
Ezra -
Rahangku seketika terasa panas kemudian rasa anyir darah pun muncul juga di indra pengecapku. Perih. Bogeman mentah itu tanpa kusadari telah melayang kepadaku. Aku kecolongan!
"Pukulan atas kebegoan lo yang gak sadar bikin Kyra nangis berkali-kali!"
"Sialan," Desisku dengan mata nyalang. Lalu...
"BUGGHH!!" Kubalas tinjuannya di rahang tegasnya itu.
Aku tahu tinjuanku itu tentu amat keras, namun dia bisa menguasai mimik mukanya hingga bogeman mentahku itu seperti bukanlah apa-apa. Padahal darah yang dia buang barusan dari mulutnya cukup banyak. Aku yakin sisi bibirnya pasti robek!
"Pukulan atas balas dendam gue ke elo yang udah hancurin date gue dan Kyra waktu itu! Sial,"
Masih tak terima, Delvin mencengkram kerah kaosku lagi. Begitu pula aku yang tak mau kalah dengannya. Jika memang kita harus saling pukul-pukulan di sini tentu dengan senang hati akan aku layani!
"Mungkin gue emang gak tau apa yang lo lakuin di balik layar seperti yang lo bilang. Tapi gue tahu, karena gue yang selalu ada di sisi Kyra di saat dia nangis buat lo." Ucapnya yang seketika membuat cengkraman eratku pada kerahnya itu mengendur.
__ADS_1
"Sepuluh tahun adalah waktu yang lama buat gue menyerah, dan juga waktu yang cukup buat gue maju lagi untuk dapatin hatinya." Tegas Delvin yang membuat cengkraman tanganku terlepas sempurna.
"Mau bagaimana pun alurnya, sekarang... Gue yang menang. Dan mau gak mau lo harus bantu gue!" Delvin akhirnya melepaskan cengkramannya padaku.
Alis mataku terangkat sebelah. "Kalau gue gak mau bantu?!"
"Dengan sifat lo, gue tahu pasti... Lo gak mungkin gak akan bantu gue," Ucapnya tanpa ragu.
"Pede banget lo!" Dengusku.
"Pokoknya, besok atau lusa dia akan ke sini, di saat itu lo harus berakting, oke? Walau gue tau hati lo pasti sakit, tapi seenggaknya dengan begitu lo bisa menyudahi siksaan perasaan Kyra selama 10 tahun."
Kami bersitatap untuk sesaat. Tangan kami pun sudah terlepas dari kerah satu sama lainnya. Terurai. Emosiku pun lambat laun menyurut. Aku merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
"Andai.. Andai aja lo nggak terlalu terlambat menyadari perasaan lo itu, mungkin cerita side love story itu nggak pernah ada." Ujar Delvin. "Padahal lo tahu betul, sejak kapan Kyra udah ngejar lo. Tapi lo malah tutup mata dan telinga, pura-pura nggak tahu."
Aku termenung dengan kalimat Delvin. Bahkan apa yang dikatakannya padaku barusan, aku nggak dapat menampiknya.
"Lo baru sadar kan sekarang, kalau semua yang dimiliki manusia nggak ada yang abadi. Termasuk perasaan dan hati manusia itu sendiri." Lagi-lagi Delvin menohokku dengan kalimatnya.
Aku menghela napas panjang nan berat sebelum akhirnya kembali berkata, "Terserah apa yang mau lo bilang ke gue. Gue tahu sekarang emang udah terlalu terlambat. Dan gue juga nggak ada niatan buat merusak kebahagiaan kalian."
__ADS_1
"Bagus, kalau lo paham." Tukas Delvin cepat.
Aku menatap mata Delvin tepat di maniknya, "Tapi, Vin, ada hal yang perlu lo tahu. Bahwa semua pikiran lo tentang gue itu nggak sepenuhnya benar. Gue nggak bergerak selama ini bukan karena gue pura-pura nggak tahu tentang perasaannya. Gue pun punya alasan yang besar kenapa selama ini gue memilih diam." Aku menghela napas lagi. "Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue punya rencana gue sendiri, karena diam itu bukan berarti nggak melakulan apapun, kan?! Dan hal itu berlaku untuk perasaan gue kepada Kyra. Meski mungkin waktu nggak berpihak pada gue," Aku tersenyum getir.
Benar getir rasanya mengingat fakta yang menyakitkan seperti ini.
"Sekarang lebih baik lo berusaha lebih keras lagi, Vin, cari cara bagaimana bisa bikin Kyra jatuh cinta sama elo seutuhnya." Aku berujar padanya, menantang. "Perasaan manusia memang bisa berubah seperti yang lo bilang, tapi tidak untuk semalam. Apalagi untuk yang bertahan selama belasan tahun." Aku lantas tersenyum sinis padanya.
Delvin menyeringai. "Tenang aja. Lo nggak perlu khawatir soal itu. Gue ini cukup handal untuk mengubah perasaan seseorang dalam waktu singkat." Umbarnya.
Aku tersenyum getir. Menghela napas sesaat kemudian aku mulai bicara lagi, "Tolong, jangan sampai lo buat dia nangis ya, kayak yang pernah gue lakuin ke dia ya, Vin... Ini ultimatum buat lo!" Seruku bersungguh-sungguh. "Kalau sampai hal itu kejadian, gue gak akan segan buat berperan jadi perebut istri orang!" Ancamku keras padanya.
Delvin tertawa mendengus. "Maaf, tapi gue gak akan ngebiarin celah itu ada buat lo, apalagi seorang pebinor!"
[...]
*Kembali ke masa kini.*
Kini yang tersisa hanya perasaan hampa dalam hatiku. Sambil menatap langit-langit kamar dengan posisi tertidur dan tangan yang terlipat di belakang kepala aku mengulang percakapanku dan Delvin beberapa hari lalu.
Aku tahu, kalimat terakhirnya adalah sebuah kesungguhan. Dia tentu tak akan membiarkan apa yang akan menjadi miliknya direbut oleh orang lain. Itu adalah naluri lelaki, dan aku paham betul sifat itu!
__ADS_1
Namun, dari raut wajah dan tatapan matanya memancarkan sebuah ketulusan yang aku pun tak mengerti darimana asalnya. Hingga pada akhirnya, aku paham mengapa akhir cerita kami bertiga seperti ini.
"Gue harap, Kyra bahagia bersama lo, selalu, Delvin..." lalu senyuman tipis pun terukir dari bibirku, tulus.