
- Delvin -
Pukul 23:57 WIB.
Begitu lah yang tertera pada jam digital di atas nakas itu. Aku menghela napas panjang. Lalu melipat tangan ke belakang kepala sebagai bantalnya. Meski sebenarnya ada bantal yang tersedia di atas ranjang ini, entah kenapa melihat bentuknya yang gemuk dan tinggi itu bikin aku enggan untuk mengenakannya.
Jangan dipakai, entar pusing, leher sakit! Begitu lah yang dikatakan suara hatiku kala melihat wujud bantal itu pertama kali semenjak masuk ke dalam ruang kamar ini.
Setelah acara berbincang-bincang dan menonton film bersama di ruang keluarga usai makan malam tadi, semuanya pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya masing-masing, beristirahat.
Masing-masing berpasangan atau ada teman sekamar, namun aku hanya sendirian di sini. Pasangan pengantin baru Om dan Tante itu tentu sudah satu paket, nggak mungkin dipisahkan. Kyra dan Kanaya menjadi teman sekamar, Kanaya mengalah demi aku yang butuh kamar sendiri. Yah, padahal diriku tidur di mana aja juga bisa, sepertinya adatnya temannya si Kira-kira satu itu memang cukup menjaga sopan santun dan adab dalam menghargai tamu, sepertiku ini. Bagus, bagusss... Hehe.
Aku menatap langit-langit di kamar yang cukup luas ini. Latarnya yang bercat dasar putih membuat mata gampang silau karena pantulan sinar lampu utamanya yang begitu terang benderang hingga pada akhirnya aku putuskan untuk memakai lampu remang yang berwarna kuning gading.
Aku tersenyum. Entah kenapa setelah lampunya diganti, suasananya mendadak berubah menjadi romantis seperti ini. Ehe, andai udah nikah pasti bakalan so sweet! Halah. Wkwk.
Drrrtt... drrttt...
Terasanya getaran yang cukup kuat di atas ranjang ini tepatnya di sisi tubuhku membuatku sadar kalau ponselku itu sedang ada sebuah panggilan masuk. Melihat layar yang menyala terang dengan menampilkan sebuah nama yang amat kukenali. Mataku menyipit, hingga membuat keningku sampai berkerut-kerut.
Binta (KF)
is Calling....
Si pemanggil itu Binta, namanya. Teman seangkatanku yang juga satu klub di kampus, yakni Klub Fotografi. Hanya saja aku dan dia beda jurusan kuliah. Aku anak teknik sedangkan dia psikologi, sama dengan seseorang.
Aku menghela napas sebelum akhirnya kuangkat panggilan itu. Mengucapkan salam sebagai pembuka sapaan seperti biasa yang aku lakukan belakangan ini. Hm, semenjak memikirkan pernikahan dan masa depan yang kelak akan mengubahku menjadi sosok Ayah, aku memutuskan untuk sedikit banyak mengubah kebiasaan-kebiasaan jelekku. Yang salah satunya adalah aku yang jarang mengucapkan salam, ck! Karena sadar hal itu nggak baik, makanya aku berusaha mengubahnya agar kelak anak-anakku nggak meniru sisiku yang buruk itu. Antisipasi dan amunisi sebelum menikah, gitu. Hehehe.
"Halo, Binta? Ada perlu apa tengah malem gini nelepon?! Untungnya gue belum tidur nih, jadi bisa angkat..."
"..."
Aku mengerut kening. Sama sekali nggak kudengar suaranya menanggapiku bicara. Bahkan suara deru napasnya di seberang sana juga terlalu kasat untukku dengar.
"Woi, Ta?!" Kupanggil dia sekali lagi. "Lo masih di situ, kan??"
__ADS_1
Namun suaranya itu tetap membisu, nggak kunjung kudengar. Aku menghela napas jengah. Tanpa sadar aku sudah bangun dari posisi tidurku dan kini membuatku dalam posisi setengah duduk. Lalu, kuganti tangan kiriku tuk mengambil alih ponselku dan kembali kudekatkan di telinga.
"Heh! Lo... nggak lagi ngigau terus nggak sengaja kepencet nomor gue, kan?!" Sekarang aku jadi berspekulasi yang aneh-aneh karena dia nggak kunjung bicara.
Sedetik.
Tiga detik. Dia masih diam seolah bibirnya terkunci atau terlem super. Ck!
Aku menghela napas panjang. Tanpa sadar aku malah mengangguk-angguk, seolah mengerti. Mungkin orang ini memang sedang "tidak sadar" dan meneleponku tanpa sengaja. Ya sudah, anggap lah aja begitu!
"Selamat melanjutkan mimpi! Gue tutup teleponnya kalau gitu yaa... Bha-"
"Ini aku,"
Kata terakhir dari kalimatku terasa tertelan begitu aja di kerongkongan. Aku tergegap seketika kala mendengar suaranya. Meski amat pelan di dengar telinga, tapi aku sangat hapal bagaimana nada suara itu hingga nggak perlu ragu lagi untuk meyakinkan diri menebaknya kalau memang itu benar dia.
"Ines?"
Aku yakin dia sedang tersenyum sekarang, akibat jeda yang tercipta sebelum dia menjawabku. "Iya, ini aku."
"Karena aku nggak yakin kamu akan angkat teleponnya kalau aku pakai nomorku sendiri." Ada jeda di sana. Namun aku turut diam, nggak membenarkan atau pun menyangkalnya.
"Dan pasti, nomorku juga udah kamu blokir, kan?" Entah kenapa aku merasa dia sedang tersenyum kecut sekarang setelah mengatakannya. "Iya, kan? Pastinya, memang begitu..."
"Kata siapa?" Kali ini aku menyanggahnya. Benar, aku memang nggak pernah memblokir nomornya seperti yang dia kira. Hey, aku nggak sekekanakan itu!
"Jadi...?"
"Aku nggak pernah blokir nomor kamu." Lanjutku.
Dia terdiam, agak lama. Aku pun nggak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat itu. Tapi yang kini aku pikirkan malah hal lain di luar sana. Suara berisik kunci pintu yang dibuka dan debaman pintu yang ditutup kembali. Aku mengerut kening. Siapa yang nggak bisa tidur tengah malam gini dan mutusin buat keluar kamar?!
"Syukurlah,"
"Aku nggak sekekanakkan itu sampai blokir nomor mantan. Meski mantan, kita tetap bisa jadi teman. Iya, kan?" Kala mengucapkannya aku hampir tersedak ludahku sendiri. Hahaha, gue ngomong apa? Astagaaa!
__ADS_1
"Eh?"
"Oh ya, Nes, selamat ya! Aku udah dengar kabarnya. Lancar-lancar sampai hari H," tanpa sadar aku tersenyum.
Setelah mengucapkannya kini aku merasa lebih damai. Hatiku lebih tenang, tanpa beban. Mungkin benar, rumus ikhlas itu ampuh adanya!
"Vin-"
"Eh, Nes, udah dulu ya. Ada suara berisik nih, di luar. Mau mastikan, takut ada apa-apa. Sehat-sehat, Nes. Bye~" tukasku cepat. Lalu, kuucapkan salamku padanya sebelum akhirnya kututup panggilan teleponnya itu sepihak.
Rasanya ringan sekali. Setelah bicara seperti itu padanya, mendadak hatiku berubah ringan tanpa beban!
Aku tersenyum lebar. Meski masih menyayangkan tentang waktu yang telah kami habiskan bersama selama kurang lebih 8 tahun, namun aku tahu bahwa takdir memang nggak pernah bisa dipaksakan. Bila dia tiba-tiba pergi jauh, bukankah itu tanda kalau memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama??
Makanya, aku putuskan untuk mengucapkan "selamat tinggal" padanya. Dengan baik-baik, tanpa ada emosi atau amarah setitik pun. Karena aku sudah berpikir. Aku ikhlas, mungkin memang bahagianya bukan lah bersama denganku.
Aku menghela napas panjang. Lalu meletakkan ponselku begitu saja di atas ranjang ini, dan kemudian beranjak berjalan keluar dari kamar.
Suara yang kudengar tadi, sungguh membuatku penasaran. Apalagi lampu di seluruh ruangan sudah gelap sejak terakhir kami semua memutuskan berpisah pergi istirahat ke kamar masing-masing.
Aku putuskan untuk berjalan lagi menyusuri lantai Villa ini, sampai akhirnya kurasakan hawa dingin menyergap tubuhku seketika. Embusan angin dingin yang membelai kulit, membuatku menoleh seketika.
Pintu balkon itu terbuka lebar. Kala mataku menyipit, dalam cahaya yang remang, aku menemukan seseorang sedang duduk sendiri di sana. Di lantai kayu balkon sembari menatap langit yang amat sedikit bintang.
Dari siluetnya tentu aku amat mengenali siapa dia. Maka, kuputuskan untuk membuatkan sesuatu untuknya juga untukku yang hendak ingin bergabung duduk dengannya di sana.
Setelah menyiapkan dua gelas coklat panas dari pantry, aku pun beranjak mendekat ke arahnya. Sampai pada aku berdiri tepat di belakang tubuhnya pun dia masih nggak sadar dengan tanda hadirku, seakan tengah larut dalam pikirannya sendiri hingga mengabaikan hal lainnya, nggak terkecuali kehadiranku di sini. Huft.
"Apa asyiknya sih, memandang bintang yang bisa dihitung jari begitu?" Tanyaku dengan pandangan yang ikut terarah ke atas langit hitam pekat nan gelap di sana.
Dia akhirnya menoleh, mendongak ke arahku yang jauh lebih tinggi di atasnya, lengkap dengan wajahnya yang kaget itu. Dia terkesiap karena aku ternyata sudah berada di belakangnya kini.
Mengangkat dua gelas di kedua tanganku lebih tinggi, bermaksud memperlihatkan kepadanya.
Aku tersenyum, "Nyoklat panas?"
__ADS_1