Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.6 | A : Ezra & Keputusannya


__ADS_3


Ezra -



Sambungan telepon baru saja terputus. Panggilan casting film dengan sutradara ternama sudah menungguku di depan mata. Bukankah harusnya aku bahagia dengan berita ini?


Tapi anehnya, aku malah terduduk di atas ranjang, tertegun sendiri.


Saat menoleh, aku mengambil kertas itu lagi. Menatap selembar undangan yang kini sudah tersemat di tangan. Senyum kecut lantas menyusul setelahnya. Aku mendengus lirih, harusnya setelah berita baik itu akan ada ucapan selamat yang selalu mampu buatku tersenyum. Harusnya ada tawa bahagia setelahnya... Harusnya... Harusnya...


Dadaku mendadak terasa sesak mengingat sikap Kyra kemarin yang seperti sudah ikhlas meninggalkanku.


Aku memukul dadaku yang tak hentinya sesak sendirian. Upaya agar aku dapat kembali bernapas dengan normal. Sesak ini sungguh menyiksa, lebih lagi, kehilangan sosoknya di sisiku kini yang membuatku makin tersiksa.


"Bodoh,"


"Bodoh,"


"Gue memang bodoh," Makiku pada diriku sendiri. "Bahkan sampai akhir dia gak tahu perasaan gue yang sebenarnya..." Lirihku.


Kemudian aku menatap langit-langit kamar. Aku sadar, kepedihan diriku tak akan ada artinya lagi. Karena aku sudah terlambat!


"Gimana bisa aku gantiin sosok kamu, Ra..."


Gadis yang selama ini selalu berdiri di sampingku, mendukung segala yang kulakukan, bersikap positif dengan senyum manis dan tawanya yang selalu membuat candu. Si Pendukung terbaik yang pernah kumiliki, namun kini nggak akan bisa lagi menjadi milikku.

__ADS_1


Aku telah kehilangan dia sepenuhnya...


Jadi apakah ini adalah balasan atas kelambanan diriku seperti yang Delvin bilang hari itu?


[...]


*Tiga hari lalu, 16.34 WIB.*


Tepat selepas aku melakukan rutinitas soreku yang nggak boleh ketinggalan, yakni berolahraga, Delvin tiba-tiba menghubungiku via panggilan langsung. Telponnya masuk, dan tanpa basa-basi dia memintaku menemuinya yang akan datang dalam waktu 10 menit di rumahku. Tepatnya dia ingin main ke rumahku, itu hal biasa sebetulnya. Hanya saja yang aneh adalah nada bicara tegasnya itu yang lantas membuatku jadi berpikir negatif.


Aku mengerut kening. Mendadak aku jadi mengingat wajah Kyra, entah dengan alasan apa aku jadi mengingat wajah sendunya. Mungkin itu karena aku biasa mendengar curhatan mereka berdua setelah mereka saling bertengkar. Mengingat itu kini kerutan keningku pun berubah menjadi senyum. Jadi, cerita seperti apa lagi yang akan kudengar kali ini? Delvin yang iseng atau Kyra yang cengeng??


From : Delvin


Gue otw. Lo di depan?


Dikirim pukul 16.40 WIB


To : Delvin


Ya, gue tunggu di depan.


Dikirim pukul 16.40 WIB


Suhu tubuh yang panas akibat olahraga membuatku terduduk lelah dengan napas terengah di tepi batas taman rumah berada. Meneguk air mineral dalam botol yang sebelumnya aku ambil dari dalam rumah. Sudah bukan hal baru lagi aku berolahraga di depan rumah. Nyaris setiap sore aku selalu menyempatkan diri untuk menjaga kebugaran tubuhku. Bagaimana pun profesiku saat ini lah yang menuntutku harus seperti ini.


Aku tersenyum tiba-tiba. Entah bagaimana bisa-bisanya aku malah membayangkan wajah Kyra dengan kalimat penyemangatnya yang beberapa tahun ini selalu terngiang-ngiang di otakku.

__ADS_1


"Semangat Bang Ezra! Bang Ezra pasti bisa jadi aktor terkenal!" Katanya sembari tersenyum sumringah.


Lalu suatu hari dia pun berkata, "Aku selalu doain biar Bang Ezra dapat peran bagus biar bisa menang Piala Citra!"


Kalimat itu memang terdengar murah. Semua orang pun bisa mengucapkannya. Tapi menurutku versinya lah yang paling tulus di antara semua orang yang pernah berucap padaku.


Kyra, dia memang selalu menjadi pendukung terbaik. Bahkan ketika aku baru memulai debut dan menjadi pemeran figuran, dia berkata, "Sekarang Bang Ezra udah punya penggemar, tapi inget, tetap Kyra ya yang jadi penggemar nomor satu Bang Ezra!" katanya sembari tertawa.


Bagai sihir yang entah bagaimana cara kerjanya, semua kalimatnya itu telah menjadi dopamin yang selalu menyuplai energi positif untukku.


"Tin, tin!"


Suara klakson mobil itu membuyarkan lamunanku tentang Kyra. Senyumku yang tadi masih mengembang pun surut seketika. Aku menoleh ke samping. Delvin pun keluar dari mobilnya dengan setelan santai khasnya namun tampak lebih rapih dari biasanya dia hanya pakai kaos polos dan celana pendeknya saja.


Aku lantas berdiri menyambutnya. "Mau ke mana lo?"


"Menyelesaikan urusan," Jawabnya singkat yang membuatku mengangguk paham.


"Jadi lo ada urusan?" Aku mengernyit. "Kenapa nggak ketemu gue habis urusan lo selesai aja? Gue takutnya itu penting."


Delvin menggeleng. Tak setuju dengan ucapanku barusan. "Nggak ada yang lebih penting dari urusan gue sama lo sekarang."


Jawabannya yang bernada tegas itu membuatku berpikir keras. Dia yang biasanya selalu bicara santai dengan nada canda kepadaku mendadak berubah serius seperti ini tentu saja langsung menggiringku dalam asumsi yang tak biasa.


"Ini," Tiba-tiba dia menyerahkan sebuah kertas tebal dengan goresan tinta yang amat khas kepadaku.


"Ini...?" Aku mengernyit, namun tetap menerimanya.

__ADS_1


Dan betapa terkejutnya aku melihatnya. Sebuah kertas undangan pernikahan yang memuat nama jelas dari dua orang yang sangat aku kenal!


__ADS_2