Romance After Marriage

Romance After Marriage
2.4 | B : Tekad Sekeras Batu


__ADS_3


Delvin -



Sabtu, 08.15 pagi.


Sejak tadi aku hanya duduk dan menunggu di atas bangku teras. Karena saat jogging sebelumnya sekitar satu jam yang lalu, tanpa sengaja aku melihat seseorang yang amat ingin kutemui hari ini pergi berboncengan entah ke mana.


Aku menghela napas. Bahkan saking siapnya, pakaianku udah kusulap menjadi sangaaat rapih!


Mulai bosan, aku mengotak-atik layar datar ponselku. Menjelajah lewat aplikasi media sosial ke mana pun yang aku mau sebagai langkah dalam upaya membunuh waktu.


Dan, kemudian setelah beberapa saat berlalu kudengar suara klakson motor berbunyi beberapa kali. Membuyarkan apa yang sedang kulakukan ini seketika. Sinyal itu langsung datang. Aku tersenyum tipis.


"Akhirnya, datang juga..." gumamku yang langsung bangkit dari duduk dan berjalan keluar area rumah.


Berjalan sedikit, aku lantas tersenyum ramah begitu bertemu Bapak dan Ibu Gin yang nggak lain dan nggak bukan adalah orang tua dari Shakyra alias si Kira-kira. Kelihatan seperti sepulang dari pasar karena membawa banyak tas tentengan yang memuat beragam sayuran seperti daun bawang yang daunnya mencuat keluar dari sana.


"Ealah, si Ganteng, mau ke mana pagi-pagi gini sudah rapih aja?" Sapa Bu Gin ramah seperti biasa padaku. Dan soal panggilannya, beliau itu memang hanya jujur aja. Ya, kan, karena aku memang Ganteng! Hehehe.


"Ngantor, Vin, weekend gini??" Ganti Pak Gin yang bertanya.


Aku langsung tertawa kecil. "Nggak kok, Pak, malah saya mau ke rumah Bapak-Ibu untuk bertamu."


Mereka saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya menatapku lagi dengan raut bingung.


"Rumah?" Pak Gin bergumam.

__ADS_1


"Rumah kami kah?" Mata Bu Gin menatapku penuh tanya.


Aku mengangguk, membenarkan. Nggak lupa tersenyum menyiratkan kesan ramahku pada calon ibu dan bapak mertuaku ini. Hehe. "Betul, Bu, Pak... boleh, kan, ya?"


Pak Gin dan Bu Gin terkekeh seketika. Pak Gin malah langsung menepuk-nepuk pundakku keras sampai aku meringis meski kutahan dalam hati. Ah, yakali aja, aku langsung nunjukkin ekspresi sakitku pada calon mertuaku sendiri. Bisa-bisa sebelum melamar udah di-blacklist duluan lagi. Huh, no way!


"Halah, kamu ini, Vin, kayak lagi bertamu formal aja. Segala pakai minta izin sama kami. Main tinggal main aja, datang ke rumah langsung. Toh, Kyra ada kok di rumah..." ujar Pak Gin tertawa.


"Iya nih! Padahal dari kecil udah biasa keluar masuk rumah ya, Yah? Masih aja kaku, kayak sama siapa aja." Kini ganti Bu Gin yang tertawa.


Aku tersenyum. Dalam hati aku berkata, "Belum tau aja mereka, kalau aku akan melemar anak bungsunya itu..."


"Ayo, ayo, sini, masuk, Vin?!" Pak Gin lantas mencoba merangkul pundakku yang jauh lebih tinggi dari beliau. Aku pun mengikutinya dengan sukarela.


"Sini, Pak, Bu, biar saya ikut bantuin." Lalu, tanpa banyak bicara lagi aku langsung merebut semua tas tentengan yang ada di tangan mereka dengan mudah karena inisiatif dadakanku yang agaknya membuat mereka nggak siap dan kebingungan sendiri.


"Makasih loh, Vin, sering-sering nih main ke sini meski udah dewasa begini, soalnya di rumah butuh banyak bantuan semacam ini juga kan, Buk?!" Seloroh Pak Gin bercanda.


Aku lantas tertawa. "Santai Bu Gin, udah biasa juga. Jangan khawatir, saya udah kebal. Hehehe..."


Lalu kami pun berjalan beriringan untuk memasuki ruang tamu yang mana pintunya masih tertutup rapat. Dalam perjalanan itu, Ibu dan Pak Gin sempat bercerita bahwa belanjaan yang sedang aku bawakan ini adalah keperluan memasak Kyra. Iya, si Kira-kira kabarnya akan unjuk kebolehan dari keahlian memasaknya yang jelas aku ragukan. Ah, bagaimana juga aku nggak ragu kalau masak mie instan aja rasanya hambar! Ck, payah banget emang cewek satu itu...


"Assalamu'alaikum," ucap kami nyaris berbarengan seiring pintu kayu mahoni itu terbuka dengan lebarnya.


Lalu, yang kulihat hanyalah ruang tamu yang kosong nan sepi tanpa seorang manusia pun di sana. Namun, setelah beberapa detik tiba-tiba suara tawa menggema dari arah lain. Seketika itu, Bapak dan Ibu Ginanjar ini lantas menoleh kepadaku sambil meringis.


"Suara si Adek kalo ketawa suka nggak bisa ditahan deh," gumam Bu Gin yang tampaknya agak malu, terlihat dari warna wajahnya yang memerah. "Maaf ya, Ganteng. Kyra memang suka begitu, apalagi kalau bercanda sama Kakak-kakaknya, kadang nggak kekontrol."


"Ah, Ibuk, si Delvin mah udah tau bagus jeleknya Kyra. Wong mereka main dari masih piyik kok!" Balas Pak Gin. Lalu, ia menoleh kembali padaku. "Ya, kan, Vin?"

__ADS_1


Aku lantas mengangguk. "Betul banget, Pak!"


Lalu, kami pun tertawa bersama.


Aku tersenyum dalam hati. Entah kenapa selalu merasa nyaman kalau berada di lingkungan keluarga Kyra. Entah itu Ayahnya, Ibuknya, Abangnya bahkan sampai Kakak Iparnya pun serasa dekat denganku. Mungkin karena aku yang sudah mengenal mereka sejak kecil dan menjadi teman akrab putrinya yang selalu bermain bersama bahkan hingga kami sedewasa ini. Makanya, jika aku dan Kyra betul-betul menikah, pasti aku akan senang banget dapat menjadi anggota dari keluarga harmonis ini. Satu hal yang belum pernah aku miliki sebelumnya.


"Sini, Vin, biar belanjaannya Ibuk yang taruh. Kalian berdua langsung ke ruang makan aja ya, nanti Ibuk nyusul." Seru Bu Gin yang tanpa tedeng aling-aling merebut tas belanjaan itu dari tanganku. Aku yang nggak siap pun mau nggak mau menyerahkannya dengan sukarela. Tetiba aku teringat dengan ulahku beberapa saat lalu. Ah, pembalasan Bu Gin padaku rasanya langsung dibayar tunai!


"Ayo, Vin!" Tepuk Pak Gin di bahuku. Aku pun terkesiap, dan hanya mengangguk saat beliau sudah berjalan lebih dulu di depanku.


Lalu, saat kami tiba di ruang makan di mana tujuan awal kami itu berada, di sana aku melihat si Kira-kira sedang tertawa terbahak-bahak di hadapan Abang dan Kakak Iparnya. Mas Kamil, Abang Kyra malah berekspresi sebaliknya. Matanya berkilat, tampak kesal pada adik bungsunya itu.


"Dek, Kyra!" Pak Gin membulatkan suara. Dan, semua orang yang duduk di sana pun menatap kami seketika.


Di detik itu pula si Kira-kira membulatkan matanya lebar-lebar. Dia terkesiap dengan kehadiranku di sini. Aku tersenyum miring.


Udah gue bilang, tekad itu sekeras batu. Ya kan, Kira-kira....



_____________________


Halo guys!


Salam dariku buat kalian~


Mohon maaf yaa, tanpa ada pemberitahuan aku malah hiatus dadakan. Huhu maafkan akuu... karena otak imajinasiku tumpul banget kemarinan, bener-bener gak bisa dipakai. Akhirnya aku memilih rehat dari dunia kepenulisan ini tapi tetap nabung-nabung tulisan meski sulitt banget nyelesaikan 1 bab per hari. Tapiii... alhamdulillah sekarang otak imajinasiku sudah lebih baik dari kemarin. Akhirnya aku kambeekkk! Hihiyy.. rindunya sama kaliaaaan #pelukjauh


Aku udah siapin amunisi. Tapi tetep doain aku yaa guysss... semoga imajinasiku ini gak tumpul lagi. Jadine aku bisa update rutin mulai dari sekarang!!

__ADS_1


YA! YAA!! FIGHTINGGG😁👍🏻


__ADS_2