
Kyra -
"Jadi gimana??" Lagi, Mas Kamil memancing. "Apa jawaban lo dari pertanyaan gue barusan? Lo menganggap Kyra itu wanita atau..."
"Mas Kamil!" Buru-buru aku menyela. Aku pikir sekarang lah saatnya aku harus menyelamatkan Delvin. Lagi pula, kupikir Mas Kamil ini sudah agak keterlaluan pada Delvin. Dia sudah terlalu menyudutkan. Padahal itu kan nggak perlu dia lakukan! Toh, Ayah saja nggak berkomentar apa-apa kok!
Mas Kamil pun menoleh padaku seketika. Begitu pula yang lainnya, terkecuali Delvin yang masih terpaku di tempatnya. Terdiam. Membisu. Ck! Dalam hati aku berdecak. Benar kan, bocah itu pasti syok sekarang, akibat introgasi Mas Kamil yang tak berperasaan itu!
"Kenapa?" Tanya Mas Kamil dengan alis terangkat tinggi ke atas.
Aku mendengus, membalas tatapannya dengan nggak kalah mengintimidasi. Memangnya yang bisa tegas hanya dia? Aku juga bisa!
"Aku mau tanya... memangnya apa pentingnya sih, Delvin pernah anggap aku sebagai wanita atau enggak?! Bukannya Mas Kamil pernah bilang, pernikahan itu tentang mencari sahabat seumur hidup? Iya, kan?!" Tanyaku dengan nada sedikit menantang. Pasalnya, aku hanya mau mengingatkan dia tentang apa yang pernah dia ucapkan padaku dahulu kala sebelum ia menikah waktu itu.
"Kalau begitu... bukannya konteks pernikahan itu nggak hanya soal cinta aja?" Lanjutku lagi, belum merasa puas berbicara.
Mas Kamil menatapku lurus. Dia bahkan sampai mengubah posisinya dari menghadap ke Delvin menjadi berhadapan denganku.
Kini ganti dia yang mendengus. "Mas nggak bilang itu cinta, yaa... Tapi ini perasaan tertarik, Kyra! Adanya perasaan... ketertarikan dalam memandang lawan jenis. Itu adalah satu rumus penting dalam membangun pernikahan! Nggak masalah kalau ada pasangan yang belum saling cinta, tapi kalau dari awal mereka sudah punya rasa saling tertarik satu sama lainnya... maka, pernikahan mereka ke depannya akan jadi lebih mudah. Dan sebaliknya... semua bakal terasa berat dan sulit kalau pasangan pernikahan nggak punya hal yang satu itu." Jelas Mas Kamil panjang lebar, yang sungguh mampu membuatku langsung mengatupkan bibirku rapat. Karena... apa yang dia katakan itu memang ada benarnya.
__ADS_1
Tetapi, meski begitu aku harus tetap pada pendirianku yang bertentangan dengannya. Karena di sini posisiku berada di kubu Delvin. Aku dan Delvin adalah satu tim sekarang. Kami nggak boleh terpecah belah, atau apa yang sudah kami usahakan ini hanya menjadi kesia-siaan belaka!
"Kamu harus tahu Kyra... pernikahan itu bukan soal persahabatan sederhana yang kalau kamu marah sama Delvin tinggal tutup pintu kamar balkon. Lalu, masalah selesai!" Kata Mas Kamil, yang kali ini berhasil membuatku mengernyitkan dahi. Kenapa juga dia harus bawa-bawa yang bagian itu dalam penjelasan ini sih?! Bikin aku keki aja jadinya! Huft.
"Masalah pernikahan itu lebih kompleks, Kyra. Kamu nggak bakal bisa pahami hal itu dengan pengalaman kamu yang nol soal cinta!" Tegas Mas Kamil yang semakin menyudutkanku. Membuatku agak tak terima, dan jadi makin ingin melawannya.
"Kenapa Mas jadi bawa-bawa soal pengalaman segala sih?! Bukannya waktu Mas Kamil lamar Mbak Intan, pengalaman Mas juga masih nol??" Tanyaku, membalas ucapannya tadi. Lagi pula bukan cuman aku yang nggak punya pengalaman, Mas Kamil pun sama. Dia juga nggak pernah pacaran sepertiku, asal tahu saja!
Mas Kamil terdiam. Dia malah menghela napasnya panjang. Ya, sudah aku duga juga sih, dia nggak akan bisa membalikkan pertanyaan itu padaku. Karena kami itu memang sama!
Dan, setelah beberapa saat hanya hening yang tercipta di ruangan ini, aku berdeham guna memecahkan suasana sekaligus melunturkan rasa serak di kerongkongan usai debat barusan.
Menghela napas, bersiap menyuarakan pendapatku lagi. "Aku pikir... tingkat kesulitan pernikahan itu tergantung dengan apa yang kita pikirkan. Mirip seperti sugesti. Dan, aku berpikir kalau pernikahan itu nggak akan jadi sulit selama kita saling menghormati, menghargai dan bertujuan sama. Udah itu aja. Aku rasa itu udah cukup kok buat mengokohkan pondasi pernikahan. Iya, kan, Ayah??" aku balik menatap Ayah, menyiratkan agar Ayah bisa mendukung pendapatku barusan. Namun bukannya berkomentar sesuatu, Ayah malah hanya mengulas sebuah senyum untukku. Ih, Ayaaahh! Kenapa begitu sihhh?!! kesalku dalam hati.
"Kyra, kamu..." Mas Kamil makin menyipitkan matanya hingga berubah tajam, setajam silet! Aku mengerutkan kening, agak bingung dengan reaksinya itu.
"Kenapa kamu jadi belain Delvin?!" Tanya Mas Kamil dengan nada yang nggak habis pikir. Lalu, sedetik kemudian dia pun mendengus keras. "Jangan bilang kalian udah ngerencanain ini semua? Delvin dan kamu... ini kesepakatan kalian??" Alis matanya tertarik tinggi-tinggi ke atas, menatapku penuh intimidasi. Menuntut kebenaran. "Iya, kan?!"
Baiklah, akhiri saja ini dengan satu tembakkan! Aku nggak akan lari dengan mencari alibi. Aku akan hadapi ini sendiri bila memang Delvin tak bisa. Ya, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Percuma saja kan, kalau aku menyerah di tengah-tengah?
Lalu, tanpa banyak berpikir. Aku menghela napas singkat, "Iya! Ini memang--"
"IYA,"
__ADS_1
Suaranya menyela lebih keras hingga meredam suaraku yang lebih dulu bicara. Semua orang yang berada di ruangan ini pun buru-buru menoleh padanya. Delvin mulai kembali membuka suara setelah sekian menit dia diam saja baknya patung duduk yang benapas. Dasar, slow action!
Aku menatapnya dengan mata menyipit. Yang sebetulnya bertujuan untuk menyindirnya yang bergerak lamban itu secara halus. Tetapi sepertinya hal itu percuma saja. Toh, sekarang matanya sama sekali tak melirikku! Dasar.
"Iya, apa maksud lo?" Tanya Mas Kamil padanya.
Delvin menatap Mas Kamil, begitu pula sebaliknya. Mereka saling bersitatap cukup lama sampai membuat Kakakku satu-satunya itu menjadi jengah sendiri hingga mengernyitkan dahinya dalam.
Lalu, kemudian tanpa mengucapkan satu patah kata pun atau untuk sekadar melanjutkan kalimatnya tadi pada Mas Kamil, dia malah melengos. Menoleh ke arah lain. Tepatnya menoleh ke tempat sebelahnya duduk. Tempat di mana Ayah berada.
Lagi-lagi aku mengernyit. Entah sudah ke berapa kalinya. Yang jelas, gelagat Delvin kali ini sungguh aneh dan membingungkan! Aku pun nggak paham maksudnya mengalihkan pandangan itu apa...
"Iya, benar... saya punya perasaan itu buat Kyra, Pak Gin!"
Aku mendelik. Bahkan bibirku sampai menganga saking aku nggak menduganya dia akan bicara demikian di depan Ayah langsung! Aku menggeleng, nggak habis pikir. Delvin memang nekat!!
"Mungkin orang lain nggak tahu, tapi selama ini saya memang sudah memandang Kyra sebagai wanita. Saya juga tertarik padanya sebagaimana tertarik pada lawan jenis. Bukannya sekadar tertarik karena selama ini kami berteman." Dia menggeleng. "Ini beda, Pak." Lanjutnya lagi, yang semakin meyakinkan.
Sungguh! Pengakuannya barusan mampu membuat Ayah mematung, terdiam menatapnya. Mungkin Ayah pun nggak habis pikir kenapa bocah itu bisa senekat ini!
"Jadi... apa Bapak bisa merestui kami sekarang??" Tanya Delvin yang makin nekat, langsung pada Ayah.
Aku tersenyum tipis. Delvin... Delvin... ternyata lo cukup jago berakting juga ya?! Haha.
__ADS_1