Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.1 | A : Sahabat Menikah?


__ADS_3

- Delvin -


Dari yang diceritakan Kyra secara singkat tadi, perempuan muda yang pasti seumuran dengan kami ini bernama Kanaya. Dia adalah teman dekat sekaligus kolega si Kira-kira dalam projek bisnis sepatu kulitnya di Bandung.


Katanya, mereka berdua kemari tanpa ada rencana. Mendadak, setelah menyelesaikan semua urusan projek mereka, dua hari lalu. Tiba-tiba Kanaya mengajak Kyra ke tempat ini sekalian melepas penat, begitu sih yang diceritakan Kanaya barusan. Sedangkan dua orang yang lain yang dibawa Kanaya tadi adalah kerabat cewek itu.


Jadi sekarang ini, kami berlima sedang berkumpul duduk di atas karpet bulu yang sengaja di gelar di atas lantai kayu di ruang keluarga sembari menikmati minuman panas dan martabak-yang untungnya masih hangat-buah tangan dari kedatangan mereka tadi. Kami di sini berbincang mengobrolkan hal apa pun yang menarik, termasuk perihal bisnis baru Kyra dan Kanaya, atau tentang cerita pengantin baru yang lagi anget-angetnya ini.


Aku menatap malas pada pasangan yang duduk bersenderan di depanku ini. Mereka tanpa risihnya, duduk mesra saling menempel begitu di depan para jomblo kayak kami seakan sengaja membuat kami mupeng!


Kampret! Akhirnya aku memaki juga meski cuman bisa di dalam hati. Melihat Omnya Kanaya dan istrinya itu bermesraan bikin aku keki.


Iya! Jujur aja, aku emang iri. Rasanya pengin kawin juga secepatnya biar bisa nempel-nempel anget kayak gitu! ARGHH... OM-TANTE SIALAN!!


"Duduknya misah dikit dong! Nggak kasihan apa sama yang jomblo ini?!" Ujarku menyindir mulus pada pasangan ngeselin ini.


Kak Nena, begitu lah nama istri Om Aric--yang harusnya sih, dipanggil "Tante" alih-alih "Kakak", tapi orangnya nggak mau. Haha. Yang ternyata Kak Nena ini usianya nggak terpaut jauh dari kami--Bahkan sebenarnya Omnya Kanaya ini, Om Aric, pun usianya juga nggak jauh-jauh banget dengan kami semua. Om Aric usianya 34 tahun, sedangkan Kak Nena usianya 28 tahun. Nggak terlalu jauh bukan dengan usia kami yang 24 jalan ke 25?


Namun, meski begitu, aku enggan memanggil si Om dengan sebutan "Kakak" atau "Mas". Alasannya? Males, nanti orang kiranya umur kita nggak jauh beda benaran lagi. Padahal usia kita jelas beda nyaris 10 tahun!


Ugh! Lagi-lagi aku harus mengakui. Meski usianya 34, Om Aric ini--sialannya--masih amat kelihatan muda. Apalagi otot-ototnya itu... halah! Nanti gue nge-gym deh biar sama!


Disindir secara terbuka olehku, Om Aric malah tertawa. Kubalas langsung dengan dengusan. "Sayang, ada yang nggak terima nih kita deketan gini. Gimana dong?"


Namun, bukannya risih, Kak Nena malah makin memeluk erat lengan tangan Om Aric hingga membuat mereka makin berdempetan. Rapat. Sialan, pasangan yang kompak yaa rupanya! Kompak menyiksa para jomblo!! Ck.


"Makanya, Vin, kalau mau kayak gini juga cepet nikah gih!" Seru Om Aric dengan entengnya.


Aku mendengus, kesal. "Dikira nikah itu gampang kayak main aja kali ya," sindirku.


"Gampang kok, kalau ikhlas jalaninnya. Lillahita'ala..." sahut Kak Nena mengompori.


Akhirnya, aku manggut-manggut saja. Membantah pun nggak ada guna, sepertinya. "Iya, deh, iya..."


"Lagi ngomongin apa sih?!" Suara Kanaya mengintrupsi.


Aku menoleh ke arah sumber suara. Akhirnya mereka kembali juga setelah beberapa menit yang lalu pergi ke dalam kamar tanpa pamit. Ya, mereka, maksudku, Kanaya dan si Kira-kira.


"Vin, nih, gantinya. Mandi sana, celana lo basah semua gitu!" Kyra memberiku seperangkat pakaian yang terdiri dari kaos oblong hingga pakaian dalam yang warnanya serba hitam.

__ADS_1


Aku mengernyit, menatapnya curiga. "Ci-Di siapa tuh, yang lo kasih ke gue?"


Bukan apa-apa ya, aku cuman khawatir aja. Karena yang namanya pakaian dalam itu nggak etis lah dipakai bersama! Geli juga kali gue pakai bekas orang! Ck.


"Itu baru kok, punya Abangnya Naya yang waktu itu nginep di sini. Lihat aja tuh, masih ada labelnya kan?! Nggak gue copot emang, sengaja!" Cerocos Kira-kira ngotot.


Aku nyengir aja saat memang benar seperti katanya, kalau barang ini memang baru. "Hehehe..."


Kyra mendengus. Lalu mendorong pahaku dengan kakinya sambil berseru, "Yaudah, sana mandi, nanti masuk angin!"


Huh, sopan banget emang dia tuh!


Aku mendengus jengah. Mengangguk akhirnya, mengiyakan seruan si Kira-kira bawel ini. "Iya, iya, bawel banget sih!"


"Jangan iya-iya aja! Cepet berdiri, jalan!" Titahnya nggak terbantahkan.


Aku manggut-manggut aja sambil tersenyum manis padanya. "Sabar yaaa... ini gue habisin susunya dulu. Mumpung panas, nggak enak nanti kalau dingin."


"Yaudah, jangan lama-lama!"


"Siap, bos!!" Seruku dengan tangan membentuk gerakan hormat padanya secepat kilat.


Aku mengernyit. Menatap heran orang-orang yang kini sedang tertawa selagi melihat ke arah kami. Aku dan Kyra lantas berpandangan. Kami pun sama-sama nggak mengerti tentang mereka yang tiba-tiba saja tertawa, padahal nggak ada hal lucu yang sedang terjadi di sini. Aneh!


"Ada hal lucu apaan nih? Kenapa pada ketawa?!" Tanyaku penasaran. Kyra yang baru duduk di sebelahku ini pun mengangguk, membenarkan pertanyaanku.


"Nggak," sanggah Om Aric yang malah membuatku semakin menatapnya penuh curiga. "Jadi kalian kapan nih?"


Aku mengernyit. Nggak ngerti. "Kapan apanya, Om?!"


"Nikahnya!" Imbuh Kak Nena melanjutkan.


Kontan, aku mengangkat alisku tinggi-tinggi mendengar pertanyaan barusan. Saat melirik Kyra di samping, dia pun berekspresi dengan syok yang amat berlebihan. Matanya sampai mendelik lebar dan hidungnya kembang kempis, nyaris mirip kayak Banteng ngamuk!


"Ih, Om Aric, Kak Nena, apaan sih? Lo juga Nay, jangan ikut-ikut!" Desis Kyra melotot garang pada Kanaya yang sejak tadi tertawa geli.


"Kok apaan sih, sih? Kan, kita cuman tanya, kalian kapan nikahnya? Udah cocok banget gitu. Nggak baik loh, ditunda-tunda," Om Aric mulai memberikan nasehat. "Iya nggak, Sayang?" Liriknya pada Kak Nena, yang langsung mengangguk tanpa ragu.


"Iya nggak, Nay?" Ganti Om Aric melirik Kanaya yang duduk berhadapan dengan Kyra.

__ADS_1


Kanaya mengangguk cepat. Masih dengan tawa yang sama dia menjawab, "Betul banget itu, Om!"


"Ish..." lagi-lagi, Kyra mendesis. Tanda kalau dia sangat jengah sekarang. Wajahnya bahkan sudah terlipat-lipat sekarang. "Kenapa sih semuanya pada suka ngeledek gitu?!"


Tuh, kan, bibirnya sudah berubah maju. Cemberut. Tanda kalau dia sudah kesal.


Karena melihat Kyra yang sudah mulai memberengut, aku lantas menandaskan susu coklatku yang sudah berubah hangat ini hingga tetes terakhir. Lekas beranjak berdiri sebelum tanduknya si Kira-kira keluar menghadangku.


Pokoknya, aku nggak boleh sampai ikut-ikutan bikin dia kesal!


"Pamit undur diri dulu, semua. Mau mandi," ujarku sembari beranjak.


"Yah, kan, Delvin, cara melarikan dirinya jago banget!" Seloroh Om Aric yang hanya kubalas dengan dengusan tawa sambil terus berlalu.


Meninggalkan mereka di belakang dalam posisi duduk yang masih sama. Kudengar suara mereka kembali melanjutkan obrolan itu selepas kupergi. Langkah kaki ini terus berjalan ke depan, namun fokus telingaku tetap terarah ke belakang.


Bahkan dalam jarak sejauh ini pun aku masih menajamkan telinga untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Apaan sih, Om, kita itu sahabatan mana bisa nikah!"


"Loh, siapa bilang sahabatan itu nggak bisa nikah? Malah yang ada dari kebanyakan kasus, pernikahan antar sahabat itu bisa lebih awet dan panjang umur dibanding yang lain,"


Langkahku terhenti seketika padahal jarak langkah kakiku dengan pintu kamar mandi hanya bersisa satu langkah lagi.


Sejenak, pernyataan yang diberikan Om Aric itu membuatku berpikir.


Sahabat menikah? Awet??


Dan, tanpa sadar, senyumku pun mengembang tipis perlahan bertepatan dengan majunya langkah kakiku dan aku yang mulai menghilangkan diri di balik pintu kayu kamar mandi yang memang sudah menungguku sejak tadi.


Salahkan Om Aric.


Aku jadi kepikiran!



___________________


p.s :

__ADS_1


Hayoo hayooo, Delvin kepikiran apaan? Haha XD


__ADS_2