menginap dan membawa seorang gadis bersamanya, lalu itu yang dia sebut dengan solusi??
"Ra, tenang aja pokoknya si Delvin bisa nginep di sini kok! Nggak usah khawatir yaa..." katanya lengkap dengan menaik turunkan alis buatannya itu seolah sedang menggodaku. Aih, apa-apaan coba anak ini?!
"Ih! Siapa juga yang khawatir??" Kataku tak terima. Lagi pula, siapa sih yang khawatir sama Delvin kalau dia nggak bisa nginep di sini? Malah aku maunya dia bisa cepat balik pulang ke Jakarta nggak ada pakai acara nginep-nginep di sini segala!
"Aiiyyy~" Kanaya senyam-senyum menatapku penuh arti. "Jangan malu gitu, udah keliatan kok kalau lo tuh emang khawatir banget sama teman lo yang lagi di jalan."
Dari Hongkong!
__ADS_1
"Tadi aja sampai galau hujan-hujanan nungguin dia di teras depan. Sambil berharap gini kan lo, 'Delvin mana yaa, sampai mana yaa, kok belum datang-datang sih,' dengan wajah yang penuh resah. Iya, kan?!" Lalu dia terbahak-bahak. Emang sangat asyik ya menggodaku?! Huh!
"Mana ada!!" Aku lantas mencubit pinggangnya yang membuatnya sempat mengaduh, namun tak lantas membuatnya berhenti tertawa. Kadang Kanaya itu sok tahunya memang kelewatan!
"Eh, Naya! Kalau mau bikin novel sama yang lain aja sana, jangan sama gue!"
"Kenapa? Cerita lo sama si Delvin-delvin itu spesial banget ya? Iya, kan?!" Ledeknya terus.
Ugh. Anak ini!!
Aku sudah geram ingin memberinya pelajaran dengan cara mengklitiki pinggangnya hingga dia menyerah dan mengaku kalah. Namun, ternyata takdir memihaknya sehingga dia terselamatkan oleh deringan panggilan di ponselnya. Ih, ngeselin!
Setelah menerima panggilan singkat itu, Kanaya pamit padaku. Ia hendak menjemput Omnya di tempat yang sudah dia komandokan sebelumnya. Alhasil, mau tak mau aku pasrah urusanku dengannya tak selesai. Baiklah, sekali ini akan kumaafkan dia. Tapi tidak lain waktu!
Kanaya pergi meninggalkanku di Villa ini bersamaan dengan deruan suara mobil yang perlahan terdengar menjauh.
Hatiku masih dilanda hujan. Sama halnya seperti cuaca saat ini. Begitu pekat dan pelik. Rasanya aku ingin menyudahi perasaan itu sekarang juga. Tapi bagaimana? Bagaimana caranya meninggalkan dan menghilangkan perasaan yang sudah ada dalam waktu 10 tahun lamanya?!
Jujur, perasaanku pada Bang Ezra terlalu tulus hingga rasanya amat sulit dan amat sayang untuk kuhilangkan.
Tapi di sisi lain, aku juga sudah lelah. Lelah dengan jalinan perasaan sepihak ini. Rasa-rasanya 10 tahun sudah cukup dan aku tak bisa menjalaninya lebih lama dari itu!
ARGH!! Aku mengacak rambutku asal-asalan. Pening sendiri rasanya memikirkan hal itu. Padahal di tempat ini aku ingin menghibur diri tapi lagi-lagi malah kalut dengan hal itu lagi. Kesal, benar-benar kesal!!
"Ting-tong!"
Gerakan tanganku yang mengacak rambut ini seketika terhenti. Aku terpaku mendengar suara bel yang entah kenapa malah terdengar horor di telinga.
__ADS_1
"Ting-tong! Ting-tong!!"
Bel itu berubah terdengar tak sabar. Membuatku makin waspada. Dan tak ingin beranjak sejengkal pun dari sofa ini!
Drrttt... drrttt...
Ponselku bergetar, nada dering tanda pesan masuk mendominasi tiba-tiba di waktu yang amat tak tepat ini. Aku yang sudah mematikan paket data sebelumnya tentu saja yakin kalau pesan itu bukanlah pesan dari Wh*tsApp.
Saat kubuka ponselku. Benar saja, tertera di sana. Notifikasi dari masuknya sebuah pesan singkat atau nama lainnya short message service dari seorang yang tentu saja sangat kukenali.
Dari : Delvin Jelek
Gue di luar nih. Bukain pintu bisa kali! Dingin.
Tanpa sadar aku menghela napas lega. Ternyata orang yang memencet bel tadi dan yang sempat kuwaspadai adalah Delvin!
Maka, tak berlama-lama lagi, aku segera beranjak menuju pintu utama berada. Aku yakin pintu tidak dikunci oleh Kanaya, tapi Delvin tetap bisa menjaga kesopanannya untuk tidak masuk sembarangan. Yah, meskipun dia terkadang suka menyebalkan tapi kalau manner dan attitude-nya memang patut untuk diacungi jempol. Hehe.
"Ting-tong!"
Delvin membunyikannya lagi, lantas membuatku berteriak selagi aku sudah mendekati di mana letak handle pintu berada.
"Iya, iya, tunggu sebent--" kalimatku tertahan seketika seiringan dengan mataku yang membulat lebar, tepat di saat pintu itu terbuka dan menampilkan sosok pria dengan bibir membiru dan tubuh yang menggigil kedinginan.
Aku menatapnya horor. Mataku membulat penuh selidik. Alis mataku bahkan sampai terangkat tinggi. "Delvin, elo... kehujanan?!!"
__ADS_1