Romance After Marriage

Romance After Marriage
0.7 | A : Gossip


__ADS_3

- Delvin -


Suasana lokasi syuting memang akan selalu ramai meski hari sudah makin sore. Selain banyak kru produksinya, banyak juga masyarakat sekitar yang turut menonton. Seperti mereka, anak-anak kecil itu, yang kini sedang ribut-ribut menyeru teman-temannya yang lain agar nggak berisik.


Interaksi mereka yang terlihat sangat polos itu tanpa sadar membuatku tersenyum. Yah, bagaimana pun anak-anak kecil memang lucu tingkahnya.


Aku menghela napas. Mengalihkan pandanganku ke sisi lain. Kesibukan kru syuting menata peralatan mereka sedikit banyak membuatku tertarik untuk memperhatikan.


Dari sini, di depan kap mobil hitam ini aku berdiri menyender selagi memperhatikan sekitar, juga menunggu Kyra yang sedang menyusul pujaan hatinya. Melirik jam di tangan, aku menghela napas panjang. Ternyata baru sepuluh menit dia pergi tapi entah kenapa terasa begitu lama bagiku.


Wajar, bukankah tiap orang yang menunggu pasti selalu merasa jam berdetak melambat?


Jadi yang aneh bukan aku doang dong?!


"Temannya Ezra?"


Seketika itu aku menoleh. Seorang pria paruh baya menghampiriku dengan senyum ramahnya. Pria yang berpakaian serba hitam dari ujung kaki ke ujung kepala, topinya, maksudku!


Aku mengangguk. "Ya, saya Delvin, Bang."


Yang kutahu, pria ini adalah Sutradara yang kini sedang menangani filmnya Ezra dan beberapa film lainnya yang juga pernah kutonton di Bioskop. Ya, ya, kali ini Ezra bukan bermain di film televisi melainkan film layar lebar! Kesempatan baik untuk Ezra mengepakkan sayap karirnya lebih lebar lagi.


"Salam kenal, Delvin. Saya, Kemal, sutradara di sini." Ucapnya ramah membalas uluran tanganku.


"Jadi... sudah berteman berapa lama sama Ezra?" Tanyanya kemudian.


"Ah. Hmm, kami berteman dari kanak-kanak, Bang. Kebetulan kami tetangga satu komplek." Jawabku jujur.


Bang Kemal manggut-manggut. "Kalau sama cewek yang tadi?"


"Ya, dia juga. Kami bertiga tetangga satu komplek," kataku, lalu tertawa kecil.


"Oh, jadi, cuman tetangga? Tapi bukannya tadi kamu bilang dia istri kamu, bukan?"


Oh, rupanya dia dengar perdebatan sengitku dengan kru tadi ya?


Aku nyengir. Tertawa yang lebih terdengar aneh di telingaku sendiri. "Ah, itu..."

__ADS_1


"Ya, nggak perlu dijelasin. Saya tau kok kebenarannya dari Ezra, kalau kamu bersikap begitu karena ingin membela cewek itu, bukan?"


Kepekaannya, bukan, kepekaannya yang berasal dari Ezra itu membuatku hanya tersenyum tuk menanggapinya.


"Tapi kalau dipikir-pikir, akting kamu lumayan juga ya?"


"Eh?" Aku lantas menoleh ke arahnya.


Kemal tertawa renyah. Menganggap canda dari omongannya barusan. Yang membuatku mau nggak mau ikut tertawa bersamanya.


"Delvin,"


"Ya, Bang?"


"Nggak ada pikiran buat jadi aktor kayak Ezra? Kalau dilihat-lihat kamu punya bakat loh, sayang banget kalau nggak diasah kan?!"


Tawaran jadi artis ya rupanya...


Aku tersenyum. Ini entah sudah ke berapa kalinya aku ditawari hal yang sama seperti ini saat datang ke tempat Ezra bekerja seperti ini.


"Aduh, Bang, jadi aktor kan harus menonjol. Saya sih sama sekali nggak punya hal yang bisa ditonjolin,"


Aku tertawa saja mendengarnya. Mendengar pujiannya itu malah membuatku merasa nggak nyaman dalam perbincangan ini. Aih, jadi pengin buru-buru melarikan diri dari sini segera! Kalau bukan ingat si Kyra, aku pasti sudah kabur dari tadi!


"Ya sudah, Delvin, kalau suatu waktu kamu tertarik sama dunia perfilm-an, hubungi saya ya! Jujur nih, saya tertarik banget buat rekrut kamu jadi aktor saya." Ucapnya tersenyum.


Aku mengangguk, tersenyum. Ucapan ramah itu tentu harus berbalas dengan keramahan juga bukan?


"Oke, Bang, siap!"


Kemal tersenyum, ganti dia yang mengangguk. "Oya, ini kartu nama saya. Inget! Hubungi saya kalau kamu berubah pikiran ya, Delv. Saya pasti tunggu banget telpon dari kamu!"


Usai berbasa-basi singkat, akhirnya Kemal pun pamit dari hadapanku. Mengontrol lokasi lagi sebelum syuting kembali dimulai. Sepeninggalnya, aku hanya diam memperhatikan selembar kartu nama berwarna biru navy di tanganku. Kartu nama yang memuat nama besar Kemal Fergio sebagai pemilik Production House, rupanya selain menjadi Sutradara kenamaan Kemal juga berbisnis rumah produksi. Nggak kaget juga sih...


Memasukan kartu nama itu ke saku celana, aku pun menghela napas mengingat lamanya waktu berlalu dan Kyra masih belum juga kembali.


Huh, dasar bucin! Pasti dia lagi asik-asik menyanjung akting Ezra selagi Ezra makan sushi buatannya deh. Aku tertawa mendengus membayangkannya. Namun kemudian memeganggi perut yang terasa keroncongan. Mendadak jadi lapar!

__ADS_1


"Vin, ayo,"


Aku melirik ke samping. Kyra berdiri dengan tatapan lurus ke arahku. Membenarkan posisiku, pun melepaskan tangan yang memegangi perutku. Aku meneliti wajahnya sebentar, lalu mataku mengernyit.


"Ayo? Ayo ke mana?" Tanyaku, mengesampingkan rasa ingin tauku asal mula ekspresinya yang masam itu.


Kyra nggak langsung menjawab, dia menatapku sebentar. Menghela napas berat, sebelum akhirnya memberiku jawaban.


"Pulang." Jawabnya.


Seketika itu, mataku mendelik. Bingung. Aku nggak tau kenapa tiba-tiba dia bicara begitu. Karena yang kupahami darinya, Kyra nggak mungkin minta pulang cepat seperti ini. Tunggu! Apa mungkin...


"Kenapa? Ezra nggak suka makanannya? Dia nggak doyan sushi-nya??"


Tanpa menunggu waktu Kyra menjawab, aku langsung merebut totebag di tangannya. Berat. Masih sama seperti sebelumnya, yang mana artinya isinya belum tersentuh sama sekali!


Aku mendengus kesal. Menggenggam erat tali totebag penuh emosi. Sialan si Ezra!


Namun, tiba-tiba Kyra menggelengkan kepalanya. Membuatku mengernyit, kebingungan. "Nggak gitu..." sanggahnya.


Aku mendengus. Dalam kondisi seperti ini pun dia masih membela pujaan hatinya itu! "Apanya yang enggak?!"


"Bukan, bukannya Bang Ezra nggak suka. Itu... itu karena gue yang nggak kasih makanannya ke dia," jelasnya dengan kepala menunduk dalam.


Aku melotot. "Apa?! Kenapa! Kenapa nggak lo kasih sih?!"


Kadang, aku nggak habis pikir sama jalan pikirannya Kyra. Padahal dia berani mengambil foto Ezra sampai dimaki-maki orang lain, tapi kenapa hal ini aja dia nggak berani?!


Aku masih memperhatikan ekspresi wajahnya. Dia yang sekarang berada di depanku sungguh berbeda dengan dia yang wajahnya kulihat beberapa menit lalu.


Namun, senyumnya yang tiba-tiba dia perlihatkan kepadaku akhirnya membuatku nggak mampu menolak permintaannya lebih dari ini. Akhirnya aku menuruti pintanya untuk kembali pulang. Tanpa ada kata pamit pada Ezra. Hingga membuat Ezra beberapa kali menghubungiku lewat chat ataupun beberapa kali misscall seperti yang tertera di layar ponselku.


Kebisuan Kyra membuatku enggan menjawab panggilan Ezra. Meski belum pasti namun aku yakin, diamnya si cerewet Kyra nggak lain dan nggak bukan berasal dari interaksinya dengan Ezra di lokasi syuting tadi. Enggak tau apa yang udah dilakukan Ezra pada Kyra. Meski penasaran, tapi aku nggak bisa bila harus ikut campur pada urusan mereka lebih dari ini.


"Ra, Ra... mampir makan nggak? Gue lap... er," kalimatku tertahan begitu sadar kalau gadis yang duduk di atas jok di sampingku ini telah tertidur sendiri dalam diamnya.


Melihatnya yang tidur anteng begitu membuatku jadi tersenyum. Wajah damainya terlihat aneh tapi juga lucu di mataku.

__ADS_1


Yah, Kyra tidur memang selalu lebih baik daripada Kyra menangis, kan?



__ADS_2