Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.1 | B : Goodbye and Goodbye


__ADS_3

-Kyra-


Seperti biasanya, malam ini juga anggota keluargaku berkumpul di ruang keluarga dan menonton serial televisi favorit Ibuk bersama. Sinetron striping yang pemainnya tak aku kenali. Entahlah, tapi sepertinya aku tak begitu update tentang artis baru tanah air terkecuali Bang Ezra dan partner-partnernya.


Yah, semenjak Bang Ezra terjun ke dunia hiburan, fokusku pada aktor atau aktris memang lah hanya padanya dan lawan mainnya. Setiap dia main FTV atau pun film aku pasti selalu mencari informasi yang lengkap. Rasa was-was takut ia terlibat cinlok (cinta lokasi) atau semacamnya membuatku seperti fans fanatik.


Astagaa... Kalau dipikir-pikir menggelikan juga yaa aku ini?!


Kalau anak jaman sekarang mungkin akan menyebutku dengan sebutan "BUCIN" alias "Budak Cinta". Meski kuakui, setelah dipikir ulang kayaknya aku memang seperti itu!


Ugh! Aku bergidik ngeri sendiri. Padahal kalau membaca artikel korea aku selalu mengejek fans fanatik yang selalu membuntuti ke mana pun idolanya pergi. Tapi rasa-rasanya aku kok seperti nggak jauh beda ya?!


"Emang harus disudahi segera masalah ini."


"Heh? Kenapa, Dek?? Kamu mau nyudahi apa??" Entah bagaimana Mas Kamil yang sejak tadi sibuk dengan laptop dan pekerjaannya langsung menoleh kepadaku.


Dan, sesaat kusadari bahwa aku baru saja mengeluarkan suara isi hatiku dari bibirku sendiri secara langsung. Ya ampuuun!!


Aku meringis ngeri. Bingung mau membalas apa sedangkan aku lagi tak memikirkan alibi apa pun!


Mas Kamil menyipitkan matanya, lengkap dengan alis matanya yang bertaut rapat. Ekspresi curiga langsung muncul begitu saja dari wajahnya.


DUH!!


"Ah!" Aku nyengir. "Bukan apa-apa kok Mas, tadi aku kepikiran aja sama projek yang di Bandung!" Entahlah, aku lagi nggak kepikiran apa pun selain ini. Huhu.


"Kenapa? Projeknya ada masalah??" Wajah datarnya kembali. Sepertinya rasa curiganya padaku sudah hilang. Syukurlah!

__ADS_1


"Masalah tentu ada dong Mas Kamil. Mana ada kerjaan tanpa masalah? Hehe..." Aku nyengir, berusaha setengah mati terlihat natural di depan Kakak sulungku ini.


"Iya, lah." Balasnya. "Namanya juga orang hidup, tanpa masalah atau ujian mana afdol!"


"Bener tuh!" Ujarku diiringi dengan dua jari membentuk pistol untuk menunjuknya.


"Lagi pula, Allah itu memberi ujian pasti akan selalu sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Allah Maha Tahu dengan kapasitas tiap hamba-Nya. Jadi jangan khawatir. Seberat apa pun ujian yang datang pada kita, yakin aja kita pasti bisa melewatinya. Karena emang kita ini pada dasarnya mampu!" Entah bagaimana Mas Kamil malah mengeluarkan kalimat bijaknya.


Namun, tak ada alasan buatku tak mengangguk. Karena kalimat yang dia katakan memang benar.


"Dan, jangan lupa! Setiap ujian yang udah kita lalui adalah proses kenaikan level agar kita bisa jadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Jadi jangan pernah merasa jadi makin lemah kalau tiba-tiba ada masalah. Karena udah seharusnya masalah itu yang malah membuat kita semakin kuat!"


Aku mengangguk sekali lagi. "Iya, Mas, aku tau kok. Makanya, tiap ada masalah gak pernah aku pikirin muluk-muluk. Ya, let it flow aja, hehe.."


"Nah, iya, bagus tuh!" Mas Kamil lantas menunjukkan jempolnya padaku. Sementara aku menyunggingkan senyum lebar.


"Wahhh... Sayang, alhamdulillah yaa, kamu kayaknya makin dewasa seiring kandungan aku membesar ya?" Mbak Intan yang selalu setia duduk di samping Mas Kamil pun jadi ikut-ikutan. Matanya berbinar bahagia, seolah ia habis melihat keajaiban di depan matanya. Dan hal itu tentu saja sukses membuatku tertawa geli. Kadang, Kakak iparku ini juga lebih frontal orangnya.


Sungguh pasangan ajaib! Haha.


"Kayaknya sih, naluri karena sebentar lagi bakal menjadi Papa, Mbak!" Selorohku, yang membuat Mas Kamil mendengus.


"Ya, benar, memang harus begitu! Masa iya, nanti anaknya nangis dia ikut nangis bukannya nenangi!" Kini Ayah malah ikut-ikutan. Sementara Ibuk terkekeh geli di samping Ayah.


"Apaan sih, kenapa semuanya jadi kompak nge-bully Kamil gini?!" Ketusnya dengan wajah dilipat.


"Siapa juga yang nge-bully kamu? Orang yang diomongi ini fakta kok! Ya, nggak, Buk?" Ayah melirik Ibuk, yang langsung mendapatkan anggukkan diiringi kikikan geli Ibuk.

__ADS_1


"Coba aja, kamu inget-inget, Mil! Waktu awal nikah dulu, kan kamu juga nangis karena..."


"HUSHHHH, AYAH!! Jangan buka-buka memori lama gitu dong!!' Tukas Mas Kamil yang langsung membuat semua orang tertawa, tak terkecuali aku. Yang makin geli perutku karena pembicaraan hangat ini.


Ya ampun... Kalau nikah nanti, aku pasti akan kangen momen ini!


Drrrrtt... Drrrrttt...


Perhatianku terintrupsi ketika getaran yang disinyalir adalah notifikasi pesan whatsApp masuk tiba-tiba. Masih sambil tertawa aku lantas mengecek pesan itu. Dan, seketika bibirku yang mulanya tersenyum pun mengatup rapat. Wajahku mulai serius. Pikiran yang tadi sempat terlupakan sejenak mendadak mengganggu lagi.


From : Delvin Jelek


Besok gue sama Ines ketemu ya.


Oya, lo udah janjian sama Ezra? Harus langsung dikasih ke orangnya ya! Nggak boleh pakai perantara! Awas loh!!


Diterima pukul 19.54 WIB


[...]


Aku melipat bibirku, gelisah.


Duh, gimana nih??!



...JANGAN LUPA VOTE & KOMEN YANG BANYAK YAAA! KOMEN 10 UP AKU POST LANJUTANNYA LAGI DEEHH #IHIIYYY 😋...

__ADS_1


__ADS_2