
-Delvin-
Semua yang telah diusahakan berjalan hampir semestinya. Nyaris sempurna. Benar, nyaris. Andai bayang-bayang masa lalu berhenti menghantui dengan kata selesai.
Baik aku atau pun Kyra sepertinya harus segera menyudahi dengan kalimat "tamat" dari kisah lalu kami.
Yang kemarin sudah usai, selanjutnya biar kami yang menata masa depan kami. Emang rasanya terdengar simpel. Tapi pada kenyataannya mengurus hati nggak semudah itu, Ferguso!
Aku menggaruk kepala. Kasar. Tak peduli kalau-kalau kulit kepala ini bisa aja terluka karena kuku panjangku yang belum sempat kupotong dari jum'at kemarin. Perlahan, aku mengintip keluar jendela. Memantau bagaimana keadaan di luar saat ini. Semua tampak masih kondusif seperti biasanya. Nggak ada tanda-tanda khusus yang mengarah pada suatu keributan.
Ah, tahu lah!
Nggak tahu juga apa yang aku harapkan sekarang. Tapi aku sadar, bahwa kini ada sedikit kegelisahan yang menyelimuti hati.
"Si Kira-kira berhasil nggak yaa, bicara 4 mata sama Ezra? Lancar nggak ya bicaranya? Sukses nggak ya, dia menyudahi perasaannya??" Begitulah nada suara otak dan hatiku yang seirama berbicara dalam benak.
Aku mendengus. Menyadari sedikit kebodohan yang mendadak melanda. Menggelengkan kepala keras-keras. Aku mencoba mengenyahkan kebodohan itu dari otakku untuk fokus pada tujuan yang sebenarnya.
Sembari menyenderkan tubuh pada pilar di antara dua jendela kamar ini, tanganku merogoh saku. Mengambil ponsel yang ada di dalamnya.
Melihat kontak yang ada di sana. Aku menggaruk kepalaku sekali lagi. Meringis.
Rasanya agak canggung kalau harus menghubungi duluan. Apalagi komunikasi terakhir kami agak kurang baik, mengingat aku menyudahinya secara sepihak malam itu.
"Tapi mau gimana lagi. Urusan ini emang harus cepet kelar!" Dengusku. Lalu, tanpa banyak berpikir lagi aku langsung mendial kontak itu. Lantas mendekatkan ponsel ke telinga.
Tuuut... Tuuut... Tuuuut...
"Halo? Apa kabar? Bisa kita bicara sebentar??"
Aku harap ini adalah urusan terakhir yang harus kuluruskan bersamanya.
***
-Ines-
Entah sudah hari ke berapa aku dalam dilema. Selalu maju dan mundur untuk menghubunginya.
Padahal urusanku di sini telah selesai. Dan, pada akhirnya kami bisa melanjutkan hubungan kami kembali seperti sebelumnya.
Mengingat hubungan kami yang kerap didatangi pasang surut dan putus sambung, tentu bersatunya kami kembali kali ini tak akan jadi mustahil.
Aku selalu bertanya-tanya bagaimana ia menyikapi kepergianku setelah delapan tahun kebersamaan kami. Pertanyaan seperti;
Apa dia bersedih?
Apa dia marah?
Apa dia... Menungguku untuk kembali?
__ADS_1
Tapi Delvin yang kutahu adalah satu-satunya orang yang selalu merentangkan tangannya untuk merengkuhku kembali.
Meski aku tahu konflik kami kali ini adalah yang terberat dari sekian konflik yang pernah kami lalui. Tetapi aku percaya diri. Delvin pasti masih menungguku di tempatnya.
"Ines! Papa perlu bicara sekali lagi sama kamu!"
Papa menyeru dengan suara dan kalimat seperti itu lagi dari balik pintu kamarku yang tertutup rapat untuk kesekian kalinya.
Tanpa perlu repot beranjak dari atas tempat tidurku ini, apalagi untuk membuka pintu kamar, aku lantas menjawab Papa dengan suara tak kalah lantangnya dari dalam kamar ini.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, Papa. Aku dan Bagas sudah selesai bahkan sebelum kami memulai. Dia bukan orang tepat yang aku cari. Dia juga masih punya orang lain yang mungkin masih dia sayang." Ungkapku, mataku kemudian beralih pada sisi yang lain dari yang kutatap sebelumnya. Ke arah nakas kosong itu, lebih tepatnya.
"Sama kayak aku, Papa." Kali ini aku hanya bisa berbisik pelan.
"Tapi, Nes..." Papa masih saja keras kepala. Aku mendengus.
"Pada intinya, kami nggak bisa bersama. Baik Bagas atau pun aku... Sepakat untuk menyudahinya, Papa." Tukasku. Membalikkan kata Papa yang selalu berusaha menyanggah.
Aku mendengus sekali lagi. Sepertinya air mataku juga sudah terkuras habis. Buktinya, kini tak ada lagi air mata yang keluar saat aku mengungkapkan semuanya pada Papa. Emosi ini pun sama. Aku tak lagi menggebu-gebu kala berbicara mengenai hal ini. Justru sebaliknya, aku malah menyikapinya dengan santai.
Ah, mungkin hatiku sudah terlalu letih melakukan hal yang sama berkali-kali sampai rasanya mati rasa sendiri.
Terdengar helaan napas yang keras dari balik pintu itu. Aku tahu, Papa pasti capek hati dengan sikapku sekarang.
Tapi mau bagaimana? Aku juga tak mau mengorbankan kebahagiaan hidupku sendiri demi tujuan Papa. Apalagi menyerahkan hidupku pada orang yang tak aku cintai dan yang tak mampu mencintaiku sepenuh hatinya.
Sampai akhir bahkan Papa tetap tak mau mengalah. Dengan kalimatnya yang berkata, "Nanti kita bicara lagi." Itu berarti Papa tak mau menyerah dengan aku atau pun Bagas!
Tanpa sadar, aku mengepalkan tangan erat-erat. Aku memukul-mukul permukaan kasurku sendiri. Meluapkan rasa kesal dan benci yang telah membungkus hatiku makin erat.
Sungguh aku tak tahan lagi rasanya!
"Delvin... Apa lebih baik kita kabur aja untuk hidup bahagia bersama?" Lagi-lagi aku hanya bicara pada diriku sendiri.
"Delvin... Apa nggak bisa kamu nelepon aku sekali ini aja?!" Sekali saja, dan memastikan bahwa keputusanku ini akan tepat.
Karena taruhannya adalah... Jika Delvin meneleponku lebih dulu, maka...
Drrrttt... Drrrttt...
Aku terkesiap melihat layar ponsel yang sedang kupegangi ini menyala-nyala hingga memunculkan getaran yang berangsur-angsur tanpa henti.
Mataku membulat, bahkan mulutku pun menganga tepat saat membaca nama kontak itu di layar ponselku.
Mataku mengerjap beberapa kali. Kemudian, aku menutup mulutku dengan tangan.
"Jadi... Ini... Bukan mimpi!" Aku mencubit pipiku, dan langsung meringis kesakitan saat itu juga.
Wajah sumeringah tak dapat kuhindari. Degup jantungku membuncah. Hatiku yang semula sesak berubah bahagia hanya dalam sekejap!
__ADS_1
Aku tersenyum lebar. Beberapa kali aku berdeham untuk mengetes suara sebelum akhirnya kuangkat panggilan itu.
"Halo?" Suara yang kurindukan tuk kudengar akhirnya bicara.
"Hai," Kataku membalas sapaannya.
"Apa kabar?"
"Aku, baik. Kamu... gimana kabarnya? Baik-baik juga, kan?!" Tanyaku dengan suara yang canggung. Maklum, kami sudah berbulan-bulan tidak berkomunikasi satu sama lain. Tak heran kalau akan jadi secanggung ini!
"Hm, baik kok." Bahkan dia juga tak bisa menutupi reaksi canggungnya. Aku tersenyum. Entah kenapa kecanggungannya malah terdengar manis di telingaku.
"Syukur lah..." Ungkapku yang senang mendengarnya.
"Nes.. Bisa kita bicara sebentar??"
Aku tergugu saat Delvin berucap demikian. Dia memintaku apa tadi? Bicara??
"Bisa." Jawabku cepat. "Kamu mau bicara apa? Mau langsung di telepon atau... Kita ketemu langsung??" Tanyaku hati-hati. Namun, dalam lubuk hatiku aku amat ingin dia memilih opsi yang kedua!
"Langsung ketemu... Boleh. Kamu ada free kapan??"
Dalam hati aku bersorak-sorai. Perasaan bahagia hatiku benar-benar membuncah! Kalau aku bisa berteriak meneriakkan euphoria yang heboh pasti akan kulakukan. Sayangnya, aku nggak bisa sekarang. Mungkin, setelah sambungan telepon ini usai nanti.
Aku tersenyum sumeringah. "Besok atau lusa juga bisa!"
"Oke, kalau gitu. Sampai ketemu besok ya!" Balasnya yang aku yakini diakhiri dengan simpul senyumnya yang selalu menawan. Entah, tapi feeling-ku mengatakan kalau dia pun sama bahagianya sepertiku!
"Okay!" Tanpa sadar aku mengangguk-angguk sendiri, meski aku tahu itu adalah hal yang percuma. Rasa bahagia membuatku over acting sekarang!
"Sampai ketemu besok!" Balasku yang kemudian diakhirinya dengan salam penutup.
Setelah sambungan itu benar-benar terputus, aku lantas mendekap ponselku di dada. Buncahan rasa bahagia benar-benar tak dapat terelakkan!
Aku tersenyum lebar penuh arti.
Padahal tadi sempat aku pikir air mataku sudah habis tak bersisa. Tapi ternyata tidak juga ya...
MAAF TELAT UPDATE. SEMOGA HARI INI BISA 2 KALI YAAH. JANGAN LUPA KOMEN YANG BANYAAK XIXIXIš
^^^LOVE,^^^
^^^ICHAā¤^^^
...\=\=\=...
...JANGAN LUPA VOTE, KOMEN & SHARE YAAA!...
__ADS_1