Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.8 | B : D-DAY !


__ADS_3


Kyra -



"Ting!"


"Ting!"


"Ting! Ting! Ting!!"


Aku berdecak kesal melihat layar ponselku yang menyala terang. Pesan-pesan WhatsApp itu masuk menggerombol ke dalam notifikasi ponselku begitu saja ibarat teror. Nada deringnya amat mengganggu. Yang meski tanpa membuka pesannya pun aku sudah tahu siapa pelaku pengirimnya.


Lalu saat klik dan kubuka isinya, dan benar saja dugaanku. Siapa lagi kalau bukan Delvin Adinata, alias si manusia pembuat onar satu itu!


From : Delvin Jelek


Udah jam 8 teng!


Diterima Pukul 20.00 WIB


From : Delvin Jelek


Udah lewat dua! Oiiiiiii...


Diterima Pukul 20.02 WIB


From : Delvin Jelek


Gue karatan deh nunggu lo doang.


Diterima Pukul 20.10 WIB


From : Delvin Jelek


Katanya jam 8 teng? Preeeett!


Diterima Pukul 20.11 WIB


From : Delvin Jelek


BURUUUU


Diterima Pukul 20.13 WIB


From : Delvin Jelek

__ADS_1


BURUUU WOIII


Diterima Pukul 20.13 WIB


From : Delvin Jelek


LAMA BANGET! BUSEEETTT


Diterima Pukul 20.13 WIB


[...]


Rasanya ingin langsung kusemprot dia dengan kata-kata pedasku sekarang juga. Heran, cowok dewasa berusia nyaris seperempat abad kenapa bisa ada yang selebay ini sih?!


Aku mendengus keras. Sabarku sebenarnya sudah hampir habis di dalam dada. Tapi bukan Shakyra namanya kalau tidak bisa memupuk batas kesabaran lebih dari ini. Apalagi yang kuhadapi hanya seorang Delvin. Karena sesungguhnya di luaran sana ada yang lebih menyebalkan lagi dibanding dia. Ck!


Kakiku melangkah terus melangkah agak buru-buru menuju lantai atas, di mana letak kamar tidurku berada. Aku tahu aku telat, makanya kuusahakan untuk bisa sampai lebih cepat dari seharusnya. Yah, kalau bukan karena Ayah mendadak minta dimasakkan mie rebus pakai telur dua, aku tak mungkin akan jadi seterlambat ini!


Sorry, Delvin...


"Cklek!" Begitu masuk kamar, aku langsung terarah pada meja kerjaku berada. Menyiapkan berbagai berkas di sana yang telah kucetak semalam dalam kertas A4.


Setelah menemukan berkas yang kumaksud, kukeluarkan satu lembar dari sana. Memeriksa sebentar, membacanya ulang. Di saat ketika sudah oke, baru lah aku memalingkan wajahku menuju pintu balkon kamarku yang masih tertutup rapat.


Oh ya, tadi saat sampai pertengahan anak tangga sebelum sampai kamar, aku sengaja mengatifkan mode pesawat pada ponselku sehingga Delvin jadi tak bisa menggangguku lagi. Hehe. Habis dia mengganggu banget sih...!


Aku tersenyum tipis. Lalu membuang napas panjang-panjang sebelum akhirnya kembali melangkah ke depan dan membuka pintu putih itu kemudian.


***


- Delvin -


"Plak! Plak!" Dari tadi aku terus berperang dengan nyamuk.


Ugh, nyamuk kampret! Sini biar gue bantai lo semua! Kesalku dalam hati pada makhluk kecil penghisap darah itu.


Enggak tahu kenapa, malam ini banyak banget nyamuk. Padahal di hari-hari biasanya hanya ada satu atau dua aja yang kutangkap di mataku. Mungkin karena sekarang udah masuk musim penghujan kali ya, makanya tingkat mortalitas nyamuk jadi meningkat. Haha, macam sensus nyamuk aja aku pakai kata tingkat mortalitas segala!


"Nyamuk sialan! Sini lo berantem sama gue! Huhh..." makiku sambil menepukkan tangan ke segala arah, mencoba mengejar nyamuk yang mulai berterbangan akibat tubuhku yang bergerak mendadak.


Ya, siapa pula yang nggak bergerak karena kaget setelah kerasa sakit digigit nyamuk sih?!


"Semua gara-gara si Kira-kira nih. Gue yang duduk di sini malah jadi mangsa nyamuk!" Rutukku sekali lagi, entah udah yang keberapa kali banyaknya.


Aku mendengus kesal. Mempertanyakan kehadiran Kyra yang bahkan sampai pukul 20.35, sekarang ini belum juga tampak batang hidungnya. Apalagi, mendadak pesanku yang dikirim untuknya hanya bertanda ceklis satu, yang mana artinya "pending" atau not delivered yet!


Dan, keyakinanku adalah... si Kyra pasti sengaja menonaktifkan ponselnya itu sehingga aku nggak bisa lagi mengganggunya seperti beberapa belas menit sebelumnya. Sialan!

__ADS_1


Dalam posisi dudukku, sambil mengusap-usap betis kaki yang menjadi korban kekejian nyamuk tadi, aku berdecak. "Awas aja lo, Kira-kira, sampai kasih jawaban yang mengecewakan, gue apain lo-"


"Cklek." Seketika itu kepalaku mendongak ke atas, ke arah sumber suara itu berasal.


Seketika, aku menghela napas panjang sarat kelegaan begitu mampu kulihat wajah dengan mata yang sedang menyipit super tajam itu. Akhirnya... dia datang juga!


"Gue mau lo apain??" Alisnya yang agak tipis itu jadi berubah keriting. Matanya masih menyipit, menatapku sengit. "Eh, awas lo yaa... kalau niat macem-macem sama gue? Gue langsung bawa lo ke meja hijau!" Tegasnya memberi ultimatum padaku.


Namun, bukannya takut atau pun merasa terrancam aku malah merasa lega yang teramat sangat. Padahal tadinya kupikir dia berubah pikiran dan nggak mau menemuiku lagi seperti sebelumnya.


"Lama banget lo makan, sih?! Buseet! Padahal kabarinnya lagi makan dari jam setengah delapanan. Janji jam delapan teng, tau-tau telat empat puluh menit!" Aku berdecak jengah, geleng-geleng kepala. Menatap prihatin ke arahnya. "Dasar lo, mental jam karet. Tukang ngaret!"


Kyra meringis, dia hanya diam mendengarkan semua caci makiku tanpa komentar atau sanggahan sedikit pun. Mungkin dia pula merasa bersalah karena telat janji padaku. Yah, aku tahu sih, Kyra itu emang orangnya sungkan dan suka nggak enak hati.


"Iya, iya, sori... tadi gue disuruh Ayah masakin mie dulu buat beliau. Jadi lah, gue masak dulu sebelum balik ke kamar." Lalu, dia nyengir padaku. Menampilkan deretan gigi rapihnya yang kecil-kecil itu.


"Terus, kenapa nggak kabarin gue dulu?! Kan, lo tau gue udah nunggu lo dari jam 8 teng?!" Hampir aku mencak-mencak, karena tahu kalau ternyata dia sengaja mengabaikanku!


"Ya, habisnya... siapa suruh lo bawel nggak ketulungan kayak gitu?!" Kini, dia membalasku dengan pelototan garangnya.


Strike. Aku nyaris nggak bisa membalasnya karena wajah sinis dan kalimat tajamnya itu. Mendadak kata-kata yang sudah kususun untuk menyemprotnya ketika dia datang jadi lenyap seketika. "Makanya... lo... kalau nggak mau dibawelin, langsung bales chat gue dong!" Balasku, akhirnya.


Dia menghela napasnya panjang. Wajahnya yang tadi sempat menegang garang pun perlahan mengendur dan menajadi lebih bersahabat.


"Iya, maaf... kan, gue udah bilang gitu juga dari awal," ucapnya pelan.


Mendengar suaranya yang sepelan itu lengkap dengan wajah sendu begitu, aku jadi goyah. Mental hatiku melemah akibat kata maaf dan kalimat bernada lembutnya.


"Gue juga, maaf..." akhirnya aku berkata begitu juga. "Sori, karena udah nyolot duluan."


Tadinya, Kyra hanya memperhatikanku dengan wajah datarnya. Namun setelahku betkata demikian, sudut-sudut di bibirnya perlahan tertarik ke atas. Dia tersenyum lembut kala menatap mataku. Dan, beberapa saat kemudian dia mengangkat bahunya sebelum kemudian mengalihkan pandangan dan menyusulku duduk di atas lantai.


Dengan dibatasi oleh jeruji pagar pembatas balkon ini kami saling menatap di antara celah-celah.


"Jadi... gimana?


"Apa keputusan lo?" Kami jadi berebut bicara hingga kami saling menatap, sedikit terkejut.


Dalam hati aku tertawa. Apa ini tandanya kalau jodoh?



____________________


p.s :


aku udh berusaha kejar tayang hari ini. Tapi ternyata baru mampu nulis segini lagi. Huhu. ternyata sulit yhaa, yg namanya crazy up itu 🥺

__ADS_1


Makanya, kalian harus komen yang banyak yhaa! Plus harus kasih aku banyak vote juga nih. Biar aku makin semangat-semangat dan semangat nulisnyaa🤗🤭


__ADS_2