
- Kyra -
Seminggu pun berlalu seperti biasa semenjak hari itu. Hari di mana kami membuat kesepakatan bersama tentang pernikahan. Yang tadinya aku pikir akan mengubah banyak sisi di kehidupanku, tapi ternyata tidak begitu. Nyatanya, hari-hariku masih berjalan wajar seperti biasa. Masih disibukkan ini dan itu tanpa ada yang berubah tak terkecuali kegoyahan hatiku.
Aku tersenyum masam. Mengenang. Rasa-rasanya baru kemarin aku mengatakan akan melupakan perasaan 10 tahunku, tapi tadi pagi kala aku tak sengaja berpapasan dengan Bang Ezra saja aku masih gugup setengah mati!
Entahlah, aku juga bingung bagaimana mengatasinya. Di satu sisi aku ingin mengubah hatiku pada yang sudah memberikanku kepastian nyata di depan mata kepalaku ini, tapi di sisi lain hatiku yang polos dan murni ini tak bisa berdusta. Aku berat sebelah. Apalagi mengingat perjanjianku dengan Delvin tujuh hari lalu. Perjanjian legal di atas kertas bermatrai.
Namun, sampai hari ini pun aku belum mendengar kabarnya lagi. Terakhir kali kudengar kabarnya sekitar lima hari lalu saat dia dengan baju rapih ala eksekutif mudanya itu menyeret sebuah koper hitam ke atas bagasi taksi di depan rumahnya. Tanpa pamit, dia hanya mengabariku sekali. Itu pun saat kukirim pesan padanya lebih dulu. Bertanya tentang keberadaan dirinya saat itu. Huh, dasar! Kalau ingat hal itu, aku jadi ingin memakinya. Padahal katanya, dia mau berjuang membuatku jatuh cinta padanya. Tapi mana buktinya? Cih! Omong kosong belaka!
"Ky, kamu kenapa deh mukanya kok asem banget begitu?"
Aku terhenyak seketika saat sadar ternyata sudah ditatap Mbak Intan yang duduk tepat di hadapanku, di atas meja kerjanya. Aku lantas meringis, mencoba berkilah menutupi kemurkaan hatiku pada tingkah laku Delvin itu, mencari alibi lain.
"Nggak pa-pa Mbak, cuman lagi kepikiran customer kemarin aja. Bawel banget habisnya! Bikin pusing!" Kilahku mengambil momen sore kemarin yang sempat membuat kepalaku berdenyut nyeri.
Mbak Intan tersenyum lembut, menenangkan. "Duh, kamu, gitu aja dipikirin. Namanya juga orang pasti ada yang ribet ada juga yang santai kan. Udah, gak perlu jadi pikiran,"
Aku senyum saja mendengarnya. Padahal sebenarnya bukan itu alasan terbesarku bermuka masam. Tapi kalau aku jujur yang ada nanti malah jadi bahan ledekkan saja buatku dan Delvin. Pasalnya, dari semenjak Kakak Iparku ini menikah dengan Mas Kamil, dia kerap kali menjodoh-jodohkanku dengan Delvin--yang memang tak bisa kusangkal bahwa kami sering punya agenda berdua baik itu di lingkungan rumah atau pun di luar. Kalau saja aku tak mengatakan kalau Delvin punya pacar dan awet untuk sampai pelaminan, pasti Mbak Intan tak akan segan mengulangi kalimat "mak comblang"-nya itu padaku atau pula Delvin. Yang jelas saja selalu berhasil bikin tengsin kala mendengarnya! Ck.
Mbak Intan kembali sibuk menatap layar monitornya sebelum beralih menyalakan printer di sisi kanannya. Sementara aku mencoba fokus dan menyibukkan diri dengan layar tabletku, mengalihkan pikiran pada toko kami di sebuah platfrom belanja online. Mengontrol tiap stok persediaan dan mengecek penilaian dari pembeli yang masuk. Bagus, karena sepertinya kesibukan ini berhasil membuatku bisa lebih fokus berkerja alih-alih memikirkan hal yang tak perlu. Iya, iya, maksudku Delvin! Huh.
Hari ini, aku berada di kantor kecilku yang berlokasi tak jauh dari rumah kami berada. Untuk sekadar datang mengecek persediaan dan mengontrol kesigapan kerja para karyawanku yang baru berjumlah tak lebih dari 10 orang. Mbak Intan sudah tiga bulan terakhir ini membantuku. Semenjak dia resign dari kantornya karena hamil muda beberapa bulan lalu, akhirnya setelah kandungannya dinilai cukup kuat oleh Dokter untuk beraktivitas kembali dia pun bertekad membantuku dan operasi online shop-ku ini. Karena dulunya, Mbak Intan adalah mantan staff persediaan barang dan juga Akuntan perusahaan, maka jadilah dia kuangkat menjadi tangan kananku dalam mengurus bisnis ini. Yang mana diriku belakangan ini sepertinya menjadi lebih sibuk wara-wiri mengurus projek baru di luar kantor daripada stay di dalam kantor.
__ADS_1
Namun begitu, aku tak pernah menyalahi profesionalitas meskipun Mbak Intan termasuk keluarga. Aku tetap menggunakan sistem kontrak dengan gaji tersebut selayaknya para karyawanku lainnya. Untungnya Mbak Intan punya pemikiran yang sama denganku sehingga kami tak harus banyak debat untuk mencapai mufakat. Hehe.
"Laporan bulan ini udah Mbak rekap ya, Ky, itu udah tertera semua jumlah nominal laba, pengeluaran zakat dan pajak, juga gaji karyawan. Tolong ditinjau lagi, siapa tau Mbak terledor." Ucap Mbak Intan padaku, membuatku tertawa kecil karenanya.
Aku pun mengangguk. "Oke siap, deh! Makasih ya, Mbak," kataku. Kini, giliran dia yang mengangguki balasanku.
Aku berlalu dari mejanya yang sedari satu jam lalu aku duduk bersamanya di sana. Melangkah ke arah mejaku yang ada di balik sebuah ruangan kecil yang lebih privasi seraya menenteng lembar-lembar kertas laporan yang tadi diberikan padaku. Menutup pintu ruangan rapat, dan kala aku makin mendekati meja kayu coklat tua itu, mataku langsung tertancap pada layar persegi panjang yang tengah menyala-nyala. Itu adalah... sebuah panggilan. Telepon!
Lantas, kutatap layar ponsel itu. Kubaca deret tulisan yang menjelaskan siapa gerangan peneleponnya.
Delvin Jelek
is Calling...
"Halo,"
"Assalamu'alaikum!" Sapanya penuh semangat.
Aku hendak membalas salamnya, namun suaranya yang berujar lebih dulu membuatku menelan lagi kalimatku mentah-mentah. Dengan suara ngegas-nya itu dia berkata, "Baca WA gue ya, sekarang. Langsung bales! Oke! Gue tunggu!~tuuut...."
Dan, sambungan pun terputus sepihak.
Aku menghela napas panjang. Jengah pada tingkah lakunya yang masih sama menyebalkan seperti lalu-lalu. Kalau begini bagaimana coba hari-hari pernikahan kami nanti?? Huh! Aku sungguh nggak habis pikir!!
__ADS_1
Lalu, seperti titahnya. Tanpa banyak bicara lagi, aku pun membuka aplikasi dengan ikon berwarna hijau itu. Membuka isi chatnya yang ternyata sudah berangka 11 banyaknya. Astaga, dia nulis apa saja sih, banyak banget...
Sampai akhirnya kubuka dan kubaca isi pesannya. Aku mendengus sebal. Sungguh, aku tak pernah mengerti apa isi otak randomnya itu!
Sekarang dia mau apa lagi sih?!
___________________
Halo semua, sudah nunggu lama ya? Duh, aku mohon maaf yaa, karena belakangan lebih sibuk sama aktifitas di dunia nyata jadi keteteran di dunia berkhayalku deh😅
Btw, aku otw nulis beberapa part. Doakan lancar yaaa... biar bisa cepet apdet. Karna sebetulnya aku juga pengin apdet borongan atau bahasa kerennya sih "crazy up" gitu kayak penulis lain. Tapi apa daya, kadang imajinasiku tuh suka mandek, jadi mohon pengertiannya yhaa🙏🏻😂
Aku mau ucapin makasih buat kalian yang masih siap sedia nunggu cerita ini. Terlebih lagi buat kalian yang kasih komentar, kasih vote dan likenya. Makasih banyaaakkk!!
Teruntuk pembaca setiaku, aku masih berusaha buat CRAZY UPDATE doakan aja yhaa biar betulan kewujud minggu2 ini. AAMIIN!
___
with love,
Icha Azzahra.
__ADS_1