
Kyra -
Aku berjalan secepat mungkin yang kubisa. Kalau bisa aku ingin pakai gerak seribu langkah kayak ninja-ninja itu agar aku bisa lebih cepat menghilang darinya. Iya, dia, Delvin, maksudku!
Risih. Begitu lah yang kurasakan kala melihat wajahnya yang tersenyum. Sungguh amat mengganggu! Entah kenapa.
"Cklek." Pintu itu kukunci rapat-rapat. Tanpa sadar aku malah mengatur napas seolah kelelahan tersebab aku yang melarikan dari mara bahaya.
Sambil terbengong-bengong sendiri menatap heningnya kamar ini, pikiranku malah melayang jauh. Terpikirkan lagi olehku tentang mimik wajah seriusnya. Mendadak, suaranya pun terngingang-nginang kembali terputar di pikiranku.
"Ayo nikah sama gue?! Kita berjuang bareng-bareng seperti harapan lo."
Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menggumam, "Apa katanya, tadi? Nikah? Berjuang bareng-bareng??" Kuulang sepenggal kalimatnya yang muncul di benakku tanpa permisi itu.
Lalu aku menggelengkan kepala, tertawa mendengus. Lebih memilih mengabaikannya daripada memikirkan apalagi mempertimbangkan. Pasalnya, aku amat tahu kalau Delvin tak mungkin mengatakannya kalau bukan karena berniat tuk menghiburku semata.
Aku baru saja hendak berlalu, namun tiba-tiba teringat oleh mimik seriusnya itu lagi. Dia begitu serius saat mengucapkannya, suara hatiku mulai berisik. Membuatku meringis frustasi sampai aku mengacak-acak rambutku hingga kusut.
"Dasar Delvin kurang ajar! Berani-beraninya dia bercanda kayak gitu!" Makiku tanpa bisa kutahan.
Tak mau makin frustasi, aku pun memilih pergi ke kamar mandi tuk melakukan kebiasaan yang selalu kulakukan sesaat sebelum tidur. Gosok gigi, itu dia kebiasaan yang telah mendarah daging sejak diriku masih kanak-kanak. Hehe.
"Tok, tok!"
Kakiku yang baru saja selangkah keluar dari kamar mandi pun seketika membeku di tempat. Suara ketukan pintu yang amat jelas terdengar telinga membuatku spontan jadi waspada.
Jangan bilang kalau Delvin lupa tutup pintu dan pencuri masuk?!! Pikiran burukku ini langsung meracau. Namun saat kudengar suara dehaman pelan yang akrab terdengar di telingaku ini lantas membuatku menghela napas lega hingga tersenyum tanpa sadar.
Tak berangsur lama, setelahnya terbit lah wajah kesalku. Aku menghela napas jengah menatap pintu yang tertutup itu. Sebenarnya dia mau apa lagi sih?!
"Tidur yang nyenyak Kira-kira, Bang Delvin sayang kamuh!" Lalu hening.
Tak lama dari itu pun terdengar suara debaman pintu yang tertutup perlahan. Artinya, dia sudah kembali ke kamar pribadi sekarang.
Aku berdiri mematung di tempat. Rahangku terbuka. Mulutku menganga takjub. Perlu waktu tiga detik sampai kusadarkan diri.
"Orang gila...!" Makiku, tak habis pikir. Kemudian aku bergidik geli sendiri. Balik badan, aku memilih kembali ke kamar mandi. "Gue perlu muntah, rasanya!"
__ADS_1
Dasar Delvin gila!
***
Aku tak tahu kenapa aku tahu-tahu bisa berada di tengah-tengah padang sabana sepi manusia begini.
Sejauh mataku memandang, yang ada hanyalah rerumputan yang sudah kering menguning di bawah langit berwarna biru cerah. Meski matahari kelihatan terik, anehnya aku malah merasa dingin.
Berniat mencari orang lain yang mungkin ada bersamaku di tempat asing ini, aku putuskan untuk berjalan lurus. Terus, terus dan terus... sampai akhirnya aku menemukan sebuah pohon tinggi yang daunnya rimbun berwarna paling hijau di sini.
Aku tak mengerti. Seakan mempunyai naluri alami dan mendapat ilham entah dari mana, aku malah berjalan makin mendekati pohon itu.
Begitu tiba tepat di depannya persis, aku terperangah oleh ketinggiannya. Kepalaku sampai mendongak ke atas agar kudapat melihat puncak rantingnya bermuara. Tiba-tiba sesuatu terlempar dari atas dengan seutas tali hitam yang membuatnya meluncur dengan kekuatan penuh begitu cepat hanya selama sepersekian detik. Mataku menyipit, menegaskan pengelihatan, dan...
"Doeeengg~"
Wajah penuh senyum itu muncul terbalik di depan mataku. Aku terperanjat kaget. Rasanya, mataku terbelalak sampai nyaris copot karena saking lebarnya. Ingin berteriak tapi entah bagaimana suaraku seakan hilang. Aku tercekat. Ingin menjauh tapi seperti tertahan, terpaku oleh paku kasat mata. Aku tak bisa melakukan apa pun selain menatap wajah dan tubuh terbaliknya yang menggantung-gantung layaknya pemain sirkus.
"Hai, Kira-kira..." tangannya melambai semangat. Tak lupa dengan senyum yang teramat lebar, nyaris membuat pipinya robek sedikit lagi saja.
"Ayo nikah sama gue?! Kita berjuang bareng-bareng," lanjutnya lagi. Membuat mataku terbelalak lebar.
"Ayo nikah sama gue." Lagi-lagi dia tersenyum amat lebar.
"Ayo nikah sama gue..." kini, gelenganku makin cepat gerakannya. Menolaknya mentah-mentah.
Namun bukannya berhenti, suaranya itu malah terputar berulang-ulang selayaknya kaset rusak.
"Ayo nikah sama gue...."
"Ayo nikah...."
"Ayo nikah....."
"Ayo nikah. Nikah. Nikah. Ni... kah....!!!"
Aku menggeleng makin keras. Demi apa pun ini mimpi buruk!!
"NIIII... KAAAHHH--"
"NGGAK MAUUUUUUUUUUUUUU!!!!!"
__ADS_1
...
...
...
"NGGAK MAUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!"
Dengan banyak peluh membasahi dahi, aku terbangun dari tidurku dengan mataku yang terbelalak seketika. Napasku memburu tanpa ampun. Aku yang terbangun dari posisi rebahanku menjadi setengah duduk kini hanya bisa membalas tatapan aneh orang yang kini sedang berdiri terpaku di depanku.
Kanaya menatapku dengan alis terangkat. Wajah terkejutnya mewakili bahwa dia pun terpekik dengan igauanku barusan. Aihh... bisa-bisanya kejadian semalam terbawa sampai ke mimpi begini sih?!
Sungguh, sekarang ini, aku mengutuk Delvin juga candaannya yang kurang ajar itu. Salah siapa coba, aku jadi seperti ini?!
Kanaya menatapku lurus. Dia yang sepertinya habis mandi karna rambutnya basah itu pun bertanya dengan wajah polosnya bak balita tanpa dosa. "Apanya yang nggak mau?"
Seketika itu juga aku menelan ludah mentah-mentah. Aku pun tak tahu kenapa hal sepele begini malah membuatku gugup setengah mati. Otakku berpikir, penjelasan apa yang cocok kuberikan untuk menjawab pertanyaannya? Pasalnya, aku enggan jujur mengenai mimpiku barusan atau pun kejadian tadi malam. Aku yakin kalau aku jadi menceritakan semua itu kepadanya, kehebohan pagi ini tentu akan segera terjadi. Tidak usah! Tidak perlu!! Aku tidak mauuu!!!
Kanaya mengernyit bingung. "Ra, lo mimpi apa sih? Serem banget apa? Sampai syok gitu ngigaunya?!" Raut wajahnya kini berubah khawatir. Dia pun mulai berjalan mendekatiku dan kemudian duduk di tepi ranjang bagianku.
"Hah?!" Aku garuk-garuk kepala. Mimikku sebisa mungkin sudah kuatur agar aku bisa terlihat bodoh di hadapannya. Aku mengernyit, berlagak berpikir. "Mimpi apa yaa? Kok gue jadi nggak ingat ya?!" Kataku pura-pura bodoh.
Hal itu tentu membuat Kanaya mengernyit heran. Alis lurusnya bahkan kini menjadi bergelombang. "Bisa-bisanya baru mimpi langsung lupa coba?!" Dia berdecak-decak jengah.
Aku nyengir garing. Enggan bercerita, lebih baik aku alihkan saja topiknya. "Ya pokoknya seinget gue, mimpinya tuh aneh banget, asli! Bikin gue bergidik. Tapi gue lupa juga gimana detilnya, hehe..."
"Dih, dasar!" Dia mendesis. Aku nyengir lagi, kali ini lebih lepas daripada yang sebelumnya yang terdengar agak terpaksa.
"Eh, lo mandi?" Tanyaku padanya, mendadak penasaran melihatnya mandi sepagi ini dengan rambut wangi yang basah.
"Eung." Kanaya mengangguk. "Udah sholat gue... makanya mandi kemaras deh pagi-pagi. Untung ada air panas, coba kalau nggak... duh, bisa mati kedinginan kali nih gue!" Curhatnya menggebu-gebu, seperti biasa. Membuatku terkekeh karena selalu merasa lucu dengan mimik wajahnya yang amat ekspresif itu. Haha.
"Heh, mandi sana lo! Sholat buru, udah jam lima nih, lewat setengah jam dari adzan!" Serunya memperingati dengan lagak sok tuanya seperti biasa.
"Siap, Bos!" Balasku semangat lengkap dengan tangan yang membentuk gerak hormat di dahi.
"Anak pintar..." pujinya sembari mengelus puncak kepalaku lembut. Tuh, kan dia memang kadang selalu seperti ini kala bersamaku. Menganggapku selayaknya anak kecil.
"Ote, Tak! Bial atu, udhu duyuu yaa Tak!" Balasku merespon keanehannya dengan berlagak cadel. Kontan, dia langsung meringis geli menahan muntah karenanya.
Kanaya menggeleng-geleng jengah. "Sumpah ya, Ra, bukannya imut lo malah menggelikan!" Dia bergidik, seketika berdiri dari duduknya meninggalkanku yang malah terbahak puas.
__ADS_1
Setidaknya, pagiku menjadi lebih cerah dari yang kuharapkan. Dan, semua itu karena sohibku yang paling kucintai, Kanaya!