Romance After Marriage

Romance After Marriage
0.9 | A : Rainy Heart


__ADS_3

- Delvin -


Drrrtt... Drrrttt...


Aku masih sibuk mencari jaket kulit di lemari saat ponselku yang berada di atas nakas itu bergetar dan mendentingkan ringtone petanda sebuah pesan Wh*tsApp masuk di sana. Kulirik, layarnya sudah berubah terang. Muncul notifikasi baru yang memenuhi layarnya tuk beberapa detik.


Aku alihkan diriku dari lemari pakaianku kemudian berderap mendekat menuju nakas. Kuambil ponselku yang kini sudah kembali gelap layarnya. Aku tersenyum saat kulihat siapa gerangan yang mengirimkam pesan baru.


From : Kira-kira


[Sent a Share Location! - Villa Kembang Bakung]


Diterima Pukul 10.27 WIB


[...]


Singkat, padat dan jelas. Si Kira-kira benaran cuman kirim lokasinya aja tanpa ada embel-embel lain apa pun. Bahkan kalimat 'hati-hati' untuk perjalananku nanti aja dia nggak ngucapin. Huh, sial emang!


Aku menghela napas. Sudah lah mengharapkan bucinnya Ezra yang udah 10 tahun digantung itu mengucap kalimat perhatian begitu sama halnya mengharap bulan jatuh. Mustahil!


Lebih baik, cepat-cepat cari jaket kulit itu aja deh biar bisa cepat perginya. Nggak kesiangan. Aku mendengus.


Namun, di saat baru saja aku hendak meletakkan kembali ponselku di atas nakas tiba-tiba ponsel yang masih berada dalam genggaman tanganku ini bergetar. Membunyikan suara yang sama seperti beberapa menit lalu. Sebuah pesan kembali masuk ke Wh*tsApp-ku!


Aku mengernyit saat kulihat layar datar ponselku. Dan kemudian nggak sanggup untuk nggak melebarkan mata kala membacanya. Jujur, aku speechless.


From : Kira-kira


Tiati.


Tp kalo bisa ngebut aja.


Diterima Pukul 10.31 WIB


[...]


Kyra suwek! Sebarnya dia mau berhati-hati atau nggak sih? Kirim pesan yang kalimatnya ambigu gini. Huh, kesel juga gue bacanya!


Dan, baru saja saat hendak kubalas pesannya itu. Tiba-tiba ponselku kembali bergetar di tangan.


From : Kira-kira


Lembang mendung soalnya. Ngeri hujan.


Diterima Pukul 10.32 WIB


[...]


Aku tertawa mendengus seketika setelah membaca lanjutan pesannya. Aih, hampir aja dia aku semprot karena kalimat ambigunya tadi. Tapi setelah pesan lanjutannya ini, aku jadi tau, kalau dia memang sebenarnya punya maksud baik.


To : Kira-kira


Iyeee. Gue bawa jas ujan. Selow!

__ADS_1


Terkirim Pukul 10.33 WIB


[...]


Lalu, dengan cepatnya dia membalas.


From : Kira-Kira


Yodah.


Diterima Pukul 10.33 WIB


[...]


Cih. Yodah, yodah... bahasa apaan coba itu?! Aku mendengus. Emang yang namanya Kira-kira pasti nggak bisa manis dikit aja kalau bukan sama Ezra. Dasar bucin level akut!


Akhirnya, aku kantongi aja ponselku itu. Baru setelahnya kembali mencari jaket kulit yang niat kukenakan. Dan, setelah dicari sejak tadi baru kulihat kalau ternyata jaket kulit hitamku itu berada tak jauh dari jangkauanku.


Emang benar kata kata pribahasa.


Semut di seberang lautan tampak jelas, sedang gajah yang ada di pelupuk mata nggak terlihat.


***


Saat melihat jam lagi di tangan, tepat pukul 11.00 WIB, aku baru jalan dari rumah menuju lokasi yang ditujukan oleh GPS ini.


Dari GPS tertera kalau perjalanan ini nantinya akan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Aih, bokong gue alamat kebas ini. Untungnya, agak mendung jadi nggak bikin gosong kulit amat gitu. Haha.


Ah, udah lah. Malah melantur ke mana-mana lagi. Sekarang lebih baik aku fokus menyetir aja deh!


Lima belas menit...


Tiga puluh menit...


Satu jam...


Dua jam...


Lalu, rintik-rintik mulai menyapaku dalam perjalanan. Langit yang gelap dan aroma hujan yang menguar membuatku makin yakin kalau sebentar lagi hujan lebat akan mengguyur bumi ini.


Mendadak teringat pesan Kyra di Wh*tsApp, dia memang memperingatiku kalau langit Lembang mendung. Dia bilang, dia takut kalau aku kehujanan. Dan mewanti-wantiku agar aku nggak lupa bawa jas hujan.


Eh, kok kedengarannya malah manis gitu sih?! Nggak, nggak! Aku kelewatan kali ini. Kyra emang memperingatiku, tapi memperingatinya agar aku ngebut bukannya bawa jas hujan!


Sial, ngapa jadi halu gini?!


Lantas, aku menepikan motorku ke pinggiran jalan. Tepatnya di bawah teduhan atap deretan ruko yang tutup bersama dengan beberapa orang yang memang berniat sama; memakai jas hujannya sebelum melanjutkan perjalanan. Membuka kunci di bawah jok motor, untuk mengambil jas hujan yang kuletakkan di sana.


"Kampret!" Makiku otomatis saat nggak kulihat jas hujanku di sana.


Sialan benar! Siapa pula yang main ambil jas hujan di motorku?! Aku menghela napas panjang sembari memijat pelipisku yang mendadak pening.


Masalahnya begini, aku udah sesumbar sama si Kira-kira biar dia nggak perlu khawatir kalau aku bakal kehujanan karena aku udah antisipasi dengan bawa jas hujan. Tapi kalau begini ceritanya? Alamat si Kyra bakal nyerocos panjang kali lebar dan mensyukuri kenahasanku ini. Sialan, sialan!

__ADS_1


Aku mendengus kesal. Kurogoh ponsel yang ada di saku celana jeans belel-ku ini. Men-dial satu kontak di sana. Bocah kampret itu! Dion!!


"Lo ya?!" Seruku ngegas, tanpa ada embel-embel salam seperti biasanya yang selalu kulakukan. Masalahnya sekarang aku lagi kesal, jadi udah nggak kepikiran buat salam-salam sopan segala!


"Apaan sih?!"


"Lo, kan! Yang nyolong jas hujan gue itu elo, kan?!" Balasku naik pitam.


Hujan yang kini sudah mengguyur deras. Membuat suara teriakkanku meredam. Untungnya aku meneduh di tempat ini, kalau nggak, selagi menelepon Dion sekarang aku pasti sudah kehujanan juga ponsel berhargaku tentunya bakal kebasahan!


"Minjem elah, bukan nyolong!" Balas Dion dengan suara yang nggak kalah kerasnya. Anak bandel itu emang nggak pernah selow kalau ngomong sama kakaknya, pasti ngegas terus. Ck.


"Lagian, emang sama saudara kandung sendiri ada gitu istilah nyolong?! Minjem itu minjem! Ntar juga gue balikin. Nggak usah lebay!"


"Eh, Kampret! Minjem tanpa permisi itu juga nyolong namanya!" Aku menghela napas panjang saat merasa emosiku makin mengelegak saat berbicara dengannya.


Dion, adik kandungku beda lima tahun itu memang nggak pernah mau tahu dan nggak punya pikiran juga. Di otaknya cuman ada kongkow-kongkow nggak jelas dengan teman-teman geng motornya. Ditambah lagi, Mama yang nggak pernah peduli dengan lingkungan anak-anaknya, yang cuman bisa sibuk mengurus bisnisnya aja. Dion yang punya jiwa pemberontak tentu akan lebih sulit diatur dibandingkan denganku yang penurut. Sebenarnya ada satu orang yang bisa membuat anak itu takluk. Hanya saja...


Aku menghela napas panjang. Sudah lah, masalah begini sepertinya nggak layak buatku perbesar. Berdebat dengan anak itu hanya bikin amarahku jadi terbakar. Maka lebih baik, kusudahi aja di sini.


Dion masih nyerocos sejak tadi. Mengumpatkan segala kekesalannya karena tadi sempat kumaki. Akhirnya kujauhkan aja ponsel ini dari telinga. Menghela napas, aku menunggu dia selesai bicara sembari menatap derasnya air yang jatuh dari langit.


"Yaudah gue minta maaf!"


Samar-samar bisa kudengar suaranya yang cukup keras itu. Aku mengerut kening. Kembali kudekatkan ponselku ke telinga. "Hah?"


Dia mendengus. Kesal. "Lo pura-pura budek, kan? Biar gue ulang?!" Tuduhnya.


"Ngasal! Mana ada gue pura-pura budek!" Seruku yang membuatnya langsung menghela napas.


"Jadi...?" Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi ke atas.


Dion berdecih. Anehnya malah membuatku tersenyum menahan geli di perut. Kadang, Dion bisa juga kok jadi anak yang imut alih-alih menyebalkan. Haha.


"Iya, maaf." Cicitnya di seberang sana.


"Hah? Apa?! Yang keras dong, di sini lagi hujan!" Godaku. Aku yakin, sekarang dia sedang ingin memakiku atau ingin melayangkan bogeman mentahnya padaku. Haha.


"Ish! Budek!!" Makinya keras. Lalu...


Tuuut~


Akhirnya dia mematikan sambungan telepon kami sepihak. Sungguh anak sialan. Tapi sekarang aku malah ingin tertawa keras karenanya. Meski seringnya menyebalkan dan sangat sulit di atur, anak itu memang tetap anak kecil yang belum dewasa. Harusnya memang aku yang mengalah untuknya karena aku yang lebih dewasa darinya, tapi seringnya egoku lebih tinggi daripada nuraniku. Alhasil, konflik itu selalu berkibar. Dan, baru sekali ini Dion berkata "maaf" seperti itu, yang entah mengapa membuatku otomatis berpikir kalau selama ini aku bukan lah kakak yang baik untuknya.


"Sori, Dion..." lirihku selagi membayangkan wajah kesalnya. Nggak kusangka hubungan persaudaraan kami ternyata seruwet ini. Aku tersenyum simpul.


Menghela napas panjang. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana. Memandangi langit yang masih sama gelapnya seperti terakhir kali aku perhatikan. Guyuran hujan pun masih sama derasnya.


Lalu, jika terus seperti ini aku bakal sampai jam berapa di sana?!


Sepertinya aku harus membuat keputusan segera. Antara berteduh menunggu reda atau nekat menerjangnya.


__ADS_1


__ADS_2