Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.5 | A : Seriously!


__ADS_3


Kyra -



Aku memasang helm bogo berwarna hitam bercorak coklat ini di atas kepalaku. Lalu mengaitkan tali pengaitnya di bawah dagu. Menatap punggung berlapis jaket kulit itu, aku menghela napas panjang.


Akhirnya aku berakhir di sini juga. Aku menghela napas panjang. Berdecak dalam hati, mengutuk Kanaya yang sudah pergi lebih dulu daripada kami bersama dengan Om dan Tantenya tercinta.


Kalau saja dia tak mencetuskan keputusan itu. Kalau saja dia tidak mendadak "cerdas" dan mengungkapkan ide briliannya itu. Aku pasti tak akan terjebak bersama Delvin seperti ini!


"Oi!" Delvin yang sudah rapih dengan memegang gagang stang motor besarnya ini, bersiap menarik gas pun menoleh ke belakang. Ke arahku tepatnya berada. "Ayo naik, keburu siang. Makin panas loh!" Serunya. Membuatku mendengus.


Memang tak ada jalan lain selain aku pulang bersama Delvin. Sekali lagi, kuhela napas panjang. Kemudian aku naik ke atas jok tepat di belakangnya.


Demi menjaga jarak, agar kecanggunganku yang masih tersisa bekas tadi malam tidak muncul lagi, maka aku harus hati-hati agar tak sembarangan berkontak fisik dengannya meski pun hanya sebatas memegang bahu.


"Pegangan kali! Awas jatoh nanti," Delvin pun memberi peringatan. Ya, tentu saja karena aku yang asal naik tanpa pegangan padanya.


"Selow aja sih. Gue jago kok!" Balasku selagi membetulkan letak dudukku di atas jok agar lebih nyaman.


"Jago apa?" Tanyanya.


"Jago naik jok motor tanpa pegangan lah! Gitu aja tanya." Dengusku.


Dia pun berdecih. Karena berada di balik punggungnya aku jadi tak bisa melihat ekspresi wajahnya secara langsung, namun mendengar getar suaranya aku yakin dia pasti sedang tertawa kecil sekarang!


Mataku menyipit tajam. Menganalisis dengan segala pikiran yang menyebar ke mana-mana. Namun pada akhirnya tetap mengerucut pada; dia yang masih berusaha meledekku seperti kejadian semalam. Kurang asem, ya, Delvin!


"Baca doa... jang-an lu..."


"Gue bukan anak kecil!" Teriakku padanya menahan kesal. Apa-apaan coba dia ini?!


Dia terkikik, menertawakanku. Kebiasaannya yang tak pernah hilang kurasa. Gara-gara pernah beberapa kali aku terpancing menjawabnya saat dia memperlakukanku begitu, akhirnya malah membuatnya jadi kebiasaan menggodaku selayaknya bocah 5 tahun. Dasar!

__ADS_1


"Jangan ketawa!" Ketusku. Namun dia tetap saja terbahak-bahak, mengabaikan peringatanku.


"AAWWW!!" Tawanya terhenti seketika. Kepalanya terputar otomatis menghadapku lengkap dengan pelototannya yang tajam berikut rona wajahnya yang memerah. Entah itu karena tawanya tadi atau menahan marah atas ulahku.


Aku menaikkan alis mataku ke atas. Membalas tatapannya dengan ledekkan. "Apa? Mau bilang apa?!" Tantangku. Sedetik kemudian, kuganti tatapanku menjadi lebih tajam. Menyiratkan peringatan tegas. "Cepet jalan, atau kena macet!"


"Gara-gara lo sih, nyubit-nyubit! Jadi nggak jalan-jalan kan! Makanya lo tuh harusnya..." Balasnya malah menyalahkanku dengan segenap kebawelannya yang kadang melebihi Kakak Tua!


Tak terima, akhirnya kugunakan tisu yang sejak tadi kupegang di tangan ini untuk menyerangnya. Segera saja kupanjangkan tanganku ke depan. Lalu berusaha membekap mulutnya dengan tisu itu membuat suaranya yang terus bicara itu teredam tak jelas karena bekapan tanganku. Aku tersenyum senang melihatnya gelagapan sampai menjauhkan tanganku darinya dengan segenap kekuatannya itu. Haha, rasakan!


Kepalanya kembali putar, menghadapku. Wajahnya meradang, marah. "Heh! Lo mau bunuh gue?!"


"Apaan sih?! Yang gue bekap kan, mulut lo. Bukan hidung lo. Nggak ngaruh lah sama pembunuhan!" Balasku tak gentar.


"Tapi tadi kena hidung gue, Cerdas! Lo hampir nutup hidung gue tadi, asal lo tau!" Ujarnya sarkas dengan mata yang melotot-melotot. Dia geram.


Namun daripada itu aku lebih fokus pada pengakuannya barusan. Masa iya bekapanku mengenai hidungnya? Kok aku nggak sadar sih?! Logikaku bertanya-tanya sampai membuatku garuk-garuk kepala. Meski aku kurang yakin soal itu, tapi pada akhirnya aku meringis. Membuat sedikit penyesalan di wajahku.


"Sori... hehe, nggak sengaja..." kataku meringis. Yang hanya membuatnya mendengus kasar. Delvin pun buang muka.


"Pegangan!" Serunya cepat.


Namun belum juga aku bersiap, tiba-tiba... "Brrrmm!"


Aku terpental ke depan. Mataku melotot lebar merasakan degup jantungku yang menghentak keras di dalam dada, nyaris copot. Aku terperanjat!


Nyaris saja aku jatuh. Kalau saja tadi aku tak sigap. Dan, untungnya tubuhku ini masih waras sehingga tak sampai aku memeluknya demi menyelamatkan diriku sendiri. Bersyukur, aku malah menarik jaketnya seperti ini.


"Pelan-pelan dong, Delvin! Gue kan, nyaris aja jatoh!" Marahku padanya.


"Kan, gue udah bilang, pegangan! Salah lo sendiri kenapa nggak mau pegangan, yeee.." balasnya enteng. Dan sukses membuatku makin sebal.


Aku merutuknya dalam hati. Ingin rasanya aku menohoknya dengan bogeman mentahku. Namun mengingat sekarang kami sedang dalam perjalanan di jalan raya yang ramai, akhirnya kuurungkan niat burukku itu demi keselamatan bersama.


Aku diam. Tak lagi bicara apa-apa, begitu pula dia yang terfokuskan pada jalanan di depan. Hanya mengatur napas agar ritme jantungku yang tadi sempat menggila akibat syok itu mereda. Aku menatap punggung belakangnya sengit.

__ADS_1


Awas saja dia nanti, sampai rumah aku akan beri dia pelajaran!


***


Peta satelit mengatakan, bahwa kami akan tiba di tujuan jika kami telah menghabiskan waktu di jalan selama 3 jam, kurang lebih.


Aku meringis memegangi perut. Mereka sudah menggelar konsernya dan membuatku jadi tak nyaman. Betul, maksudku adalah cacing-cacing di perutku. Mereka kelaparan, bukan, aku lapaaarr!


Melirik jam di ponsel, belum sampai tengah hari. Adzan dzuhur pun belum berkumandang, tapi aku sudah kelaparan. Tentu aku amat tahu penyebabnya, itu karena aku tak sarapan sebelum pulang. Hm, sebenarnya bukan hanya aku saja tapi semuanya pun tak sarapan. Tentu termasuk Delvin.


Tap. Tap! Aku menepuk bahunya agak keras. Hingga membuat kepalanya yang semula lempeng, lurus ke depan menjadi bergerak mundur sedikit ke belakang.


"Kenapa?" Tanyanya. "Lo mau pipis?" Tebaknya sok tahu.


"Bukan..."


"Terus?"


"Gue laper,"


"HAH?!"


Suaraku yang teredam suara bising kendaraan berknalpot racing yang baru saja melewati kami beberapa detik lalu membuatnya tak mampu mendengar suaraku lebih jelas.


Maka, kuulangi kalimatku. "GU-E-LA-PERRRR!" Teriakku penuh dengan penekanan.


Sepersekian detik kemudian, dia langsung menolehkan kepalanya hingga mampu melihat wajahku dengan sempurna. Untung saja dia melakukannya saat sedang perhentian lampu merah. Kalau tidak, kami pasti akan celaka akibat matanya yang meleng ke mana-mana.


"Laper??" Tanyanya memastikan. Aku mengangguk cepat.


Delvin menatapku sesaat seperti sedang menimbang keputusan. Tak sampai perlu waktu lama hingga dia membuat keputusan.


"Yaudah, ayo istirahat. Kita cari makan." Putusnya. Yang langsung membuatku berteriak girang dalam hati.


__ADS_1


__ADS_2