Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.0 | B : Hoodie Pink


__ADS_3

- Delvin -


"Heh!!" Kyra mendelik. "Lo kenapa?! Lo punya ayan? Atau jangan-jangan... lo kesambet ya, Vin? Kenapa kepala lo geleng-geleng gitu? Merem-merem nggak jelas pula!"


Aku berdecih. Bersiap untuk memakinya kini, "Sialan lo! Bilang gue ayan, kesambet lagi!"


Kyra mengernyit. "Lah, terus??"


"Panas, tauk!!"


"Ha? Panas??" Kyra langsung menatapku nggak percaya.


Delvin bodoh! Aku mengerjapkan mata. Menarik napas, sebelum meralat apa yang baru saja kuucapkan. Astaga, kenapa aku malah bilang panas sih?!


"Dingin. Dingin, maksud gue!" Ralatku cepat. "Lagian elo, tahu teman kedinginan gini bukannya dikasih baju ganti kek,"


"Emang lo nggak bawa baju apa?"


"Nggak!" Ketusku. "Kalau gue bawa, pasti lo nethink sama gue. Pasti nganggap gue maunya nginep di sini!" Tuduhku. Padahal sebenarnya aku nggak membawanya karena nggak kepikiran bakal kebasahan begini. Ck!


Kyra menghela napas panjang-panjang, seakan lelah menghadapiku di sini. Ngeselin asli, apalagi lihat tampang malesnya itu! Huh!!


Tanpa membalas ucapanku, dia yang tadinya sibuk di balik pantry pun masuk kembali ke dalam satu ruangan yang sebelumnya udah dia masuki--yang sangat aku yakini adalah ruang tidurnya!


Firasatku terbukti saat dia kembali keluar dari ruang tersebut dengan membawa sebuah hoodie berwarna pink di tangannya.


Tunggu dulu!


Aku mengerut kening. PINK??!! EDAN!


Aku yang sudah kembali duduk di atas sofa panjang ini pun lekas mengamatinya yang sudah beranjak dari pantry untuk mendekat ke arahku. Di tangannya sudah dipenuhi oleh hal-hal yang 'harusnya' aku butuhkan. Harusnya yaa... tapi kenapa harus ada warna pink kampret itu sih?!


"Nih!"


Aku menerima segelas teh panasnya. Tapi nggak dengan hoodie pink itu!


Mataku memicing. Tajam. "Kenapa harus warna pink sih?"


"Kenapa? Nggak mau??" Tanyanya dengan sebelah alis yang terangkat naik. Setelah beberapa saat aku hanya diam, nggak menjawab. Dia lantas mendengus. "Yaudah kalau nggak mau," katanya angkat bahu. "Kalau lo masuk angin jangan salahin gue ya, Vin. Awas aja!"


Lalu Kyra berbalik, memutar haluan kembali ke arah ruangan yang dimasukinya tadi. Aku berdecak saat kupikir sepertinya memang mau nggak mau aku harus menerima tawaran Kyra itu karena suhu di tempat ini dingin banget! Sebelum aku jatuh sakit, masuk angin, seperti yang si Kira-kira ucapkan padaku tadi!


Aih, sial. Sial!


"Eh, tunggu!!" Seruanku ini lantas membuat Kyra memutar badannya, menghadapku lagi. Dia mengangkat alisnya ke atas seolah sedang bertanya 'ada apa' padaku.


"Yaudah, yaudah, gue mau..." cicitku akhirnya. Menahan rasa kesal yang teramat di dada. Kalau aja bukan karena terpaksa oleh keadaan... huh!

__ADS_1


"Benaran nggak apa warna pink?" Tanyanya dengan nada memastikan.


Aku mengangguk lemah. Terpaksa, ini karena terpaksa!


"Yaudah, nih..." lalu, hoodie pink terkutuk itu akhirnya berada di tanganku.


Aku mendesau. Akhirnya setelah sekian tahun berlalu, aku kembali memakai warna pink.


Hah, sialan.


***


- Kyra -


Aku mengempat tawa sebisaku saat kulihat Delvin dengan wajah ditekuk andalannya itu, sekali lagi. Entah kenapa bibirnya yang mencebik itu tampak lucu dan menggelikan yang masih enak dilihat alih-alih tak rupawan yang memuakkan.


"Pfftt..." aku menutup mulutku seketika saat tawaku mulai menyembur tak tertahan.


Delvin melotot. Meski begitu nggak lantas membuatku enggan menertawakannya. Dan sekarang perutku seperti terkocok!


"Pfftt... BWAHAHAHAHAHA!!" Akhirnya tawaku pecah juga. Oh, Ya Allah... agak terlalu berlebihan sih sepertinya, tetapi tawa ini berhasil membuatku merasa lega.


"Ketawa... ketawa aja terus. Sepuas lo!" Mata Delvin memicing tajam menatap ke arahku. Terlihat dari kilatan matanya itu bahwa dia sedang mengutukku habis-habisan.


Dan meski kalimatnya itu seolah menyuruhku meneruskan tawaku, namun aku paham sekali kalau arti sesungguhnya dari kalimat itu adalah kebalikannya! Ya, jauh dari lubuk hatinya dia ingin aku diam!


Sementara Delvin hanya menyipitkan mata menatapku tajam, dan kemudian mendengus kesal.


Aku nyengir.


Sebenarnya, aku paham betul mengapa dia tak suka atau lebih tepatnya benci pada semua hal berwarna pink, terlebih itu pakaian!


Delvin, dulunya, pernah terlibat insiden yang mengakibatkan perasaan benci itu. Aku yakin pada saat itu kami masih duduk di bangku SD kelas 3 saat dia dihadiahi pesta kejutan juara pertama seangkatan oleh Neneknya. Pada saat itu, Nenek Delvin tiba-tiba datang ke sekolah, mengundang semua murid di kelas termasuk aku untuk datang ke rumah beliau sepulang jam sekolah. Mulanya Delvin tampak antusias dengan pesta kejutan Neneknya itu, namun saat kami semua sudah berada di lokasi acara seketika suasana hatinya berubah. Auranya mendadak suram dengan tampilan wajah yang ketus. Apalagi saat Neneknya menampilkannya dengan setelan serba pink, wajah Delvin seketika merah padam!


Aku ingat betul bagaimana wajah geram Delvin saat diejek oleh teman-teman lelaki yang lain dari kelas kami. Entah yang mereka mengatainya 'banci, pinky boy, atau cowok jadi-jadian. Dan dari situ lah, mulanya mengapa Delvin bisa membenci warna pink.


"Sebenarnya gue nggak ngetawain lo karena pakai hoodie pink loh, Vin. Gue cuman ketawa karena tampang lo itu laugh-able." Seruku. Sementara dia tampak tertarik dengan ucapanku barusan hingga akhirnya membuatnya yang mulanya tak mengacuhkan aku, jadi kembali memerhatikan wajahku lagi.


"Sadar nggak sih? Kalau dari tadi bibir lo itu mencebik kayak gini," aku mulai menirukan gaya cemberut ala Delvin yang masih teringat jelas dalam benakku. Yang otomatis membuat Delvin melipat bibirnya ke dalam.


"Kayak bebek gitu, tahu nggak?! Kan jadi kocak gue lihatnya!" Lalu, aku terbahak-bahak. Sungguhan deh, ini karena bayangan wajah Delvin yang masih melekat kuat dalam ingatanku! Haha.


"Jangan bikin ekspresi kayak gitu kenapa, Vin! Gue nggak kuat banget buat nggak ngakak!" Imbuhku yang lagi-lagi diiringi tawa.


"Sialan lo!" Makinya padaku. Namun kemudian--entah ada angin apa, tahu-tahu dia jadi tersenyum.


Ah, mungkin karena efek dari tawaku yang geli ini kali yaa, hingga membuatnya nggak tahan untuk nggak ikutan. Hehe.

__ADS_1


"Menurut lo gimana kalau gue pakai baju warna pink kayak gini?" Tanyanya tiba-tiba. Membuatku sejenak memerhatikannya lebih lagi tanpa sadar.


Aku menyipitkan mata. Menilai. Delvin pakai hoodie pink ini ya...


"Oke-oke aja, kok." Aku mengangguk pasti.


Dia mengernyit. Nampak nggak puas dengan jawabanku barusan. "Oke gimana?"


"Ya, fine aja gitu dilihatnya."


"Fine-nya itu gimanaaa??" Dia mendecak. "Kasih penjelasan yang detail dong!"


"Ya, pokoknya oke dan nggak ada masalah gitu lah!" Aku mendengus, jengah. "Masa, gitu aja nggak ngerti sih?!"


Kemudian, Delvin menatapku lurus-lurus. Yang lantas membuatku merasa hawa aneh berada di sekitarku. Delvin memiringkan kepalanya masih menatapku lurus. "Maksud lo... ganteng?"


"Ha?!" Refleks, kedua alisku langsung tertarik ke atas.


"Eheii..." Delvin mencebikkan bibirnya seakan mengejekku, lengkap dengan dengusan tawa yang amat mengganggu! "Yaelah, sok syok segala! Padahal dari tadi lo mau bilang gitu kan? 'Delvin ganteng', gitu kan??!"


Aku tertawa mendengus mendengar kenarsisannya itu. Bahkan aku sampai kehabisan kata-kata karena sikap percaya dirinya yang amat berlebihan. Ckck!


"Tuh, kan, benar!" Serunya senang.


Aku memutar bola mata. Meski sebenarnya aku setuju dengan ucapannya itu, namun mengatakannya secara terang-terangan di depan wajah Delvin adalah hal yang paling aku hindari.


"Eh, lapar nggak? Mau makan mie nggak?!"


"Aihh... mengalihkan perhatian lagi!" Delvin menyeringai. Dia kelihatan puas banget memojokkanku seperti ini yaa?!


"Fix, berarti emang benar. Dalam hati lo emang berkata kalau gue ganteng!" Tukasnya mengambil kesimpulan.


Aku menghela napas jengah. Rasanya topik ini nggak akan ada habisnya kalau aku nggak menyerah. "Iya, iya, ganteng! Makanya lo pakai terus dong baju pink kayak gitu, biar bisa gue puji ganteng terus!"


"Ogah!" Dia membalas cepat.


Aku mengernyit. "Kenapa?? Katanya tadi mau gue bilang ganteng??"


"Elo yang suruh. Ya, gue nggak mau."


Jawabannya itu langsung membuatku mendengus keras. Dasar ya, dia ini maunya apa coba?!


"Lagian, tanpa lo bilang, gue juga udah tahu. Orang-orang sering bilang gitu tuh,"


Rasa-rasanya aku ingin memukul wajah slengek-annya itu sekarang juga!


__ADS_1


__ADS_2