
Kyra -
Tepat sebelum membuka pintu aku menghela napas dalam-dalam. Mengumpulkan energi positif entah bagaimana. Intinya, cara ini aku tahu karena membaca dari sebuah artikel di Google.
Untungnya suasana rumah sedang sepi karena semua orang sedang berbelanja keperluan rumah tanggaku juga kebutuhan calon cucu penerus pertama keluarga kami. Keponakan pertamaku!
Sementara itu aku ditunggalkan di rumah karena dianggap sedang masa pingitan. Entah lah, orang tuaku nggak begitu peduli kecuali Mas Kamil yang mati-matian membuatku tak boleh keluar rumah!
"Jangan macem-macem di rumah! Apalagi ketemu Delvin! Sebelum akad terucap, jangan harap kalian bisa ketemu. Paham?!"
Kira-kira begitulah nada kalimat Mas Kamil yang begitu syarat mengancam sesaat sebelum pergi tadi. Tck, dasar berlebihan!
Aku menghela napas panjang. Sudahlah, saat ini ancaman Mas Kamil itu tak penting.
Yang penting adalah... Menyerahkan undangan ini buat Bang Ezra!!
"Bismillah," dengan segenap tekad yang ada aku lantas berjalan keluar. Bersama dengan sepiring kue bolu yang kubuat siang tadi, juga kertas undangan yang sudah kupegangi erat di tangan kiri. Lantas aku berjalan dengan hati cemas menuju pintu pagar hitam di sana. Jalanan basah bekas aliran air yang muaranya dari rumah Bang Ezra langsung mengingatkanku pada chat Delvin tadi tentang Bang Ezra yang sedang mencuci mobilnya.
Namun, saat menilik mobil yang masih berada di tempatnya membuatku yakin kalau setelah mencuci mobilnya tadi Bang Ezra tidak pergi ke mana-mana. Dia ada di rumah!
__ADS_1
Aku menghela napas, berat. Perasaanku seketika berubah nggak karuan. Membayangkan reaksi Bang Ezra dalam dua hal membuatku mendadak sakit perut.
Mungkin Bang Ezra bisa biasa saja melihat undangan pernikahan itu, tetapi jika reaksi yang dia tunjukkan malah sebaliknya... Apakah aku nggak akan goyah??
Bila Bang Ezra menangisi pernikahanku dengan Delvin, apa aku akan tetap setia pada perjanjianku dengan Delvin??
Aku termenung sesaat, namun otak warasku berdenging membuatku sadar, lantas menggelengkan kepala. Sungguh, aku nggak yakin aku bisa mengatasinya. Hatiku... Hatiku ini terlalu rapuh. Aku yakin, bila melihat Bang Ezra menangis atau pun marah, menolak pernikahan ini, dalam sekejap saja aku sangat yakin kalau aku bisa berubah pikiran!!
Yang tadinya sudah berdiri di depan pagar rumahnya, aku lantas berputar haluan. Ketidak yakinanku membuat nyaliku ciut.
"Udah deh, mending minta tolong Mas Kamil aja deh, nanti."
Aku masih terus menggeleng-gelengkan kepalaku. Tetapi mendadak teringat dengan ultimatum Delvin padaku. Katanya, harus aku yang menyelesaikan perasaan ini, bukan dan tidak boleh orang lain!
"Hadapi... Kabur? Hadapi... Kabur?? Hadapi... Kabur???" Gumamku pelan.
"Neng Kyra? Cari Mas Ezra ya??"
Aku terkesiap. Seketika aku langsung memutar tubuhku ke belakang. Dengan mata membulat penuh aku membalas tatapan hangat Bik Yeni, asisten rumah tangga yang sudah bersama keluarga Bang Ezra bahkan sejak sebelum mereka pindah ke komplek ini.
Bik Yeni yang menghampiriku dan membukakan pintu pagar tanpa diminta langsung membuatku tersenyum kikuk.
"Kenapa nggak langsung masuk aja, Neng? Mas Ezra lagi di rumah aja kok, lagi nggak ada syuting katanya." Ujar Bik Yeni yang kemudian mempersilahkankan aku masuk.
__ADS_1
Aku menghela napas panjang. Mungkin aku nggak ditakdirkan untuk menjadi pengecut.
"Iya, Bik, makasih ya..." Kataku yang entah mengapa jadi bersikap kaku.
Bik Yeni tersenyum lembut, seperti biasa. "Sebentar, biar Bibik panggilkan Mas Ezra ya... Tadi sih, orangnya langsung masuk kamar. Istirahat sih kayaknya, habis cuci mobil soalnya..." Jelas Bik Yeni sembari tertawa renyah. Sementara aku hanya bisa manggut-manggut saja mengikuti langkah di belakang beliau.
"Bik, Kyra tunggu di sini aja ya," Ucapku, tepat saat kami sampai di depan pintu utama.
"Loh, nggak mau masuk aja, Neng?" Tawar Bik Yeni.
Aku lantas menggeleng. Tak lupa dengan senyuman semanis mungkin yang kubisa.
Bik Yeni mengangguk paham. Lantas beliau pun berjalan masuk ke dalam. Sementara itu aku tetap berdiri di ambang pintu dengan hati yang harap-harap cemas.
Sebetulnya dalam hati kecilku, ada sebersit keinginan untukku melihat reaksi lain Bang Ezra alih-alih bersikap biasa saja. Sejujurnya aku ingin melihat air mata itu menetes untukku. Sekali saja, hanya sekali saja aku ingin membuktikan bahwa perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan. Aku ingin membuktikan pada dunia, bahwa kesabaranku selama belasan tahun itu mampu menerima buah manisnya.
Tetapi, bila memang itu yang terjadi... Mampukah aku menahan diri untuk nggak kembali padanya??
......\=\=\=\=\=......
...Hayooo, mampu gak nih si Kira-kira?? xixi...
...Komen yang buanyaaakk yahh biar aku syemangat lanjutinnya, hayoo mau aku cepet update gak 😝...
__ADS_1