
- Delvin -
Sejak tadi aku nggak henti-hentinya mengamati layar ponselku yang tetap nggak juga berubah menyala.
Aku mendengus. Akhirnya aku menyerah juga. Nggak kuat menahan diriku untuk nggak menyalakan layar datar ini. Lalu, dengan gerak cepat dan amat lihai, aku membuka aplikasi itu lagi. Ya, ya, apalagi kalau bukan WhatsApp!
To : Kira-kira
Kan gue udah bilang. Semakin cepat semakin baik. Makanya, jangan lupa kabarin Ayah, Ibu, Mas Kamil, dan Mbak Intan. Kalo lo gak sanggup bicara sejujurnya. It's okay. Bilang aja besok gue dan keluarga mau ke rumah, gitu...
Dikirim Pukul 20.17 WIB
[...]
Aku menghela napas kecewa. Padahal tanda ceklisnya sudah berwarna biru. Tapi kenapa setelah nyaris satu jam berlalu dia nggak balas-balas pesanku juga, sih?!
"Vin, besok mau bawa apa? Meski kita tetanggaan, kan, nggak enak kalau datang dengan tangan kosong."
Aku mendongak. Mama yang tadinya mengambil air dingin dari kulkas lantas ikut duduk bersamaku di meja pantry.
"Apa aja, Ma, kue juga boleh." Kataku.
Mama diam aja. Aku nggak mengerti mengapa. Namun aku memilih mengangkat bahu dan kembali menatap layar ponselku lagi. Rasanya, pengin banget telepon tapi setelah berpikir positif akhirnya aku urungkan. Karena bisa aja sekarang dia sedang sibuk menjelaskan panjang kali lebar tentang hubungan rumit kami ini kepada seluruh keluarganya. Ya, kan, mana tahu!
"Vin, untuk..." suara Mama menggema ragu. Yang kontan mengundangku untuk segera menatap wajahnya.
Aku menarik sebelah alis mataku saat Mama nggak kunjung bicara juga. Dari matanya aku melihat keraguan besar. Dan hal itu yang mengundang rasa penasaranku seketika.
"Jadi... Mama mau bilang apa?" Tanyaku to the point.
Mama tersenyum simpul. Lalu menghela napas sejenak sebelum akhirnya mengatakan, "Mama..." tampak lagi keraguan itu dari tatapannya padaku. Membuatku menautkan alisku seketika. "Mama... cuman mau bilang, untuk acara pernikahan nanti. Mama mau membiayai seluruh keperluan pernikahan kalian." Dan, sebuah senyum lega pun tercetak juga di bibir berlipstik merahnya yang telah memudar termakan lembabnya air.
Aku bergeming. Yang kulakukan hanyalah menatap sepasang mata yang turut menatap mataku saat ini. Aku lantas tersenyum tipis. "Nggak perlu, Ma. Untuk biaya pernikahan atau pun keperluan setelah menikah aku udah punya tabungan sendiri kok. Aku yakin itu cukup. Mama nggak perlu khawatir,"
Mama terdiam usai aku bicara demikian. Namun sampai aku pamit undur diri karena merasa mataku kian berat di tiap detiknya, Mama nggak kunjung mengeluarkan sepatah katanya. Beliau hanya mengangguk dan membiarkanku pergi begitu aja.
Aku merasakan setitik keanehan di sana. Tetapi aku nggak ingin memikirkannya dan mengenyahkan segala pikiran tentang kemungkinan yang bisa aja benar.
Kemungkinan kalau bisa saja Mama terluka karena penolakanku barusan.
***
Mataku yang berat pun terbuka lebar akibat suara berisik ringtone dari ponsel yang bahkan tadinya sudah aku tindih dengan bantal agar suaranya bisa terredam, syukur-syukur menghilang. Nahas, harapan itu sia-sia. Karena sampai aku mengangkat panggilan itu suara berisiknya nggak pernah mau berhenti.
Padahal mimpi indahku baru berjalan setengah tadi! Sialan....
"Halo?" Aku berdeham sekali saat rasa serak di tenggorokkanku ini memekat. "Assalamu'alaikum," lanjutku kemudian.
"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang di seberang sana. Aku mengernyit saat merasa suaranya amat familiar untukku.
__ADS_1
Nggak mau menebak-nebak, akhirnya aku lihat layar ponselku ini baik-baik. Dan, nama "Kira-kira" tertera jelas di sana. Yang kontan membuat mataku makin melebar karenanya.
Namun karena nggak mau ketahuan kalau aku agak kaget menerima panggilannya, aku pun berusaha membuat suaraku ini sedatar mungkin. "Hemm... ada apa??"
"Vin, lo udah tidur ya?" Suara nyaringnya menuduhku dengan amat tepat. Aku yakin, dia pasti ada bakat buat jadi cenayang!
"Ya, ketiduran tadi. Tapi nggak apa sih, gue belum gosok gigi juga jadi sedikit bersyukur karena lo secara nggak langsung ingetin gue." Kataku tertawa.
"Apa? Sedikii...it??" Tanyanya nggak terima. Yang langsung mengundang tawaku seketika.
"Enggak deng, banyak kok banyaaak bangeet!!" Seruku, yang kembali disusul dengan tawaku yang membahana.
"...."
Tawaku nggak direspon. Aku jadi tertawa sendirian. Sialan!
Dia tiba-tiba aja diam. Entah karena dia menyiapkan sesuatu atau apa. Yang tentu aja mengundang rasa penasaranku akan alasan apa yang membuatnya sampai mau-maunya meneleponku. Hal yang nggak pernah mau dilakukan olehnya sepanjang kami saling mengenal dan berteman!
"Jadi??" Alisku jadi terangkat tanpa sadar. "Ada apa? Mau bicara apa?"
Meski rasanya aku bisa menebak hal itu. Namun aku memilih untuk menanyakannya lagi.
"Vin," panggilnya pelan.
"Hem..."
"Gue...." suaranya menggema penuh keraguan.
Aku mendesau dalam hati. Sepertinya apa yang aku pikirkan tadi benar ya...
"Nggak bisa ngomongnya?" Aku melanjutkan kalimatnya.
"Eh?" Dari responnya itu.. memang benar yaa ternyata. Tidak salah lagi!
"Lo... belum bilang kan, sama Ayah? Sama semuanya juga soal rencana besok??"
Dia terdiam.
"Bener ya?"
Dia diam, lagi.
Aku menghela napas panjang. Mendadak ada perasaan aneh yang hinggap di hatiku. Perasaan mengganjal yang sulit dijelaskan. Karena nggak nyaman, akhirnya aku lebih memilih diam.
"Ya udah, besok aja biar gue yang langsung bilang sama Ayah lo ya!" Putusku setelah sebelumnya hanya diam beberapa saat.
"Ta-tapi, Vin, abis dzuhur kita sekeluarga mau pergi!"
Aku mengernyit. "Pergi? Mau ke mana?"
__ADS_1
"Piknik." Cicitnya.
"Pulangnya kapan?"
"Mungkin sore atau malam. Gue nggak yakin juga,"
"Maksudnya nggak yakin?" Aku sedang berusaha mengatur emosiku sekarang. Andai aja dia tahu! "Bisa ada kemungkinan nginap di luar gitu??"
"Mung...kin," katanya kurang yakin. "Mungkin aja, kan besok juga masih hari sabtu..."
Jawaban yang amat terus terang itu membuat emosiku menggelegak. Aku hendak marah sebetulnya. Apalagi setelah mendapati sikapnya yang seperti acuh tak acuh ini. Aku seperti sedang berjuang sendirian di sini. Dan hal inilah yang membuatku merasa kesal! Aku menghela napas panjang. Sekali lagi meredam emosiku yang telah membakar hati.
"Yaudah, tidur gih!" Putusku sepihak. "Gue juga mau lanjut tidur nih," lanjutku mencoba tenang. Mengesampingkan rasa kesalku yang sebetulnya udah mulai memuncak.
"Lah, terus besok??"
"Ya, lo lihat aja besok bakal gimana." Jawabku.
"Yaudah yah. Bye!" Tuuutt... panggilan itu pun terputus dengan semestinya. Lalu, aku langsung me-nonaktifkan ponselku tanpa ragu.
Demi pikiran rasionalku. Demi keputusan matangku. Demi diriku yang sedang berusaha. Aku bertekad pada diriku sendiri untuk mengubah sifat kekanakan ini agar bisa menjadi lebih dewasa.
Keputusan ini sudah bulat. Aku nggak mungkin menghancurkannya lagi. Karena tekad ini sudah berubah menjadi sekeras batu daripada yang kutahu.
Maka, aku nggak akan gentar!
Tunggu gue besok, ya, Kira-kira...
______________________
Halo!
Apa kabarnya nih semua?? Semoga sehat-sehat yaa. Hehe.
Jadi sebelumnya aku mau minta maaf lahir bathin sama kalian, karena akhir-akhir ini aku gak bisa apdet dengan semestinya. Jadi aku pindah rumah guys. Nah, di rumah baru ini kualitas sinyal buruk bgt! Alhasil, aku jd gak bisa rajin onlen yang jelas aja ada pengaruhnya sama apdet cerita di sini😅
Nah, dan ini lagi kebetulan aja ada subsidi kuota, alhamdulillah... hehe. Akhirnya aku bisa lagi menyapa kalian di sini deh!
Semoga kalian gak bosen nunggu aku yaa. Semoga kalian selalu sabar sama aku. Huhuhu.
Terimakasih buat kalian yang selalu sabaaar...
Pokoknya aku sayang kalian!
Tengkyuuu♡
Icha Azzahra.
__ADS_1