Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.7 | Menjadi Antagonis


__ADS_3


Delvin -



Perjalananku menuju rumah yang bertemankan kemacetan ini rasanya tampak berbeda kala aku mendapat sambungan telepon darinya.


Meski sepanjang telepon hanya suara tangis dan sedu sedannya saja yang terdengar tanpa embel-embel percakapan, entah bagaimana aku malah merasa tenang.


Aku tahu, aku kayak lagi jadi pemeran antagonis dengan posisi seperti ini. Merasa bahagia sendiri di atas kesedihan yang lain. Aku tahu, aku egois. Tapi jika egoisku adalah untuk kebaikan seorang yang penting untukku... Apa aku masih bisa dikatakan sebagai antagonis??


Aku lalu mengerut kening ketika suara sedu sedannya malah berganti dengan napas yang mengalun teratur. Aku masih mendiamkannya, takut kalau aku jika aku bicara malah menganggunya. Tapi anehnya, semakin lama aku diamkan, suara napasnya malah terdengar makin keras, lalu tak berapa lama berubah menjadi dengkuran halus.


Tentu saja, aku yang mendengarkan dengan jelas suara dengkuran itu pun langsung tertawa. Tawaku seketika memecah keheningan yang berlangsung dalam mobil ini setelah dua jam berlalu.


"Dasar Kira-kira!" Aku mendengus geli sekali lagi.


"Kenapa sih, kalau udah ngantuk gak bilang aja?" Aku mulai bicara sendiri.


Aku tersenyum tipis kala melihat jam digital yang tertera dalam layar Head Unit. "Hey, Kira-kira... Lo pasti kecapek-an kan, udah nangis terus selama dua jam?! Gue aja udah mau sampe rumah nih, lo malah baru tidur! Lo bener-bener yang TER-baik deh!!" Lalu aku terbahak.


Masih dengan tertawa kecil, aku lantas memutar setir ke kiri. Akhirnya, aku sampai juga ke rumah setelah hampir tiga jam berada di jalan!


Akh, kalau dipikir-pikir, tiga jam itu lama juga ya... Andai Kyra nggak meneleponku tadi pasti aku sudah mati kebosanan!


Aku bernapas lega begitu dapat kulihat pintu pagar yang tinggi menjulang dengan cat hitam itu. Akhirnya, aku benar-benar sampai rumah jugaaa!


Perasaan lelah ini menuntutku untuk segera membuka pagar itu sendiri dan memarkirkan mobilku di garasi.


Lalu, tanpa ingin berlama-lama lagi di luar rumah, aku pun langsung masuk ke dalam rumah dengan langkah-langkah besar. Bener-bener nggak sabar buat menyapa kasurku...


Suasana rumah ini sudah sangat sepi terlebih Mamaku bilang hari ini akan lembur di kantornya. Lalu adikku, Dion? Ah, kalau dia sih, kalau emang nggak ada di kamarnya, dia pasti nginap di rumah temannya. Ya, buat apa juga mengkhawatirkan dia, lagi pula bocah itu sudah terlalu tua buat diperhatikan lagi!


"Mas Delvin?"

__ADS_1


Oh, itu suara asisten rumah tangga baru kami, namanya Mbak Rum. Yang kebetulan baru bekerja kurang lebih sebulan ini.


"Baru pulang Mas?"


Aku lantas mengangguk, tersenyum sedikit. Sekenanya. Yah, aku memang begini, kurang bisa begitu ramah apalagi dengan orang baru.


"Sudah makan belum Mas?"


"Udah kok." Jawabku. "Dion belum pulang ya, Mbak?"


Mbak Rum mengangguk tanpa ragu. Tuh, benar kan, dugaanku. Dasar bocah itu!!


"Kemana ya, Mas, Mas Dion? Padahal biasanya pulang sore terus,"


Aku tersenyum, menyiratkan agar Mbak Rum nggak usah menyia-nyiakan kekhawatirannya pada bocah satu itu. Terlalu percuma!


"Santai aja, Mbak, sebelum Mbak Rum di sini, Dion udah biasa kok kayak gitu... Jadi nggak perlu terlalu khawatir sama dia ya, apalagi udah besar juga anaknya."


"Owalah, begitu ya, Mas..." Aku mengangguk. Dan setelah itu, Mbak Rum pun pamit dari hadapanku setelah sebelumnya memberitahu tentang makanan yang ada di meja makan kalau-kalau aku berubah pikiran dan ingin makan tiba-tiba.


Yah, meski aku masih canggung dan merasa kurang nyaman berinteraksi dengan Mbak Rum, tapi aku pikir Mbak Rum adalah orang yang baik dan pekerja keras. Karena itu aku yakin, lambat laun aku pasti bisa menghilangkan kecanggunganku ini. Yaa, semoga aja!


***


Aku yakin, sebelumnya aku berkata bahwa aku capek dan ingin istirahat.


Namun, setelah bersih-bersih badan, mengganti pakaian dan merebahkan diri ke tempat tidurku berada. Entah bagaimana ceritanya rasa lelah dan kantukku seketika lenyap nggak bersisa.


Aneh!


Aku bahkan udah sampai pura-pura memejamkan mataku, tapi kenapa alam bawah sadar itu tak kunjung datang. Sehingga aku terus saja berakhir dengan mata yang terus saja terbuka sempurna.


Aku mendengus. Tak sabaran, akhirnya aku putuskan untuk cari angin saja!


Tanpa ragu, aku langsung membuka pintu menuju balkon kamarku berada. Angin malam sepoi-sepoi yang terasa lebih dingin pun seketika menyapa. Penasaran, aku melirik jam di ponsel. Aku tertawa mendengus, nggak heran, karena ternyata sudah pukul 02.00 dini hari. Aku mendesah panjang. Lalu tanpa sadar mataku menatap balkon sebelah kananku.

__ADS_1


Tanpa aku sadari, aku sudah tersenyum sendiri melihat pintu kamarnya yang telah tertutup rapat. "Tidur yang nyenyak ya... Sampai ketemu di hari-hari baru kita berdua,"


"Gue tau, ini agak sulit buat lo. Tapi kalau gue nggak setega itu sama perasaan lo ke Ezra... Di masa depan, kita berdua pasti hanya akan saling menyakiti satu sama lain." Ujarku lirih.


Mengambil inisiatif sebagai antagonis mendadak sebenarnya menbuatku nggak nyaman, sungguh...


"Demi perjanjian kita dan masa depan kita yang lebih berwarna... Tolong maafin gue ya, Ra..." Aku masih meracau sendiri. Padahal hanya desauan angin yang sekarang menjadi lawan bicaraku.


"Di masa depan nanti gue janji. Gue akan berusaha keras membahagiakan lo bagaimana pun caranya." Aku tersenyum, apalagi kala mengingat ucapannya di telepon tadi, tentang janjinya yang ingin berusaha menjadi yang terbaik untukku.


"Gue tau, perasaan lo nggak akan berubah secara instan. Tapi karena lo udah berjanji, gue yakin, lo pasti akan menepatinya." Aku tersenyum cerah.


"Selamat tidur... Semoga lo nggak mimpiin Ezra lagi, dan semoga mulai malam ini akan selalu lada gue di dalam mimpi lo." Kataku yang lantas membuatku mendengus geli sendirian.


Yah, kayaknya aku mulai kena virus gilanya Kyra yang selalu bicara sendirian di balkon. Hahaha.


"Din, din!"


Tatapan mataku langsung berpendar tertuju ke arah di mana suara itu berasal. Headlamp-nya menyala diikuti dengan suara deru mesin yang terdengar halus di telinga.


Aku mengerut kening sejenak, menatap kebisingan di bawah sana saat tengah malam begini. Dalam bayangannya, aku tahu Ezra ada di sana berjalan keluar dari rumahnya yang menyala terang.


Aku bisa mengira tentang sesuatu yang akan dilakukannya. Yah, apalagi kalau bukan untuk memenuhi jadwal syuting.


"Apa Ezra ada syuting diluar pulau atau luar negri?" Tanyaku pada diri sendiri.


Alisku bertaut, keningku masih juga berkerut. Lalu, ketika Ezra mulai menaiki mobilnya, dan ketika mobil Brio kuning itu berjalan perlahan aku menghela napas panjang.


"Pebinor?" Tiba-tiba hanya kata itu yang terlintas dalam benakku.


Aku tertawa sinis kala mengingat kata itu keluar dari bibir Ezra tempo hari.


Dan aku masih ingat dengan jelas, kala dia mengatakannya aku sangat yakin bahwa dia sangat bersungguh-sungguh di hadapanku. Raut wajahnya, tatapan matanya... Seolah dia ingin mengingkari semua permintaanku padanya dan bersiap menusukkan "kata itu" yang akan menjadi pedangnya.


Sungguh, aku tak menyangka, saat bertemu dengan Kyra dia malah mengingkari ucapannya sendiri terhadapku.

__ADS_1


"Makasih Zra, karena lo udah mau ngalah demi gue..." Ucapku lirih seiring dengan Brio kuning yang hilang di ujung jalan.


Aku tersenyum.


__ADS_2