
-Kyra-
Setelah meeting singkat kami siang ini usai, Delvin lantas bergegas pamit. Katanya, setelah ini dia memiliki sisa pekerjaan yang harus segera diselesaikan karena sudah masuk hari terakhir deadline!
Begitu mendengarnya, aku mengangguk saja dan tanpa basa-basi lagi aku langsung segera mengantarnya menuju depan pintu. Namun, ketika aku baru saja hendak mengucap sepatah kata sebagai salam basa-basi perpisahan, tiba-tiba suara Ayah yang berat itu memanggil kami. Mengintrupsi. Hingga kami menoleh nyaris bersamaan!
"Hei, kalian! Mau ke mana itu?! Sini dulu!" Ayah lantas melambaikan tangannya. Mengayun-ayun, memanggil kami agar segera memenuhi titahnya. Mendekatinya yang saat ini sedang berdiri di tengah ruangan. Tak terlalu jauh dari posisi kami berdua, dari ambang pintu masuk ini.
Delvin tampak tersenyum saja mendengarnya dan kini dia bahkan mengangguk. Aku mengernyit, heran. Kenapa dia kalau berhadapan sama Ayah jadi sok kalem begini sih?
"Ayah, Delvin katanya ada kerjaan penting. Dia buru-buru!" Seruku memberitahu.
"Kerjaan apa sih, Vin, hari libur gini? Bilang sama bos kamu, nanti dulu gitu. Ada urusan yang lebih penting sama calon mertua!" Ujar Ayah yang langsung bikin aku meringis setelah mendengar tiap katanya.
Delvin nyengir. Lalu sesaat kemudian dia mengangguk. Yang tentu saja langsung membuatku melotot.
__ADS_1
"Heh! Lo bukannya mau ngurusin kerjaan lo dulu?!" Tanyaku berbisik gusar. "Katanya kerjaan deadline? Harus dikirim sore ini, terakhir??Gimana sih?!!" Aku benar-benar tak habis pikir dengannya!
Namun, bukannya menjawab atau bahkan membantuku untuk menolak ajakan Ayah tadi, dia malah hanya menyungging seulas senyum tipis kepadaku sekilas dan langsung melewatiku begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun bahkan meski itu ujaran basa-basi!!
Aku mendengus kesal. Sumpah ya, da ini! Padahal sudah capek-capek kubela, tapi dia malah mengabaikanku begini?! Dasar menyebalkan!
Mataku menyipit tajam melihatnya mengikuti langkah Ayah yang sudah memimpin jalan di depan tanpa perlu menungguku. Aku berdecak. Pada akhirnya aku ikut mengekor di belakang mereka dengan segenap rasa kesal yang kutahan rapat dalam dada.
Sabar... Sabar... Anak sabar itu anak sholehah! Rapalku terus dalam hati.
Sekian detik kemudian langkah kami berhenti. Ayah ternyata menggiring kami untuk singgah di ruang keluarga yang sepi dan tak berpenghuni ini. Entahlah, tapi sepertinya Ibuk, Mas Kamil dan Mbak Intan sibuk istirahat di kamarnya masing-masing.
Jadi... Sekarang, Delvin akan dapat sidang eksklusif dari Ayah nih?!
Buru-buru aku mengatup bibir. Memilih untuk diam dan mengalihkan perhatian pada hal lain. Tepatnya pada makanan ringan dalam toples yang memang berada amat dekat dari jangkauan tanganku. Buru-buru kubuka tutupnya agar aku bisa menikmatinya dengan santai. Toh, aku juga tak mau ikut-ikutan dalam pembicaraan serius mereka. Biarlah, percakapan ini nanti cukup menjadi urusan dua pria beda generasi ini saja. Perempuan sepertiku cukup duduk manis menjadi pengamat dan menikmati hal ini berjalan dengan semestinya!
__ADS_1
Entah lah hal apa yang ingin Ayah bicarakan. Tetapi sepertinya hal ini bukanlah hal yang mudah tuk dijawab terlebih untuk Delvin.
"Delvin," Suara Ayah menggema tiba-tiba, mengintrupsi perhatian kami semua dengan suara yang tak terbantahkan. Nadanya begitu serius terdengar! Belum lagi ditambah sirat mata yang kini menatap amat tajam bagai belati yang siap menghunus tepat di sasaran kapan saja. Tentu saja membuatku meringis ngeri seketika dibuatnya!
Delvin yang mendongak, lantas menatap Ayah yang duduk tepat di hadapannya dengan manik mata yang tak kalah serius. Menampilkan aura kesungguhan yang entah dari mana asalnya. Karena kini aku tak melihat ada kegentaran sedikit pun yang tampak dari raut wajahnya itu. Tak tahu juga kalau dia memang pandai menyembunyikan ekspresi itu atau malah menahannya, entah lah aku juga tak paham!
Aku mendesah panjang dalam hati. Aku pun tak mengerti. Kenapa suasana di sini mendadak jadi berubah ngeri begini?! Sampai-sampai membuatku jadi susah menelan makanan ringan yang sudah kukunyah sampai lembut sejak tadi. Huh!!
"Delvin, saya tanya sekali lagi ya... Apa kamu serius sama ucapan yang kamu ucapkan kemarin?!" Aura mematikan itu seketika terasa kuat begitu Ayah kembali bicara. Dan secara tiba-tiba saja, mata sipitnya yang tajam itu menyalang menatap bocah lelaki yang sudah sejak lama dikenalnya itu.
Meski ada gurat khawatir yang muncul di wajahnya, Delvin tetap tersenyum dan berusaha tenang. Benar, itu adalah jenis senyuman yang menenangkan bila diperhatikan baik-baik. Entah kenapa, hari ini aku merasa dia sudah mempersiapkan dirinya dengan baik tuk berhadapan langsung dengan Ayah. Lihat saja pembawaannya itu! Sangat tenang! Seolah-olah dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Dan sepertinya bila diperhatikan lagi, dia sungguh sudah menguasai diri hingga membuatnya terlihat tidak gugup atau canggung sama sekali!
Delvin mengangguk tanpa ragu sembari menatap tegas. "Tentu saya selalu serius dengan semua yang saya ucapkan itu, Pak! Tanpa terkecuali!"
Aku memandanginya heran, dan takjub secara bersamaan. Bertanya-tanya dalam hati, "Apa benar pria ini adalah Delvin yang kukenal? Pria banyol dan absurd itu?!!"
__ADS_1
...JANGAN LUPA VOTE, KOMEN & SHARE CERITA INI YAAA! TERIMAKASIIII~~...