
Kyra -
"HA HA HA..." aku tak peduli dengan pandangan seisi rumah yang tengah menatapku kebingungan.
Mungkin mereka merasa aneh melihat aku yang lebih banyak bereskpresi flat ketika menonton acara televisi ini mendadak tertawa receh, bahkan ketika semua orang hanya tersenyum atau meringis karena garing.
Mas Kamil yang berada di sebelahku lantas langsung menaruh telapak tangannya ke dahiku. Membuatku langsung mengernyit dan menepis tangannya itu dariku!
"Apa sih, Mas Kamil?! Kalau nonton fokus doong!" Seruku sebal.
"Nggak..." Tatapannya masih heran padaku. "Kok kayaknya kamu lagi bahagia banget yaa?" Ujarnya.
Aku menghela napas lalu aku abaikan dia. Tontonan di depanku lebih menarik alih-alih wajah Mas Kamil yang gak enak dilihat itu.
__ADS_1
"Ya jelas bahagia, kan sebentar lagi dinikahi pujaan hati," Seloroh Mbak Intan ikut menimpali.
"Omong-omong Ayah jadi penasaran," Ayah yang tadi sibuk menatap ponsel dengan kacamata plusnya itu pun seketika menoleh padaku. "Jadi sejak kapan kamu jadi pacarnya si Delvin, Dek? Perasaan Ayah dulu kamu sering cerita Delvin punya pacar tapi berantem mulu deh,"
Aku menghela napas panjang. "Aku nggak pernah pacaran sama Delvin yaa Ayah, kita ini murni temenan aja dari dulu!"
Ayah kontan mengernyit, wajahnya tampak nggak setuju dengan apa yang kukatakan barusan. "Mana ada murni temenan tapi malah berakhir nikah?!"
"Tapi pada kenyataannya memang begitu Ayah..." Dengusku.
Aku mendengus kesal mendengarnya, bahkan mataku sampai menyipit tajam. "Apa bedanya sama Mas Kamil dan Mbak Intan? Kalian kan, juga gak pacaran. Masih mending aku, udah kenal Delvin dari lama. Kalau Mas Kamil? Baru juga ketemu Mbak Intan sekali tapi bisa langsung ngajak nikah. Daripada aku, bukannya lebih nekatan Mas Kamil?? Belum kenal seluk beluk tapi berani nikah?!"
"Itu beda konteks yaa Kyra!" Mas Kamil mulai meninggikan suaranya.
"Apanya yang beda?? Sama-sama aja kan, nikah tanpa pacaran?!" Tukasku.
Mas Kamil langsung melotot. Warna wajahnya mulai memerah, aku tahu betul itu adalah tanda kalau dia sudah emosi.
__ADS_1
"Mas Kamil dan Delvin itu beda ya!"
"Kamil, Kyra...!!" Ayah tiba-tiba berteriak keras memotong perdebatan kami berdua.
Jantungku bahkan nyaris copot rasanya mendengar bentakkan Ayah barusan. Padahal tadi Ayah santai saja saat mulai berbincang denganku...
Aku lantas melirik Mas Kamil kesal. Gara-gara dia yang amat tidak jelas aku jadi ikut-ikutan dimarahi Ayah!
Karena perasaanku sedang kurang baik hari ini, dan daripada aku jadi menangis lebih baik aku lekas kembali ke kamar saja.
"Maaf semua, kayaknya sekarang aku capek... Ngantuk. Aku pamit ke kamar dulu ya," Ucapku lalu dengan langkah cepat dan besar aku berjalan menuju lantai dua di mana kamarku berada.
Tepat setelah aku menutup dan mengunci pintu kamarku rapat-rapat, aku menghela napas berat. Tanpa sadar air mataku menetes. Perasaan perih akibat dibentak Ayah barusan ternyata masih menyisa dibenakku. Entah kenapa rasanya hatiku sakit sekali padahal aku tahu betul Ayah marah tidak hanya padaku saja. Tapi kenapa...??
Dan, tiba-tiba saja aku malah teringat wajah Bang Ezra dan apa yang dia katakan padaku sore tadi.
Mengingatnya aku jadi bertanya-tanya... Sebenarnya, alasan aku menangis karena apa? Benarkah karena dibentak Ayah barusan, atau karena aku sungguh merasa sakit hati saat mengetahui kenyataan tentang Bang Ezra yang tak pernah menyukaiku??
__ADS_1