
Kyra -
"Ayo, Vin, makan yang banyak!" Seru Mbak Intan setelah Delvin melahap nasi goreng buatannya yang sudah dihidangkan di atas piring porselen.
Delvin mengangguk, dia tersenyum di sela-sela kesibukannya mengunyah. Sepertinya dia sudah sangat biasa di rumah ini ya, tak ada kecanggungan sama sekali. "Iya, Mbak, makasih!"
"Lo tumbenan minta sarapan lagi di sini, Vin?" Tanya Mas Kamil tiba-tiba. "Padahal semenjak lulus kuliah lo nggak pernah main ke rumah ini lagi rasa-rasanya..."
Mendengar apa yang dikatakan Mas Kamil, Delvin hanya tersenyum sekilas tanpa menjelaskan sebelum akhirnya lebih memilih fokus menghabiskan isi di atas piring sarapannya. Membiarkan Mas Kamil menatapnya dengan kernyitan di dahi.
Aku menghela napas panjang. Mengalihkan pandangan, menatap ke arah lain. Atau lebih tepatnya, enggan menatap ke depan karena ada Delvin yang duduk di sana.
Kalau bukan karena teringat niatnya itu, aku pasti nggak akan diam membisu begini. Sungguh, melihat Delvin di rumahku pagi ini sangat membuatku jadi gelisah sendiri!
Aku paham betul tabiat Delvin. Meski dia agak tertutup dengan persoalan hatinya juga kehidupan pribadinya, atau meski dia adalah orang yang ahli menutupi sesuatu dengan sesuatu, tapi jika dia sudah bertekad semua hal yang dia inginkan pasti akan ada di dalam genggamannya!
Tekadnya amat kuat. Aku tahu itu! Dan, hal itu lah yang menjadi sumber pokok rasa khawatirku ini! Ya, meski sebetulnya aku pun agak setuju dengan idenya untuk kami menikah dan mencoba saling melupakan masa lalu bersama... namun, aku rasa kesiapanku ini nggak sepadan dengan persetujuanku kala itu.
Aku masih kerdil. Takut. Khawatir. Ngeri... dan, nggak habis pikir kalau sampai aku dan Delvin benar-benar menikah pada akhirnya!
"Dek,"
"Dek, hoii, Dek!!"
__ADS_1
Aku terkesiap seketika menatap sumber suara yang memanggilku itu seketika. Mataku mengedip beberapa kali begitu tersadar kalau ternyata orang-orang sudah beranjak dari meja makan ini dan menyisakan diriku sendiri. Bahkan Delvin yang seingatku masih sibuk mengunyah untuk menghabiskan sarapannya pun kini sudah menghilang dari pandangan mata setelah sesaat sebelumnya kulihat dia tampak berjalan berbelok ke arah ruang keluarga berada bersama dengan Mbak Intan.
"Dek, kamu lagi mikir apa sih? Bengong terus loh, Mas perhatiin?!" Mas Kamil mengernyit. Lalu, matanya pun menyipit. Dia langsung memandangku penuh curiga. "Kamu nggak lagi putus cinta, kan, Dek?!"
Aku melotot. Nggak habis pikir dengan apa yang Mas Kamil katakan barusan. Bisa-bisanya loh, dia berpikiran begitu. Huh, membuatku teringat luka kemarin saja!
"Sok tau, nih, Mas Kamil!" Aku mencebik. "Orang aku lagi kepikiran sama projek baruku di Bandung kok, yeee!" Balasku dengan membuat alibi jitu yang seharusnya bisa langsung membuat Mas Kamil percaya. Aku harap.
Lalu, dia pun menyengir. Aku tersenyum senang dalam hati berteriak girang, karena ternyata Mas Kamil memang percaya pada apa yang kukatakan. Dan, hal itu menyatakan kalau alibi sungguh berhasil! Hehe.
"Yaudah, ayo, cepetan! Yang lain udah pada nungguin tuh," serunya.
Aku beranjak seketika. Menyusul langkahnya yang sudah lebih dulu di depanku. Kemudian, saat tiba di sana, aku agak terperangah dengan letak tempat yang diduduki oleh Delvin dan Ayah yang tampak amat berdekatan. Mereka juga tampak sedang mengobrol seru sambil sesekalinya tertawa. Bahkan Ayah yang jutek pada semua teman lelakiku nggak terkecuali Bang Ezra itu tampak akrab sekali dengan Delvin. Ah, apa mungkin karena Delvin sudah main bersamaku di rumah ini dari semenjak kami masih sama-sama kecil sampai beranjak dewasa ya, sehingga membuat Ayah menjadi berubah nyaman jika bersama anak itu?
Aku angkat bahu. Memilih tak memikirnya, dan lebih memilih untuk duduk di sebelah Ibuk yang tampak lebih serius dengan ponsel di tangannya. Sementara Mas Kamil langsung menyusul duduk didekat istrinya, bak lem dan pranko. Nempeeelll... Ckck!
Aku mendengus, lalu mengalihkan pandanganku segera dari Kakak dan Kakak Iparku itu kepada Ibuk. Aku mengernyit. Keseriusan Ibuk membuatku jadi ingin tahu apa yang ditampilkan oleh layar ponsel putih itu. Lalu, tanpa permisi, kepalaku pun langsung mendekat pada kepala Ibuk dan mendorongnya sedikit, hingga membuat Ibuk jadi ikut menoleh sedikit kepadaku.
"Kepo banget sih kamu, Dek!" Balas Ibuk tanpa menjauhkan layar ponselnya padaku. Hingga aku pun bisa melihat dan membaca apa yang ditampilkan layar ponselnya itu saat ini. "Ibuk lagi cari resep nugget ayam. Besok kan, mau syukuran nujuh bulan Mbak Intan..."
Kontan, aku menatap Ibuk dengan mata membulat. Kaget. "Loh, Ibuk mau masak sendiri??"
Ibuk mengangguk. Mengiyakan.
Aku mengernyit, mendengus. "Emangnya nggak capek? Catering aja deh, Buk, capek tau masak itu. Apalagi buat porsi banyak!"
Ibuk pun terdiam. Ia tampak merenungi kata-kataku barusan padanya. Mungkin pikirnya, kata-kataku itu ada benarnya juga. Tentu! Kan aku bicara sesuai fakta!
__ADS_1
"Jangan irit-irit terus, Buk, uang Ayah itu banyak! Mas Kamil apalagi, dan anak Ibuk yang kecil ini juga udah punya uang sendiri sekarang. Jadi Ibuk nggak perlu khawatir kalau soal uang, oke?" Aku nyengir, memamerkan deretan gigi rapihku. Yah, sesekali membanggakan diri sendiri tak apa kan? Hehe.
Lalu, dengan sekonyong-konyongnya Ibuk malah mencubit gemas pipiku hingga aku dibuat mengaduh karenanya. Tapi, asli, cubitan Ibuk ini emang pedes banget terasa di kulitku!
"Ugh! Cubitan buat anak Ibuk yang cerewet dan sok tahu," kata Ibuk sembari tertawa kecil.
Aku berusaha mengelak dari serangan maut Ibukku yang anehnya malah membuat beliau tertawa. Dalam hati aku jadi ikut tertawa bersamanya. Entah lah, namun melihat Ibukku tersenyum begitu turut membuatku senang rasanya.
"Semua, coba tolong perhatikan sebentar!" Suara bariton Ayah tiba-tiba mengintrupsi. Membuat kami semua mau tak mau melihat ke arah beliau.
Ayah tampak tersenyum pada kami sekilas sebelum melirik Delvin yang berada di sampingnya. "Ini, Delvin mau bicara sesuatu ke kita. Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan pada kita semua. Ya, kan, Vin?"
Delvin yang sudah memasang senyum tipis itu pun mengangguk, membenarkan.
DEG!
Akhirnya, waktunya pun tiba!
Di detik itu juga jantungku seperti ingin lompat rasanya! Aku kebat-kebit. Mendadak tanganku berubah dingin. Gelisah!
"Jadi, semuanya... saya, Delvin, ingin mengutarakan bahwa..."
Napasku ingin berhenti rasanya. Tolong Delvin tolong, ngomongnya besok aja, pelisss....
"Saya ingin melamar Kyra, putri bungsu Bapak-Ibu Gin, untuk menjadi istri saya."
DUARRRR!!
__ADS_1
Jantungku benar-benar meledak juga pada akhirnya, diikuti dengan tatapan syok semua orang di ruang ini terkecuali diriku dan Delvin yang malah bertukar pandang menyiratkan isi pikiran yang bertolak belakang.