
Delvin -
Aku membanting setir ke kiri untuk terakhir kali. Mengikuti jalan lurus, menepi dan berhenti tepat di pekarangan parkir sebuah bangunan klasik bernuansa putih yang saat ini tampak ramai kayak biasanya.
Sejenak aku jadi terbawa oleh suasana. Cafe ini, tempat favorit kencan kami di waktu akhir pekan, dulu. Karena tempat ini adalah tempat favoritnya.
Aku mendengus kecil. Kuputuskan untuk tak berlama-lama dan segera keluar dari mobil.
Sebuah getaran begitu terasa di pangkal paha di mana saku celana itu berada. Menghiraukan. Aku tahu betul siapa yang mengirimiku pesan.
Menghela napas panjang, kakiku melangkah ke depan tanpa ragu. Melewati orang-orang di sekitar yang membentuk keramaian. Suara bunyi lonceng tanda terbukanya pintu ini pun seketika menyambutku. Tanpa perlu mengedarkan pandangan aku tahu dia sudah duduk di sana sembari memerhatikan pemandangan yang ada di luar jendela dengan amat tenang. Dan begitu langkahku menuju lima langkah terakhir, kepalanya pun terputar ke arahku lengkap dengan sebuah senyuman lebarnya yang menyambutku hangat. Masih sama seperti dulu, bahkan setelah kita nggak bertemu untuk waktu yang cukup lama.
"Hai?" Sapanya ramah.
"Hai," Jawabku yang nggak ragu tuk duduk di depannya. Benar, kami memang duduk saling berhadapan sekarang.
"Udah lama?"
Dia mengangkat alisnya. "Ya??"
Aku pikir dia nggak begitu mendengar apa yang kukatakan barusan.
"Udah lama sampainya?" Tanyaku sekali lagi.
Dia mengerutkan kening. Bergumam sebentar seolah sedang berpikir. Lalu, dia melihat jam tangannya. Sambil tersenyum sumringah dia menjawab, "Sekitar 30 menitan, hehe..."
Dan, jawabannya itu langsung membuatku tercengang. "Hah?? Tapi bukannya kita janjian jam setengah satu kan?" Aku mengerut kening, "Apa jam gue eror ya?" Gumamku sendiri sembari menatap jam di tanganku yang jarum detiknya pun masih menyala.
__ADS_1
"Oh, enggak kok! Emang aku aja yang mau datang 30 menit lebih awal." Jelasnya.
Kini hanya tertinggal tatapan mata yang bertanya-tanya tentang penjelasannya barusan. 30 menit lebih awal? Untuk apa??
Dia meringis, lalu tertawa kecil. "Aku cuman mau lihat suasana Cafe yang nggak kita kunjungi lagi setelah sekian lama. Ya, hitung-hitung mengobati kangen lebih lama, hehe..."
Aku tersenyum kecil. Dia memang orang yang masih sama. Seperti dulu.
"Mau pesan apa? Steak ayam saus keju pedas??"
Matanya pun menatapku seakan takjub. Dan tak berapa lama, setelah sadar, dia tersenyum sumringah sambil mengangguk. "Yap!"
"Oke." Balasku yang kemudian melingkari nama-nama menu yang kami pilih. "Minumnya mau...?"
"Caramel Machiato, please..." Jawabnya penuh senyum.
"Sure," Jawabku sambil mengangguk.
Dia mengerut kening. "Eh, tapi?!"
"Duduk yang manis aja di sini." Aku menyela, sementara dia tersenyum dan merapalkan kalimat 'terimakasih' untukku. Sementara aku hanya mengangguk sekilas dan beranjak.
Tak berapa lama aku lantas kembali. Pesanan kami akan diantar sekitar sepuluh menit kemudian sesuai instruksi. Aku kembali duduk di hadapannya. Sementara sepertinya dia tengah asik memerhatikan suasana ramai di luar sana.
"Ternyata kamu nggak lupa sama aku." Mendadak dia bergumam, membuatku langsung menatapnya. Kini, dia menyunggingkan senyum manis tipis khasnya. "Aku sempat khawatir, setelah perpisahan sementara kita kamu benar-benar lupain aku. Syukurlah... Semua kekhawatiran itu gak kebukti." Lagi-lagi dia tersenyum. Yang membuatku ikut membalaskan senyum untuknya.
"Makasih." Imbuhnya, yang membuatku terdiam.
Kini, dalam benakku bergejolak. Perang batin mendadak tak terhindarkan. Perasaan bersalah muncul seketika. Senyuman itu... Itu karena dia nggak tahu berita yang akan kukatakan padanya nanti.
"Vin... Hubungan kita..."
__ADS_1
"Ah, nomor 08 tuh. Kayaknya makanannya udah datang. Kita makan dulu ya?!" Tukasku.
"O-oh," Dia tergugu, tampak canggung. Tapi tak berapa lama dia langsung mengangguk. Mengiyakan. Masih dengan senyuman tipis sumeringah yang selalu menghiasi wajah itu setelah dua puluh menit kami bertatap muka.
"Permisi, pesanan untuk meja 08..." Seru seorang pramusaji yang mulai menghidangkan pesanan kami di atas meja.
"Makasih, Mas..." Ucapnya pada pramusaji itu dengan sopan.
Aku tersenyum tipis. Senyum yang sungguh bertolak belakang dengan isi hatiku sebenarnya.
"Selamat makan!" Seruku.
"Selamat makan juga," Balasnya.
Aku harap, jamuan terakhir ini bisa membungkus kenangan kami yang lalu dengan lebih manis. Meski aku tahu, nggak ada perpisahan yang manis.
......HOLAAA...MY BESTIE SEKALIAN~......
...APA KABARNYA NIHH?? SEMOGA SEHAT² AJA YA KALIAN <3...
...MOHON MAAF LAHIR & BATHIN SEKALI AKU BARU NONGOL LAGI SETELAH RATUSAN PURNAMA. AKU TAU, KALIAN CARI AKU. BERTANYA² TTG APAKAH AKU GANTI LAPAK..??...
...HUHU... TIDAK YAA BESTIE, AKU GAK GANTI LAPAK KOK PALING CUMAN TAMBAH LAPAK AJA (XIXIXI). TP CERITA YG UDAH AKU UP DI SINI PASTI AKAN TERUS ADA DI SINI KOK. KALIAN TENANG AJA. AKU GAK AKAN KEMANA² CUMAN KEMARIN LAGI SIBUK DIKIT AJA MAKANYA GAK HADIR DI SINI. MAAFKAN YAA BESTIE, SEMOGA KALIAN SABAR & MEMAKLUMI KEKURANGANKU INI 🙏🏻...
...ABIS INI AKU AKAN BERUSAHA SEBISA MUNGKIN BUAT UPDATE SETIAP HARI MESKI GAK BISA JANJI JUGA SIH, TAPI YANG JELAS PASTI AKU USAHAIN BIAR CERITA INI SELESAI DAN LANJUT KE CERITA LAINNYA....
...SEKALI LAGI AKU MINTA MAAF SAMA KALIAN YAA, SEMOGA KALIAN BERLAPANG DADA MENERIMA MAAFKU....
^^^SALAM HANGAT,^^^
__ADS_1
^^^ICHA✨^^^