
Kyra -
Semua berjalan dengan semestinya.
Seperti rencana yang dia katakan, Delvin berserta keluarga intinya ditambah dengan Om-nya yakni Om Danu datang esok harinya setelah malam itu. Mereka mengungkapkan niat dari kedatangan mereka ke rumah kami.
Hari itu, keluarganya tak banyak bicara. Aku tahu, Mamanya memang tipikal orang yang pendiam. Nggak heran kalau beliau hanya bicara ketika diperlukan saja. Adiknya, Dion, anak itu memang cuek orangnya. Bersedia datang ke acara seperti ini saja sudah syukur! Mungkin hanya Om Danu dan Delvin lah yang banyak bicara untuk memecah suasana.
Namun, meski begitu, acara lamaran resmi kami hari itu terbilang lancar dan mulus-mulus saja. Sampai akhirnya dalam acara itu disimpulkan bahwa acara pernikahan akan dilaksanakan bulan depan dan dengan konsep "suka-suka yang nikah".
Hahh... itu konsepnya Delvin! Dia yang mencetuskannya, bukan aku!!
Lalu sekarang, di sini lah kami berada, duduk berlesehan di teras belakang rumahku sembari bertukar pikiran dengan sesekali dahi mengerut. Kami duduk saling berhadapan dengan sebuah meja kayu kecil yang memisahkan jarak. Posisi yang paling nyaman untuk berdiskusi bersama guna merancang acara yang akan dilaksanakan dalam waktu kurang dari sebulan ini!
Sungguh waktu sebulan memang lah amat singkat untuk mempersiapkan acara sebesar pernikahan. Yah, Delvin memang agak kurang waras. Karena waktu yang singkat ini adalah idenya!!
Aku mendengus, menatap nya dengan sengit. Mendadak kesal setengah mati, setelah mendengarnya mengemukakan ide tentang konsep pernikahan yang ingin dia wujudkan, baru saja.
"Lo gila ya??" Dengusku tak tertahan, yang akhirnya keluar juga.
Dia mengernyitkan hidungnya, langsung menatapku nggak terima. "Apanya yang gila, sih?!"
Aku mendesah. Jengah. "Heh, Vin, lo lupa... kalau pernikahan itu bakal dilaksanakan bulan depan??" Lalu berdecak.
"Gue inget kok. Kan, gue sendiri yang nentukan tanggalnya." Jawabnya enteng. Membuatku makin naik darah aja jadinya!
"Teruss... kenapa lo malah kasih ide yang nggak masuk akal begitu?!" Sungutku. "Nggak mungkin, dengan persiapan singkat bisa bikin acara yang super ribet begitu!" Marahku padanya. Jujur saja, dengan idenya yang meminta untuk mengadakan
__ADS_1
acara adat lengkap dengan resepsi mewah adalah hal yang paling nggak pernah aku pikirkan selama setuju untuk menikahinya!
"Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini kalau kita mau berusaha!" Lagi-lagi dia menjawab dengan amat mudahnya.
"Duit siapa yang mau lo pake, Vin??" Aku menghela napas. "Bikin acara biasa aja emang kenapa sih? Yang minim persiapan, minim budget!"
"Duit gueee! Jadi, lo tolong diem aja. Jangan banyak protes!" Balasnya yang dalam sekejap langsung menutup mulutku rapat.
Setelah perdebatan terakhir tadi, aku masih diam saja. Mendengarkan semua ide yang dia pikirkan. Dimulai dengan menggunakan jasa desainer ternama, menyewa tempat di hotel berbintang, dekorasi super mewah, makeup artist mahal yang kutahu... dan juga memesan tiket untuk bulan madu!
Apa? Bulan madu?? Astagaa...!! Bisa-bisanya dia memikirkan hal yang seharusnya nggak perlu dipikirkan itu! Ya, jelas, karena dalam perjanjian kami mana ada acara bulan madu segala! Aku sungguh nggak habis pikir padanya...
"Heh, Vin," panggilku. Seketika dia pun mengedikkan dagu, menatapku. "Gue cuman mau mengingatkan, kita ini bukan pasangan pada umumnya loh! Jadi, lo nggak perlu repot pikirin acara bulan madu segala!"
Delvin membalas tatapanku. Dari tatapannya itu terlihat bahwa dia nggak setuju dengan apa yang kukatakan padanya barusan. "Lo pikir... keluarga kita nggak bakalan curiga kalau kita nggak pakai bulan madu? Heh?!"
"Ya, kan, bisa pakai alasan apa kek!" Aku menolak argumennya.
Delvin mengangkat alis tebalnya itu ke atas. "Apa?!"
"Tapi pada kenyataannya nggak ada tuh!" Tukasnya memotong kalimatku tiba-tiba.
Aku mendengus. Kesal. Padahal aku belum juga selesai bicara. "Yaudah, kalau gitu biar gue aja. Gue bisa kok adain alasan. Toh, kalau gue bilang harus ke Bandung buat ngurusin projek sepatu gue, semua orang juga pasti bakal percaya."
"Hal yang nggak ada mau lo ada-adain?" Kemudian, dengan sarkasnya dia tertawa mendengus. "Sama aja bohong kalau gitu!" Sontak dia menggeleng keras. "Nggak! Gue nggak setuju! Seenaknya aja lo nambahin dosa gue pas masih jadi pengantin baru!"
Aku mengernyit. "Siapa juga yang mau nambahin dosa lo! Kan, gue yang bohong. Ya, gue yang dosa lah!"
"Emang lo pikir... peran suami itu apa? Tanggung jawab kepada istrinya, termasuk bila istrinya berbuat salah suaminya bisa ikut berdosa juga. Paham?!" Balasnya yang langsung membuatku skakmat!
Aku mendengus. Dalam sekejap merasa pupus harapan. Meski aku nggak suka dengan idenya, tapi tentang kalimatnya barusan itu memang ada benarnya. Yah, sudah kodratnya pemimpin memikul beban yang lebih berat dari anak buahnya. Huh, lalu aku harus gimana?!!
__ADS_1
Setelah beberapa saat kami berdua hening, kemudian, dengan perlahan dia pun memanjangkan lehernya ke depan. Menipiskan jarak yang membentang di antara kami. Mendekat pada sisi kepalaku. Lalu berbisik, " Lo nggak usah takut... Gue nggak akan ngambil kesempatam dan minta jatah malam pertama pas bulan madu nanti kok,"
Delvin lantas menjauhkan kepalanya dengan menyisakan senyuman tersirat yang amat mencurigakan di mataku!
Aku mendengus. Entah kenapa aku jadi kesal akibat kalimat menggodanya barusan!
"Apa sih? Siapa juga yang mikir sampai ke sana-sana!" Balasku mengelak. Meski sebetulnya dalam lubuk hati aku mengakui bahwa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran. Pada kenyataannya memang benar aku amat khawatir tentang dia yang mengingkari perjanjian kami dengan adanya momen itu!
Delvin mencebikkan bibir. Tak percaya pada kata-kataku.
Aku mendesah dalam hati. Mengutuk dan menyesali apa yang kukatakan tadi. Ingin rasanya aku menarik sangkalan itu.
Lagi pula kenapa sih aku pakai sok menyangkalnya segala? Memangnya kalau pada kenyataannya seperti itu kenapa?? Huh! Kenapa sih sekarang aku merasa seperti sedang salting sendiri?!!
"Meski begitu, gue akui ke gentle-an lo. Gue harap sampai perjanjian kita selesai, lo gak akan berubah." Ocehku mencoba bersikap wajar.
Delvin menyeringai. "Gue adalah pria yang bisa dipegang kata-katanya. So, don't be worry!"
Baiklah.
Akan kutunggu pembuktiannya!
***Hallo teman-teman semua!
Ini Icha, hanya mau mengucapkan, terima kasih yaa atas kesabaran kalian yang mau menungguku comeback dari hiatus hehe. Aku harap kalian lebih enjoy dengan karyaku. Tolong SHARE & COMMENT yaa! Biar aku semakin semangat nerusin karyaku di siniđź’•
Oiya, jangan lupa baca ulang ceritaku yang berjudul; NIKAH TAPI MUSUH yaa karena semua isi ceritanya aku rombak total! Pokoknya ceritanya gak akan sama dengan yg lama. Kutunggu komenmu di sana yaaa #uwuuw
Luv Luv!
__ADS_1
^^^Regrats,^^^
^^^Icha***.^^^