Romance After Marriage

Romance After Marriage
2.3 | A : Si Pengecut & Si Pemberani


__ADS_3


Kyra -



Aku menatap lekat satu per satu pasang mata milik anggota keluargaku ini. Tak terkecuali Ayah yang tampak mulai menganggap apa yang hendak akan kubicarakan ini adalah hal serius. Senyuman ala beliau mendadak sirna dari raut wajahnya. Kini hanya menyisakan rasa penasaran dari tatap matanya yang tengah menatapku lekat.


Aku gugup.


Mendadak semua kalimat yang mulanya telah terangkai di dalam otak kecilku ini buyar seketika. Kernyitan dalam yang muncul di dahi Ibu seolah sudah tak sabar menunggu makin membuat pikiranku kacau balau.


Aku pun tak tahu kenapa. Padahal kalimat itu adalah kalimat sepele. Kalimat sederhana yang menyimpulkan bahwa esok hari Delvin berserta keluarganya akan bertamu ke rumah ini. Tapi kenapa? Kenapa mendadak aku bisu?? Lidahku kaku. Kelu!


Aku sungguh nggak bisa bicara apa-apa sekarang! Lalu bagaimana bisa aku menyampaikannya?!


"Dek?" Mas Kamil memecah keheningan. Membuatku tanpa sadar langsung menoleh padanya.


"Adek mau bicara apa sih? Daritadi kita semua nunggu loh," Ayah ikut menimpali, mulai tak sabar.


Bibirku megap-megap. Aku sungguh mau bicara tapi kenapa suaraku jadi hilang? Aku nggak bisa bicara! Astagaaa!!


"Jadi nggak sih, Dek? Keburu sinetron Ibu mulai lagi deh, nih." Kini ganti Ibu yang bicara dengan nada tak sabar.


Wajah-wajah tak sabar itu pada akhirnya membuatku tertawa yang teramaaat garingnya. Hatiku resah sendiri. Sepertinya aku akan menyerah!


"He he he... bukan apa-apa sih, Kyra cuman mau tanya besok semuanya libur kan??" Kontan, aku merutuk pertanyaan absurdku barusan. Huh, kenapa tiba-tiba jadi berubah haluan gitu sih?!! Dasar aku pengecut!!


"Kenapa tanya-tanya begitu? Kamu mau minta waktu kita buat jalan-jalan yaa?" Tanya Mas Kamil menebak-nebak.


Aku cuman mampu nyengir kuda. Ya ampun, aku sungguh mengutuk sifat pengecutku ini!


"Yaudah, yuk, kita piknik aja besok! Aku yang siapin bekalnya deh," imbuh Mbak Intan dengan gembira. Yah, aku tahu, ibu hamil satu ini memang dari kemarin mengeluh bosan terus. Nggak heran kalau dia senangnya bukan main!


"Haduuh, mantu Ibu, lagi hamil besar gini mau siapin makanan apa sih?" Mata Ibu melotot. "Nggak usah, Intan duduk manis aja. Biar aja, si Kyra tuh yang siapin semua. Hitung-hitung latihan sebelum besok dilamar orang!" Ucap Ibu asal bicara, namun membuatku tertohok.


Andai saja aku sedang minum sekarang, pasti aku langsung batuk-batuk karena tersedak. Bisa-bisanya Ibu bicara tentang lamaran, yang padahal besok...


"Prok!" Mas Kamil menepukkan tangannya keras-keras di depan mataku hingga membuatku berjengit. "Bengong aja! Jangan bengong gitu dong! Disuruh masak doang padahal,"


Andai saja Mas Kamil tahu apa yang sedang aku pikirkan sejak tadi. Sayangnya, kakakku ini tak tahu apa-apa.


"Gimana tuh, jadi mau jalan-jalan nggak? Kalau iya, besok Ibu belanjain semua bahannya. Kamu tinggal masak deh. Mau nggak??" Tawar Ibu sembari fokus pada layar kaca datar yang masih menampilkan serial drama termehek-mehek di depan kami.


Setelah beberapa saat hanya diam, aku pun tersenyum canggung. Sepertinya... aku memang nggak bisa mengatakannya.


Maafin gue, Delvin!!

__ADS_1


***


22.01 WIB, begitulah yang tertera pada jam digital di atas nakas di sisi tempat tidurku.


Aku bertapa sendirian di kamar sembari menyesali dan merenungi salah satu sifat yang paling negatif yang aku punya. Pengecut!


Aku mengusap wajah dengan kasar. Merutuk kebodohan yang terlalu melekat pada diriku. Yang parahnya baru sekarang kusadari!


Kebimbanganku nyatanya lebih besar daripada keyakinan itu. Egoku lebih tinggi dari apapun hingga mengerdilkan keberanian yang tadinya mulai membesar.


Dasar, Kyra! Apa segitu malunya yaa... bicara terus terang kalau teman kecil sendiri mau datang melamar??!!


"Arrggghhh!!" Teriakkanku teredam bantal yang tengah menutupi seluruh wajahku. Benar, kini aku tengah menyurukkan wajahku di atas bantal tidurku. Sengaja, agar suara teriakkanku yang nyaring ini tak terdengar orang lain di luar kamar sana. "Bodoh, bodoh, bodooohhh!!" Umpatku setengah mati. Sungguh, aku kesal pada diriku!


Setelah merasa napasku habis akibat teriak-teriak tak jelas nyaris tanpa jeda, aku langsung mengangkat wajahku dari sana. Napasku yang tersenggal mulai teratur setelah beberapa detik. Bahkan setelah aku memaki-maki diriku seperti tadi, penyesalan itu belum juga berkurang!


Aku terdiam sebentar. Memikirkan hal yang telah terjadi sebelumnya. Bahkan karena ulahku yang ambigu, kini, seluruh anggota keluargaku mengira aku meminta waktu libur bersama mereka. Semua bahkan sepakat akan pergi siang hari setelah aku selesai memasak. Sementara esok pun akan menjadi hari di mana Delvin dan keluarganya datang ke rumah. Namun, kapan waktu jelasnya mereka datang aku pun tak tahu...


Aku tersenyum tipis. Sepertinya aku masih punya kesempatan untuk membereskan kekacauan yang telah kuperbuat ini. Hehe.


Lalu, dengan rasa percaya diri yang mulai tumbuh subur, aku lantas mengambil ponselku yang berada tak jauh dari jangkauanku di atas tempat tidur ini. Memainkan ibu jariku di atas layar datarnya sampai kemudian sebuah nomor tersambung dalam panggilan yang membuatku mendekatkan ponselku ini ke telinga.


"Tuuut... tuuut.... tuuut..." suara panggilan saat menyambungkan. Aku terdiam, menggigit bibir selagi menunggu sampai panggilan ini menjadi benar-benar tersambung. Dan, kemudian setelah beberapa detik berlalu...


"Halo?" Mulai tersambung! "Assalamu'alaikum," lanjutnya dengan suara serak. Membuatku mengeryit seketika.


"Wa'alaikumsalam," jawabku.


"Hemm... ada apa??" Tanyanya bersuara sengau. Fix, kurasa tadi dia memang sudah tidur!


"Vin, lo udah tidur ya?" Tanyaku yang menjadi merasa bersalah. Sedikit.


"Ya, ketiduran tadi. Tapi nggak apa sih, gue belum gosok gigi juga jadi sedikit bersyukur karena lo secara nggak langsung ingetin gue." Katanya sambil tertawa garing.


"Apa? Sedikii...it??"


Lalu, kudengar tawa renyahnya di seberang sana. "Enggak deng, banyak kok banyaaak bangeet!!" Dia tertawa lagi. Aku mendengus saja mendengarnya.


"Jadi??" Tanyanya langsung setelah agak lama aku menggantungnya dengan keterdiamanku dalam telepon. "Ada apa? Mau bicara apa? Nggak mungkin lo mau hubungi gue duluan kalau bukan mau ngomongin suatu hal yang penting." Rupanya, diam-diam dia cukup memahamiku ya, sampai-sampai hal yang selalu kulakukan tanpa sengaja itu dia menghapalnya. "Jadi mau ngomong apa?"


Aku rasa sekarang tawanya yang tadi sempat berderai sudah benar-benar hilang. Situasi sudah mulai serius, seserius nada pertanyaannya itu padaku.


"Vin," panggilku pelan.


"Hem..."


"Gue... gue..." bahkan percaya diriku yang mulanya kuyakini tumbuh dengan subur mendadak hilang entah kemana. Sekarang aku malah khawatir pada reaksi Delvin bila mengetahui kejujuran yang kupunya. Aku yakin dia pasti langsung mencak-mencak padaku. Emosinya pasti langsung menggelegak karena kebodohanku yang hakiki ini. Huh!

__ADS_1


"Gue...." aku menggigit bibir dalamku gemas sendiri. Kenapa berterus terang saja aku tak bisa?!!


"Nggak bisa ngomongnya?" Timpalnya bernada pelan. Membuat mataku mendelik bingung tanpa sadar.


"Eh?"


"Lo... belum bilang kan, sama Ayah? Sama semuanya juga soal rencana besok??" Tebaknya yang seratus persen benar!


Aku terdiam. Dalam hati aku sudah menangis malu. Malu karena pasti Delvin kini menganggapku pengecut.


"Bener ya?" Dia mulai meyakini pendapatnya. Yang jelas kuangguki dalam hati.


Lalu, kudengar dia menghela napas panjang. Anehnya setelah itu dia tak berkomentar apa-apa. Bahkan kalimat makian atau emosi yang telah kuprediksikan akan dia lontarkan sebelumnya menjadi ilusi yang tak nyata. Dia tak bicara apa-apa, bahkan reaksinya berada di luar ekspektasiku. Kenyataan yang sulit dimengerti bahwa Delvin tampak santai dengan kebodohanku!!


"Ya udah, besok aja biar gue yang langsung bilang sama Ayah lo ya!" Putusnya setelah beberapa saat diam. Kontan, mataku mengerjap seolah tak percaya. Reaksinya itu kenapa...??


"Ta-tapi, Vin, abis dzuhur kita sekeluarga mau pergi!" Akhirnya ada sedikit keberanian hingga aku mampu mengatakannya.


"Pergi? Mau ke mana?"


"Piknik." Cicitku pelan.


"Pulangnya kapan?"


"Mungkin sore atau malam. Gue nggak yakin juga," aku angkat bahu.


"Maksudnya nggak yakin?" Dia bertanya. "Bisa ada kemungkinan nginap di luar gitu??"


Aku mengernyit, memikirkan apa ada kemungkinan yang seperti itu dalam rencana keluargaku ini. "Mung...kin," kataku kurang yakin. "Mungkin aja, kan besok juga masih hari sabtu..."


Dia menghela napas panjang, sekali lagi. Aku meringis. Apa sekarang sudah waktunya bom itu meledak??


"Yaudah, tidur gih!" Serunya tiba-tiba yang jelas saja membuatku kebingungan. "Gue juga mau lanjut tidur nih," lanjutnya. Suaranya terdengar santai di telingaku. Ringan. Biasa saja.


Eh?! Dia masih nggak marah??


"Lah, terus besok??" Sungguh, aku tak mengerti tentang pola pikirnya saat ini. Kenapa aku merasa Delvin berubah menjadi aneh malam ini? Apa efek dari dia yang baru bangun tidur??


"Ya, lo lihat aja besok bakal gimana." Jawabnya enteng. "Yaudah yah. Bye!"


Tuuutt... sambungan itu pun terputus seketika.


Dalam keheningan malam ini, aku terpaku menatap pintu geser balkon kamar di depanku yang tertutup rapat itu. Aku terdiam. Terpekur sendiri yang berbuah rasa gelisah.


Kini, satu keyakinanku...


Delvin pasti marah!

__ADS_1



__ADS_2