
Kyra -
Aku tak pernah menyangka bahwa Delvin bisa-bisanya punya taktik yang semengerikan ini.
Setelah mendengar penuturan dan penjelasannya panjang kali lebar, akhirnya aku mengerti kenapa dia sampai sok sibuk seminggu belakangan ini.
Mataku lantas menatapnya lurus, selurus manik mata hazelnya yang bening nan jernih itu berada. Senyumnya sudah kembali lagi kala dia menjelaskan rencananya untuk satu bulan ke depan. Jantungku bahkan sampai berdegup keras kala mendengar semua penuturannya. Sebenarnya... dia ini nekat atau gila?!
"Jadi kesimpulannya..." aku menahan kalimatku seraya mengangkat alisku tinggi-tinggi. "...lo udah ngurus semua persiapannya bahkan sebelum kita minta restu orang tua masing-masing??"
Delvin yang sedang meneguk air teh lemon dinginnya lewat sedotan itu pun mengangguk. Setelah cukup, barulah dia meletakkan gelas itu dan menatapku kembali dengan amaaat santainya!
"Restu itu urusan gampang. Orang tua kita udah saling kenal dari lama. Taruhan sama gue, mereka pasti langsung kasih lampu hijau 100 persen!" Ucapnya sok yakin, hingga membuatku tak mampu berkata-kata lagi untuk menanggapinya kini. Sumpah ya, kepercayaan dirinya itu sudah sampai level akut! Narsisme!! Ckck.
Aku mendesah panjang, lalu melanjutkan pertanyaan yang sejak tadi sudah tercokol di kepala memenuhi pikiran dan otakku. "Lo ngilang seminggu sengaja buat ngurus semua ini?!"
Dia mengerut kening. Matanya menyipit dengan tangan yang bersidekap di depan dada. "Gue kan udah bilang, gue ke Gorontalo ada dinas luar kota. Jangan pede gitu dong!" Balasnya menyebalkan.
__ADS_1
Kini, ganti aku yang menyipitkan mata. Membuat perhitungan. "Lo dinas ke Gorontalo masih sempat-sempatnya cari WO dan bikin keputusan sepihak atas acara yang akan berlangsung sebulan lagi? Gitu?!" Sungguh, aku benar-benar tak habis pikir dengannya. Bisa-bisanya dia memutuskan hal sepenting dan segenting ini seenak jidatnya!
"Kenapa emangnya?!" Dia melotot lebar padaku. Membuatku memberengit membalas reaksinya. "Menikah itu wajib disegerakan. Lebih cepat lebih baik!" Tekannya tegas. Lalu dia mendesau, "Andai bisa seminggu lagi... sayang, pesta butuh banyak persiapan." Dia geleng-geleng sendiri. Sementara aku terpaku dengan mulut menganga menatapnya. Heran sekaligus takjub luar biasa!
Mataku menyipit, menilainya dengan segala kecurigaan yang kini telah bergumul di otakku. "Segitu ngebetnya ya, lo nikahin gue?"
Niatku ini hanya untuk menyindirnya. Membuatnya malu akan tindakkannya yang menurut akal sehatku tak lazim. Namun balasan tatapan matanya kala menatapku lantas membuatku terdiam. Kuatnya kernyitan di dahiku memudar. Caranya memandangku sejenak membuatku bertanya-tanya. Entah mengapa aku melihat dalamnya tatapan itu untukku. Bahkan dalamnya samudra atlantik pun tak sebanding. Tatapan itu sungguh tak berdasar. Aku pun tak tahu, ke mana muaranya tertuju.
Jadi... apa maksudnya tatapan itu tadi?? Kenapa dia menatapku sebegitu dalamnya, seolah-olah aku ini....
Dia memutar bola matanya kemudian, seakan jengah dengan pertanyaanku beberapa saat lalu. Aku mendengus. Sudah kuduga, tatapan itu pasti hanya sekadar tatapan terkejut tak berarti seperti dirinya yang biasa. Dasar! Kenapa pula aku sempat mikir macam-macam sih?! Aku merutuk diriku sendiri yang sempat punya pikiran mustahil. Ck!
Lalu, dalam sekejap, kulihat dirinya mengubah air wajahnya dengan begitu ahli. "Pokoknya... ikutin aja arahan gue. Jangan banyak bantah deh!" Matanya melotot padaku. "Lo mau cepet move on atau enggak nih?" Tanyanya dengan sarat mengancam.
"Ya makanya... sesama orang yang butuh healing, kita harus kompak dong kerja samanya!" Mendadak dia tersenyum. Namun tatapannya yang menyipit itu sungguh mengartikan bahwa dia sedang menyembunyikan maksud dari balik manis senyumnya itu, membuatku langsung bergidik melihatnya alih-alih terpesona. "Oke?"
Aku diam saja. Hanya mau menatapnya datar tanpa ingin menjawabnya dengan kata. Karena aku sesungguhnya tak oke dengan pikirannya. Hingga akhirnya dia jengah sendiri karena lama menungguku yang lempeng-lempeng saja di hadapannya. Haha!
Delvin mendengus kesal. Dia berdecak. "Orang capek-capek nanya, kasih apresiasi dengan jawaban doooong!" Katanya ngotot. Membuatku ingin menutup mulutnya yang berisik itu sekarang juga!
Coba lihat sekitar! Siapa juga yang tak malu punya lawan bicara bersuara Beo ini?? Duhhh... ampun!
__ADS_1
"Orang cerdas harusnya peka dong!" Balasku beralibi. Benar, alibi lebih baik daripada manusia di hadapanku ini makin tarik urat karena tadi aku yang berusaha mengabaikan tanyanya.
Matanya menyipit. Tanda tanya. Aku pun berdecak berpura-pura jengah padanya yang tak mengerti maksudku.
"Diamnya perempuan itu..." aku menggantungkan kalimatku seiring dengan alis mataku yang kutarik ke atas tinggi-tinggi. Dan, seketika itu Delvin pun tertawa, paham. Membuatku bisa bernapas lega telah berhasil menciptakan kepercayaannya dari kalimat alibiku barusan.
"Aaah, itu... bilang dong dari tadi!" Dia tertawa renyah.
Melihat tampang konyolnya saat ini membuatku heran sampai menggeleng-geleng kepala. Aku sadar, manusia memang tak ada yang sempurna. Begitu pula Delvin, Si otak cerdas yang selalu bertingkah aneh bahkan pola pikirnya kini terpengaruh.
Huh... seumur hidup aku akan berkaitan dengan orang macam ini nih?
___________________
Halo semuaaa~
Alhamdulillah aku udah bisa nulis lagi nih. insyaAllah aku bisa rutin apdet lagi mulai hari ini yaaa. Makasih udah setia nunggu Delvin & Kyra di lapak ini. #hug #hug
Salam Hangat,
__ADS_1
Icha Azzahra♥️