
- Kyra -
Dalam waktu seminggu, hari-hariku hanya diisi dengan beragam aktivitas yang bisa membuatku sibuk tanpa bisa melirik televisi atau pun media sosial.
Bersyukur, proposal projekku lolos di waktu yang amat tepat. Hingga aku bisa mengalihkan perhatianku pada hal lain yang setidaknya lebih bermanfaat.
Aku, patah hati untuk kesekian kalinya.
Entah sudah berapa kali tepatnya, yang jelas mantan Bang Ezra yang aku tahu sudah lebih dari hitungan jari. Huh, kalau dipikir-pikir aku nggak menyangka Bang Ezra ternyata se-playboy itu ya. Mantannya saja banyak. Meski sebenarnya aku tahu sih, dari sederet mantannya yang nggak muat hitungan jari itu, dia nggak pernah menganggap serius hubungannya. Singkatnya, pacarannya Bang Ezra itu ya cuman main-main saja gitu.
Tapi tetap saja. Melihatnya bertingkah dekat nan mesra dengan perempuan lain sungguh membuat hatiku sesak. Aku nggak tahan lihatnya, serius!
"BANG EZRA NGESELIIIIINN!!!" Teriakku sekuat tenaga. Melepaskan emosi yang dipenjara di dada, melegakan.
Ada untungnya aku ikut trip kebun teh ini. Naik-naik bukit yang sepi orang bisa membuatku leluasa memaki-maki orang yang selama ini mencuri hatiku.
Di atas jembatan kayu ini aku memandang hamparan pohon teh yang luasnya berhektar-hektar. Aroma embun pagi hari yang menyejukkan membuat diriku lebih rileks.
Namun entah kenapa tiba-tiba aku teringat wajah rupawannya Bang Ezra lagi. Wajah tersenyumnya yang lucu. Terlebih, tawanya saat bercanda dengan lawan mainnya di lokasi syuting minggu lalu. Semua itu seperti melesak memenuhi isi otakku.
Aku mendesah pilu. Berada dalam posisi cinta bertepuk sebelah tangan begini memang amat tak mudah bagiku. Ada kalanya aku ingin menyerah. Tapi...
"Kyra!"
Aku menoleh ke belakang. Lalu tersenyum tipis melihat Kanaya, teman bisnis baruku saat ini berdiri di atas batu besar di bawah pohon pinus itu dengan senyum manis kala menatapku.
"Gimana, gimana? Seru kan, hiking pagi ini? Besok mau lihat matahari terbit lagi nggak??" Tanyanya bersemangat.
Aku tertawa kecil. Kanaya memang punya hobi naik-naik gunung, tapi karena sekarang kami lagi sibuk membuat projek baru akhirnya dia memilih mengganti hobinya itu dengan menaiki perbukitan kebun teh yang berada di Lembang. Setelah deal dengan para pengerajin sepatu kulit lusa lalu, secara mendadak dia mengajakku berlibur ke Lembang yang mana jarak daerahnya tak terlalu jauh dari lokasi kantor projek baru kami itu.
Kebetulan sekali aku sedang kurang baik, tepatnya hatiku sih yang kurang baik. Maka, jadi lah aku setujui idenya itu!
"Nay, emang kita nggak balik ke Cihampelas lagi?"
"Nggak usah. Kan, semua udah beres, kan. Kita ke sana lagi pas mulai masa produksi aja. Sekarang, kita happy-happy aja dulu. Lagi pula, semua persiapan kan udah beres," jawabnya enteng.
Aku mengangguk, setuju dengan ucapannya. Apa yang dia katakan memang ada benarnya. Daripada memikirkan kerjaan terus, bukankah lebih baik sekali-kali aku berlibur seperti ini? Toh, hatiku juga butuh healing.
Pagi itu baru pukul sembilan. Matahari baru menyinari dunia dengan serinai sinar yang menyehatkan kulit. Aku dan Kanaya memutuskan sarapan di sebuah warung kecil di kaki bukit. Menu sarapan yang sederhana namun entah kenapa terasa begitu nikmat di lidah. Mungkin karena suasananya yang indah atau memang masakan warung ini yang enak, entahlah.
"Model yang gue kirim kemarin bagus, kan?" Lagi-lagi tanpa sadar aku membahas soal pekerjaan. Yang tentu saja membuat Kanaya mendengus kesal.
"Please ya, tolong, untuk saat ini jangan bahas soal kerjaan. Tolong gue, Ra, tolong. Kepala gue masih mumet tau nggak bekas deal-dealan sama pengerajin itu!" Rutuknya kesal sendiri sembari tetap menyantap bakwan goreng di tangannya.
Aku tertawa melihat ekspresinya yang seperti orang sedang frustasi itu. Ya, aku benarkan, memang saat persetujuan kerjasama dengan para pengerajin, goal yang kami dapatkan memang tidaklah mudah. Malah sepertinya dipersulit. Tapi karena kegigihan kami, akhirnya kami mendapatkan apa yang patut kami dapatkan. Yakni, hati para pengerajin hingga mau berkerjasama dengan kami.
"Ya, ya, okey... sori, sori!" Kataku yang hanya diangguki singkat olehnya. Kanaya sibuk dengan makanan di hadapannya. Huh, dasar Ratu Makan!
Akhirnya, kubiarkan saja dia. Sementara aku kalut dengan pikiranku sendiri. Banyak hal yang ada di dunia ini, sebagai manusia berakal sehat jatuh terpuruk saat patah hati memang bukan lah hal yang pantas dilakukan. Dan aku sadar betul, meski hatiku terluka aku nggak boleh menjadi manusia yang akalnya sakit!
Sudah kuputuskan! Aku nggak akan menangis hanya untuk Bang Ezra dengan pacar barunya. Karena akal sehatku berkata, bila jodoh ke mana pun dia pergi dia pasti akan kembali. Dan aku yakin, hal itu pun berlaku pula untuk Bang Ezra dan aku!
"Woi, kenapa lo senyum-senyum gitu?" Suara Kanaya dan tepukan tangan Kanaya di bahuku membuatku sedikit berjengit karena kaget.
Namun bukannya kesal aku malah makin melebarkan senyumku sampai membuat ekspresi wajahnya keheranan.
"Ei, Kyra, lo lagi nggak kesambet setan kebun teh kan?!" Tanyanya parno.
Aku lantas berdecak. Kadang, Kanaya memang suka asal kalau bicara tuh. "Apaan sih, nggak lah! Jangan aneh-aneh deh, Nay!"
__ADS_1
"Ya lagian, lo tau-tau senyam-senyum kayak gitu, padahal nggak ada hal yang lucu. Kan, gue lihatnya kayak adegan film horor, tau!"
Aku menghela napas. "Makanya, jangan kebanyakan nonton horor!"
"Loh, kenapa? Seru, kali." Balasnya nggak terima.
"Seru, seru, tapi lo sendiri takut, parnoan, gimana sih?!" Aku berdecak, lalu geleng-geleng kepala. Terkadang, Kanaya memang suka aneh orangnya. Untunglah aku sudah tahan dengan perilaku anehnya, jadi nggak heran lagi.
Tak berapa lama, aku dan Kanaya memutuskan kembali ke Villa kami, tentu setelah kami merasa kenyang dan cukup dengan sarapan kami. Sesampainya di Villa, Kanaya memutuskan langsung mandi karena merasa lengket dengan badannya yang bekas keringat dari olahraga pagi kami tadi.
Sementara Kanaya membersihkan dirinya di ruangan lain, aku memutuskan untuk menikmati waktuku sendiri dengan melihat pemandangan kebun teh yang asri terhampar luas membentuk baris demi baris yang memanjakan mata.
Suara kicauan burung yang terdengar merdu di telingaku membuatku tersenyum tanpa sadar. Lingkungan asri yang begitu sulit kudapatkan bila aku berada di rumah. Memang sepertinya sesekali aku harus berada di tempat seperti ini untuk menjernihkan otak dan pikiranku.
Drrrttt... Drrrtttt...
Ponselku yang kugeletakkan di atas meja itu bergetar tiba-tiba, diiringi dengan lantunan nada dering yang memekakkan telinga. Aku bahkan sampai berjengit, kaget, kala mendengarnya.
Lantas kulihat nama si pemanggil yang terpampang di layarnya. Aku mendengus.
Delvin Jelek
Calling...
Aih, ada apa coba anak itu telepon tiba-tiba begini? Nggak biasanya. Ada perlu apa coba dia denganku? Sampai mau-maunya membuang-buang pulsanya yang berharga itu?!
"Halo, kenapa?" Sapaku singkat.
"Wa'alaikumsalam ya,"
Aku meringis. Lalu nyengir. "Hehe, maap, assalamu'alaikum... kenapa??"
"Nah, gitu dong, kalem! Jangan kayak tadi, jawab telepon tapi kayak mau ngajak tawuran!" Cerocosnya panjang lebar, yang membuatku hanya manggut-manggut saja. Meski kutahu si Delvin pun nggak bisa juga melihat anggukkanku ini.
"Emang! Sudah rahasia umum kok kalau Kyra itu bawel. Ha ha ha..." ejeknya padaku yang disusul oleh tawa ngakaknya yang cukup membuatku sebal kala mendengarnya. Huh!!
"Eh, ngapain lo nelepon gue? Ada apa?? Tumbenan. Udah nggak sayang lo sama pulsa berharga lo itu, Vin?!"
"Sayang sih sebenarnya. Tapi kalau nggak nelepon penasaran."
Aku mengernyit. Merasa aneh dengan kalimatnya barusan. "Ha? Penasaran kenapa??"
Dari seberang sana kudengar suara dengusan dari tawa kecilnya. Ih, dia kenapa?
"Nggak pa-pa." Katanya singkat. Ambigu. Yang tentu saja membuatku makin penasaran dengan maksud dibalik kata "nggak pa-pa"-nya itu.
Namun, baru saja aku hendak bertanya. Suara Delvin sudah menyela duluan. Dia bertanya, "Lagi di mana lo, Ra?"
"Lembang."
"Loh, katanya Bandung!" Serunya ngotot.
"Lembang kan juga bagian dari Bandung. Gimana sih?" Balasku. "Betewe, tahu dari mana gue ada di Bandung??"
"Mas Kamil." Jawab Delvin cepat.
Aku memutar bola mata. Mas Kamil kadang ember juga nih. Untuk apa juga dia cerita-cerita tentangku pada Delvin?!
"Ra," tiba-tiba Delvin memanggil namaku. Suaranya rendah.
__ADS_1
"Eung?!"
"Lo..." dia menahan kalimatnya. Membuatku mengernyit seketika, menunggunya bicara. Tapi dia nggak kunjung bicara setelah kutunggu beberapa saat.
"Apaan sih, Vin? Lo... Lo... apa?!" Tanyaku nggak sabar.
"Lo di mana? Lembang mananya? Gue susulin boleh nggak?!"
Kerutan di keningku makin dalam rasanya. Mendengar Delvin bicara. "HAAAAH?!"
"BUSET!! Suara lo, cempreng banget sih?! Kontrol dikit apa! Menyakiti genderang telinga gue nih,"
"Heh! Lo ngapain mau nyusul gue ke sini? Ada urusan apa lo ke sini?! Eh, tunggu, gue nggak salah denger kan, tadi?!?" Tanyaku bernada cepat, mengabaikan ucapannya sebelumnya.
"Suwer ya Kyra... lo itu bawel banget! Sumpah!!" Rutuknya yang malah membuatku tertawa.
"Tawa lagi lo! Jelek!!" Ejeknya padaku.
Mentang-mentang punya tampang lumayan, seenak jidatnya dia bisa mengatai aku jelek. Dasar!
"Ngaca dong, tolong!" Bila di depannya sungguh aku nggak mau berkata jujur.
"Udah ngaca dan tetep ganteng tuh. Gimana dong?!" Katanya narsis.
Aku bergidik mendengar ungkapan PD-nya itu. "Amit-amit!!" Ujarku geli, yang malah membuatnya terbahak-bahak. Delvin nggak jelas!!
"Ra, pokoknya kirimin alamat lo ya! Ge-ce ya, nggak pake lama!" Serunya memerintah.
"Ih! Lo mau ngapain dulu ke sini, Delviiinn..." desisku geregetan sendiri dengannya.
"Lahh, lo sendiri ngapain tuh ke Lembang?!" Dia malah balik bertanya. Membuatku memutar bola mata, jengah.
"Liburan. Refreshing!"
"Nah, ya udah, sama! Gue juga mau liburan, asal lo tau. Gue suntuk nggak ada temen di rumah!"
"Mas Kamil juga temen tuh,"
"Yang udah punya istri nggak bisa diajak main!" Sahutnya cepat. "Udah apa, kasih aja! Kenapa sih lo pelit banget sama temen sendiri?! Katanya lo mau hibur gue yang baru patah hati?!"
Aku mengernyitkan hidung seketika. "Perasaan gue nggak pernah bilang gitu,"
"Ya udah apa sih, iya aja, kenapa? Pengertian dikit kek jadi temen tuh!" Rengeknya yang membuatku menghela napas panjang.
Jika manusia bernama Delvin Adinata sudah merengek seperti balita artinya mau nggak mau aku harus menurutinya. Huh, Delvin itu menyusahkan!
Dan pada akhirnya aku hanya mampu berkata, "Iya, iya. Ntar gue kirim alamatnya di WA ya. Udah, kan?!"
Aku rasa dia sedang tertawa lebar sekarang. "Nah, begitu dong! Itu baru teman sejati yang baik!"
Sudah kuduga dia pasti akan sesenang itu. Baik lah, anggap saja ini adalah hiburan untuk kami yang sama-sama baru patah hati.
"Gue tunggu. Jangan lama!"
"Iya, iya. Bhay!!"
Tuuuttt~
Sambungan telepon itu langsung kuputus sepihak. Nggak aku pedulikan tentang Delvin yang mungkin memakiku lagi karena aku nggak mengucapkan salam di akhir panggilan. Ugh, karena tiba-tiba kebelet. Sekarang otakku hanya tertuju satu tujuan;
__ADS_1
KAMAR MANDI!!