Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.3 | B : ...What?!


__ADS_3

- Kyra -


Lalu, kami mengobrol seperti biasa. Membahas hal-hal tak penting. Entah itu tentang dirinya atau diriku. Saling mengejek dan menertawai satu sama lain. Sama seperti biasanya, perbincangan kami malam ini terasa sama menyenangkannya seperti yang sudah-sudah. Bagi kami berdua, mengobrol di atas balkon di tengah malam dengan dalih insomnia adalah hal yang biasa. Kami sering melakukannya sejak jaman dahulu kala. Saat umur kami masih sama belianya. Bedanya, kali ini balkon yang kami duduki bukanlah balkon kamar kami masing-masing, dan juga tiada lagi pagar yang berdiri kokoh di antara kami. Karena kini kami sedang duduk bersama berdampingan tanpa sekat pembatas. Terasa lebih akrab dibanding biasanya.


Lalu, entah mengapa kami berdua saling terdiam tiba-tiba. Tiada yang mengeluarkan suaranya satu patah kata pun, kecuali desauan angin yang menyapu rerumputan atau jangkrik yang mengerik nyaring.


Malam ini, aku memang lebih sendu dari biasanya. Itu lah mengapa aku malam ini jadi lebih sedikit bicara daripada biasanya. Dari awal pun selalu Delvin yang membuka pertanyaannya lebih dulu. Seperti halnya sekarang, saat dia tiba-tiba menoleh. Menatapku dengan wajah akrabnya.


"Gimana?"


"Ha?!" Jujur, aku tak mengerti arti pertanyaan singkatnya barusan. Terdengar ambigu, aneh dan nanggung!


Delvin menghela napas dalam. Dia menatapku agak lama seolah ragu dengan kalimat yang hendak dikeluarkannya. Membuatku makin serius menatapnya, berharap dia lekas bicara dan menghilangkan keraguan itu. Dia mau bilang apa sih?!


Dia membasahi bibirnya sekilas sebelum mengatakan, "Lo... nggak pa-pa, kan?"


Nada serius dan lekatnya tatapan itu membuat aku langsung mengerti arah dari pertanyaannya barusan. Ya, benar, dia memang bertanya tentang hal itu. Tentang perasaanku. Dia pasti sudah melihat kabar itu juga.


Tunggu! Apa jangan-jangan kedatangannya ke sini itu karena...


"Gue pikir, lo pasti udah tau beritanya kalau Ezra-"


"Iya, gue udah tau kok." Tukasku, memotong ucapannya.


"Eh, Vin!" Panggilku tiba-tiba. Kini, kutegaskan tatapanku untuknya. Mungkin alisku jadi merapat sekarang. "Jangan bilang lo ke sini..." aku gantungkan kalimatku, mataku pun makin menyipit. "...kerena khawatir sama gue, ya?! Iya, kan?!!"


Kontan, Delvin yang sedang minum itu pun langsung tertawa mendengus seketika. Nyaris saja dia tersedak! Dan kini, matanya melebar menatapku seolah mengejek. "Idih! Pede banget lo! Ngapain juga gue khawatir sama elo,"


Sangkalannya itu malah membuatku makin menatapnya penuh curiga. Gelagatnya yang aneh itu membuatku amat yakin kalau memang benar dia itu sedang khawatir padaku karena berita itu. Makanya dia tiba-tiba menyusulku ke sini meski tahu jaraknya jauh dari rumah.

__ADS_1


Dasar! Begitu saja dia nggak mau ngaku. Padahal sudah amat terlihat jelas begitu. Ck, harga diri seorang Delvin memang terlalu tinggi, apalagi kalau sedang berhadapan denganku!


"Gue tuh nggak khawatir, tapi gue cuman penasaran aja!"


Aku mengernyit, meragukannya. "Masaa??"


"Iya!" Jawabnya cepat. "Gue emang penasaran aja sama kabar lo setelah dengar berita kayak gitu itu gimana. Apa sekarang lo masih semangat nge-bucin, atau mutusin pensiun setelah 10 tahun?!"


"Opsi kedua," kataku. Membuat seringaiannya yang sempat terlihat untuk mengejekku itu lenyap seketika.


Delvin mengangkat alisnya. "Hah?!"


Menatapnya lekat sebentar, menciptakan sihir keyakinan untuk dirinya bahwa ucapanku nantinya bukan omong kosong belaka. Aku serius dengan kalimat yang hendak kuucapkan lagi padanya.


"Opsi kedua, berarti pensiun!" Jelasku tegas.


"Ha-hah?!" Delvin mengerjap-ngerjapkan matanya seolah merasa tak percaya tentang apa yang barusan didengarnya.


"Nggak, nggak, lo nggak salah dengar kok. Barusan emang gue bilang, gue mau pensiun." Kembali aku menoleh padanya, dan ternyata dia pun masih menatapku dengan tatapan sama seperti sebelumnya. Tidak percaya.


Aku tersenyum tipis, "Sekarang gue mau berhenti perjuangin perasaan gue ke Bang Ezra. Karena sekarang gue merasa udah berada di titik jenuh, Vin. Gue lelah, pengin istirahat. Jadi gue pilih berhenti."


Tatapan kami saling bertemu pada satu garis lurus. Tapi aku tak mengerti apa arti tatapan Delvin yang seperti ini padaku. Tatapan yang seakan ikut merasakan pahit, perih, luka dan sedih itu bersamaku.


Tiba-tiba dia tersenyum simpul. Wajahnya sudah dialihkan dariku, dia tak lagi menatapku melainkan menatap hamparan pemandangan kebun teh yang amat gelap di sana.


"Berarti sekarang kita senasib ya?"


"Heh?!"

__ADS_1


Tahu-tahu dia tertawa sendirian. "Senasib sepenanggungan." Gumamnya. "Bedanya, gue diputusin, sementara elo yang mutusin." Lanjutnya lagi. Membuatku langsung mendesis kesal karena merasa dia baru saja mengejekku.


"Eh, tapi, kenapa lo tiba-tiba bisa berubah pikiran?" Dia mengangkat alisnya tinggi. "Emang lo nggak merasa sayang sama waktu yang udah lo lalui itu? 10 tahun itu nggak sebentar loh, asal lo inget!"


"Karena gue terlalu capek berjuang." Jawabku. Lalu menghela napas berat. Ya, aku memang sudah benar-benar lelah!


Aku menoleh padanya saat Delvin ternyata masih memandangku tanpa kedip. "Sekarang maunya gue, gue bertemu seseorang yang mau berjuang bareng-bareng sama gue. Karena gue amat lelah berjuang sendirian,"


Setelah mengucapkannya lebih jelas, tiba-tiba mataku jadi terasa panas. Aku yakin, itu pasti karena sebagian hatiku bersedih dengan keputusanku yang membuat semua perasaan yang selama ini telah kupertahakan sekuat tenaga itu berubah sia-sia.


Mengalihkan wajahku darinya, aku tertawa kecil. Agak konyol mendengar kemauanku yang tiba-tiba begini meski dari bibirku sendiri. Tapi memang benar, kini aku amat sangat menginginkan seseorang yang mau berjuang bersamaku meski dia tak memperjuangkanku lebih dulu. Tapi apabila dia mau berjuang bersama-sama denganku maka aku akan...


"Kalau sama gue gimana?"


Tawaku yang ringan seketika itu terhenti. Entah kenapa ada aura yang seolah sedang menusuk-nusukku dari samping. Karena tatapan Delvin untukku atau malah kalimat tanyanya barusan.


Agak ragu, perlahan, aku kembali menoleh kepadanya. Membalas tatapan lurusnya yang entah mengapa terasa amat menegangkan hatiku.


Matanya mengerjap. Begitu pula aku yang mengedip, menahan perihnya embusan angin yang mengeringkan mataku.


"Kyra..." dia memanggilku dengan suara lembutnya. Yang mungkin setelah sekian lama mengenalnya baru kali ini aku mendengar nada yang selembut itu darinya.


"Ayo nikah sama gue?! Kita berjuang bareng-bareng seperti harapan lo."


Begitulah katanya yang membuatku menatapnya tak percaya. Bahkan mataku sampai terbelalak saking aku terperanjat akan ucapannya.


Setelah itu suaranya terdengar seperti dengungan ngegat yang berisik. Pikiranku terkoyak. Dikacaukan oleh ajakkan sembrononya. Satu kata yang langsung mencuat di benakku.


Apa dia gila?!!

__ADS_1



__ADS_2