
-Kyra-
Aku terus menatapnya sembari terus menekan hatiku yang perih. Andai dia tahu, dibalik senyum tipisku ini ada semburat luka yang menganga karena kejujurannya.
"Menurut Bang Ezra gimana," Kataku tiba-tiba. Dia lantas mengangkat kepalanya, menatapku. "Apa... Apa aku cocok nikah sama Delvin?"
Dalam sekejap mata aku pun terheran, dari mana asal mula kenekatan ini sampai-sampai dengan beraninya aku bertanya hal yang seperti itu kepadanya!
Sungguh, aku pikir patah hatiku membuatku setengah gila!! Bisa-bisanya aku yang sudah terluka ini malah ingin menggali kuburanku sendiri?!
Please, Kyra... Kamu udah cukup patah hati jangan ditambah lagi! Teriak hatiku yang sudah frustasi karena pemiliknya sebodoh ini!
"Hmm, aku nggak tau kalian cocok atau enggak, kalau ingat kalian sering bertengkar kemarin lalu. Tapi, kalau Tuhan sudah menyatukan kalian, mungkin itu artinya... Kalian emang cocok?"
Nadanya berujar tak yakin, namun senyumnya membuatku menyimpulkan hal yang berbeda. Tentu saja dia berpikir kami cocok, karena aku tak cocok bila disandingkan dengannya. Aku makin berpikir sarkastik.
__ADS_1
Aku tersenyum tipis. Lalu mengangguk, membenarkan pendapatnya. "Setuju," Ucapku yang sudah menambahkan garam dj ata luka.
Aku menghela napas, "Yaudah Bang Ezra, silahkan lanjutin lagi deh kegiatannya. Maaf ya, aku jadi nyita waktunya Bang Ezra."
Dia langsung menggeleng, tak setuju. "Nggak kok, nggak nyita waktu aku sama sekali." Ujarnya ramah, masih seperti biasanya.
Aku membalas senyumnya sebiasa mungkin walau kurang yakin juga. "Kalau gitu, aku pamit dulu ya. Semoga Bang Ezra suka sama kuenya," Sekali lagi aku tersenyum kepadanya. "Dah, Bang Ezra..."
Dan, tanpa menunggu waktu lagi aku langsung berbalik pergi. Toh, untuk apa juga aku ada di sini lebih lama lagi jika urusanku saja sudah selesai.
"Kyra," panggilnya tiba-tiba, membuat aku jadi menoleh ke arahnya kembali. "Aku cuman mau ngomong..." dia menahan kalimatnya.
Entah lah, tapi aku merasa ada sedikit keraguan yang terlintas di matanya sebentar sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya.
"...Kalau Delvin buat kamu nangis, kasih tahu Bang Ezra ya!" Serunya yang membuatku tersenyum, kecut.
__ADS_1
Dalam hati aku mencemoohnya!
Untuk apa dia berkata seperti itu, padahal dia satu-satunya orang yang telah menyakitiku. Andai saja dia tahu... Kalau bukan Delvin yang menjadi si pelaku, tetapi tidak lain dan bukan hanya lah dirinya sendiri!
Kemudian, tangannya terangkat ke atas lalu melambai menjawab ucapan perpisahanku yang kuucap sebelumnya.
"Aku pulang ya," ucapku tanpa ingin menanggapi seruannya barusan. Dia pun mengangguk masih dengan senyuman lebarnya itu.
Lalu langkahku pun berbalik sempurna memunggunginya, dan di detik itu juga senyumku yang tadi kukembangkan di hadapannya langsunv lenyap dalam sekejap. Kakiku berjalan lurus ke depan. Tak lagi kutengok ke belakang. Rasanya terlalu pahit apalagi mengingat seruannya itu!
Langkah demi langkah aku susuri, berusaha berderap secepat mungkin yang kubisa. Meski perih ini masih menyelimuti hatiku, setidaknya perasaan lega mulai muncul seiring kakiku ini terus melangkah menjauh darinya.
Benar kata Delvin, untuk menyambut masa depan kita memang harus melupakan masa lalu.
Sudah kuputuskan dengan bulat dan mantap. "Selamat tinggal Bang Ezra, selamat tinggal cinta sebelah tanganku." Ucapku lirih dalam hati.
__ADS_1
...****************...