Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.0 | C : Hoodie Pink


__ADS_3

- Kyra -


Aku beranjak dari kursi sofa ini dan berjalan menuju pantry. Tergugah hatiku untuk membuat mie instan. Karena perpaduan lapar dan hujan melahirkan sebuah harmoni untuk didefinisikan menjadi semangkuk mie rebus dengan telur yang ekstra cabai. Hehe.


Saat aku berbalik setelah menyalakan kompor untuk menyiapkan mangkuk, aku mengernyit seketika. Tanpa kusadari ternyata Delvin malah mengikutiku sampai ke sini.


"Ngapain lo di sini? Mau nge-mie juga?!" Tanyaku.


Dia nyengir. Mengangguk kemudian. "Mau dong."


"Bikin sendiri lah!" Aku pun melewatinya dan mulai menyiapkan sebuah mangkuk di atas meja pantry. Nggak lupa aku ambil sebungkus mie rebus rasa Soto dari atas lemari kitchen-set.


"Yaelah, gitu banget!"


"Dari tadi gue udah layani elo dengan sabar yaa, Vin! Dari mulai bolak-balik bawain anduk, cariin baju... sampai bikinin teh panas, tuh!"


"Oh, jadi lo main hitung-hitungan nih?!" Delvin berseru. Matanya melotot lengkap dengan alis tebalnya yang naik tinggi ke atas. "Yaudah, oke kalau gitu! Sini, mie lo gue yang bikinin!"


Pada saat itu juga kepalaku menoleh otomatis. "Serius lo?!"


Delvin mendecak. "Iye, bawel!"


Dan, tanpa bisa kutahan-tahan. Tawaku seketika terurai, aku menatapnya senang. "Hehehe... makasih, Delvin!!"


"He-he-he!" dia meniru tawaku dengan bibir yang mencebik. "Ma-ka-sih-del-vin," lanjutnya mengejekku. Meski begitu aku tetap tersenyum senang padanya. Ya, karena dia telah bersedia memasakkanku mie rebus hari ini! Hehe.


"Yaudah, sono, duduk! Jangan di sini aja. Ngerusuh!" Serunya kemudian. Agak menyebalkan sebenarnya, tapi karena lagi senang aku hanya menyungging senyum padanya.


"Okidoki!" Kataku sebelum pergi keluar dari pantry dan menunggunya sambil duduk di atas kursi--meja makan.


Sembari menunggu mie instan rebus ala Chef Delvin siap, aku mengamati kesigapannya dalam memasak dari tempat ini. Posisi pantry yang selurus dengan meja makan ini, membuat aku dapat mengamatinya dengan mudah.


Aku pun mencebik bibir saat kulihat dirinya menggulung lengan hoodie yang dikenakannya itu sampai siku. Gelagatnya sok oke sekali, tapi aku malah ingin tertawa melihatnya.


"Yang pedes yaa Chef! Jangan lupa loh, saya level tiga!" Seruku memperingati. Dan, dia hanya mengangguk singkat.


Aku dan Delvin memang sudah biasa saling masak memasaki mie instan begini. Yang mana "level tiga" berarti banyaknya cabai yang digunakan. Tanpa kudikte jumlahnya, Delvin pasti sudah paham seberapa pedasnya level tiga itu.

__ADS_1


"Cabainya ada di atas kulkas." Kataku memberitahu.


"Iya, udah tahu. Bawel,"


"Ish!" Hampir saja aku memakinya kalau saja aku nggak ingat bahwa sekarang aku sedang dimasakkan mie olehnya. Hu-uh!!


Aku menghela napas panjang kemudian. Sabar ini sepertinya memang harus kugunakan lebih lama lagi selama Delvin masih ada di sini. Ck.


Aku menunggu malas dengan merebahkan kepala di atas lipatan tangan. Membuat pandanganku tanpa sengaja bertemu dengan jendela kayu berlapis cat minyak putih yang gordennya sedang terbuka lebar. Baru kusadari, bahwa ternyata hujannya sudah mulai mereda.


Lalu, kuedarkan pandangan ke arah lain. Masih dengan posisi yang sama--merebahkan kepala di atas lipatan tangan. Melirik iseng ke arah jam di dinding. Tanpa sadar, aku mendengus. Seketika jadi teringat Kanaya yang ternyata sudah pergi keluar hampir satu jam lamanya. Aku jadi penasaran, sebenarnya gadis itu menjemput Om-nya itu di mana sih?


"Silahkan! Selamat menikmati." Ujar Delvin diiringi suara hentakkan mangkuk keramik beradu dengan meja kaca. Aroma wangi khas mie instan rasa soto pun seketika terendus oleh indra penciumanku.


Wahh... bau-bau surga dunia nih! Aku tersenyum. Baru kemudian aku tegakkan kembali kepalaku dan melihat penampakkan dari mie rebus buatan Chef Delvin yang sungguh menggugah selera dengan warnanya yang kemerahan.


Nggak perlu diragukan lagi. Delvin memang paling jago kalau masak mie instan macam ini!


"Sekalian minum dong," ujarku saat dia tiba-tiba berdiri dari duduknya di hadapanku. Kontan, dia langsung menatapku dengan tatapan tajamnya. Yang aku tahu betul mengapa.


Seketika tatapan tajam dari matanya itu pun memudar. Ya, sejak dulu, Delvin memang paling anti banget dengan orang yang meminta bantuan tanpa menggunakan kata 'tolong' sepertiku tadi. Namun, sayangnya terkadang diriku suka melupakan hal itu. Nggak heran kalau dia sering naik darah tiba-tiba. Hehe.


Delvin menghela napas sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan, dan berbalik badan menuju pantry.


Tak berapa lama, dia pun kembali dengan dua gelas air putih di tangannya. Dengan teratur, Delvin meletakkan gelas-gelas itu; pertama untukku, dan kedua untuknya.


Aku tersenyum lebar. "Terima kasih, Delvin!"


"Heeemmm..."


Lalu, suasana pun hening.


Sepertinya fokus kami berdua hanya pada mangkuk mie instan rebus di depan kami ini saja, hingga mengobrol pun dikesampingkan. Namun sepertinya aku harus menegaskan sekali lagi bahwa; mie instan rebus buatan Delvin ini enak banget! ASLIII!!


"Vin, kayaknya lo harus coba bikin warung kopi deh! Mie instan lo enak banget, sumpah!!" Pujiku padanya setelah sebelumnya menyeruput kuah mie yang terasa menyegarkan.


"Gue sih mau aja," dia lalu memasukkan potongan telur ke dalam mulutnya sembari memandangku. "Tapi kalau lo yang jadi pelayannya ya!"

__ADS_1


"Oke! Tapi gajinya 100 juta ya!" Balasku bernada canda. Aku naikkan alis sekilas, dan tersenyum mengejek padanya.


"100 juta, seumur hidup ya?"


Aku melotot. "Gila aja kali! Kayak gitu mah, ogah!" Dengusku. Delvin malah mencebik.


Lalu obrolan tak berfaedah kami pun berlanjut bahkan sampai mangkuk-mangkuk kami kosong. Sudah bersih tak bersisa sama sekali, bahkan untuk irisan cabainya sekali pun!


Sampai ketika aku tersadar bahwa mangkuk bekas mie kami telah berubah menjadi kering dan menyisakan kerak bumbu, akhirnya aku menawarkan diri untuk mencuci piring. Ya, aku cukup tahu diri. Delvin sudah masak, jadi sekarang giliran aku yang cuci piringnya, bukan?!


"Udah, nggak usah. Biar gue aja, sini." Tanpa tedeng aling-aling, dengan sigap, Delvin langsung merebut mangkuk dan gelas itu dari tanganku. Membuatku berdiri mematung, mengerjap dan hanya membiarkannya pergi.


Akhirnya aku duduk lagi di atas kursi. Mengamatinya yang kini sedang sibuk membaluri mangkuk dengan sabun. Aku tersenyum, "Makasih loh, Vin."


"Kalau makasih, nanti malam giliran lo yang buatin gue makan!" Jawabnya tanpa perlu menoleh atau melirik ke arahku sekilas pun.


Aku mendengus. Ternyata, oh, ternyata... memang ada udang di balik batu yaa dari kebaikannya ini. Dasar!


"Iya, iya, nanti gue pesanin delivery deh!"


Kontan, dia yang sedang sibuk membilas peralatan makan dan minum itu dengan air pun menoleh ke arahku. Alis matanya terangkat satu. "Gue maunya lo yang buat sendiri, gimana tuh?" Katanya dengan wajah tanpa dosa.


"Ah! Nyusahin gue aja lo!" Balasku bernada kesal. Yang malah membuatnya tertawa.


Memangnya sesenang itu yaa, menggodaku?? Dasar, Delvin ngeselin!!


"Assalamu'alaikum,"


Suara salam yang diucapkan oleh lebih dari seorang itu seketika membuatku menoleh. Siluet hitam tampak makin jelas terlihat semakin mendekat.


Aku dan Delvin saling berpandangan. Sementara Delvin yang nampak khawatir dari raut wajahnya yang begitu kentara, aku pun tersenyum menenangkan dirinya.


Beranjak segera, aku menyusul tamu yang baru saja memasuki ruang tamu. Benar ternyata.


Orang-orang yang sedang ditunggu sejak tadi akhirnya datang juga!


__ADS_1


__ADS_2