
- Kyra -
Heran, kenapa sih manusia bernama Delvin ini senangnya membuatku kesal?! Tak kapan maupun di mana, ditiap kali ada kesempatan dia selalu bertingkah menyebalkan hingga membuatku naik darah!!
Salah satu contohnya adalah tadi. Dengan sengajanya dia membuatku tak kunjung juga untuk menikmati sushi-ku sendiri karena sibuk menyuapinya yang selalu membuka mulut tiap sushi itu hendak masuk ke dalam mulutku.
Dasar! Dia itu memang sengaja!! Aku sungguh tahu tabiat liciknya selama ini. Karena bukan rahasia lagi kalau salah satu hobinya adalah membuat orang lain kesal setengah mati. Khususnya aku!!
"Minta minum dong, seret nih gue!"
Aku melirik sinis pada orang di sebelahku ini. Mendengus, lalu mengabulkan pintanya. Memberinya botol minumku ini untuknya.
Karena aku berpikir, dia masih dalam suasana yang tak baik maka sekali ini aku harus menekan rasa kesalku dan lebih bersabar menghadapinya. Meski menyebalkan, tapi akan aku anggap ini adalah bentuk penghiburan dariku untuknya karena aku berhasil membuatnya tertawa lepas.
Kalau diingat, ada untungnya sih dia mengerjaiku tadi. Toh, kerena itu pula dia jadi bisa tertawa, kan. Padahal mulanya kupikir dia tak akan bisa tertawa lagi selama belum move on dari Ines. Tapi sepertinya dia bisa mengatasi emosinya lebih baik dari yang kukira. Syukurlah...
"Dilenggah, ih, Delvin joroookk!!" Teriakku begitu kutemukan dia sudah menempelkan bibirnya pada pinggiran botol minumku.
Aih, jorok banget emang dia itu!!
"Apa sih, jorok apa?? Ini cuman bibir gue, bukan najis!" Balasnya berteriak, tak terima.
"Tapi tetep aja, ih..." aku manyun, menatapnya kesal. "Ntar gue minumnya gimana coba?"
"Ya, minum tinggal minum. Repot banget, idih."
"Tapi itu udah bekas mulut lo, Delvin!"
Delvin yang semula masih memandang ke arah depan pun kini menoleh padaku. Matanya memicing tajam. Kelihatan dia sudah mulai emosi.
"Ya terus kenapa?? Kan, gak najis!" Katanya ngotot.
Aku balas menatapnya tak kalah tajam. Emosi itu sebenarnya sudah menelungkupi dada, melihat wajahnya yang menatapku sewot makin membuatku ingin meluapkan amarah sekarang juga. Bukankah harusnya aku yang marah besar di sini? Tapi kenapa dia jadi ikut-ikut marah coba??
"Andai yang minum dari botol lo itu Ezra, yakin gue, pasti sikap lo gak keras begini. Iya, kan?!"
Aku terdiam. Mendengar nama Bang Ezra dibawa-bawa rasanya jadi canggung. Jadi merasa serba salah. Memang benar sih, mungkin kalau itu Bang Ezra yang minum dari botol minumku tanpa dilenggah, sikapku pasti berbeda seperti sikapku dengan Delvin sekarang. Karena memang aku yang tak akan bisa marah kalau dengan Bang Ezra. Dia itu kelemahanku, dan aku tak bisa berbuat apa-apa bila berada di dekatnya.
"Diem?" Delvin tertawa mendengus tiba-tiba. Sinis. "Bener, kan? Iya, emang bener lo tuh bucin. Bucinnya Ezra!"
"Lo juga! Bucinnya Ines!" Balasku yang tak mau kalah darinya.
Seketika dia mendesis sebelum membanting setir ke kiri. Menepi ke tepian jalan. Gerakannya yang tak terduga membuatku meringis ngeri. Sebenarnya dia kenapa sih? Apa aku salah omong??
Ups!
Nama siapa tadi yang kubawa-bawa?? Ah, ya ampun... aku lupa mereka baru putus. Gara-gara sibuk ribut sama Delvin aku jadi lupa fakta itu!
__ADS_1
Aduh... terus gimana dong aku nih?!
Aku menundukkan pandanganku dalam-dalam. Jujur, aura menyeramkan Delvin sudah terasa hingga berhasil membuat bulu kudukku meremang. Ngeri. Dia pasti bakal marah besar!
"Hah." Delvin menghela napas kasar. Tapi dia tak mengucapkan sepatah kata pun.
Dan hal itu berhasil menarik perhatianku, hingga aku memberanikan diri mencuri-curi pandang ke arahnya.
"Vin, maaf... gue nggak niat buat ngingetin lo soal In--"
"Udah, gak usah dibahas." Tukasnya cepat, menyela ucapanku. "Aw,"
Aku mengernyit saat mendengar suara rintihannya barusan. Untuk itu aku langsung menoleh ke arahnya. Memperhatikan tiap kerut dari raut ekspresi wajahnya. Delvin meringis seakan menahan sakit sembari memegangi perut kanannya. Tersisa sedikit rona di wajahnya, membuatnya menjadi lebih pucat dari sebelumnya kulihat.
"Lo kenapa, Vin??" Tanyaku khawatir.
Delvin masih meringis dengan tangan yang masih tertahan di pinggangnya.
"Vin, Delvin!!" Panggilku lagi saat dia tak kunjung meresponku. Ditambah wajahnya yang makin memucat, muncul bulir-bulir keringat di dahinya, dan mata yang kini terpejam. Semua itu tentu membuatku jadi takut setengah mati!
"Vin..." panggilku sekali lagi. Suaraku sudah mulai bergetar sekarang. Sungguh, aku ingin menangis.
"Delvin, jawab gue dong... hiks," air mataku sudah benar-benar rembes sekarang.
"Akh," ringis Delvin lagi. Namun hal itu malah langsung membuatku lega, karena dia masih sadar sekarang. "R-ra, ma-matiin AC-nya, to-tolong..."
Dengan gerak secepat kilat aku langsung mematikan AC mobil ini. Lalu membuka jendela agar udara dalam mobil tak pengap karena tak ada udara dingin di dalam.
Delvin diam saja. Hanya diam. Dia tak bicara bahkan hanya untuk mengeluarkan rintihan. Dan hal itu malah membuatku makin panik!
Aku menoleh ke kanan dan kiri, bergantian. Dengan cepat mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan jalan keluar dari situasi mengkhawatirkan ini.
Melirik ke arah Delvin lagi, sampai sekarang pun dia masih tetap bergeming. Seakan dia sedang menghayati rasa sakitnya. Aku jadi ikut meringis ketika melihatnya meringis tiba-tiba.
Mengalihkan pandangan darinya, aku kembali menoleh ke kanan dan kiri. Hanya hamparan pepohonan tinggi berhias kabut yang bisa kutemukan di sepanjang mata memandang, atau pun ruas jalanan yang ramai kendaraan.
Mataku menyipit seketika saat kuamati tenda kecil di sebrang jalanan sana. Jika diperhatikan lebih seksama tenda kecil itu lebih mirip warung kopi daripada tenda biasa. Dalam sekejap otakku bermain cerdas. Mendadak aku terpikirkan akan minuman hangat yang bisa saja dijual di sana, atau bila ada obatnya sekalian. Meski aku tak mengerti Delvin sakit apa, tapi bila melihat gejala dan reaksinya pasti antara dua kemungkinan, yakni; kram perut atau magh.
Baiklah, tidak ada waktu lagi. Sebelum Delvin makin sekarat, aku harus cepat bertindak!
Klok, pintu di sebelahku ini pun berhasil terbuka. Baru saat aku hendak melompat keluar, suara parau Delvin menghentikanku tiba-tiba.
"Ra... mau... ke mana...?" Tanyanya dengan suara yang amat sangat pelan. Saking pelannya nyaris saja aku tak mendengarnya.
"Gue keluar dulu, cari sesuatu buat lo. Oke?" Aku balas tatapannya yang sedang menatapku. "Lo tunggu sini, gue keluar dulu!" Tukasku tanpa menunggu responnya dan berlari ke sebrang jalan.
Seperti yang aku rencanakan di awal, di warung kopi kecil itu aku membeli minuman hangat. Dua jenis minuman; bandrek dan teh panas yang kemudian dibungkus plastik bening. Obat magh tak kubeli karena warung kopi itu tak menjualnya. Alhasil, selain membeli dua jenis minuman itu aku pun membeli roti kemasan dua ribuan untuk berjaga-jaga saja siapa tahu Delvin membutuhkannya.
__ADS_1
Setelah susah payah menyebrangi jalanan lebar yang ramai kendaraan itu, akhirnya aku berhasil juga kembali ke tempatku semula. Masuk ke dalam mobil, duduk tepat di samping jok kemudi.
Delvin sudah merebahkan kursi joknya ke belakang, membuatnya kelihatan lebih nyaman dibandingkan sebelumnya.
"Vin, minum dulu nih."
Perlahan, mata Delvin yang tertutup pun mulai terbuka. Tatapannya langsung terarah padaku. "Lo beli apa?"
"Bandrek jahe sama teh panas. Lo mau yang mana?" Tanyaku.
"Teh aja, gue gak suka jahe." Katanya, lalu menegakan punggungnya. Mengubah posisi tidurnya menjadi duduk tegap.
Aku mengangguk, memberinya sebungkus teh panas dalam plastik. Melalui sedotan biru seperti warna kesukaanku, dia meminum teh itu pelan. Perlahan-lahan rona diwajahnya pun mulai kembali, membuat wajahnya kini tak lagi terlihat semengenaskan tadi.
"Gimana? Enakan?" Tanyaku kemudian. Delvin mengangguk, yang lantas membuatku tersenyum.
Aku pun diam. Hanya menunggu Delvin menghabiskan teh panas yang kini telah berubah menjadi hangat itu dengan sabar. Yang terpenting adalah membiarkannya fit dulu, baru kami bisa melanjutkan perjalanan ini lagi.
Yah, kalau saja aku bisa menyetir mungkin sekarang kami berdua sudah tiba di lokasi tujuan. Sayang sekali yang bisa menyetir hanya Delvin, jadi hanya padanya lah harapanku bersandar.
"Sori,"
"Eh?" Sontak aku menoleh ke arahnya. "Apa??"
"Lo pasti tadi takut banget ya?" Tanyanya yang membuat keningku berkerut. "Sori ya, gue emang biasa kayak gini kalau makannya kebanyakan."
Mendengar penjelasannya malah membuat keningku makin berkerut. Hidungku mengernyit, "Maksudnya makan kebanyakan??" Tanyaku tak paham. Bukankah dia baru makan sushi buatanku saja tadi?
Namun bukannya menjawab, Delvin malah berdeham lalu melengos. Menghindari tatapanku. Aih, aku tahu betul apa itu maksudnya!
"Lo bohong ya? Lo sebenernya udah sarapan di rumah, kan? Iya, kan?! Ngaku lo!" Cecarku seketika. Aku berusaha mengikuti gerak matanya yang terus menghindar dariku. Rasa bersalah tentu membuatnya takut, aku tahu benar itu!
"Delvin..." desisku tajam.
Delvin sungguh tahu aku tak mungkin cepat menyerah jika sudah bertekad, pada akhirnya dia menatap mataku balik. Lalu nyengir selebar kuda. "Kita lanjut sekarang? Ntar keburu selesai loh syutingnya,"
Aku mendengus. Alibinya kali ini sangat berhasil membuatku diam dan menyerah. Huh, kalau bukan ingat Bang Ezra pasti aku sudah cecar dia sampai ngaku!
"Yaudah, buru jalan!" Perintahku padanya, lalu mengempaskan punggungku ke kepala jok.
"Oke! Cauuww!!" Serunya riang.
Aku berdecih melihat tingkahnya, namun senyumku pun tak dapat kusembunyikan. Melihatnya lebih riang tentunya membuatku bangga pada diriku, bahwa aku bisa juga menjadi teman yang baik.
Teman yang selalu ada di saat duka.
__ADS_1
________
TERBIT SETIAP RABU & SABTU YHA!!