Romance After Marriage

Romance After Marriage
2.5 | B : a Proposal


__ADS_3


Kyra -



"Tunggu! Tunggu dulu!" Suara Mas Kamil menyela tiba-tiba. Membuat semua pasang mata di ruangan ini segera terarah kepadanya. "Barusan lo bilang apa, Vin?" Mas Kamil menatap Delvin serius, dan dari mimiknya itu aku sungguh tahu kalau dia tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.


Hmm... yaa... nggak heran kalau Mas Kamil sulit mempercayainya, aku sendiri saja masih merasa hal ini sungguh mustahil. Ck!


"Lo barusan... ngelamar adik gue? Ngelamar Kyra? Serius lo?!" Cecar Mas Kamil masih dengan wajah syoknya. Kemudian dia tertawa mendengus, "Lo pasti lagi bercanda, kan?"


"Kalimat mana yang menjelaskan kalau gue bercanda, Mas?" Delvin mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


Membuat Mas Kamil menatapnya makin serius. "Jadi... lo... benaran serius datang ke sini buat melamar Kyra??" Tanyanya sekali lagi.


Delvin tersenyum. Sikapnya terlihar sangat tenang sekali kala menghadapi Mas Kamil yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak santai sama sekali itu!


"Iya, Mas... betul sekali!" Dan, tanpa diduga-duga, Delvin yang mulanya tampak serius, tiba-tiba dia langsung mengacungkan kedua jempolnya sembari tersenyum lebar pada Kakak sulungku itu seolah ia sedang memberikan penghargaan atas sesuatu.


Aku mendesah panjang dalam hati. Kenapa begini sekali tabiatnya Delvin. Bagaimana orang lain bisa percaya kalau pembawaannya seperti main-main begitu?!


Mas Kamil mendelik geram. Rona wajahnya bahkan sudah merah padam seolah menahan gejolak emosi yang menyulut. 


"O-ow," aku menyeru pelan setelah menyadari bahwa keadaan sudah berubah genting. Berdecak dalam hati. Menyesali sikap Delvin sebelumnya. Iya, tentu saja, Mas Kamil marah pasti karena jempol dan tawa cengengesan si Delvin yang aneh tadi itu!


Haduh, Delvin! Mataku menyipit menatapnya. Berharap dia yang sedang fokus pada Mas Kamil segera menyadari bahwa aku di sini sedang memberikan peringatan berharga untuknya!

__ADS_1


"Jadi selama ini kalian itu... PACARAN?!!" Mata Mas Kamil mendelik nyalang menatap Delvin dan aku bergantian.


Aku ternganga. Seketika aku nggak bisa berkata-kata! Spekulasi macam apa itu?! Aku pikir dia marah karena merasa diejek oleh Delvin, tapi ternyata...


"Nggak! Nggak, kok!! Kita mana pernah punya hubungan kayak gitu!" Sanggahku mentah-mentah.


Mas Kamil mengangkat alisnya tinggi-tinggi ke atas. "Oh ya?!"


Aura mengintimasinya sungguh menyiksaku! Aku nggak tahu sekarang harus bicara apa untuk menjelaskan drama ini!


"Iya, Mas, kami memang nggak pernah ada hubungan yang seperti itu kok. Selama ini hubungan kami hanya murni soal persahabatan." Jelas Delvin, membuatku bisa sedikit menghela napas lega. Karena akhirnya tatapan tajam itu hilang juga dari pandanganku!


Mas Kamil kembali menatap Delvin setelah berpaling dariku. Meski wajahnya masih keras, tetapi auranya sudah nggak sepanas sebelumnya. Alhamdulillahh... huh!


"Terus kenapa lo mau lamar dia kalau memang kalian nggak punya hubungan selain pertemanan yang kalian bilang?!" Tanya Mas Kamil masih nggak ada lelahnya mencecar.


"Hmm..." dia menggumam. "Mas Kamil, boleh nggak gue tanya sesuatu?"


Aku mengernyit. Kenapa jadi dia yang malah balik bertanya sih?!


"Kenapa lo malah balikin pertanyaan gue?!" Mas Kamil melotot.


Delvin menyeringai. "Jadi boleh atau enggak nih?"


Mas Kamil menatap kesal Delvin. Dia mendengus. Namun akhirnya dia pun menyetujuinya. Mas Kamil mengangguk. "Oke. Apa pertanyaannya?"


"Mas Kamil..."

__ADS_1


"Hmm,"


"Kenapa Mas Kamil mau menikah sama Mbak Intan?"


Aku mendelik, lalu sedetik kemudian dahiku berkerut. Aku nggak paham kenapa jadi pertanyaan seperti itu yang Delvin pertanyakan?! Bukannya sudah jelas yaa, itu karena Mas Kamil yang tertarik duluan pada Mbak Intan!


Mas Kamil mengeryit. "Kenapa jadi gue yang lo tanya pertanyaan itu? Ini kan, pertanyaan gue buat lo, Delvin! Bukannya malah sebaliknya..."


"Iya, paham. Tapi itu berkonteks sama, Mas!" Lagi-lagi Delvin tersenyum.


Ah, entahlah, kupikir Delvin hari ini sangat menjaga image-nya. Lihat saja, sejak awal dia berada di sini, Delvin nggak pernah melepas senyumnya itu sampai-sampai kupikir setelah ini dia pasti akan menderita kram bibir! Ya, karena saking lamanya dia tersenyum begitu!


"Bukannya Mas Kamil dan Mbak Intan juga nggak pernah pacaran ya? Tapi bisa menikah, kan?!" Lanjut Delvin sembari mengangkat tangannya ke udara. "Artinya, hal itu serupa sama kondisi gue dan Kyra sekarang."


Aku tersenyum tipis. Cerdik juga dia bisa berpikir begitu! Nggak heran, dia memang anak pintar!


"Iya, tapi... tetap aja itu berbeda sama kalian!" Balas Mas Kamil kekeuh.


"Bedanya apa, Mas?" Tanya Delvin tak mau kalah. "Bisa dijelaskan?"


"Beda! Karena... gue menganggap Intan sebagai wanita. Karena itu pula, gue tertarik sama dia, gue mau nikahi dia. Sedangkan lo?" Mas Kamil menatap keras Delvin. "Apa lo menganggap adik gue sebagai wanita juga? Apa lo tertarik sama dia? Sebagaimana gue kepada Intan??"


Delvin terdiam menatap Mas Kamil dengan manik mata yang bergerak ragu. Aku tahu, Delvin pasti bingung sekarang. Dia pasti nggak pernah menyangka kalau akan mendapat pertanyaan yang menjebak seperti ini.


Dia jelas nggak pernah menganggapku sebagai wanita. Dia hanya melihatku sebagai Kyra, teman bertumbuh kembangnya yang juga sahabatnya selama ini. Atau malah musuhnya terkadang. Dengan hubungan yang seperti itu, mana ada perasaan tertarik seperti yang Mas Kamil sebutkan!


Ini adalah kali pertama aku berharap seseorang dapat berbohong. Seperti aku berharap Delvin mengiyakannya sebagai jawaban atas pertanyaan Mas Kamil terhadapnya.

__ADS_1



__ADS_2